Share

Bab 2

Author: Mango
Mendengar mahasiswa kesayangannya akhirnya sudah sadar, nada suara Bu Arni seketika terasa jauh lebih lega.

"Kamu akhirnya udah sadar, baguslah! Nilai kamu sangat bagus, kuota pertukaran mahasiswa ini cuma ada satu di seluruh kampus, masa mau diserahin ke orang lain."

"Kamu persiapin diri baik-baik, 15 hari lagi udah harus ke luar negeri."

Cesya mengangguk, mengambil pena, lalu melingkari tanggal keberangkatannya di kalender.

15 hari lagi, pas di hari ulang tahun Rian.

Dia membuka lemari pakaian, mengeluarkan setelan jas pria di dalamnya. Selama tiga bulan ini, dia begadang untuk merancang dan mengubahnya, hanya demi memberikan hadiah ulang tahun buatan tangannya sendiri di hari itu.

Dia melepaskan kesempatan untuk melanjutkan studi ke luar negeri demi bisa terus berada di sisinya, menemaninya melewati tahun demi tahun.

Namun, sekarang tampaknya, hal itu tidak ada gunanya lagi.

Memikirkan hal ini, sudut bibir Cesya mengukir senyum pahit, lalu membuang setelan jas itu ke dalam tong sampah.

Setelah itu dia mandi air hangat, membungkus dirinya di dalam selimut dan tertidur lelap.

Mungkin karena terkena hujan, suhu tubuhnya terus naik.

Rasa dingin dan panas yang ekstrem datang silih berganti, seluruh tubuhnya berkeringat dingin, kepalanya pusing, rasanya seperti ada beberapa gunung yang menindih tubuhnya.

Antara mimpi dan sadar, dia mendengar ponselnya berdering beberapa kali, tapi dia terjebak dalam mimpi buruk dan tidak bisa membuka mata.

Sampai hari hampir siang, seseorang menerobos masuk ke kamar dan menggoyang-goyangkan tubuhnya hingga terbangun.

"Nona Cesya, cepat bangun, Pak Rian suruh saya antar Nona ke suatu tempat."

Cesya memaksa matanya terbuka, lalu melihat sosok asisten Rian.

Dia menahan rasa tidak nyamannya, bangun lalu berganti pakaian.

Asisten menyetir mobil, mengantarnya sampai ke depan pintu kelab, lalu pergi.

Cesya merapatkan pakaiannya, mengandalkan ingatan untuk mencari ruang VIP, lalu mendengar suara keramaian dari dalam.

"Ini udah satu jam, kok Cesya belum sampai juga? Walaupun habis kecelakaan dan nggak enak badan, tapi kamu udah meneleponnya berkali-kali, terus udah kirim asisten buat jemput, dia masih aja lelet, keterlaluan banget nggak sih?"

"Cuma wanita yang dipelihara buat ngisi waktu luang aja, biasanya kalau pura-pura penurut masih bisa dibilang lucu, tapi kalau terus-terusan berulah itu namanya nggak tahu diri. Rian, kamu jangan terlalu manjain dia, kalau dibiarin makin melunjak kayak gini, takutnya dia makin nggak tahu diri!"

"Iya nih, waktu Lisa pergi dulu, kamu tiap hari mabuk-mabukan, terus asal pelihara cewek buat mengalihkan perhatian. Kalau nggak, mana mungkin Cesya seumur hidupnya bisa masuk ke lingkaran kita. Kamu udah manjain dia empat tahun, sekarang Lisa juga udah balik, kamu rencana kapan mau nyingkirin beban ini?"

Rian duduk di kursi utama, cahaya lampu menimpa wajahnya yang dingin dan menjaga jarak, membuat suaranya terdengar makin datar.

"Aku sendiri yang urus soal orangku, ngapain kalian yang terburu-buru?"

"Ya kita 'kan cemasin kamu sama Lisa juga. Kamu udah nungguin dia tujuh tahun, sekarang orangnya udah susah payah balik, kamu jangan pakai Cesya buat mancing emosinya lagi. Kalau nanti orangnya ngambek terus pergi lagi, kamu bakal menyesal setengah mati!"

"Iya tuh, bertahun-tahun ini nggak tega hapus foto sama Lisa, tiap hari dilihat berkali-kali, sebentar-sebentar pergi ke Amerika diam-diam buat lihat keadaannya. Begitu dengar dia suka barang apa, langsung cari jalan buat dapetin dan minta orang lain kirim ke dia ...."

Kata demi kata menancap di hati Cesya, seperti tusukan jarum yang memicu rasa sakit yang menusuk.

Ternyata, dari awal sampai akhir, dia cuma alat yang pria itu gunakan untuk mengalihkan perhatian dan memancing emosi Lisa.

