Share

Bab 4

Author: Mango
Keesokan harinya, suara Lisa terdengar jelas sampai ke lantai dua melalui jendela.

"Kenapa lukisan cat minyak yang aku lukis ini masih kamu simpan? Kalau kamu suka, besok aku lukisin yang baru lagi buat kamu, mau nggak?"

"Cuaca hari ini bagus banget, kamu temani aku jalan-jalan ke luar dong. Dokter 'kan udah bilang aku harus banyak jalan biar bisa sembuh cepat."

"Aku agak lapar nih, Rian, kamu bisa masakin aku makanan nggak? Aku udah lama banget nggak coba masakan kamu."

Rian jarang membalas perkataannya, tapi permintaan Lisa semuanya dia turuti satu per satu.

Dia duduk diam tidak bergerak selama dua jam menjadi model lukisan di ruang tamu, menemaninya jalan-jalan di luar selama setengah jam, lalu turun tangan sendiri memasak satu meja penuh makanan.

Cesya menyaksikan semua ini di matanya. Dari tatapan mata serta gerakan tubuh pria itu, dia bisa menilai kalau pria itu merasa bahagia.

Mungkin, inilah masa depan selamanya yang pria itu inginkan.

Di malam hari, Cesya pergi ke lantai bawah untuk mengambil segelas air. Saat kembali, dia melihat Lisa ada di kamarnya, memegang barang peninggalan yang ayah tinggalkan untuknya.

Di saat ini, seluruh tubuh Cesya tegang seketika, dia menerjang ke depan ingin mengambil kembali jam tangan itu.

Lisa lebih tinggi darinya, dia langsung mengangkat tangannya tinggi-tinggi, menatapnya dengan sombong.

"Jam tangan serusak ini tapi kamu peduli banget, keliatannya penting banget ya?"

Dia hampir tidak ragu-ragu berkata, "Iya, penting banget, balikin ke aku!"

Mendengar itu, Lisa tersenyum, "Balikin ke kamu bukan nggak bisa, asal kamu berlutut ke aku, aku bakal berbelas kasih sekali ini."

Cesya menatapnya dengan tidak percaya, "Nona Lisa, aku udah janji bakal pergi, Pak Rian juga sukanya sama kamu, aku nggak pernah mikir buat rebutan apa pun sama kamu, kenapa kamu masih sengaja nyerang aku?"

"Kenapa? Karena aku nggak suka lihat kamu. Walaupun kamu janji bakal pergi, tapi tiap ingat kamu kuasai Rian bertahun-tahun, hati aku rasanya nggak nyaman, jadi mau melampiaskan emosi. Gimana pun juga, jam tangan ini sekarang ada di tangan aku, aku kasih kamu waktu sepuluh detik, kalau kamu nggak turutin, jam tangan ini bakal berpisah selamanya sama kamu."

Hati Cesya hancur dan rapuh melihat sikapnya yang angkuh dan sewenang-wenang ini.

Hitungan mundur dipanggil dari sepuluh ke satu, Lisa membuat gerakan hendak membuang jam tangan itu.

Cesya tidak punya cara lain lagi, dia memaksa dirinya untuk berlutut di lantai.

"Kayak gini udah boleh belum, Nona Lisa?"

Melihat wajah penghinaannya, barulah Lisa merasa puas.

Tapi, dia tidak mengembalikan jam tangan itu ke Cesya, melainkan mengangkat tangan dan melempar jam tangan itu langsung ke lantai bawah.

Napas Cesya tertahan, dia bergegas berlari ke sana ingin menyelamatkannya, tapi tidak disangka secara tidak sengaja menabrak Lisa.

Seluruh tubuh Lisa berguling turun dari tangga, dalam sekejap berlumuran darah.

Rian kebetulan melihat adegan ini, dia bergegas maju ke depan.

"Ada apa ini?"

Lisa menciut di pelukannya, matanya memerah membalikkan fakta, mengatakan kalau dirinya tidak sengaja merusak jam tangan Cesya, lalu Cesya marah dan mendorongnya turun dari tangga.

Wajah Rian yang biasanya dingin itu menyimpan selapis kemarahan, "Cuma gara-gara jam tangan kamu sampai mau main tangan sama orang? Cesya, apa bertahun-tahun ini aku terlalu manjain kamu?"

Melihat tatapan matanya yang dingin itu, hati Cesya terasa sangat sakit dan sedih. Dia menahan rasa sakit di hatinya dan ingin menjelaskan.

"Pak Rian, dia yang maksa aku duluan buat ...."

