Share

Biarkan Aku Terbang Bebas
Biarkan Aku Terbang Bebas
Author: Mango

Bab 1

Author: Mango
Sampai seorang wanita asing memintanya untuk bertemu.

"Perkenalkan, aku Lisa Meria, mantan pacar Rian Adam. Tujuh tahun yang lalu, dia melamar aku, tapi aku lebih milih karier dan pergi ke luar negeri untuk melanjutkan studi. Meskipun selama bertahun-tahun ini kami nggak ada kontak, aku tahu, asal aku kembali, dia bakal berpaling lagi ke aku."

Setelah selesai berbicara, dia mengeluarkan selembar cek dan menggesernya ke depan Cesya. "Aku berencana balikan sama dia, tapi sebelum itu, aku harus membersihkan wanita yang ada di sisinya. Ini ada 50 miliar, buat peliharaan kayak kamu udah lebih dari cukup. Ambil ini, terus pergi dari dia."

Tenggorokan Cesya terasa mencekik, dia tidak pernah tahu riwayat asmara Rian.

Usianya masih muda, sejak lahir dia hanya pernah menyukai pria itu seorang, tapi pria itu pernah menyukai orang lain.

Memikirkan semua hal di masa lalu, dia memberanikan diri untuk berkata, "Udah berlalu bertahun-tahun, Pak Rian mungkin udah lupain kamu ...."

Lisa tertawa, "Kamu mungkin nggak tahu seberapa besar dia mencintai aku waktu itu."

Wanita itu mengeluarkan ponselnya, "Gini aja, kita taruhan."

"Aku bakal kirim pesan sekarang, bilang kalau aku udah balik ke tanah air, mobil aku mogok di jalan, jadi minta dia buat jemput aku."

"Kamu kirim pesan, bilang kalau kamu kena kecelakaan mobil."

"Kita lihat dia bakal balas pesan siapa duluan."

Lisa menatapnya dengan pandangan yakin akan menang, "Kalau dia balas aku duluan, kamu ambil uangnya terus pergi."

"Kalau dia balas kamu duluan, aku mundur."

Berbagai macam emosi terlintas di hati Cesya, gelisah, cemas, ragu, hingga akhirnya semuanya menyatu menjadi sebuah keputusasaan yang nekat.

"Boleh."

Setelah kedua pesan itu terkirim secara bersamaan, detik demi detik terasa sangat menyiksa.

Cesya menatap layar ponsel, pikirannya seperti komidi putar yang menampilkan bayangan masa-masa indah bersama Rian.

Tatapan perhatian dari pria itu saat mengusap perutnya sewaktu dia datang bulan, ciuman lembut yang mendarat di sudut bibirnya di tengah salju yang lebat, serta kemesraan saat pria itu mendekapnya di depan jendela kaca besar saat malam pergantian tahun ....

Adegan demi adegan terbayang sangat jelas di depan mata Cesya, menarik pikirannya melayang makin jauh.

Sampai sebuah nada dering ponsel yang nyaring berbunyi, dia tersentak kaget dan melihat Lisa tersenyum puas, lalu mengangkat telepon serta menekan tombol pengeras suara.

"Alamat."

Suara dingin Rian terdengar melalui pengeras suara, hampir meremukkan gendang telinga Cesya.

Dia menggigit bibirnya erat-erat, buku-buku jarinya memutih karena mengepal kencang, bahkan napasnya terasa hampir terhenti.

Lisa sangat puas melihat reaksi Cesya.

"Ini repotin kamu nggak? Kamu nggak ada hal penting lain yang harus dilakukan?"

Di ujung telepon hening selama beberapa detik, nada suara Rian masih terdengar datar.

"Nggak ada, alamatnya."

Senyuman di wajah Lisa makin menjadi-jadi, dia mematikan telepon lalu mengirimkan alamatnya dengan santai.

Melihat ponselnya yang sama sekali tidak menunjukkan pergerakan apa pun, pikiran Cesya menjadi kosong seketika, warna merah di wajahnya perlahan memudar.

Cahaya di matanya perlahan meredup, lalu dari tenggorokannya keluar suara yang terbata-bata.

"Dia ... dulu sangat mencintai kamu?"

Lisa tertawa, "Iya dong, perlu aku ceritain gimana cara dia mencintai aku?"

Wanita itu menyebutkannya satu per satu dengan tenang ....

"Dia bawa aku lihat aurora, terus bilang bakal temani aku setiap tahun ke depannya."

"Hanya karena ucapan suka dari aku, dia beli satu toko kue."

"Dia padahal paling benci kucing, tapi gara-gara aku mungut kucing liar ke rumah, dia mengizinkan kucing itu tidur di kamar utama ...."

Tubuh Cesya terasa dingin membeku.

Ternyata, setiap hal yang sudah pria itu lakukan kepadanya, hanyalah cara pria itu mengingat wanita lain melalui dirinya.

