Share

Bab 5

Author: Mango
Mendengar kalimat itu samar-samar, Rian mengerutkan dahi, lalu tanpa sadar berjalan ke depan Cesya dan menatapnya.

"Kamu barusan bilang apa? Menyesal apa?"

Dia sudah tidak memiliki tenaga untuk menjawab, tidak sanggup lagi menahan tubuhnya, pandangannya menggelap lalu kehilangan kesadaran.

Entah sudah berapa lama berlalu, saat terbangun kembali, Cesya menyadari dirinya berada di rumah sakit.

Dia membuka mata, lalu melihat Rian berjaga di depan ranjang rumah sakit, mengulurkan tangan untuk menyentuhnya.

"Udah bangun, gimana badan kamu?"

Teringat kejadian sebelum pingsan, Cesya memejamkan mata dengan gemetar, menghindari sentuhan pria itu.

"Jam tanganku mana? Pak Rian, tolong balikin ke aku."

Rian menatapnya lekat-lekat. Setelah memastikan dia baik-baik saja, pria itu baru mengeluarkan jam tangan yang sudah diperbaiki lalu menyerahkannya.

"Kamu peduli banget sama jam tangan ini, aku udah suruh orang buat perbaiki. Kamu udah mukul orang, aku juga udah hukum kamu, masalah yang kemarin anggap aja udah impas, kamu juga nggak usah perpanjang lagi."

Air mata Cesya hampir jatuh seketika melihat barang peninggalan ayahnya kembali ke tangannya dalam keadaan utuh.

Tapi, dia menahannya sekuat tenaga, menatap Rian seraya berkata, "Aku nggak ada niat perpanjang apa pun, Pak Rian, kita bareng-bareng selama ini cuma saling ambil untung aja, aku nggak bisa dan nggak seharusnya minta apa-apa dari kamu. Ke depannya aku bakal sadar posisi, nggak bakal lakuin hal yang kelewat batas lagi."

Entah kenapa, melihat penampilannya yang seperti ini, kemarahan bergejolak di hati Rian, nada suaranya pun menjadi dingin.

"Kamu lagi ngambek sama aku? Atau mau tarik batas sama aku?"

Menghadapi sikapnya yang tiba-tiba menjadi dingin, Cesya tidak lagi merasa waswas seperti dulu, suaranya tetap tenang.

"Aku nggak ngambek, cuma utarain fakta aja. Kalau soal tarik batas, mungkin aja, lagian sebentar lagi, aku bakal ...."

Setiap kali dia mengucapkan satu kalimat, wajah Rian menjadi makin muram.

Pria itu baru saja hendak membuka mulut, panggilan dari Lisa masuk.

"Rian, aku udah pesan restoran yang enak banget, kamu temani aku pergi, mau nggak?"

Dalam sekejap, Rian sudah berhasil mengendalikan emosinya.

Pria itu tidak ada waktu dan suasana hati untuk mendengarkan Cesya berbicara lagi, lalu langsung berbalik dan pergi begitu saja.

Pintu dibanting hingga tertutup, membuat kalimat menghilang selamanya yang belum selesai diucapkan itu tertahan di tenggorokan.

Dia menunjukkan senyuman penuh ejekan pada diri sendiri, sambil menatap punggung pria itu yang pergi tanpa menoleh sedikit pun.

Setelah dirawat beberapa hari di rumah sakit, tubuh Cesya yang lemah berangsur-angsur pulih.

Selama masa itu, tidak ada satu orang pun yang datang menjenguknya, melainkan Lisa yang hampir setiap hari mengirimkan banyak pesan.

Di dalam foto dan video, dia duduk di kursi penumpang depan sambil makan camilan, sedangkan Rian yang biasanya gila kebersihan rela merobekkan bungkus makanannya. Dia bilang sudah lama tidak mengunjungi orang tuanya, pria itu langsung berinisiatif membawanya pulang ke rumahnya untuk ikut makan malam keluarga. Dia membaca majalah lalu asal memuji satu barang bagus, satu jam kemudian barang itu sudah muncul di depan matanya.

Toleransi dan kepedulian yang begitu detail ini tidak pernah Cesya miliki sebelumnya.

