LOGIN
"Saudara Dava Atmajaya? Silakan masuk. Bapak CEO sudah menunggu," suara sekretaris cantik dengan rok span ketat membuyarkan lamunannya.
Dava mengerutkan kening. "CEO? Bukankah ini wawancara untuk posisi 'Management Trainee' dengan HRD?"Sekretaris itu hanya tersenyum tipis. "Pak Reinhart sendiri yang memilih berkas Anda. Silakan."
Dalam kebingungan, Dava melangkah mengikuti sekretaris itu.
Hari ini adalah pertaruhan terakhirnya.Di tas punggungnya yang sudah tipis, terselip surat tunggakan rumah sakit ayahnya dan lembar pendaftaran S2 yang hampir kedaluwarsa. Jika gagal mendapatkan pekerjaan ini, gagal pula kesempatan Dava untuk mengangkat derajat keluarganya dan melunasi hutang-hutang itu.Maka, Dava melangkah dengan jantung berdegup kencang. Lift membawanya ke lantai paling atas.
Begitu pintu terbuka, ia disambut oleh ruangan yang luas dengan pemandangan seluruh Jakarta dari balik jendela. Di tengah ruangan, duduk seorang pria dengan setelan jas tiga lapis yang tampak begitu mewah.
Reinhart. Pria itu adalah definisi kesempurnaan maskulin. Rahangnya tegas, tatapannya sedingin es, dan auranya begitu mendominasi hingga kegugupan Dava semakin terasa.
"Duduk," perintah Reinhart tanpa menoleh. Ia sibuk menatap tablet di tangannya.Dava duduk dengan kaku. "Terima kasih, Pak. Saya sangat berterima kasih atas kesempatan wawancara ini-""Aku sudah membaca riwayat hidupmu," potong Reinhart cepat. Ia akhirnya mendongak, matanya menyipit menilai Dava dari ujung kaki hingga ujung kepala. "Lulusan terbaik, atletis, tidak memiliki catatan kriminal, dan... sangat butuh uang. Benar?"Dava menelan ludah. "Benar, Pak. Saya juga seorang pekerja keras, Pak. Saya bersedia melakukan apa saja untuk memajukan perusahaan ini."Reinhart menyeringai. "Bagus. Karena pekerjaan ini tidak ada hubungannya dengan 'memajukan perusahaan'."Dava mengerutkan keningnya, sebuah refleks yang diutarakan atas ucapan Reinhart barusan.Reinhart berdiri, berjalan mengitari meja dan berdiri tepat di depan Dava. Ia jauh lebih tinggi dari yang terlihat di majalah."Aku tidak butuh otakmu untuk berpikir di sini. Aku punya ribuan orang untuk itu. Aku butuh fisikmu. Kesehatan reproduksimu,” jelas Reinhart.
Dava tertegun. Ia betul-betul tidak mengerti maksud pria itu."Maaf, Pak? Saya tidak mengerti."
Reinhart mencondongkan tubuh, membisikkan sesuatu yang membuat darah Dava seolah berhenti mengalir. "Istriku, Aurelia. Dia cantik, bukan? Kau pasti pernah melihat fotonya di berita sosialita.”“Tentu saja, Pak-”
“Aku ingin kau membuatnya hamil,” potong Reinhart. “Berikan aku ahli waris, dan aku akan membayar biaya S2-mu di kampus mana pun di dunia ini, ditambah sepuluh miliar rupiah tunai."
Dava tersentak berdiri. Rencana S2-nya… Reinhart tahu? Namun bukan itu yang terpenting sekarang."Ini gila! Bapak bercanda, kan?" tukas Dava tidak percaya.
"Aku tidak pernah bercanda soal bisnis," jawab Reinhart dingin. "Aku mandul. Keluarga besarku menuntut keturunan dalam satu tahun ini atau jabatan CEO-ku dicopot. Aku tidak bisa membiarkan itu terjadi. Aku butuh pria berkualitas, muda, dan 'bersih' untuk mengisi posisiku di tempat tidur."Dava mengepalkan tangannya. "Saya bukan pria bayaran, Pak! Saya datang ke sini untuk melamar kerja!""Dan ini adalah pekerjaan, Dava. Pekerjaan dengan bayaran paling tinggi yang bisa didapatkan seorang 'fresh graduate' sepertimu." Reinhart berjalan ke arah jendela kaca. "Pikirkan ayahmu yang sedang sakit. Pikirkan masa depanmu."Dava mengerjap. Dari mana pria itu tahu tentang ayahnya?
Tepat saat itu, pintu ruangan terbuka.Seorang wanita masuk. Waktu seolah melambat bagi Dava.Itu adalah Aurelia.Wanita itu mengenakan gaun sutra berwarna merah marun yang sangat ketat, memeluk setiap lekuk tubuhnya yang spektakuler. Pinggangnya ramping, namun pinggul dan dadanya memberikan siluet yang mampu membuat pria mana pun kehilangan akal sehat.Rambut hitamnya tergerai indah, dan bibirnya yang merah merekah sedikit terbuka saat melihat ada orang asing di ruangan suaminya.
