MasukPagi dengan ritme yang biasa. Suara keyboard, langkah kaki, dan percakapan ringan mengisi ruangan. Semua terlihat normal. Terlalu normal, jika dibandingkan dengan apa yang Naomi rasakan di dalam dirinya.
Ia baru saja duduk ketika melihat sosok Claudia di mejanya. Naomi sedikit terkejut. Claudia terlihat seperti biasa, rapi, profesional, bahkan tersenyum tipis saat mata mereka bertemu.
“Aku senang kamu sudah kembali. Kondisimu sudah membaik?” tanya Naomi lembut.
<Dari meja lain, Claudia yang baru kembali dari pantry ikut memperhatikan. Matanya langsung tertuju pada Mareeq. Kemudian pada bagian bahu kemeja pria itu yang masih sedikit lembab."Kok nggak nunggu reda dulu?" tanya Claudia."Karena dokumennya harus segera dikirim"Claudia mengangguk pelan. Namun perhatiannya tetap tertuju pada Mareeq. Beberapa detik kemudian ia langsung berbalik menuju pantry.Flora yang melihat itu hanya mengangkat alis. Naomi tidak terlalu memperhatikan. Ia sudah duduk kembali di kursinya dan mulai fokus pada pekerjaannya.Lima menit berlalu. Kemudian Claudia kembali. Di tangannya ada secangkir kopi hangat. Lalu, dia mengetuk ke ruangan Mareeq.Flora menyenggol lengan Naomi agar melihat apa yang dilihat. Naomi tidak menoleh, dia hanya melirik. Dia tahu apa yang sedang coba dilakukan Claudia.Menjelang jam pulang, hujan mulai benar-benar reda. Sebagian besar anggota tim sudah berkemas. Naomi juga mulai mematikan ko
Sejak pagi langit sudah mendung. Namun tidak ada yang benar-benar memperkirakan hujan akan turun sedemikian deras. Menjelang jam makan siang, suara hujan mulai terdengar menghantam kaca-kaca gedung kantor. Lalu semakin lama semakin deras.Sampai area luar gedung terlihat seperti tertutup tirai air. Naomi yang baru saja selesai rapat kecil bersama beberapa anggota tim berjalan menuju sky terrace untuk membeli minuman. Di saat yang sama, Mareeq datang. Mereka berpapasan di koridor."Hujan." ujar Naomi."Iya.""Deras sekali."Mareeq melirik ke luar jendela. "Mungkin sampai sore."Naomi mengangguk. "Aku benci hujan hari ini.""Kemarin kamu suka hujan.""Itu hujan hari Minggu.""Apa bedanya?""Hujan hari Minggu romantis. Hujan di hari kerja itu menyebalkan."Mareeq tertawa kecil.Ponsel Naomi kemudian bergetar. Naomi menerima telepon dari bagian administrasi. Ada beberapa dokumen yang harus ditandatangani
Naomi secara reflek mengambil ponselnya dan melihat pesan yang dikirim Mareeq. Ada beberapa pesan dari Mareeq. Dan semuanya belum terbaca."Aku tidak lihat.""Kamu sengaja meninggalkanku." tuduh Mareeq."Aku tidak meninggalkanmu." ujar Naomi. "Aku memberi kalian kesempatan.""Kesempatan apa? Apa yang sedang coba kamu lakukan?" suara Mareeq mulai terdengar kesal."Kamu dan Claudia.""Kamu tahu aku tidak suka kamu begitu.""Claudia yang meminta.""Kamu tahu aku tidak ingin.""Lalu aku harus bagaimana?""Dia benar-benar memintamu?" tanya Mareeq seolah tidak percaya.Naomi tidak menjawab. Karena dia benar-benar malas membahas Claudia. Seharusnya Mareeq sudah tahu Naomi tidak akan berbohong."Jika kamu melakukannya lagi maka aku tidak akan menahan diri lagi." ujar Mareeq mengalihkan pandangannya.Naomi semakin bingung. Apa yang akan dilakukan Mareeq. Apakah dia akan menolak Claudia mentah-mentah? A