"Kalah taruhan harus terima kekalahan, kamu udah harus pergi." Lisa sekali lagi menyerahkan cek itu kepadanya.

"Iya, aku kalah."

Hanya beberapa kata singkat, tapi sudah menguras seluruh tenaga Cesya.

Dia mengangkat tangannya yang terluka dan berdarah karena tancapan kuku untuk menerima cek itu, menutup matanya dengan putus asa, suaranya terdengar sangat mati rasa.

"Aku bakal penuhi keinginan kamu untuk hilang selamanya."

Setelah mendapatkan janji yang diinginkannya, Lisa tidak berlama-lama lagi, dia berbalik dan pergi dengan langkah sepatu hak tingginya.

Dunia kembali menjadi sunyi senyap, bibir Cesya sampai berdarah karena digigit sebelum akhirnya berhasil menelan gejolak emosi di dadanya, lalu menyeret tubuhnya yang lelah keluar dari kafe.

Di luar sedang turun hujan deras, dia berjalan ke dalam hujan seolah tidak merasakan apa-apa.

Dia juga tidak menyadari saat Lisa melintas menyalipnya dengan mobil, wanita itu sengaja menancap gas hingga cipratan air mengenai seluruh tubuhnya.

Kaca mobil diturunkan, dia tersenyum cerah, "Maaf ya, aku cuma merasa, penampilan basah kuyup kayak gini baru cocok buat kamu."

Setelah selesai berbicara, dia tertawa sambil mengendarai mobilnya dan pergi begitu saja.

Hujan terus turun, Cesya yang basah kuyup kembali ke vila dengan berantakan.

Ponselnya berdering, itu adalah panggilan dari dosen kampusnya.

"Cesya, apa kuota pertukaran mahasiswa itu udah dipikirkan? Apa benar-benar mau diserahkan ke orang lain?"

Mendengar nada helaan napas dosennya, kesadaran Cesya yang semula linglung akhirnya menjadi sadar sepenuhnya.

Dia menggelengkan kepala, menatap hujan deras di luar jendela, lalu berkata pelan, "Nggak Bu."

"Aku sendiri yang bakal pergi."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Biarkan Aku Terbang Bebas   Bab 22

    Hari kompetisi Kevin makin mendekat.Entah kenapa, Cesya justru merasa lebih cemas darinya. Dia duduk di studio, pensilnya menggores dengan cepat di atas kertas.Dia membulatkan tekad untuk merancangkan jas pertunjukan yang tiada dua khusus untuk pria itu.Seluruh rancangan jas itu sudah selesai dirancang sepenuhnya, tapi Cesya ingin menambahkan sebuah desain kecil yang unik lagi, agar gaun ini menjadi keberadaan yang paling tampil beda."Gimana kalau di sini pakai benang perak buat menyulam satu kalimat ya?"Dia bergumam sendiri, jemarinya membelai pelan bagian kerah pada draf gambar rancangan, sama sekali tidak menyadari kalau ada seseorang di belakangnya yang sudah mendekat secara diam-diam."Lagi gambar apa?"Kevin membungkukkan badan, hembusan napasnya mengenai ujung telinganya.Cesya kaget seketika, tergesa-gesa menutupi draf gambarnya."Rahasia! Kamu nggak boleh lihat!"Tingkah Cesya yang menggemaskan seperti kelinci membuat Kevin tertawa pelan.Dia mendaratkan sebuah ciuman den

  • Biarkan Aku Terbang Bebas   Bab 21

    "Cari tahu! Lisa sebenarnya kabur ke mana! Harus lebih awal kontak sama pihak kepolisian, sama sekali nggak boleh biarkan dia melapor ke polisi!!"Selesai menelpon, Rian membanting ponselnya kencang ke dinding.Kenapa semalam dia begitu ceroboh, sampai membiarkan wanita itu kabur ke luar!Rian merokok batang demi batang di ruang kerja, asbak rokok dengan cepat terisi penuh bertumpuk tinggi.Tepat saat dia menunggu dengan cemas, panggilan dari asistennya masuk."Pak Rian, udah ada kabar!""Polisi air kita di wilayah laut arah Vietnam mendapati sebuah jas luar berdarah, itu adalah pakaian yang dipakai Lisa saat kabur! Dia nggak punya dokumen identitas, harusnya dia kabur secara ilegal ke luar negeri.""Pak Rian tenang aja, orang kayak dia yang nggak punya identitas resmi kayak gini, mati juga nggak bakal ada yang mengusutnya."Rian mendengar laporan itu, dengan raut wajah tanpa ekspresi menghapus video CCTV yang memperlihatkan Lisa kabur dengan luka di sekujur tubuhnya.Karena wanita itu

