MasukTangan Dava gemetar saat ujung pulpen itu menyentuh permukaan kertas kontrak yang dingin.
Di ruangan itu, kesunyian terasa begitu menekan, hanya detak jam dinding mewah dan deru napasnya sendiri yang terdengar.
Di hadapannya, Reinhart berdiri dengan tangan bersedekap, sementara Aurelia menyandarkan pinggulnya di tepi meja kerja—posisi yang nampak sengaja menonjolkan lekuk tubuhnya yang mustahil untuk diabaikan.
Satu miliar.
Angka itu terus berputar di kepala Dava.
Itu adalah nyawa ayahnya. Itu adalah tiketnya menuju universitas ternama. Namun itu juga harga dari kehormatan yang selama ini ia berusaha jaga dengan susah payah.
"Aku tidak punya banyak waktu, Dava," suara Reinhart memecah kesunyian, tajam dan tidak sabar.
Dava memejamkan mata sejenak, membayangkan wajah lelah ibunya di koridor rumah sakit, wajah ayahnya yang terbaring lemah.
Lalu dengan satu tarikan napas panjang, ia membubuhkan tanda tangannya. Rasanya ia menggores harga dirinya sendiri.
"Pilihan yang cerdas," ujar Reinhart. Ia mengambil kontrak itu seolah itu adalah rampasan perang. "Sekretarisku akan mengurus semua kebutuhanmu. Mulai hari ini, kau bukan lagi orang bebas. Kau adalah asisten pribadi istriku. Secara resmi, kau melindunginya. Secara pribadi, kau melayaninya."
Reinhart melirik jam tangannya, lalu mencium kening Aurelia singkat. "Aku ada rapat pemegang saham setelah ini. Dava, bawa Aurelia ke vila di Puncak. Aku ingin hasil nyata, bukan sekadar laporan."
Setelah Reinhart pergi, ruangan itu mendadak terasa sempit. Dava kini hanya berdua dengan Aurelia.
Aurelia berdiri tegak, berjalan perlahan mengitari Dava. Bunyi high heels-nya yang mengetuk lantai marmer terdengar seperti mencekam. Ia berhenti tepat di depan Dava, menatap kemeja putih Dava yang tampak murah dibandingkan dengan suasana ruangan itu.
"Jangan tegang begitu, Dava," bisik Aurelia. Ia mengulurkan tangan, merapikan kerah baju Dava yang sedikit miring. Jemarinya yang dingin bersentuhan dengan kulit leher Dava, mengirimkan sengatan listrik yang membuat bulu kuduk pria itu berdiri. "Suamiku memang tidak punya perasaan, tapi aku menghargai pria yang tahu cara berkorban."
Aurelia memberikan senyum tipis yang sulit diartikan, lalu melangkah pergi. "Ayo. Jangan membuatku menunggu."
Perjalanan menuju Puncak ditempuh dengan mobil Rolls-Royce hitam yang kedap suara. Dava duduk di kursi depan di samping sopir, sementara Aurelia di kursi belakang.
Lewat spion tengah, Dava tidak bisa berhenti mencuri pandang. Aurelia sedang menyilangkan kakinya, membuat belahan gaun merahnya tersingkap tinggi, memperlihatkan paha putih yang mulus dan kencang.
Aurelia nampaknya menyadari tatapan itu. Ia sengaja tidak membenarkan posisi duduknya, malah mengeluarkan sebuah tablet dan berpura-pura membaca, membuat Dava tersiksa oleh pemandangan yang tersaji.
Dua jam kemudian, mereka tiba di sebuah vila yang tersembunyi di balik rimbunnya pohon pinus. Vila itu sangat privat, dikelilingi pagar tinggi dengan penjagaan ketat. Begitu masuk ke dalam, Dava terpana melihat kemewahannya.
Namun, ia langsung teringat bahwa tujuannya di sini bukan untuk berlibur.
"Bawa tasmu ke kamar di lantai dua, sebelah kamarku," perintah Aurelia tanpa menoleh.
Dava menuruti perintah itu. Kamarnya sangat luas, namun ada sebuah pintu penghubung yang menghubungkan kamarnya dengan kamar Aurelia. Sebuah pintu yang tidak memiliki kunci dari sisi Dava.
Malam pun tiba. Suasana di pegunungan itu sangat dingin, namun keringat dingin bercucuran di pelipis Dava. Ia duduk di tepi tempat tidur, menatap ponselnya. Sebuah pesan masuk dari bank: Saldo Anda: Rp1.000.000.000,00.
Ia seharusnya senang, tapi ia merasa kotor.
Tok. Tok.
Suara ketukan pintu itu mengejutkannya.
Pintu penghubung itu terbuka perlahan.
Aurelia berdiri di sana. Jika tadi siang ia tampak elegan, malam ini ia tampak berbahaya bagi kewarasan pria mana pun. Ia hanya mengenakan gaun tidur sutra hitam tipis yang transparan di beberapa bagian. Rambutnya basah, menunjukkan ia baru saja selesai mandi. Aroma sabun mawarnya memenuhi ruangan Dava.