"Cukup!"

Rian yang sedang emosi berat tidak mau mendengarkan satu kata pun, dia memotong perkataannya dengan suara keras.

Dia langsung memanggil pengawal, menyuruh mereka menguncinya di gudang pendingin untuk merenungkan diri baik-baik, lalu membopong Lisa dan pergi.

Tangan dan kaki Cesya dipegangi oleh beberapa pengawal, lalu langsung dibawa ke gudang pendingin.

Di dalam gudang pendingin yang bersuhu beberapa derajat di bawah nol, Cesya meringkuk di sudut ruangan, lapisan-lapisan embun beku membeku di tubuhnya.

Dia hanya merasa seluruh darah di tubuhnya hampir membeku, tubuhnya tidak bisa berhenti gemetaran.

Waktu seolah terhenti, berubah menjadi sangat lambat.

Dia menggenggam jam tangan hancur di tangannya, bayangan masa-masa bahagia bersama orang tuanya bermunculan di pikirannya.

Dalam linglung, dia mendengar suara pintu dibuka, lalu mengangkat matanya yang kabur.

Bayangan seseorang perlahan mendekat ke arahnya. Dia secara naluriah memanggil ibu, lalu berbisik pelan.

"Ibu, aku udah salah menyukai orang, aku menyesal ...."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Biarkan Aku Terbang Bebas   Bab 22

    Hari kompetisi Kevin makin mendekat.Entah kenapa, Cesya justru merasa lebih cemas darinya. Dia duduk di studio, pensilnya menggores dengan cepat di atas kertas.Dia membulatkan tekad untuk merancangkan jas pertunjukan yang tiada dua khusus untuk pria itu.Seluruh rancangan jas itu sudah selesai dirancang sepenuhnya, tapi Cesya ingin menambahkan sebuah desain kecil yang unik lagi, agar gaun ini menjadi keberadaan yang paling tampil beda."Gimana kalau di sini pakai benang perak buat menyulam satu kalimat ya?"Dia bergumam sendiri, jemarinya membelai pelan bagian kerah pada draf gambar rancangan, sama sekali tidak menyadari kalau ada seseorang di belakangnya yang sudah mendekat secara diam-diam."Lagi gambar apa?"Kevin membungkukkan badan, hembusan napasnya mengenai ujung telinganya.Cesya kaget seketika, tergesa-gesa menutupi draf gambarnya."Rahasia! Kamu nggak boleh lihat!"Tingkah Cesya yang menggemaskan seperti kelinci membuat Kevin tertawa pelan.Dia mendaratkan sebuah ciuman den

  • Biarkan Aku Terbang Bebas   Bab 21

    "Cari tahu! Lisa sebenarnya kabur ke mana! Harus lebih awal kontak sama pihak kepolisian, sama sekali nggak boleh biarkan dia melapor ke polisi!!"Selesai menelpon, Rian membanting ponselnya kencang ke dinding.Kenapa semalam dia begitu ceroboh, sampai membiarkan wanita itu kabur ke luar!Rian merokok batang demi batang di ruang kerja, asbak rokok dengan cepat terisi penuh bertumpuk tinggi.Tepat saat dia menunggu dengan cemas, panggilan dari asistennya masuk."Pak Rian, udah ada kabar!""Polisi air kita di wilayah laut arah Vietnam mendapati sebuah jas luar berdarah, itu adalah pakaian yang dipakai Lisa saat kabur! Dia nggak punya dokumen identitas, harusnya dia kabur secara ilegal ke luar negeri.""Pak Rian tenang aja, orang kayak dia yang nggak punya identitas resmi kayak gini, mati juga nggak bakal ada yang mengusutnya."Rian mendengar laporan itu, dengan raut wajah tanpa ekspresi menghapus video CCTV yang memperlihatkan Lisa kabur dengan luka di sekujur tubuhnya.Karena wanita itu

  • Biarkan Aku Terbang Bebas   Bab 20

    Pesawat mendarat tepat waktu, Rian naik ke mobil asisten yang menjemputnya.Mobil melaju tenang kembali ke jalanan yang familier, tapi dia sama sekali tidak bisa merasa gembira.Setiap sudut kota ini menyimpan jejak-jejak Cesya.Restoran Barat kelas atas di sudut jalan itu adalah tempat Rian menemaninya merayakan ulang tahun pada suatu tahun, di sana mereka berciuman mesra di bawah ucapan selamat dari grup musik.Jembatan besar di tepi sungai itu sering mereka lalui saat jalan-jalan santai, ketika musim dingin Rian akan memasukkan tangan Cesya ke dalam saku bajunya untuk menghangatkan, sementara Cesya tersenyum mencium pipinya.Tiap adegan saat mereka berpacaran terukir dalam di dalam hati Rian, tidak peduli bagaimana cara menghapusnya tetap tidak bakal hilang.Mengenang masa lalu, Rian akhirnya sampai di depan pintu rumah.Sudah lama dia tidak kembali ke sini, karena di sini jejak-jejak kehidupan Cesya sudah lama menghilang.Dia sudah lama tidak mendorong pintu gudang bawah tanah, bau