Sekalipun dulu Rian sangat memanjakannya, pria itu tidak akan mengizinkannya makan di dalam mobil, tidak pernah punya pikiran untuk membawanya bertemu keluarga, apalagi sabar mengingat ucapan santai yang dia katakan.

Dia akhirnya mengerti, antara memelihara wanita dan mencintai seseorang, waktu, tenaga, dan cinta yang dihabiskan sangat tidak sebanding.

Hanya Lisa yang pantas mendapatkan seratus persen toleransi dan kepedulian dari Rian.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Biarkan Aku Terbang Bebas   Bab 22

    Hari kompetisi Kevin makin mendekat.Entah kenapa, Cesya justru merasa lebih cemas darinya. Dia duduk di studio, pensilnya menggores dengan cepat di atas kertas.Dia membulatkan tekad untuk merancangkan jas pertunjukan yang tiada dua khusus untuk pria itu.Seluruh rancangan jas itu sudah selesai dirancang sepenuhnya, tapi Cesya ingin menambahkan sebuah desain kecil yang unik lagi, agar gaun ini menjadi keberadaan yang paling tampil beda."Gimana kalau di sini pakai benang perak buat menyulam satu kalimat ya?"Dia bergumam sendiri, jemarinya membelai pelan bagian kerah pada draf gambar rancangan, sama sekali tidak menyadari kalau ada seseorang di belakangnya yang sudah mendekat secara diam-diam."Lagi gambar apa?"Kevin membungkukkan badan, hembusan napasnya mengenai ujung telinganya.Cesya kaget seketika, tergesa-gesa menutupi draf gambarnya."Rahasia! Kamu nggak boleh lihat!"Tingkah Cesya yang menggemaskan seperti kelinci membuat Kevin tertawa pelan.Dia mendaratkan sebuah ciuman den

  • Biarkan Aku Terbang Bebas   Bab 21

    "Cari tahu! Lisa sebenarnya kabur ke mana! Harus lebih awal kontak sama pihak kepolisian, sama sekali nggak boleh biarkan dia melapor ke polisi!!"Selesai menelpon, Rian membanting ponselnya kencang ke dinding.Kenapa semalam dia begitu ceroboh, sampai membiarkan wanita itu kabur ke luar!Rian merokok batang demi batang di ruang kerja, asbak rokok dengan cepat terisi penuh bertumpuk tinggi.Tepat saat dia menunggu dengan cemas, panggilan dari asistennya masuk."Pak Rian, udah ada kabar!""Polisi air kita di wilayah laut arah Vietnam mendapati sebuah jas luar berdarah, itu adalah pakaian yang dipakai Lisa saat kabur! Dia nggak punya dokumen identitas, harusnya dia kabur secara ilegal ke luar negeri.""Pak Rian tenang aja, orang kayak dia yang nggak punya identitas resmi kayak gini, mati juga nggak bakal ada yang mengusutnya."Rian mendengar laporan itu, dengan raut wajah tanpa ekspresi menghapus video CCTV yang memperlihatkan Lisa kabur dengan luka di sekujur tubuhnya.Karena wanita itu

  • Biarkan Aku Terbang Bebas   Bab 20

    Pesawat mendarat tepat waktu, Rian naik ke mobil asisten yang menjemputnya.Mobil melaju tenang kembali ke jalanan yang familier, tapi dia sama sekali tidak bisa merasa gembira.Setiap sudut kota ini menyimpan jejak-jejak Cesya.Restoran Barat kelas atas di sudut jalan itu adalah tempat Rian menemaninya merayakan ulang tahun pada suatu tahun, di sana mereka berciuman mesra di bawah ucapan selamat dari grup musik.Jembatan besar di tepi sungai itu sering mereka lalui saat jalan-jalan santai, ketika musim dingin Rian akan memasukkan tangan Cesya ke dalam saku bajunya untuk menghangatkan, sementara Cesya tersenyum mencium pipinya.Tiap adegan saat mereka berpacaran terukir dalam di dalam hati Rian, tidak peduli bagaimana cara menghapusnya tetap tidak bakal hilang.Mengenang masa lalu, Rian akhirnya sampai di depan pintu rumah.Sudah lama dia tidak kembali ke sini, karena di sini jejak-jejak kehidupan Cesya sudah lama menghilang.Dia sudah lama tidak mendorong pintu gudang bawah tanah, bau

