MasukIa menunduk, menangkap bibir merah Aurelia dengan ciuman yang penuh tekanan—campuran antara rasa frustrasi, nafsu yang tertahan, dan amarah pada keadaan.
Aurelia membalasnya dengan intensitas yang sama, tangannya merayap ke rambut Dava, menariknya semakin dalam ke dalam pusaran gairah.
Dava membawa tangan kekarnya ke atas kaki jenjang Aurelia, naik ke pahanya.
“Ahh,” Aurelia mengerang atas sentuhan Dava.
Dava dengan cepat membuka pakaian yang membungkus tubuh Aurelia. Ia seakan lupa dengan tanggungan harga dirinya.
Persetan!
Dalam benak Dava, uang miliaran itu menjadi pegangannya sekarang.
Maka Dava terus mencumbu, ia biarkan Aurelia menikmati permainannya. “Aurelia…”
Aurelia ikut mengerang di bawah Dava, membuat wajah Dava semakin memanas. Hatinya tak karuan sekarang.
Sekarang, tanpa sehelai pakaian pun mereka bercumbu. Tangan Dava mulai nakal dan menyentuh area terlarang.
“Teruskan.. Dava… ah!” pinta Aurelia.
Dava lantas mabuk dalam permainan malam ini. Bohong jika dibilang ia tidak menikmatinya.
Semalaman, Dava seperti berada dalam surga dunia.
Setelah melampiaskan hasrat bercampur amarahnya, Dava berakhir terlelap di samping Aurelia. Yang ia ingat terakhir kali adalah wajah Aurelia yang begitu cantik, bercampur dengan keringat.
Ketika ia terbangun, saat tangannya bergerak menyamping, ia hanya merasakan seprai sutra yang dingin.
Aurelia sudah tidak ada di sana.
Dava terduduk dengan napas memburu. Memori semalam menghantamnya. Sentuhan Aurelia, aroma vanilanya, dan bagaimana wanita itu memandangnya seolah Dava adalah satu-satunya penyelamat dalam hidupnya yang gersang.
Namun, kenyataannya pagi ini terasa sangat hambar.
Ia beranjak ke kamar mandi, mengguyur tubuhnya dengan air dingin untuk membasuh rasa bersalah yang mulai menggerogoti pikirannya. Saat ia keluar dengan handuk melilit pinggang, pintu penghubung terbuka.
Aurelia berdiri di sana. Ia sudah berpakaian rapi dengan gaun berwarna krem yang membalut tubuh indahnya dengan sangat sempurna. Tidak ada jejak keintiman semalam di wajahnya yang kini tertutup riasan yang elegan.
"Cepat pakai bajumu. Kita kembali ke Jakarta satu jam lagi," ucap Aurelia datar. Suaranya dingin, seolah kejadian semalam hanyalah transaksi bisnis.
Dava terpaku. "Aurelia, soal semalam..."
Aurelia menghentikan langkahnya. Ia berbalik dan menatap Dava dengan tatapan tajam yang membuat Dava merasa kecil. "Semalam adalah tugas, Dava. Jangan mencampuradukkan apa yang terjadi di tempat tidur dengan kenyataan. Di luar sana, aku adalah istri Reinhart, dan kau adalah asistenku. Mengerti?"
Dava mengepalkan tangan hingga buku-buku jarinya memutih. "Ah.. tapi-"
Aurelia mendekat, aroma parfumnya kembali mengacaukan logika Dava. Ia merapikan rambut Dava yang masih basah dengan gerakan yang sangat mekanis. "Uang satu miliar sudah di rekeningmu, kan? Belilah harga diri yang baru dengan itu, Dava."
Kalimat itu menusuk Dava.
Ia termenung mendengarnya. Memang benar begitu, memang harga dirinya sudah tiada sejak ia menerima tawaran itu.
Dava merasa begitu payah.
Setelah itu, mereka pun berkendara pulang.
Sesampainya di mansion mewah milik Reinhart, Dava langsung dihadapkan pada kenyataan pahit lainnya. Sebuah jamuan makan siang formal diadakan untuk menyambut kolega bisnis Reinhart.
