Home / Urban / Biarkan Aku Membantumu Nyonya / BAB 2: Gerbang Neraka yang Indah

Share

BAB 2: Gerbang Neraka yang Indah

Author: Benduls
last update Last Updated: 2025-12-22 12:10:29

Tangan Dava gemetar saat ujung pulpen itu menyentuh permukaan kertas kontrak yang dingin.

Di ruangan itu, kesunyian terasa begitu menekan, hanya detak jam dinding mewah dan deru napasnya sendiri yang terdengar.

Di hadapannya, Reinhart berdiri dengan tangan bersedekap, sementara Aurelia menyandarkan pinggulnya di tepi meja kerja—posisi yang nampak sengaja menonjolkan lekuk tubuhnya yang mustahil untuk diabaikan.

​Sepuluh miliar.

​Angka itu terus berputar di kepala Dava.

Itu adalah nyawa ayahnya. Itu adalah tiketnya menuju universitas ternama. Namun itu juga harga dari kehormatan yang selama ini ia berusaha jaga dengan susah payah.

​"Aku tidak punya banyak waktu, Dava," suara Reinhart memecah kesunyian, tajam dan tidak sabar.

​Dava memejamkan mata sejenak, membayangkan wajah lelah ibunya di koridor rumah sakit, wajah ayahnya yang terbaring lemah.

Lalu dengan satu tarikan napas panjang, ia membubuhkan tanda tangannya. Rasanya ia menggores harga dirinya sendiri.

​"Pilihan yang cerdas," ujar Reinhart. Ia mengambil kontrak itu seolah itu adalah rampasan perang. "Sekretarisku akan mengurus semua kebutuhanmu. Mulai hari ini, kau bukan lagi orang bebas. Kau adalah asisten pribadi istriku. Secara resmi, kau melindunginya. Secara pribadi, kau melayaninya."

​Reinhart melirik jam tangannya, lalu mencium kening Aurelia singkat. "Aku ada rapat pemegang saham setelah ini. Dava, bawa Aurelia ke vila di Puncak. Aku ingin hasil nyata, bukan sekadar laporan."

​Setelah Reinhart pergi, ruangan itu mendadak terasa sempit. Dava kini hanya berdua dengan Aurelia.

​Aurelia berdiri tegak, berjalan perlahan mengitari Dava. Bunyi high heels-nya yang mengetuk lantai marmer terdengar seperti mencekam. Ia berhenti tepat di depan Dava, menatap kemeja putih Dava yang tampak murah dibandingkan dengan suasana ruangan itu.

​"Jangan tegang begitu, Dava," bisik Aurelia. Ia mengulurkan tangan, merapikan kerah baju Dava yang sedikit miring. Jemarinya yang dingin bersentuhan dengan kulit leher Dava, mengirimkan sengatan listrik yang membuat bulu kuduk pria itu berdiri. "Suamiku memang tidak punya perasaan, tapi aku menghargai pria yang tahu cara berkorban."

​Aurelia memberikan senyum tipis yang sulit diartikan, lalu melangkah pergi. "Ayo. Jangan membuatku menunggu."

​Perjalanan menuju Puncak ditempuh dengan mobil Rolls-Royce hitam yang kedap suara. Dava duduk di kursi depan di samping sopir, sementara Aurelia di kursi belakang.

Lewat spion tengah, Dava tidak bisa berhenti mencuri pandang. Aurelia sedang menyilangkan kakinya, membuat belahan gaun merahnya tersingkap tinggi, memperlihatkan paha putih yang mulus dan kencang.

​Aurelia nampaknya menyadari tatapan itu. Ia sengaja tidak membenarkan posisi duduknya, malah mengeluarkan sebuah tablet dan berpura-pura membaca, membuat Dava tersiksa oleh pemandangan yang tersaji.

​Dua jam kemudian, mereka tiba di sebuah vila yang tersembunyi di balik rimbunnya pohon pinus. Vila itu sangat privat, dikelilingi pagar tinggi dengan penjagaan ketat. Begitu masuk ke dalam, Dava terpana melihat kemewahannya.