"Dava... kau sudah siap?" tanya Aurelia pelan. Suaranya kini terdengar lebih lembut, tanpa tameng keangkuhan seperti saat di kantor.
Dava berdiri dengan canggung. "Nyonya, saya... saya tidak tahu harus mulai dari mana."
Aurelia berjalan mendekat, setiap langkahnya membuat kain tipis itu berayun mengikuti lekuk tubuhnya yang menggoda.
Ia berdiri di depan Dava, menatap mata pemuda itu dalam-dalam. "Panggil aku Aurelia jika kita hanya berdua. Di sini, tidak ada CEO, tidak ada asisten. Hanya ada dua orang yang terjebak dalam rencana gila suamiku."
Ia menyentuh dada Dava yang bidang. Dava bisa merasakan detak jantungnya sendiri berpacu tidak keruan. Fisik Dava yang atletis sebagai mantan kuli panggul dan atlet kampus terlihat jelas di balik kemejanya yang kini basah oleh keringat.
Aurelia sedikit berjinjit, mendekatkan bibirnya ke telinga Dava. "Kau tahu apa yang Reinhart inginkan, bukan? Dia ingin keturunan. Dia ingin kau melakukan apa yang tidak bisa dia lakukan."
"Tapi ini salah," bisik Dava, meski tangannya perlahan mulai bergerak menyentuh pinggang ramping Aurelia karena dorongan insting.
"Banyak hal di dunia ini yang salah, Dava. Tapi rasa lapar tidak pernah bohong," Aurelia menarik tangan Dava, menuntunnya untuk merasakan lekukan pinggulnya yang sempurna. "Aku kesepian selama tiga tahun. Reinhart hanya peduli pada angka di bursa saham. Dia tidak pernah menyentuhku seolah aku adalah seorang wanita. Dia hanya melihatku sebagai trofi."
Aurelia menatap Dava dengan mata yang berkaca-kaca, sebuah kombinasi antara kerentanan dan gairah yang mematikan. "Jadilah pria untukku malam ini, Dava. Bukan karena uang itu, tapi karena aku memintamu."
Dava merasa logikanya runtuh. Kecantikan Aurelia yang memukau, tubuhnya yang sangat dekat dan menggoda, serta aroma yang memabukkan itu membuat Dava lupa akan kontrak, lupa akan Reinhart, dan lupa akan status sosial mereka.
Dava menarik Aurelia lebih dekat, menyatukan tubuh mereka hingga tidak ada celah. Aurelia mendesah pelan, menyandarkan kepalanya di bahu kokoh Dava.
"Kau sangat kuat, Dava..." gumam Aurelia.
Mendengar itu, Dava tidak tahan lagi.
“A-aku harus pergi ke kampus,” ucap Dava pada Aurelia.Ketika Dava menoleh, Aurelia tengah tidur dengan napas teratur. Ah, Nyonya sudah tertidur, batin Dava.Selesai berkemas, Dava memacu mobil operasionalnya dengan kecepatan tinggi menembus kemacetan jalan. Jantungnya berpacu lebih cepat daripada putaran mesin mobil. Kemejanya yang tadi basah kini memang sudah kering, namun sensasi kulit Aurelia yang bersentuhan dengannya di bawah shower pagi tadi masih terasa nyata, seperti bekas luka yang tak terlihat.Di dalam kepalanya, suara Aurelia dan pesan-pesan cemas Sita saling beradu. Ia merasa kikuk memikirannya.Sesampainya di pelataran kampus, Dava mengerem mendadak. Ia melihat sosok gadis dengan blus cokelat muda berdiri gelisah di depan gedung fakultas. Dava keluar mobil dengan terburu-buru."Sita!" panggil Dava sambil berlari menghampirinya.Sita menoleh. Ekspresi cemas di wajahnya seketika berubah menjadi campuran antara lega dan marah. Saat Dava sampai di depannya, Sita langsu
Dava pun terbangun dengan rasa pening yang menghantam pelipisnya. Ingatan tentang lensa kamera tersembunyi yang ia temukan semalam masih menghantui pikirannya. Namun, saat ia menoleh ke samping, tempat tidur itu lagi-lagi sudah kosong.Hanya ada keharuman vanilla dan jasmine yang tertinggal di bantal, serta suara gemericik air yang jatuh dari balik pintu kaca buram di sudut ruangan. Aurelia sedang mandi.Dava duduk di tepi ranjang, menatap tangannya yang sedikit gemetar. Pikirannya berperang antara rasa takut pada Reinhart dan daya tarik Aurelia yang tak tertahankan.Seharusnya ia segera pergi, kembali ke paviliunnya sebelum pelayan lain curiga. Namun, bayangan tubuh Aurelia semalam membuat kaki Dava justru melangkah ke arah kamar mandi.Ia membuka pintu kaca tersebut. Uap panas langsung menyergap wajahnya. Aurelia tersentak, ia berbalik dengan rambut yang basah kuyup menutupi sebagian dadanya. Matanya yang jernih membelalak kaget, namun rasa terkejut itu hanya bertahan sedetik se