  • Biarkan Aku Terbang Bebas   Bab 19

    Sejak bertemu Rian di kampus tadi pagi, Cesya menjadi sangat linglung sepanjang hari.Kondisinya seharian ini tidak baik, saat menggambar draf desain pensilnya patah tiga kali, garis gambar yang dibuatnya pun miring dan berantakan.Bahkan saat menyeduh kopi di mesin kopi kampus, tangannya hampir tersiram air panas, untung Kevin menyadarinya tepat waktu sehingga tidak terluka."Cesya, nanti kita mau makan di mana?"Kevin berbicara di sampingnya, tapi Cesya hanya tertegun tanpa memberikan respons."Cesya?"Sampai Kevin melambaikan tangan di depan matanya, Cesya baru mendadak tersadar."Maaf ya, aku tadi melamun."Raut wajah Cesya yang murung terlihat sangat jelas, membuat Kevin merasa tidak tenang."Cesya, siang ini kita nggak usah ikut kuliah lagi deh, ayo pergi ke taman bermain bareng.""Taman bermain?"Meskipun Cesya tidak paham kenapa Kevin melakukan hal ini, dia tetap mengikutinya pergi ke taman bermain yang jauh dari pusat kota.Mobil berhenti dengan tenang di depan gerbang taman b

  • Biarkan Aku Terbang Bebas   Bab 18

    Suara Cesya sama sekali tidak menunjukkan rasa terkejut ataupun bahagia, yang ada hanya rasa takut dan jijik atas kemunculan Rian secara mendadak.Raut wajah Cesya membuat Rian merasa sangat kesakitan, tanpa sadar cengkeraman tangannya makin mengencang."Ikut aku balik! Sekarang!"Cesya menahan napas kesakitan, berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan diri."Ssh ... lepasin aku Rian, sakit!"Mendengarnya kesakitan, Kevin yang berdiri di sampingnya mendadak mendorong Rian dengan kencang, tatapan matanya seketika berubah menjadi dingin dan tajam."Lepasin! Kamu nggak dengar dia ngomong apa?"Tapi, Rian sama sekali tidak meliriknya, tatapannya menatap Cesya lekat-lekat, memaksakan dirinya untuk tenang."Cesya ... kita bicara dulu ...."Pada detik ini, emosi Cesya akhirnya meledak. Dengan mata memerah dia menghempaskan tangan Rian, lalu berteriak histeris padanya."Rian, sadar dong! Kita udah nggak ada hal yang perlu dibicarakan lagi! Aku udah nggak cinta lagi sama kamu!"Begitu kalimat ini

  • Biarkan Aku Terbang Bebas   Bab 17

    Rian menatap layar komputer lekat-lekat, jemarinya hampir meremukkan tetikus di tangannya.Melihat petunjuk yang dikumpulkannya, pikirannya justru terasa makin tidak menentu.Sampai pada hari ini, melalui perkataan Lisa, dia sudah paham sepenuhnya kalau Cesya sama sekali tidak selingkuh.Kata "selingkuh" di dalam pesan teks itu, mungkin hanyalah alasan yang dicari Cesya demi bisa benar-benar pergi meninggalkannya!Kepala Rian terasa pusing dan berat, dia memijat pelipisnya.Pada saat itulah, asistennya mendadak mendorong pintu ruang kerja, berlari masuk dengan tergesa-gesa lalu menyerahkan dokumen terbaru yang baru diperiksa."Pak Rian, udah ketemu! Cesya terakhir kali muncul di rekaman CCTV itu saat menyeret koper pergi ke bandara!""Apa?"Rian mendadak beranjak berdiri, gerakan tubuhnya begitu kencang hingga membuat kursi kerjanya terguling roboh.Dia menerima rekaman gambar CCTV di tangan asistennya, isi video itu benar-benar Cesya sendiri!"Udah ketemu dia mau pergi ke mana belum?"

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status