Dia berbalik hendak pergi, tapi dihalangi oleh Lisa yang baru saja kembali dari kamar mandi.

Satu tangannya memegang pergelangan tangan Cesya, tangan satunya lagi mendorong pintu ruangan, lalu menyapa orang-orang di dalam ruangan dengan tersenyum lebar.

"Lagi ngobrolin apa nih? Rame banget, sampai-sampai adik yang dipanggil Rian takut buat masuk."

Sekelompok orang itu melihat mereka berdua, lalu kompak bungkam dan secara serentak mengalihkan pandangan ke Rian.

Pria itu mengangkat kepala, memberikan perkenalan singkat tentang nama mereka berdua, lalu memberi isyarat agar Cesya datang ke sisinya.

"Kelihatannya luka kecelakaannya nggak parah, dipanggil lewat telepon kok nggak diangkat?"

Cesya menekan gejolak emosi di hatinya, lalu berjalan diam-diam ke sisinya.

"Cuma luka lecet kecil, habis pakai obat langsung tidur, jadi nggak dengar telepon. Udah kemalaman gini ada urusan apa?"

Melihat Cesya hari ini tidak bersuara, tidak bertingkah, juga tidak berbuat ulah, Rian merasa agak terkejut, tapi tidak bertanya lebih lanjut.

"Nggak ada apa-apa, cuma manggil kamu ke sini buat main aja."

Hati Cesya terasa nyeri menusuk.

Memanggilnya ke sini untuk main, atau memanggilnya ke sini untuk memancing emosi Lisa?

Tadi Lisa memberinya uang agar dia meninggalkan Rian demi bersiap balikan dengan Rian.

Lalu sekarang, Rian ingin menggunakannya untuk memancing emosi Lisa, demi mempercepat proses balikan dengan Lisa.

Dalam tarik-ulur cinta mereka berdua, Cesya hanyalah sebuah alat.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Biarkan Aku Terbang Bebas   Bab 22

    Hari kompetisi Kevin makin mendekat.Entah kenapa, Cesya justru merasa lebih cemas darinya. Dia duduk di studio, pensilnya menggores dengan cepat di atas kertas.Dia membulatkan tekad untuk merancangkan jas pertunjukan yang tiada dua khusus untuk pria itu.Seluruh rancangan jas itu sudah selesai dirancang sepenuhnya, tapi Cesya ingin menambahkan sebuah desain kecil yang unik lagi, agar gaun ini menjadi keberadaan yang paling tampil beda."Gimana kalau di sini pakai benang perak buat menyulam satu kalimat ya?"Dia bergumam sendiri, jemarinya membelai pelan bagian kerah pada draf gambar rancangan, sama sekali tidak menyadari kalau ada seseorang di belakangnya yang sudah mendekat secara diam-diam."Lagi gambar apa?"Kevin membungkukkan badan, hembusan napasnya mengenai ujung telinganya.Cesya kaget seketika, tergesa-gesa menutupi draf gambarnya."Rahasia! Kamu nggak boleh lihat!"Tingkah Cesya yang menggemaskan seperti kelinci membuat Kevin tertawa pelan.Dia mendaratkan sebuah ciuman den

  • Biarkan Aku Terbang Bebas   Bab 21

    "Cari tahu! Lisa sebenarnya kabur ke mana! Harus lebih awal kontak sama pihak kepolisian, sama sekali nggak boleh biarkan dia melapor ke polisi!!"Selesai menelpon, Rian membanting ponselnya kencang ke dinding.Kenapa semalam dia begitu ceroboh, sampai membiarkan wanita itu kabur ke luar!Rian merokok batang demi batang di ruang kerja, asbak rokok dengan cepat terisi penuh bertumpuk tinggi.Tepat saat dia menunggu dengan cemas, panggilan dari asistennya masuk."Pak Rian, udah ada kabar!""Polisi air kita di wilayah laut arah Vietnam mendapati sebuah jas luar berdarah, itu adalah pakaian yang dipakai Lisa saat kabur! Dia nggak punya dokumen identitas, harusnya dia kabur secara ilegal ke luar negeri.""Pak Rian tenang aja, orang kayak dia yang nggak punya identitas resmi kayak gini, mati juga nggak bakal ada yang mengusutnya."Rian mendengar laporan itu, dengan raut wajah tanpa ekspresi menghapus video CCTV yang memperlihatkan Lisa kabur dengan luka di sekujur tubuhnya.Karena wanita itu