Dava berdiri di pojok ruangan, mengenakan setelan jas hitam yang disediakan oleh pelayan. Tugasnya sederhana, hanya berdiri diam, memegang tablet, dan terlihat seperti asisten yang kompeten. Namun, matanya tidak bisa lepas dari pemandangan di tengah ruangan.
Reinhart berdiri di sana, merangkul pinggang Aurelia dengan posesif.
Di depan tamu-tamunya, Reinhart tampak seperti suami yang paling mencintai istrinya. Ia sesekali membisikkan sesuatu ke telinga Aurelia yang membuat wanita itu tertawa kecil—tawa yang sama dengan yang didengar Dava semalam.
Hati Dava berdenyut aneh. Ada rasa yang tak bisa digambarkan di sana ketika melihat tangan Reinhart mengelus punggung Aurelia.
"Kau lihat itu, Dava?"
Suara dingin Reinhart tiba-tiba terdengar di sampingnya. CEO itu entah sejak kapan sudah melepaskan diri dari kerumunan dan menghampiri Dava dengan segelas sampanye di tangan.
"Itulah bedanya aku dan kau," bisik Reinhart tanpa menoleh pada Dava, matanya tetap tertuju pada Aurelia yang sedang berbincang dengan seorang investor. "Kau boleh memiliki tubuhnya dalam gelap, tapi di bawah cahaya matahari, dia milikku. Namanya, hartanya, dan rahimnya adalah properti perusahaan Reinhart Group."
Dava menoleh, menatap Reinhart dengan kebencian yang mulai sulit disembunyikan. "Nyonya mungkin tidak akan senang diperlakukan seperti itu."
Reinhart tertawa kecil, tawa yang kering dan meremehkan. "Semua orang punya harga, Dava. Termasuk kau. Jangan lupa tujuanmu di sini. Besok kau mulai kuliah S2. Aku sudah mengatur jadwalmu agar kau tetap bisa mengantar Aurelia ke mana pun. Pastikan kau belajar dengan baik... dan pastikan 'investasi' yang aku tanam di rahimnya segera membuahkan hasil."
Reinhart menepuk bahu Dava dengan keras, seolah sedang menyemangati seorang karyawan rendahan, lalu kembali ke sisi istrinya.
Sore harinya, Dava bertugas mengantar Aurelia ke sebuah butik mewah. Di dalam mobil, keheningan terasa mencekam. Aurelia sibuk dengan ponselnya, sementara Dava fokus pada jalanan, meski pikirannya melayang ke mana-mana.
"Kenapa kau diam saja?" tanya Aurelia tiba-tiba. Ia melirik Dava lewat spion tengah. "Cemburu melihatku dengan suamiku?"
"Saya tidak punya hak untuk itu, Nyonya," jawab Dava kaku.
Aurelia mendengus. "Nyonya? Tadi malam kau memanggil namaku berkali-kali seolah itu adalah doa terakhirmu."
Dava menginjak rem dengan mendadak karena lampu merah, membuat tubuh mereka sedikit terhentak. Ia menoleh ke belakang, menatap Aurelia dengan intensitas yang membuat wanita itu sedikit terkejut.
"Nyonya," suara Dava rendah dan penuh tekanan.
Aurelia masih menatapnya. Dava masih ingin membahas soal semalam, malam yang terasa begitu nyata. Namun ia mengurungkan niatnya.
“Ah- tidak. Maaf, Nyonya,” kata Dava lagi.
Melihat Dava berlaku seperti itu membuat Aurelia geli.
Aurelia perlahan memajukan tubuhnya, bersandar pada kursi pengemudi hingga wajahnya tepat di samping telinga Dava. Hembusan napasnya terasa hangat di kulit Dava.
"Dava," bisik Aurelia nakal. "Kau tahu? Besok malam, Reinhart akan pergi ke Singapura untuk urusan bisnis selama tiga hari. Itu berarti kita punya waktu tiga malam penuh... tanpa kamera, tanpa kontrak, tanpa sandiwara. Hanya aku dan kau."
Aurelia berbisik seolah dapat membaca pikiran Dava.
Dava tersentak dan menelan ludah. "Tanpa kamera? Maksud Nyonya?"
