/ Urban / Biarkan Aku Membantumu Nyonya / Bab 13: Rantai Obsesi yang Mengikat

공유

Bab 13: Rantai Obsesi yang Mengikat

작가: Benduls
last update 게시일: 2026-02-05 23:26:27

lDava mengemudikan mobil kembali ke mansion dengan pikiran yang kacau, seperti badai yang tak kunjung reda. Jalanan pagi Jakarta yang macet terasa seperti siksaan, setiap lampu merah membuatnya teringat wajah Sita yang penuh kekecewaan. "Kau pengecut," kata-katanya bergema di telinganya. Tapi apa pilihan lain? Reinhart bukan orang biasa—dia adalah raja di kerajaannya sendiri, dengan tentakel pengaruh yang menjangkau ke mana-mana. Dan Aurelia... wanita itu sudah menjeratnya dengan tubuhnya, deng
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Biarkan Aku Membantumu Nyonya   BAB 214: Tebusan Malam yang Penuh Rindu

    Malam itu hotel kecil di pinggiran kota terasa sangat sunyi. Lampu kamar hanya menyala redup, cahaya kuning lembut menerangi dua orang yang saling memeluk di ranjang. Dava dan Aurelia berbaring saling menempel, tubuh mereka masih penuh memar dan luka, tapi pelukan itu adalah satu-satunya tempat mereka merasa aman. Aurelia mengangkat wajahnya dari dada Dava. Matanya masih merah karena menangis, tapi ada tekad yang berbeda di sana. Ia menatap Dava lama, tangannya mengusap pipi Dava yang memar dengan sangat lembut. “Dav…” suaranya pelan, hampir berbisik. “Aku sudah salah. Aku pergi ke Reinhart tanpa bilang kamu. Aku bikin kamu khawatir… bikin kamu terluka lagi. Aku mau menebus kesalahanku malam ini.” Dava menggeleng pelan, tangannya mengusap rambut Aurelia. “Lia, kamu nggak salah. Kamu lakukan itu karena takut kehilangan aku. Aku yang seharusnya lindungin kamu.” Aurelia meletakkan jari di bibir Dava, menghentikan kata-katanya. “Malam ini biarkan aku yang kasih kamu semua yang aku pun

  • Biarkan Aku Membantumu Nyonya   BAB 213: Titik Lemah yang Terungkap

    Dava dan Aurelia berdiri di kamar hotel yang sempit, napas mereka tersengal karena ketegangan. Ponsel Aurelia masih hangat di tangan setelah panggilan Reinhart yang mengancam. Waktu yang tersisa hanya sekitar 25 menit sebelum batas akhir yang Reinhart berikan. Dava memandang Aurelia dengan mata penuh tekad meski tubuhnya masih sakit. “Kita nggak boleh menyerah, Lia. Aku punya satu harapan terakhir.” Ia mengambil ponselnya sendiri dan mencari nomor lama di daftar kontak. Nama yang muncul: Budi Santoso — teman lamanya yang sekarang menjadi polisi berpangkat inspektur di kepolisian kota. Dava pernah menolong Budi bertahun-tahun lalu ketika masih bekerja di dunia bawah tanah. Ia berharap hutang itu masih bisa ditagih. Telepon diangkat setelah nada dering ketiga. “Dav? Lama banget lo nggak telepon,” suara Budi terdengar surprise di seberang. “Budi, aku butuh bantuan lo sekarang. Darurat,” kata Dava cepat, suaranya tegang. “Reinhart kembali. Dia ancam bunuh aku dan ambil Aurelia.

  • Biarkan Aku Membantumu Nyonya   BAB 212: Kabur ke Tempat Sementara

    Pagi berikutnya datang dengan suasana yang semakin berat. Rumah gang kecil itu terasa seperti sangkar yang semakin menyempit. Dava bangun lebih dulu, tubuhnya masih penuh memar dan sakit, tapi matanya penuh tekad. Ia duduk di tepi ranjang, memandangi Aurelia yang masih tidur dengan wajah pucat dan memar di lehernya. Pesan Reinhart semalam masih terngiang jelas di kepala Dava. Waktu yang diberikan hanya sampai sore hari ini. Dava tahu mereka tidak bisa menunggu lagi. “Lia…” Dava mengusap pipi Aurelia dengan lembut. “Bangun, sayang. Kita harus bicara.” Aurelia membuka mata perlahan. Begitu melihat wajah Dava yang serius, ia langsung duduk dengan cemas. “Dav… ada apa?” Dava memegang kedua tangan Aurelia erat. “Kita nggak bisa tinggal di sini lagi. Reinhart sudah ancam terlalu jelas. Kalau kamu pergi ke sana sore ini, aku nggak yakin kamu akan kembali dengan selamat. Dan kalau kamu nggak pergi, dia akan datang ke sini untuk membunuh aku. Kita harus kabur. Sekarang.” Aurelia menggelen

  • Biarkan Aku Membantumu Nyonya   BAB 211: Rahasia yang Tak Lagi Bisa Disembunyikan