Namun, ia langsung teringat bahwa tujuannya di sini bukan untuk berlibur.

​"Bawa tasmu ke kamar di lantai dua, sebelah kamarku," perintah Aurelia tanpa menoleh.

​Dava menuruti perintah itu. Kamarnya sangat luas, namun ada sebuah pintu penghubung yang menghubungkan kamarnya dengan kamar Aurelia. Sebuah pintu yang tidak memiliki kunci dari sisi Dava.

​Malam pun tiba. Suasana di pegunungan itu sangat dingin, namun keringat dingin bercucuran di pelipis Dava. Ia duduk di tepi tempat tidur, menatap ponselnya. Sebuah pesan masuk dari bank: Saldo Anda: Rp1.000.000.000,00.

​Ia seharusnya senang, tapi ia merasa kotor.

​Tok. Tok.

Suara ketukan pintu itu mengejutkannya.

​Pintu penghubung itu terbuka perlahan.

Aurelia berdiri di sana. Jika tadi siang ia tampak elegan, malam ini ia tampak berbahaya bagi kewarasan pria mana pun. Ia hanya mengenakan gaun tidur sutra hitam tipis yang transparan di beberapa bagian. Rambutnya basah, menunjukkan ia baru saja selesai mandi. Aroma sabun mawarnya memenuhi ruangan Dava.

​"Dava... kau sudah siap?" tanya Aurelia pelan. Suaranya kini terdengar lebih lembut, tanpa tameng keangkuhan seperti saat di kantor.

​Dava berdiri dengan canggung. "Nyonya, saya... saya tidak tahu harus mulai dari mana."

​Aurelia berjalan mendekat, setiap langkahnya membuat kain tipis itu berayun mengikuti lekuk tubuhnya yang menggoda.

Ia berdiri di depan Dava, menatap mata pemuda itu dalam-dalam. "Panggil aku Aurelia jika kita hanya berdua. Di sini, tidak ada CEO, tidak ada asisten. Hanya ada dua orang yang terjebak dalam rencana gila suamiku."

​Ia menyentuh dada Dava yang bidang. Dava bisa merasakan detak jantungnya sendiri berpacu tidak keruan. Fisik Dava yang atletis sebagai mantan kuli panggul dan atlet kampus terlihat jelas di balik kemejanya yang kini basah oleh keringat.

​Aurelia sedikit berjinjit, mendekatkan bibirnya ke telinga Dava. "Kau tahu apa yang Reinhart inginkan, bukan? Dia ingin keturunan. Dia ingin kau melakukan apa yang tidak bisa dia lakukan."

​"Tapi ini salah," bisik Dava, meski tangannya perlahan mulai bergerak menyentuh pinggang ramping Aurelia karena dorongan insting.

​"Banyak hal di dunia ini yang salah, Dava. Tapi rasa lapar tidak pernah bohong," Aurelia menarik tangan Dava, menuntunnya untuk merasakan lekukan pinggulnya yang sempurna. "Aku kesepian selama tiga tahun. Reinhart hanya peduli pada angka di bursa saham. Dia tidak pernah menyentuhku seolah aku adalah seorang wanita. Dia hanya melihatku sebagai trofi."

​Aurelia menatap Dava dengan mata yang berkaca-kaca, sebuah kombinasi antara kerentanan dan gairah yang mematikan. "Jadilah pria untukku malam ini, Dava. Bukan karena uang itu, tapi karena aku memintamu."

​Dava merasa logikanya runtuh. Kecantikan Aurelia yang memukau, tubuhnya yang sangat dekat dan menggoda, serta aroma yang memabukkan itu membuat Dava lupa akan kontrak, lupa akan Reinhart, dan lupa akan status sosial mereka.

​Dava menarik Aurelia lebih dekat, menyatukan tubuh mereka hingga tidak ada celah. Aurelia mendesah pelan, menyandarkan kepalanya di bahu kokoh Dava.

​"Kau sangat kuat, Dava..." gumam Aurelia.