Aurelia tidak hanya cantik, dia memiliki aura seksualitas yang alami namun elegan. Saat dia berjalan, gerakan pinggulnya menciptakan irama yang memabukkan.Mata Aurelia dengan cepat beralih ke Dava. Ia menatap Dava dari atas ke bawah, ada binar keingintahuan yang nakal di matanya. Ia mendekat, aroma parfum vanilla dan jasmine yang mahal langsung menyerbu indra penciuman Dava."Jadi..." Aurelia menyentuh lengan jas suaminya, namun matanya tetap tertuju pada Dava. "Pria ini yang kamu ceritakan itu?"Reinhart memegang bahu istrinya, namun matanya menatap Dava dengan penuh kemenangan. "Ya. Namanya Dava. Dia yang akan menjagamu dan membantumu memberikan apa yang kita inginkan."Aurelia berjalan mendekati Dava. Jarak mereka hanya beberapa sentimeter. Dava bisa melihat betapa halusnya kulit wanita itu, dan betapa rendahnya potongan kerah bajunya yang memperlihatkan keindahan yang dicarikan setiap pria.Aurelia mengulurkan tangan, ujung jarinya dengan kuku merah panjang menyentuh dada Dava, tepat di atas jantungnya yang berdegup liar."Tampan," bisik Aurelia pelan, hampir seperti desahan. "Tapi, apakah dia cukup kuat untuk bertahan denganku, Sayang?”Dava membeku. Di satu sisi, ia merasa terhina. Namun di sisi lain, melihat Aurelia sedekat ini, mencium aromanya, dan melihat bagaimana pakaian itu hampir tidak sanggup menahan bentuk tubuhnya... sesuatu di dalam diri Dava mulai memberontak.Bagaimanapun, ia pria normal!Reinhart tersenyum tipis. "Itu tugasmu untuk mengujinya, Aurelia."Dava menatap Aurelia yang kini tersenyum penuh rahasia padanya, lalu menatap kontrak di meja.Reinhart menatap Dava kembali. "Kontraknya ada di meja. Tanda tangani sekarang, dan sore ini uang muka satu miliar akan masuk ke rekeningmu. Atau silakan keluar, dan biarkan ayahmu mati tanpa perawatan yang layak."
Rumah mewah Reinhart terasa lebih gelap dan dingin dari biasanya. Lampu-lampu taman hanya menyala redup, menciptakan bayangan panjang yang menari di dinding marmer. Olivia melangkah masuk dengan langkah percaya diri, high heels hitamnya berbunyi pelan di lantai. Dress merah ketat yang ia pakai tadi malam sudah diganti dengan setelan hitam sederhana tapi tetap menonjolkan lekuk tubuhnya yang sempurna — payudara montok, pinggang ramping, pinggul lebar. Rambut hitam panjangnya tergerai, mata cokelatnya tajam dan penuh kepuasan. Penjaga membukakan pintu ruang kerja pribadi tanpa sepatah kata. Reinhart sudah duduk di balik meja mahoni besar, segelas whiskey di tangan kanan, senyum tipis menghiasi wajahnya. Ia menatap Olivia dari atas ke bawah seperti sedang menilai barang berharga yang baru saja dikembalikan. “Duduk,” kata Reinhart, suaranya rendah dan tenang. Olivia duduk di kursi depan meja, kakinya disilangkan dengan anggun. Ia mengeluarkan ponsel dari tas kecilnya, meletakkannya di
Dava melaju sendirian ke rumah mewah Reinhart di pinggiran kota. Jalan tol sepi, lampu-lampu jalan berkedip seperti mata yang mengawasi. Dava memakai jas hitam yang sama, rambut undercut rapi, aroma parfum mahal yang sudah menjadi ciri khasnya. Ia tahu pertemuan malam ini bukan pertemuan biasa. Reinhart memanggilnya langsung melalui pesan singkat sore tadi: “Malam ini jam 21.00. Datang sendirian. Kita perlu bicara soal kemajuanmu.” Dava tahu Reinhart puas. Clara Wijaya sudah jatuh lebih dalam dari yang ia prediksi. Pengakuan cinta Clara kemarin malam, akses penuh ke data Luna Group, dan hubungan intim yang semakin sering — semuanya berjalan sesuai rencana. Tapi Dava juga tahu, Reinhart bukan orang yang mudah puas. Ada sesuatu yang lebih besar di balik panggilan ini. Ia tiba tepat waktu. Penjaga membukakan gerbang tanpa sepatah kata. Dava masuk ke ruang kerja pribadi Reinhart di lantai dua — ruangan yang sama seperti pertemuan pertama, meja kayu mahoni besar, kursi kulit hitam, rak