Aurelia menyeringai, sebuah seringai yang memperlihatkan kecerdikan di balik kecantikannya. "Kau pikir aku tidak tahu suamiku memasang kamera di vila itu? Dia gila kendali, Dava. Dia ingin memastikan aku benar-benar hamil. Tapi dia lupa... aku istrinya. Aku tahu setiap sudut rumah itu."
Aurelia kembali duduk dengan tenang saat lampu berubah hijau. "Antar aku ke butik sekarang. Aku ingin membeli sesuatu yang akan membuatmu lupa jalan pulang besok malam."
Dava menjalankan mobil dengan pikiran yang berkecamuk. Ia menyadari bahwa ia tidak hanya terjebak dalam masalah ekonomi, tapi ia kini berada di tengah peperangan antara suami istri yang saling membenci. Dan ia, Dava Atmajaya, adalah senjata yang sedang diperebutkan oleh keduanya.
Malam itu, Dava kembali ke apartemen kecilnya untuk mengambil buku-buku dan lembar pendaftaran S2. Ia melihat foto ayahnya di meja kecil. Maafkan aku, Yah, batinnya. Ia merasa sedang menukar masa depannya dengan sebuah dosa besar.
Namun, bayangan Aurelia dalam gaun merah dan bisikan nakalnya di mobil membuat detak jantung Dava kembali berpacu.
“A-aku harus pergi ke kampus,” ucap Dava pada Aurelia.Ketika Dava menoleh, Aurelia tengah tidur dengan napas teratur. Ah, Nyonya sudah tertidur, batin Dava.Selesai berkemas, Dava memacu mobil operasionalnya dengan kecepatan tinggi menembus kemacetan jalan. Jantungnya berpacu lebih cepat daripada putaran mesin mobil. Kemejanya yang tadi basah kini memang sudah kering, namun sensasi kulit Aurelia yang bersentuhan dengannya di bawah shower pagi tadi masih terasa nyata, seperti bekas luka yang tak terlihat.Di dalam kepalanya, suara Aurelia dan pesan-pesan cemas Sita saling beradu. Ia merasa kikuk memikirannya.Sesampainya di pelataran kampus, Dava mengerem mendadak. Ia melihat sosok gadis dengan blus cokelat muda berdiri gelisah di depan gedung fakultas. Dava keluar mobil dengan terburu-buru."Sita!" panggil Dava sambil berlari menghampirinya.Sita menoleh. Ekspresi cemas di wajahnya seketika berubah menjadi campuran antara lega dan marah. Saat Dava sampai di depannya, Sita langsu
Dava pun terbangun dengan rasa pening yang menghantam pelipisnya. Ingatan tentang lensa kamera tersembunyi yang ia temukan semalam masih menghantui pikirannya. Namun, saat ia menoleh ke samping, tempat tidur itu lagi-lagi sudah kosong.Hanya ada keharuman vanilla dan jasmine yang tertinggal di bantal, serta suara gemericik air yang jatuh dari balik pintu kaca buram di sudut ruangan. Aurelia sedang mandi.Dava duduk di tepi ranjang, menatap tangannya yang sedikit gemetar. Pikirannya berperang antara rasa takut pada Reinhart dan daya tarik Aurelia yang tak tertahankan.Seharusnya ia segera pergi, kembali ke paviliunnya sebelum pelayan lain curiga. Namun, bayangan tubuh Aurelia semalam membuat kaki Dava justru melangkah ke arah kamar mandi.Ia membuka pintu kaca tersebut. Uap panas langsung menyergap wajahnya. Aurelia tersentak, ia berbalik dengan rambut yang basah kuyup menutupi sebagian dadanya. Matanya yang jernih membelalak kaget, namun rasa terkejut itu hanya bertahan sedetik se