Mendengar itu, ​Dava tidak tahan lagi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Biarkan Aku Membantumu Nyonya   BAB 129: Laporan yang Memuaskan

    Rumah mewah Reinhart terasa lebih gelap dan dingin dari biasanya. Lampu-lampu taman hanya menyala redup, menciptakan bayangan panjang yang menari di dinding marmer. Olivia melangkah masuk dengan langkah percaya diri, high heels hitamnya berbunyi pelan di lantai. Dress merah ketat yang ia pakai tadi malam sudah diganti dengan setelan hitam sederhana tapi tetap menonjolkan lekuk tubuhnya yang sempurna — payudara montok, pinggang ramping, pinggul lebar. Rambut hitam panjangnya tergerai, mata cokelatnya tajam dan penuh kepuasan. Penjaga membukakan pintu ruang kerja pribadi tanpa sepatah kata. Reinhart sudah duduk di balik meja mahoni besar, segelas whiskey di tangan kanan, senyum tipis menghiasi wajahnya. Ia menatap Olivia dari atas ke bawah seperti sedang menilai barang berharga yang baru saja dikembalikan. “Duduk,” kata Reinhart, suaranya rendah dan tenang. Olivia duduk di kursi depan meja, kakinya disilangkan dengan anggun. Ia mengeluarkan ponsel dari tas kecilnya, meletakkannya di

  • Biarkan Aku Membantumu Nyonya   BAB 128: Bonus yang Tak Terduga

    Dava melaju sendirian ke rumah mewah Reinhart di pinggiran kota. Jalan tol sepi, lampu-lampu jalan berkedip seperti mata yang mengawasi. Dava memakai jas hitam yang sama, rambut undercut rapi, aroma parfum mahal yang sudah menjadi ciri khasnya. Ia tahu pertemuan malam ini bukan pertemuan biasa. Reinhart memanggilnya langsung melalui pesan singkat sore tadi: “Malam ini jam 21.00. Datang sendirian. Kita perlu bicara soal kemajuanmu.” Dava tahu Reinhart puas. Clara Wijaya sudah jatuh lebih dalam dari yang ia prediksi. Pengakuan cinta Clara kemarin malam, akses penuh ke data Luna Group, dan hubungan intim yang semakin sering — semuanya berjalan sesuai rencana. Tapi Dava juga tahu, Reinhart bukan orang yang mudah puas. Ada sesuatu yang lebih besar di balik panggilan ini. Ia tiba tepat waktu. Penjaga membukakan gerbang tanpa sepatah kata. Dava masuk ke ruang kerja pribadi Reinhart di lantai dua — ruangan yang sama seperti pertemuan pertama, meja kayu mahoni besar, kursi kulit hitam, rak

  • Biarkan Aku Membantumu Nyonya   BAB 127: Langkah Kedua – Racun yang Mulai Mengalir

    Pagi itu Dava bangun dengan kepala berat dan dada sesak. Cahaya matahari kota yang sudah terik menyusup lewat celah gorden kamar Nadia, tapi rumah gang terasa dingin dan kosong. Nadia masih di apartemen Tebet bersama Aurelia. Dava sendirian, hanya ditemani rasa bersalah yang semakin tebal setiap hari. Ia duduk di tepi ranjang, memandang foto Nadia di meja samping. Senyum polos Nadia, mata hijau besarnya yang penuh cinta — foto itu diambil sebelum liburan, sebelum semuanya menjadi neraka. Dava mengusap foto itu pelan, lalu berdiri. Hari ini adalah hari pertama ia benar-benar memulai langkah kedua: meracuni kepercayaan Clara Wijaya dari dalam. Langkah pertama sudah selesai. Clara sudah jatuh cinta. Ia sudah menyatakan perasaannya, sudah tidur dengannya dua kali, sudah percaya bahwa Dava adalah pria yang berbeda, yang bisa diandalkan. Sekarang saatnya langkah kedua: membuat Clara membuka diri sepenuhnya, memberikan akses ke rahasia bisnisnya, ke data sensitif Luna Group, ke kelemahan-k