Pagi itu Dava bangun dengan kepala berat dan dada sesak. Cahaya matahari kota yang sudah terik menyusup lewat celah gorden kamar Nadia, tapi rumah gang terasa dingin dan kosong. Nadia masih di apartemen Tebet bersama Aurelia. Dava sendirian, hanya ditemani rasa bersalah yang semakin tebal setiap hari. Ia duduk di tepi ranjang, memandang foto Nadia di meja samping. Senyum polos Nadia, mata hijau besarnya yang penuh cinta — foto itu diambil sebelum liburan, sebelum semuanya menjadi neraka. Dava mengusap foto itu pelan, lalu berdiri. Hari ini adalah hari pertama ia benar-benar memulai langkah kedua: meracuni kepercayaan Clara Wijaya dari dalam. Langkah pertama sudah selesai. Clara sudah jatuh cinta. Ia sudah menyatakan perasaannya, sudah tidur dengannya dua kali, sudah percaya bahwa Dava adalah pria yang berbeda, yang bisa diandalkan. Sekarang saatnya langkah kedua: membuat Clara membuka diri sepenuhnya, memberikan akses ke rahasia bisnisnya, ke data sensitif Luna Group, ke kelemahan-k
Malam itu langit Jakarta sudah gelap sepenuhnya, hanya diterangi lampu-lampu kota yang berkedip-kedip seperti bintang palsu. Dava duduk di teras belakang rumah gang, menatap langit tanpa bintang. Ponselnya bergetar pelan di saku jaket. Pesan dari Aurelia. “Dav… aku butuh bicara sama kamu. Hanya berdua. Malam ini. Ada sesuatu yang harus aku katakan. Tolong datang ke rooftop kafe biasa. Jam 22:00. Aku tunggu.” Dava menatap pesan itu lama. Jantungnya berdegup lebih kencang. Ia tahu Aurelia sedang menahan sesuatu sejak kemarin — rasa cemburu yang ia dengar di suaranya saat telepon dengan Nadia, diamnya saat ia mendengar desahan dari kamar. Ia tahu ini tidak akan mudah. Ia mengetik balasan singkat: “Oke. Aku datang. Tunggu aku.” Dava berdiri, mengambil kunci mobil. Ia tidak memberi tahu siapa pun. Ia hanya mengambil jaket hitam dan pergi. Sepanjang jalan ke Kemang, pikirannya berputar. Ia sedang menghancurkan Clara Wijaya demi Nadia. Ia sedang berbohong pada semua orang. Dan sekarang,
Pagi itu rumah kecil di gang masih diselimuti keheningan. Matahari baru saja muncul, sinarnya menyelinap pelan lewat jendela dapur yang kotor. Dava duduk di meja makan sendirian, gelas kopi hitam di depannya sudah setengah kosong. Ia belum tidur semalaman. Pikirannya penuh dengan rencana menghancurkan Clara Wijaya, dengan desahan Nadia dari malam sebelumnya, dengan rasa cemburu Aurelia yang ia rasakan di telepon, dan dengan ancaman Reinhart yang terus mengintai. Jam dinding menunjukkan pukul 07:15. Ponsel Dava bergetar di atas meja. Nomor Clara. Dava mengangkat dengan tangan yang sedikit gemetar. “Dav… pagi,” suara Clara terdengar lembut, tapi ada nada manja yang membuat Dava merinding. “Aku baru bangun. Kamu sudah di mana?” Dava menelan ludah. “Di rumah. Pagi, Clara.” Clara tertawa kecil. “Aku kangen kamu sejak tadi malam. Malam kemarin… luar biasa. Aku masih merasakan kamu di dalam aku.” Dava diam sebentar. Ia membayangkan tubuh Clara yang telanjang di ranjang mewahnya, desa
Hari berikutnya, Dava melaju ke gedung PT. Luna Group dengan perasaan campur aduk. Jam menunjukkan pukul 16:30 sore. Langit kota sudah mulai jingga, tapi pikiran Dava gelap. Reinhart masih menunggu bukti kemajuan. Tapi setiap langkah Dava terasa seperti menginjak ranjau — satu kesalahan, semuanya bisa meledak. Ia memakai jas hitam custom yang sudah menjadi seragam barunya, rambut undercut rapi, aura yang Reinhart ciptakan membuatnya terlihat lebih tajam dan menarik. Clara sudah mengatur pertemuan sore ini di ruang kerjanya — bukan ruang meeting umum, tapi ruang pribadi Clara di lantai 18. “Kita bisa bicara lebih bebas,” kata Clara kemarin di telepon, suaranya hangat dan sedikit menggoda. Dava tiba di lantai 18. Sekretaris Clara menyambutnya dengan senyum profesional. “Bu Clara sudah menunggu di dalam, Pak Dava.” Dava masuk. Ruang kerja Clara luas, modern, dengan jendela kaca besar yang menghadap kota yang mulai menyala lampu. Clara berdiri di dekat meja, gaun hitam pendek membalut