  • Biarkan Aku Terbang Bebas   Bab 20

    Pesawat mendarat tepat waktu, Rian naik ke mobil asisten yang menjemputnya.Mobil melaju tenang kembali ke jalanan yang familier, tapi dia sama sekali tidak bisa merasa gembira.Setiap sudut kota ini menyimpan jejak-jejak Cesya.Restoran Barat kelas atas di sudut jalan itu adalah tempat Rian menemaninya merayakan ulang tahun pada suatu tahun, di sana mereka berciuman mesra di bawah ucapan selamat dari grup musik.Jembatan besar di tepi sungai itu sering mereka lalui saat jalan-jalan santai, ketika musim dingin Rian akan memasukkan tangan Cesya ke dalam saku bajunya untuk menghangatkan, sementara Cesya tersenyum mencium pipinya.Tiap adegan saat mereka berpacaran terukir dalam di dalam hati Rian, tidak peduli bagaimana cara menghapusnya tetap tidak bakal hilang.Mengenang masa lalu, Rian akhirnya sampai di depan pintu rumah.Sudah lama dia tidak kembali ke sini, karena di sini jejak-jejak kehidupan Cesya sudah lama menghilang.Dia sudah lama tidak mendorong pintu gudang bawah tanah, bau

  • Biarkan Aku Terbang Bebas   Bab 19

    Sejak bertemu Rian di kampus tadi pagi, Cesya menjadi sangat linglung sepanjang hari.Kondisinya seharian ini tidak baik, saat menggambar draf desain pensilnya patah tiga kali, garis gambar yang dibuatnya pun miring dan berantakan.Bahkan saat menyeduh kopi di mesin kopi kampus, tangannya hampir tersiram air panas, untung Kevin menyadarinya tepat waktu sehingga tidak terluka."Cesya, nanti kita mau makan di mana?"Kevin berbicara di sampingnya, tapi Cesya hanya tertegun tanpa memberikan respons."Cesya?"Sampai Kevin melambaikan tangan di depan matanya, Cesya baru mendadak tersadar."Maaf ya, aku tadi melamun."Raut wajah Cesya yang murung terlihat sangat jelas, membuat Kevin merasa tidak tenang."Cesya, siang ini kita nggak usah ikut kuliah lagi deh, ayo pergi ke taman bermain bareng.""Taman bermain?"Meskipun Cesya tidak paham kenapa Kevin melakukan hal ini, dia tetap mengikutinya pergi ke taman bermain yang jauh dari pusat kota.Mobil berhenti dengan tenang di depan gerbang taman b

  • Biarkan Aku Terbang Bebas   Bab 18

    Suara Cesya sama sekali tidak menunjukkan rasa terkejut ataupun bahagia, yang ada hanya rasa takut dan jijik atas kemunculan Rian secara mendadak.Raut wajah Cesya membuat Rian merasa sangat kesakitan, tanpa sadar cengkeraman tangannya makin mengencang."Ikut aku balik! Sekarang!"Cesya menahan napas kesakitan, berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan diri."Ssh ... lepasin aku Rian, sakit!"Mendengarnya kesakitan, Kevin yang berdiri di sampingnya mendadak mendorong Rian dengan kencang, tatapan matanya seketika berubah menjadi dingin dan tajam."Lepasin! Kamu nggak dengar dia ngomong apa?"Tapi, Rian sama sekali tidak meliriknya, tatapannya menatap Cesya lekat-lekat, memaksakan dirinya untuk tenang."Cesya ... kita bicara dulu ...."Pada detik ini, emosi Cesya akhirnya meledak. Dengan mata memerah dia menghempaskan tangan Rian, lalu berteriak histeris padanya."Rian, sadar dong! Kita udah nggak ada hal yang perlu dibicarakan lagi! Aku udah nggak cinta lagi sama kamu!"Begitu kalimat ini

  • Biarkan Aku Terbang Bebas   Bab 17

    Rian menatap layar komputer lekat-lekat, jemarinya hampir meremukkan tetikus di tangannya.Melihat petunjuk yang dikumpulkannya, pikirannya justru terasa makin tidak menentu.Sampai pada hari ini, melalui perkataan Lisa, dia sudah paham sepenuhnya kalau Cesya sama sekali tidak selingkuh.Kata "selingkuh" di dalam pesan teks itu, mungkin hanyalah alasan yang dicari Cesya demi bisa benar-benar pergi meninggalkannya!Kepala Rian terasa pusing dan berat, dia memijat pelipisnya.Pada saat itulah, asistennya mendadak mendorong pintu ruang kerja, berlari masuk dengan tergesa-gesa lalu menyerahkan dokumen terbaru yang baru diperiksa."Pak Rian, udah ketemu! Cesya terakhir kali muncul di rekaman CCTV itu saat menyeret koper pergi ke bandara!""Apa?"Rian mendadak beranjak berdiri, gerakan tubuhnya begitu kencang hingga membuat kursi kerjanya terguling roboh.Dia menerima rekaman gambar CCTV di tangan asistennya, isi video itu benar-benar Cesya sendiri!"Udah ketemu dia mau pergi ke mana belum?"

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status