  • Biarkan Aku Membantumu Nyonya   BAB 126: Pertemuan Malam yang Pahit

    Malam itu langit Jakarta sudah gelap sepenuhnya, hanya diterangi lampu-lampu kota yang berkedip-kedip seperti bintang palsu. Dava duduk di teras belakang rumah gang, menatap langit tanpa bintang. Ponselnya bergetar pelan di saku jaket. Pesan dari Aurelia. “Dav… aku butuh bicara sama kamu. Hanya berdua. Malam ini. Ada sesuatu yang harus aku katakan. Tolong datang ke rooftop kafe biasa. Jam 22:00. Aku tunggu.” Dava menatap pesan itu lama. Jantungnya berdegup lebih kencang. Ia tahu Aurelia sedang menahan sesuatu sejak kemarin — rasa cemburu yang ia dengar di suaranya saat telepon dengan Nadia, diamnya saat ia mendengar desahan dari kamar. Ia tahu ini tidak akan mudah. Ia mengetik balasan singkat: “Oke. Aku datang. Tunggu aku.” Dava berdiri, mengambil kunci mobil. Ia tidak memberi tahu siapa pun. Ia hanya mengambil jaket hitam dan pergi. Sepanjang jalan ke Kemang, pikirannya berputar. Ia sedang menghancurkan Clara Wijaya demi Nadia. Ia sedang berbohong pada semua orang. Dan sekarang,

  • Biarkan Aku Membantumu Nyonya   BAB 125: Panggilan Pagi dari Clara

    Pagi itu rumah kecil di gang masih diselimuti keheningan. Matahari baru saja muncul, sinarnya menyelinap pelan lewat jendela dapur yang kotor. Dava duduk di meja makan sendirian, gelas kopi hitam di depannya sudah setengah kosong. Ia belum tidur semalaman. Pikirannya penuh dengan rencana menghancurkan Clara Wijaya, dengan desahan Nadia dari malam sebelumnya, dengan rasa cemburu Aurelia yang ia rasakan di telepon, dan dengan ancaman Reinhart yang terus mengintai. Jam dinding menunjukkan pukul 07:15. Ponsel Dava bergetar di atas meja. Nomor Clara. Dava mengangkat dengan tangan yang sedikit gemetar. “Dav… pagi,” suara Clara terdengar lembut, tapi ada nada manja yang membuat Dava merinding. “Aku baru bangun. Kamu sudah di mana?” Dava menelan ludah. “Di rumah. Pagi, Clara.” Clara tertawa kecil. “Aku kangen kamu sejak tadi malam. Malam kemarin… luar biasa. Aku masih merasakan kamu di dalam aku.” Dava diam sebentar. Ia membayangkan tubuh Clara yang telanjang di ranjang mewahnya, desa

  • Biarkan Aku Membantumu Nyonya   BAB 124: Pengakuan di Ruang Kerja

    Hari berikutnya, Dava melaju ke gedung PT. Luna Group dengan perasaan campur aduk. Jam menunjukkan pukul 16:30 sore. Langit kota sudah mulai jingga, tapi pikiran Dava gelap. Reinhart masih menunggu bukti kemajuan. Tapi setiap langkah Dava terasa seperti menginjak ranjau — satu kesalahan, semuanya bisa meledak. Ia memakai jas hitam custom yang sudah menjadi seragam barunya, rambut undercut rapi, aura yang Reinhart ciptakan membuatnya terlihat lebih tajam dan menarik. Clara sudah mengatur pertemuan sore ini di ruang kerjanya — bukan ruang meeting umum, tapi ruang pribadi Clara di lantai 18. “Kita bisa bicara lebih bebas,” kata Clara kemarin di telepon, suaranya hangat dan sedikit menggoda. Dava tiba di lantai 18. Sekretaris Clara menyambutnya dengan senyum profesional. “Bu Clara sudah menunggu di dalam, Pak Dava.” Dava masuk. Ruang kerja Clara luas, modern, dengan jendela kaca besar yang menghadap kota yang mulai menyala lampu. Clara berdiri di dekat meja, gaun hitam pendek membalut

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status