Layar ponsel di lantai itu akhirnya padam, menyisakan cahaya remang lampu tidur berwarna amber. Keheningan kamar itu mendadak terasa berat.Di atasnya, Aurelia tidak memberinya ruang sedikit pun untuk berpikir. Wanita itu bergerak dengan keanggunan yang mematikan, jemarinya yang lentik dan gemetar melepaskan kancing kemeja Dava satu per satu. Rasanya harga diri Dava runtuh bersamaan dengan terbukanya kancing-kancing itu."Jangan pikirkan hal lain," bisik Aurelia. Suaranya parau. "Malam ini, biarkan aku merasa hidup."Dava menatap lurus ke dalam mata Aurelia. Dava tahu dia hanyalah pria sewaan. Namun, saat kulit mereka bersentuhan tanpa penghalang kain, insting maskulinnya mengambil alih. Tubuh Dava yang atletis—hasil dari tahun-tahun bekerja kasar sebagai kuli panggul demi menyambung hidup—tampak begitu kontras dengan kelembutan kulit Aurelia yang seputih porselen dan terawat oleh kemewahan.Untuk pertama kalinya sejak ia menerima kontrak Reinhart, Dava tidak merasa seperti asi
Keesokan harinya, kampus pascasarjana Universitas Maju tampak berkabut. Udara segar yang ada sedikit mendinginkan kepala Dava yang terasa mendidih setelah rentetan kejadian gila beberapa hari terakhir. Ia berdiri di depan gedung fakultas dengan ransel yang terasa lebih berat, bukan karena buku-buku tebal di dalamnya, melainkan karena rahasia yang ia pikul.Dava menarik napas dalam. Tadi ia baru menjalankan kelas pertama.Hari ini adalah hari pertamanya kuliah S2. Gelar yang ia impikan sejak kecil, tiket yang seharusnya ia dapatkan dengan keringat kejujuran, kini ia beli dengan harga dirinya sendiri."Dava? Dava Atmajaya?"Suara feminin yang lembut itu membuat Dava tersentak. Ia menoleh dan seketika itu juga seluruh tubuhnya membeku. Berdiri beberapa meter darinya, seorang gadis dengan blus cokelat muda dan rambut dikuncir kuda menatapnya dengan mata yang berbinar tak percaya."Sita?" suara Dava tercekat.Sita adalah masa lalunya. Gadis yang pernah mengisi hari-harinya di masa S
Ia menunduk, menangkap bibir merah Aurelia dengan ciuman yang penuh tekanan—campuran antara rasa frustrasi, nafsu yang tertahan, dan amarah pada keadaan. Aurelia membalasnya dengan intensitas yang sama, tangannya merayap ke rambut Dava, menariknya semakin dalam ke dalam pusaran gairah.Dava membawa tangan kekarnya ke atas kaki jenjang Aurelia, naik ke pahanya. “Ahh,” Aurelia mengerang atas sentuhan Dava.Dava dengan cepat membuka pakaian yang membungkus tubuh Aurelia. Ia seakan lupa dengan tanggungan harga dirinya. Persetan! Dalam benak Dava, uang miliaran itu menjadi pegangannya sekarang.Maka Dava terus mencumbu, ia biarkan Aurelia menikmati permainannya. “Aurelia…”Aurelia ikut mengerang di bawah Dava, membuat wajah Dava semakin memanas. Hatinya tak karuan sekarang.Sekarang, tanpa sehelai pakaian pun mereka bercumbu. Tangan Dava mulai nakal dan menyentuh area terlarang.“Teruskan.. Dava… ah!” pinta Aurelia.Dava lantas mabuk dalam permainan malam ini. Bohong jika dibilang ia t
Tangan Dava gemetar saat ujung pulpen itu menyentuh permukaan kertas kontrak yang dingin. Di ruangan itu, kesunyian terasa begitu menekan, hanya detak jam dinding mewah dan deru napasnya sendiri yang terdengar.Di hadapannya, Reinhart berdiri dengan tangan bersedekap, sementara Aurelia menyandarkan pinggulnya di tepi meja kerja—posisi yang nampak sengaja menonjolkan lekuk tubuhnya yang mustahil untuk diabaikan.Satu miliar.Angka itu terus berputar di kepala Dava. Itu adalah nyawa ayahnya. Itu adalah tiketnya menuju universitas ternama. Namun itu juga harga dari kehormatan yang selama ini ia berusaha jaga dengan susah payah."Aku tidak punya banyak waktu, Dava," suara Reinhart memecah kesunyian, tajam dan tidak sabar.Dava memejamkan mata sejenak, membayangkan wajah lelah ibunya di koridor rumah sakit, wajah ayahnya yang terbaring lemah.Lalu dengan satu tarikan napas panjang, ia membubuhkan tanda tangannya. Rasanya ia menggores harga dirinya sendiri."Pilihan yang cerdas," uja







