Home / Urban / Biarkan Aku Membantumu Nyonya / BAB 123: Rindu yang Terlepas

Share

BAB 123: Rindu yang Terlepas

Author: Benduls
last update publish date: 2026-03-14 16:00:40

Keesokan harinya, pagi di apartemen terasa lebih tenang dari biasanya. Matahari menyelinap pelan lewat gorden tipis, menerangi ruang tamu kecil yang sudah mulai terasa seperti rumah sementara. Nadia bangun lebih dulu, tubuhnya masih terasa pegal dari trauma dan malam-malam yang penuh ketakutan. Ia memakai tanktop putih tipis yang sudah ia jahit kembali, tanpa bra, dan celana pendek denim yang sama seperti biasa. Rambutnya dikuncir tinggi, tapi beberapa helai jatuh ke wajahnya yang pucat.

Aurel
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Biarkan Aku Membantumu Nyonya   BAB 218: Darah, Pengkhianatan, dan Pelangi Abadi

    Aurelia berlari tanpa arah di kegelapan malam, air matanya bercampur keringat dan debu jalanan. Lututnya yang terluka terasa perih setiap kali kakinya menyentuh tanah, tapi ia tidak berhenti. Suara tembakan masih bergema di belakangnya, membuat hatinya semakin hancur. “Dav… tolong selamat…” gumamnya sambil terisak. Ia sampai di pinggir sungai yang airnya mengalir deras. Aurelia bersembunyi di balik semak tebal, napasnya tersengal-sengal. Tak lama kemudian, ia melihat Dava muncul dari gang gelap, tubuhnya tertatih-tatih. Bahu dan pahanya berdarah banyak, tapi ia masih berusaha berjalan. “Dav!” Aurelia langsung keluar dari persembunyian dan memeluknya. Dava hampir pingsan saat jatuh di tepi sungai. “Lari… sendiri… aku tahan mereka…” Tapi sudah terlambat. Budi dan anak buahnya muncul dari kegelapan, pistol teracung. Budi tersenyum sinis. “Romantis sekali. Sayang sekali harus berakhir begini.” Tiba-tiba sirine polisi mendekat dengan cepat. Tim Budi yang masih setia datang. Tembakan

  • Biarkan Aku Membantumu Nyonya   BAB 217: Malam Darah dan Pengkhianatan

    Malam itu terasa seperti pisau yang menggantung di leher mereka. Dava dan Aurelia buru-buru mengemasi tas ransel di apartemen kecil yang kini terasa seperti jebakan. Lampu dimatikan, hanya cahaya ponsel yang menerangi ruangan. “Kita nggak bisa nunggu pagi,” kata Dava sambil memasukkan pistol kecil yang dipinjam dari Budi ke pinggangnya. “Reinhart nggak main-main. Laser tadi bukti dia sudah siap bunuh kita.” Aurelia mengangguk, wajahnya pucat tapi matanya penuh tekad. “Kita ke mana, Dav?” “Budi bilang ada safe house di luar kota. Kita harus sampai sana sebelum subuh.” Mereka keluar apartemen lewat pintu belakang, bergerak diam-diam menyusuri tangga darurat. Udara malam terasa dingin dan berat. Baru beberapa meter dari gedung, Dava mendengar suara langkah di belakang mereka. “Jalan terus, Lia. Jangan berhenti,” bisik Dava sambil menarik tangan Aurelia. Tapi konflik meledak lebih cepat dari yang mereka duga. Tiba-tiba dari balik mobil parkir, dua pria berpakaian hitam muncul. Sala

  • Biarkan Aku Membantumu Nyonya   BAB 216: Bayang Hitam di Balik Jendela

    Malam semakin larut di apartemen kecil yang menjadi persembunyian mereka. Lampu hanya menyala temaram di sudut ruangan, menciptakan suasana yang sekaligus intim sekaligus mencekam. Dava berdiri di depan jendela, tirai tipis hanya ditutup setengah. Matanya menyapu kegelapan jalanan di bawah sana. Aurelia mendekat dari belakang, memeluk pinggangnya erat.“Dav… kamu dari tadi gelisah,” bisik Aurelia, dagunya bertumpu di punggung Dava.“Aku nggak suka suasana ini. Terlalu sepi,” jawab Dava pelan. “Mobil hitam itu tadi sore masih parkir di ujung jalan. Sekarang sudah hilang, tapi aku yakin mereka masih mengawasi.”Aurelia memeluknya lebih erat. Tubuhnya yang hanya memakai kaos oversized Dava terasa hangat. “Kalau gitu… buat aku lupa sebentar. Aku butuh kamu malam ini.”Dava berbalik. Tatapannya langsung bertemu dengan mata Aurelia yang penuh kerinduan dan ketakutan. Tanpa banyak kata, ia mengangkat dagu Aurelia dan menciumnya dalam-dalam. Ciuman itu penuh desakan — campuran antara cinta, a

  • Biarkan Aku Membantumu Nyonya   BAB 215: Pelarian Cinta di Bayang-Bayang Reinhart