    Malam itu rumah gang kecil terasa seperti kuburan. Lampu ruang tengah menyala redup, hanya satu bohlam kuning yang masih bertahan. Aurelia duduk di sofa dengan tubuh gemetar, selimut tebal menutupi bahunya. Memar baru di leher, pergelangan tangan, dan pinggulnya terlihat jelas meski sudah ditutup salep. Air matanya sudah kering, tapi matanya masih merah dan kosong. Dava duduk di lantai tepat di depan Aurelia, tangannya memegang kedua tangan Aurelia dengan erat. Wajahnya penuh luka lama dan baru, bibirnya pecah, rusuknya masih sakit setiap kali bernapas. Tapi matanya hanya tertuju pada Aurelia. “Lia… cerita yang sebenarnya,” kata Dava pelan, suaranya serak. “Kamu pergi ke Reinhart pagi tadi… sendirian. Kamu bilang mau urusan sebentar. Tapi pulangnya… seperti ini.” Aurelia menunduk. Air mata jatuh lagi ke punggung tangan Dava. “Aku… aku terpaksa, Dav. Semalam dia kirim pesan. Kalau aku nggak datang sendiri hari ini, dia akan bunuh kamu. Aku takut… aku nggak mau kehilangan kamu.”

  • Biarkan Aku Membantumu Nyonya   BAB 210: Pergi Tanpa Sepengetahuan

    Pagi itu Aurelia terbangun lebih awal dari Dava. Cahaya matahari yang menyusup lewat celah tirai masih samar. Tubuhnya masih sakit, memar di leher dan pinggul terasa panas setiap kali bergerak. Ia menatap Dava yang tidur di sampingnya dengan napas pelan. Wajah Dava penuh luka dan memar, bibirnya pecah, rusuknya naik-turun dengan susah payah. Aurelia mengusap pipi Dava dengan sangat lembut, air matanya jatuh pelan. Pesan Reinhart semalam masih terngiang jelas di kepalanya: “Besok sore pukul 17.00, Aurelia harus datang ke tempatku sendiri. Sendirian. Kalau kamu datang dengan Dava… aku akan bunuh dia di depan matamu.” Ia tahu Dava tidak akan pernah mengizinkan. Dava akan melawan, akan mencoba melindunginya, dan itu justru bisa membuatnya mati. Aurelia tidak sanggup kehilangan Dava. Setelah semua yang mereka lewati — kematian Nadia, Reza, dan sekarang Reinhart — ia memutuskan untuk pergi sendiri. Dengan hati-hati agar tidak membangunkan Dava, Aurelia bangkit dari ranjang. Ia menulis p

  • Biarkan Aku Membantumu Nyonya   BAB 209: Suara Reinhart yang Masih Bergema

    Pagi itu rumah gang kecil terasa lebih dingin dari biasanya. Cahaya matahari yang masuk lewat jendela tidak mampu menghangatkan suasana yang berat. Aurelia masih berbaring di ranjang, tubuhnya meringkuk di bawah selimut tipis. Memar di leher, dada, dan pinggulnya terlihat jelas meski sudah diolesi salep. Setiap gerakan kecil membuatnya meringis. Dava duduk di tepi ranjang, tubuhnya sendiri penuh luka dan memar dari pukulan kemarin. Ia memegang kain hangat, membersihkan luka di lengan Aurelia dengan gerakan sangat hati-hati, seolah takut menyentuh terlalu kuat. Mereka hampir tidak bicara. Aurelia sudah menceritakan semuanya tentang Reza semalam — photoshoot, video call, hubungan intim yang dipaksa, dan ancaman pindah. Dava mendengarkan dengan hati hancur, tapi pagi ini mereka tidak lagi membahas Reza. Hari ini, yang mendominasi pikiran mereka adalah Reinhart. Aurelia menatap langit-langit kamar dengan mata kosong. Air matanya sudah kering, tapi wajahnya masih pucat. “Dav… aku m

  • Biarkan Aku Membantumu Nyonya   BAB 32: Jawaban Tanpa Kata

    Malam itu apartemen kecil terasa lebih hangat dari biasanya. Angin pegunungan menyusup pelan lewat celah jendela yang sedikit terbuka, membawa aroma pinus dan embun malam. Lampu ruang tamu hanya menyala redup—lampu meja kecil di sudut yang Aurelia nyalakan karena ia suka melihat bayang-bayang lembu

  • Biarkan Aku Membantumu Nyonya   BAB 31: Mulai dari Nol

    Hujan sudah reda sejak subuh, meninggalkan udara kota yang dingin dan segar, bercampur aroma tanah basah dan pinus dari bukit di kejauhan. Dua minggu setelah Sita menghilang, apartemen terasa semakin sempit dan asing. Setiap sudut masih menyimpan bayang Sita: cangkir kopi yang tak pernah dicuci, ja

  • Biarkan Aku Membantumu Nyonya   BAB 30: Jejak yang Menggantung

    Malam kedua setelah Sita menghilang terasa seperti lubang hitam yang menelan segalanya. Dava kembali ke apartemen jam setengah dua pagi, tubuhnya basah kuyup oleh hujan deras yang tiba-tiba turun di pinggiran kota. Jaketnya meneteskan air ke lantai, tapi ia tidak peduli. Matanya merah, bukan hanya

  • Biarkan Aku Membantumu Nyonya   BAB 29: Hilang Tanpa Jejak

    Jam dinding di apartemen berdetak pelan, hampir tak terdengar di antara keheningan yang menyesakkan. Pagi baru saja menyapa, tapi cahaya yang merembes lewat celah gorden terasa pucat dan tak bernyawa, seperti lampu neon yang hampir padam. Dava terbangun dengan perasaan ada yang salah—bukan karena m

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status