  • Biarkan Aku Terbang Bebas   Bab 19

    Sejak bertemu Rian di kampus tadi pagi, Cesya menjadi sangat linglung sepanjang hari.Kondisinya seharian ini tidak baik, saat menggambar draf desain pensilnya patah tiga kali, garis gambar yang dibuatnya pun miring dan berantakan.Bahkan saat menyeduh kopi di mesin kopi kampus, tangannya hampir tersiram air panas, untung Kevin menyadarinya tepat waktu sehingga tidak terluka."Cesya, nanti kita mau makan di mana?"Kevin berbicara di sampingnya, tapi Cesya hanya tertegun tanpa memberikan respons."Cesya?"Sampai Kevin melambaikan tangan di depan matanya, Cesya baru mendadak tersadar."Maaf ya, aku tadi melamun."Raut wajah Cesya yang murung terlihat sangat jelas, membuat Kevin merasa tidak tenang."Cesya, siang ini kita nggak usah ikut kuliah lagi deh, ayo pergi ke taman bermain bareng.""Taman bermain?"Meskipun Cesya tidak paham kenapa Kevin melakukan hal ini, dia tetap mengikutinya pergi ke taman bermain yang jauh dari pusat kota.Mobil berhenti dengan tenang di depan gerbang taman b

  • Biarkan Aku Terbang Bebas   Bab 18

    Suara Cesya sama sekali tidak menunjukkan rasa terkejut ataupun bahagia, yang ada hanya rasa takut dan jijik atas kemunculan Rian secara mendadak.Raut wajah Cesya membuat Rian merasa sangat kesakitan, tanpa sadar cengkeraman tangannya makin mengencang."Ikut aku balik! Sekarang!"Cesya menahan napas kesakitan, berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan diri."Ssh ... lepasin aku Rian, sakit!"Mendengarnya kesakitan, Kevin yang berdiri di sampingnya mendadak mendorong Rian dengan kencang, tatapan matanya seketika berubah menjadi dingin dan tajam."Lepasin! Kamu nggak dengar dia ngomong apa?"Tapi, Rian sama sekali tidak meliriknya, tatapannya menatap Cesya lekat-lekat, memaksakan dirinya untuk tenang."Cesya ... kita bicara dulu ...."Pada detik ini, emosi Cesya akhirnya meledak. Dengan mata memerah dia menghempaskan tangan Rian, lalu berteriak histeris padanya."Rian, sadar dong! Kita udah nggak ada hal yang perlu dibicarakan lagi! Aku udah nggak cinta lagi sama kamu!"Begitu kalimat ini

  • Biarkan Aku Terbang Bebas   Bab 17

    Rian menatap layar komputer lekat-lekat, jemarinya hampir meremukkan tetikus di tangannya.Melihat petunjuk yang dikumpulkannya, pikirannya justru terasa makin tidak menentu.Sampai pada hari ini, melalui perkataan Lisa, dia sudah paham sepenuhnya kalau Cesya sama sekali tidak selingkuh.Kata "selingkuh" di dalam pesan teks itu, mungkin hanyalah alasan yang dicari Cesya demi bisa benar-benar pergi meninggalkannya!Kepala Rian terasa pusing dan berat, dia memijat pelipisnya.Pada saat itulah, asistennya mendadak mendorong pintu ruang kerja, berlari masuk dengan tergesa-gesa lalu menyerahkan dokumen terbaru yang baru diperiksa."Pak Rian, udah ketemu! Cesya terakhir kali muncul di rekaman CCTV itu saat menyeret koper pergi ke bandara!""Apa?"Rian mendadak beranjak berdiri, gerakan tubuhnya begitu kencang hingga membuat kursi kerjanya terguling roboh.Dia menerima rekaman gambar CCTV di tangan asistennya, isi video itu benar-benar Cesya sendiri!"Udah ketemu dia mau pergi ke mana belum?"

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status