  • Biarkan Aku Terbang Bebas   Bab 20

    Pesawat mendarat tepat waktu, Rian naik ke mobil asisten yang menjemputnya.Mobil melaju tenang kembali ke jalanan yang familier, tapi dia sama sekali tidak bisa merasa gembira.Setiap sudut kota ini menyimpan jejak-jejak Cesya.Restoran Barat kelas atas di sudut jalan itu adalah tempat Rian menemaninya merayakan ulang tahun pada suatu tahun, di sana mereka berciuman mesra di bawah ucapan selamat dari grup musik.Jembatan besar di tepi sungai itu sering mereka lalui saat jalan-jalan santai, ketika musim dingin Rian akan memasukkan tangan Cesya ke dalam saku bajunya untuk menghangatkan, sementara Cesya tersenyum mencium pipinya.Tiap adegan saat mereka berpacaran terukir dalam di dalam hati Rian, tidak peduli bagaimana cara menghapusnya tetap tidak bakal hilang.Mengenang masa lalu, Rian akhirnya sampai di depan pintu rumah.Sudah lama dia tidak kembali ke sini, karena di sini jejak-jejak kehidupan Cesya sudah lama menghilang.Dia sudah lama tidak mendorong pintu gudang bawah tanah, bau

  • Biarkan Aku Terbang Bebas   Bab 19

    Sejak bertemu Rian di kampus tadi pagi, Cesya menjadi sangat linglung sepanjang hari.Kondisinya seharian ini tidak baik, saat menggambar draf desain pensilnya patah tiga kali, garis gambar yang dibuatnya pun miring dan berantakan.Bahkan saat menyeduh kopi di mesin kopi kampus, tangannya hampir tersiram air panas, untung Kevin menyadarinya tepat waktu sehingga tidak terluka."Cesya, nanti kita mau makan di mana?"Kevin berbicara di sampingnya, tapi Cesya hanya tertegun tanpa memberikan respons."Cesya?"Sampai Kevin melambaikan tangan di depan matanya, Cesya baru mendadak tersadar."Maaf ya, aku tadi melamun."Raut wajah Cesya yang murung terlihat sangat jelas, membuat Kevin merasa tidak tenang."Cesya, siang ini kita nggak usah ikut kuliah lagi deh, ayo pergi ke taman bermain bareng.""Taman bermain?"Meskipun Cesya tidak paham kenapa Kevin melakukan hal ini, dia tetap mengikutinya pergi ke taman bermain yang jauh dari pusat kota.Mobil berhenti dengan tenang di depan gerbang taman b

  • Biarkan Aku Terbang Bebas   Bab 18

    Suara Cesya sama sekali tidak menunjukkan rasa terkejut ataupun bahagia, yang ada hanya rasa takut dan jijik atas kemunculan Rian secara mendadak.Raut wajah Cesya membuat Rian merasa sangat kesakitan, tanpa sadar cengkeraman tangannya makin mengencang."Ikut aku balik! Sekarang!"Cesya menahan napas kesakitan, berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan diri."Ssh ... lepasin aku Rian, sakit!"Mendengarnya kesakitan, Kevin yang berdiri di sampingnya mendadak mendorong Rian dengan kencang, tatapan matanya seketika berubah menjadi dingin dan tajam."Lepasin! Kamu nggak dengar dia ngomong apa?"Tapi, Rian sama sekali tidak meliriknya, tatapannya menatap Cesya lekat-lekat, memaksakan dirinya untuk tenang."Cesya ... kita bicara dulu ...."Pada detik ini, emosi Cesya akhirnya meledak. Dengan mata memerah dia menghempaskan tangan Rian, lalu berteriak histeris padanya."Rian, sadar dong! Kita udah nggak ada hal yang perlu dibicarakan lagi! Aku udah nggak cinta lagi sama kamu!"Begitu kalimat ini

  • Biarkan Aku Terbang Bebas   Bab 17

    Rian menatap layar komputer lekat-lekat, jemarinya hampir meremukkan tetikus di tangannya.Melihat petunjuk yang dikumpulkannya, pikirannya justru terasa makin tidak menentu.Sampai pada hari ini, melalui perkataan Lisa, dia sudah paham sepenuhnya kalau Cesya sama sekali tidak selingkuh.Kata "selingkuh" di dalam pesan teks itu, mungkin hanyalah alasan yang dicari Cesya demi bisa benar-benar pergi meninggalkannya!Kepala Rian terasa pusing dan berat, dia memijat pelipisnya.Pada saat itulah, asistennya mendadak mendorong pintu ruang kerja, berlari masuk dengan tergesa-gesa lalu menyerahkan dokumen terbaru yang baru diperiksa."Pak Rian, udah ketemu! Cesya terakhir kali muncul di rekaman CCTV itu saat menyeret koper pergi ke bandara!""Apa?"Rian mendadak beranjak berdiri, gerakan tubuhnya begitu kencang hingga membuat kursi kerjanya terguling roboh.Dia menerima rekaman gambar CCTV di tangan asistennya, isi video itu benar-benar Cesya sendiri!"Udah ketemu dia mau pergi ke mana belum?"

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status