Layar ponsel di lantai itu akhirnya padam, menyisakan cahaya remang lampu tidur berwarna amber. Keheningan kamar itu mendadak terasa berat.Di atasnya, Aurelia tidak memberinya ruang sedikit pun untuk berpikir. Wanita itu bergerak dengan keanggunan yang mematikan, jemarinya yang lentik dan gemetar melepaskan kancing kemeja Dava satu per satu. Rasanya harga diri Dava runtuh bersamaan dengan terbukanya kancing-kancing itu."Jangan pikirkan hal lain," bisik Aurelia. Suaranya parau. "Malam ini, biarkan aku merasa hidup."Dava menatap lurus ke dalam mata Aurelia. Dava tahu dia hanyalah pria sewaan. Namun, saat kulit mereka bersentuhan tanpa penghalang kain, insting maskulinnya mengambil alih. Tubuh Dava yang atletis—hasil dari tahun-tahun bekerja kasar sebagai kuli panggul demi menyambung hidup—tampak begitu kontras dengan kelembutan kulit Aurelia yang seputih porselen dan terawat oleh kemewahan.Untuk pertama kalinya sejak ia menerima kontrak Reinhart, Dava tidak merasa seperti asi
Keesokan harinya, kampus pascasarjana Universitas Maju tampak berkabut. Udara segar yang ada sedikit mendinginkan kepala Dava yang terasa mendidih setelah rentetan kejadian gila beberapa hari terakhir. Ia berdiri di depan gedung fakultas dengan ransel yang terasa lebih berat, bukan karena buku-buku tebal di dalamnya, melainkan karena rahasia yang ia pikul.Dava menarik napas dalam. Tadi ia baru menjalankan kelas pertama.Hari ini adalah hari pertamanya kuliah S2. Gelar yang ia impikan sejak kecil, tiket yang seharusnya ia dapatkan dengan keringat kejujuran, kini ia beli dengan harga dirinya sendiri."Dava? Dava Atmajaya?"Suara feminin yang lembut itu membuat Dava tersentak. Ia menoleh dan seketika itu juga seluruh tubuhnya membeku. Berdiri beberapa meter darinya, seorang gadis dengan blus cokelat muda dan rambut dikuncir kuda menatapnya dengan mata yang berbinar tak percaya."Sita?" suara Dava tercekat.Sita adalah masa lalunya. Gadis yang pernah mengisi hari-harinya di masa S
Ia menunduk, menangkap bibir merah Aurelia dengan ciuman yang penuh tekanan—campuran antara rasa frustrasi, nafsu yang tertahan, dan amarah pada keadaan. Aurelia membalasnya dengan intensitas yang sama, tangannya merayap ke rambut Dava, menariknya semakin dalam ke dalam pusaran gairah.Dava membawa tangan kekarnya ke atas kaki jenjang Aurelia, naik ke pahanya. “Ahh,” Aurelia mengerang atas sentuhan Dava.Dava dengan cepat membuka pakaian yang membungkus tubuh Aurelia. Ia seakan lupa dengan tanggungan harga dirinya. Persetan! Dalam benak Dava, uang miliaran itu menjadi pegangannya sekarang.Maka Dava terus mencumbu, ia biarkan Aurelia menikmati permainannya. “Aurelia…”Aurelia ikut mengerang di bawah Dava, membuat wajah Dava semakin memanas. Hatinya tak karuan sekarang.Sekarang, tanpa sehelai pakaian pun mereka bercumbu. Tangan Dava mulai nakal dan menyentuh area terlarang.“Teruskan.. Dava… ah!” pinta Aurelia.Dava lantas mabuk dalam permainan malam ini. Bohong jika dibilang ia t
Tangan Dava gemetar saat ujung pulpen itu menyentuh permukaan kertas kontrak yang dingin. Di ruangan itu, kesunyian terasa begitu menekan, hanya detak jam dinding mewah dan deru napasnya sendiri yang terdengar.Di hadapannya, Reinhart berdiri dengan tangan bersedekap, sementara Aurelia menyandarkan pinggulnya di tepi meja kerja—posisi yang nampak sengaja menonjolkan lekuk tubuhnya yang mustahil untuk diabaikan.Satu miliar.Angka itu terus berputar di kepala Dava. Itu adalah nyawa ayahnya. Itu adalah tiketnya menuju universitas ternama. Namun itu juga harga dari kehormatan yang selama ini ia berusaha jaga dengan susah payah."Aku tidak punya banyak waktu, Dava," suara Reinhart memecah kesunyian, tajam dan tidak sabar.Dava memejamkan mata sejenak, membayangkan wajah lelah ibunya di koridor rumah sakit, wajah ayahnya yang terbaring lemah.Lalu dengan satu tarikan napas panjang, ia membubuhkan tanda tangannya. Rasanya ia menggores harga dirinya sendiri."Pilihan yang cerdas," uja