    Pagi berikutnya menyapa kamar hotel dengan cahaya matahari yang redup menyusup lewat tirai tipis. Dava terbangun lebih dulu, tubuhnya masih terasa pegal karena memar lama dan aktivitas semalam. Aurelia masih tertidur pulas di pelukannya, tubuh telanjangnya menempel hangat di dada Dava, napasnya pelan dan teratur. Dava menatap wajah Aurelia yang damai meski masih ada bekas memar samar di lehernya. Ia mengusap punggung telanjang Aurelia dengan lembut, jarinya menelusuri lekuk pinggulnya. Malam tadi terasa seperti mimpi di tengah badai — penuh gairah, penebusan, dan keputusasaan yang berubah menjadi kehangatan. Aurelia menggeliat pelan, matanya terbuka perlahan. Begitu melihat Dava, ia tersenyum malu-malu, pipinya memerah mengingat betapa liarnya ia semalam. “Pagi, sayang…” bisik Aurelia, suaranya masih serak. Ia mendekat, mencium bibir Dava dengan lembut, tangannya menyusup ke dada Dava. “Pagi, Lia. Kamu… luar biasa semalam,” jawab Dava sambil tersenyum tipis, tangannya meremas p

  • Biarkan Aku Membantumu Nyonya   BAB 214: Tebusan Malam yang Penuh Rindu

    Malam itu hotel kecil di pinggiran kota terasa sangat sunyi. Lampu kamar hanya menyala redup, cahaya kuning lembut menerangi dua orang yang saling memeluk di ranjang. Dava dan Aurelia berbaring saling menempel, tubuh mereka masih penuh memar dan luka, tapi pelukan itu adalah satu-satunya tempat mereka merasa aman. Aurelia mengangkat wajahnya dari dada Dava. Matanya masih merah karena menangis, tapi ada tekad yang berbeda di sana. Ia menatap Dava lama, tangannya mengusap pipi Dava yang memar dengan sangat lembut. “Dav…” suaranya pelan, hampir berbisik. “Aku sudah salah. Aku pergi ke Reinhart tanpa bilang kamu. Aku bikin kamu khawatir… bikin kamu terluka lagi. Aku mau menebus kesalahanku malam ini.” Dava menggeleng pelan, tangannya mengusap rambut Aurelia. “Lia, kamu nggak salah. Kamu lakukan itu karena takut kehilangan aku. Aku yang seharusnya lindungin kamu.” Aurelia meletakkan jari di bibir Dava, menghentikan kata-katanya. “Malam ini biarkan aku yang kasih kamu semua yang aku pun

  • Biarkan Aku Membantumu Nyonya   BAB 213: Titik Lemah yang Terungkap

    Dava dan Aurelia berdiri di kamar hotel yang sempit, napas mereka tersengal karena ketegangan. Ponsel Aurelia masih hangat di tangan setelah panggilan Reinhart yang mengancam. Waktu yang tersisa hanya sekitar 25 menit sebelum batas akhir yang Reinhart berikan. Dava memandang Aurelia dengan mata penuh tekad meski tubuhnya masih sakit. “Kita nggak boleh menyerah, Lia. Aku punya satu harapan terakhir.” Ia mengambil ponselnya sendiri dan mencari nomor lama di daftar kontak. Nama yang muncul: Budi Santoso — teman lamanya yang sekarang menjadi polisi berpangkat inspektur di kepolisian kota. Dava pernah menolong Budi bertahun-tahun lalu ketika masih bekerja di dunia bawah tanah. Ia berharap hutang itu masih bisa ditagih. Telepon diangkat setelah nada dering ketiga. “Dav? Lama banget lo nggak telepon,” suara Budi terdengar surprise di seberang. “Budi, aku butuh bantuan lo sekarang. Darurat,” kata Dava cepat, suaranya tegang. “Reinhart kembali. Dia ancam bunuh aku dan ambil Aurelia.

  • Biarkan Aku Membantumu Nyonya   BAB 137: Langkah Baru

    Pagi itu rumah yang baru direnovasi terasa lebih hidup. Lantai dua sudah jadi, kamar Dava dan Nadia luas dengan ranjang double baru, kamar Aurelia nyaman dengan jendela besar menghadap halaman belakang, dan kamar ibu serta Rian terpisah tapi tetap hangat. Dapur lebih besar, meja makan kayu panjang

  • Biarkan Aku Membantumu Nyonya   BAB 130: Panik di Luna Group

    Pagi itu kantor PT. Luna Group terasa berbeda. Udara di lantai 18 terasa lebih tegang, seperti ada badai yang belum terlihat tapi sudah terasa di kulit. Clara Wijaya duduk di ruang kerjanya, laptop terbuka di depan, tapi matanya tidak fokus pada layar. Ia memegang ponsel dengan tangan gemetar, scro

  • Biarkan Aku Membantumu Nyonya   BAB 122: Kunjungan yang Penuh Rindu dan Diam

    Dava mengemudikan mobilnya pelan. Jalanan kota sudah mulai macet, tapi pikirannya lebih macet lagi. Ia sudah memutuskan untuk mengunjungi Nadia dan Aurelia di apartemen mereka — tempat aman yang Aurelia bilang “Reinhart tidak akan tahu”. Ia tidak memberi tahu siapa pun, bahkan tidak ibu Nadia. Hany

  • Biarkan Aku Membantumu Nyonya   BAB 103: Batas Waktu yang Semakin Dekat

    Pagi itu rumah kecil di gang terasa lebih sempit dari biasanya. Sinar matahari masuk lewat jendela dapur, menerangi meja makan yang masih penuh sisa bubur ayam dan teh hangat. Nadia sedang membersihkan piring, kaos oversize putih longgar milik Dava masih melekat di tubuhnya, ujungnya naik sedikit s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status