Naomi dan Killa masih tertawa saat meninggalkan tenant batagor. Setiap kali Killa mulai tenang, ia akan teringat wajah bersalah Naomi ketika menyadari pisang goreng itu milik penjual. Lalu tertawa lagi."Aku benar-benar minta maaf sama bapaknya.""Aku tahu.""Jangan ketawa terus." protes Naomi."Aku berusaha." jawab Killa sambil menahan tawa.Ponsel Naomi tiba-tiba bergetar. Sebuah pesan masuk dari Claudia. Naomi membuka pesan itu sambil berjalan.Claudia: Aku ingin pulang sama Mareeq. Kamu tidak apa bukan? Jika Mareeq bertanya padamu kamutahu jawabannya bukan?Naomi membaca pesan itu beberapa detik. Lalu mengetik balasan singkat.Naomi: Oke.Killa melihat layar ponsel Naomi. Tidak seluruh isi pesan. Tapi cukup untuk menangkap nama Mareeq dan Claudia. Killa tidak berkomentar. Ia hanya menyimpan informasi itu dalam hati."Mau pulang?" tanyanya.Naomi mengangguk. "Sudah sore.""Aku antar."Naomi
Naomi berhenti beberapa meter dari pintu. Melihat tas snack di tangannya. Kemudian menoleh ke belakang. Beberapa detik berlalu. Lalu tanpa berkata apa-apa, ia berbalik kembali masuk.Petugas cleaning service itu terlihat terkejut ketika Naomi muncul lagi. "Ada yang ketinggalan?"Naomi mengulurkan tas snack besar itu. "Untuk Ibu saja."Wanita itu berkedip."Buat anak Ibu." jelas Naomi.Wanita itu langsung menggeleng. "Jangan, Mbak. Jangan.""Tidak apa-apa.""Ini kan mahal."Naomi tersenyum kecil. "Anak Ibu lebih senang menerima tas ini daripada saya."Wanita itu terdiam. Matanya mulai berkaca-kaca."Ambil saja, Bu." Naomi menyerahkan tas itu ke tangannya. "Kebetulan saya juga sudah kebanyakan beli makanan hari ini."Kalimat terakhir itu membuat wanita tersebut tertawa. Dengan senyum yang jauh lebih lebar dari sebelumnya. "Terima kasih, Mbak."Naomi mengangguk. "Sama-sama."Melihat senyum itu, N
Sekitar satu jam setelah Killa meninggalkan festival, ponsel Naomi bergetar. Saat itu Naomi masih duduk di area makan. Di depannya ada sisa minuman, dua bungkus camilan, dan sebuah kotak makanan yang entah mengapa masih ia simpan meski sudah mengaku kenyang.Claudia dan Mareeq berada tidak jauh darinya. Atau lebih tepatnya Claudia sedang berbicara tanpa henti pada Mareeq. Naomi sendiri sedang membalas pesan-pesan yang menumpuk di ponselnya. Salah satunya dari Killa.Killa: Kamu butuh teman?Naomi langsung membalas.Naomi: Tidak.Balasan datang cepat.Killa: Yakin?Naomi: Iya.Claudia tiba-tiba berdiri. "Mareeq.""Hm?""Ayo ke area belakang." ujar Claudia sambil menarik lengan Mareeq."Ada tenant minuman yang mau aku coba."Mareeq tampak ragu. "Kamu mau?" tanya Mareeq pada Naomi."Nggak. Kalian ajah. Aku tunggu di sini."Claudia sudah berdiri di samping kursinya. "Ayo."Naomi kemb
Usai menyelesaikan meeting dengan klien, Naomi dan Mareeq berjalan keluar dari restoran yang berada di dalam pusat perbelanjaan. Jam makan siang telah lewat, tetapi mall masih cukup ramai. Orang-orang berlalu-lalang membawa kantong belanja, beberapa keluarga terlihat mengantre di restoran, sementar
Naomi membalas tatapan itu. Keduanya sama-sama tampak bingung. Suasana mendadak hening. Killa, yang baru duduk di sebelah Naomi sambil membawa minuman, membeku. Orang-orang di sekitar yang menyadari kejadian itu mulai menahan senyum.Wanita itu berkedip. "Eh..."Naomi juga berkedip.
Ketika Naomi sedang merapikan beberapa dokumen di mejanya ketika ponselnya bergetar. Nama yang muncul di layar membuatnya tersenyum kecil. Killa. Dia pun segera membuka isi pesannya.Killa: Mau nonton nggak?Naomi membalas cepat.Naomi: Tumben ngajakin nonton?Tak lama
Usai dari toilet,Naomi tidak tahu apakah harus segera kembali ke booth atau dia harus jalan-jalan di sekitar mall. Saat sedang berjalan santai, pandangannya tanpa sengaja tertuju pada sebuah butik parfum premium. Dan di sanalah ia melihat seseorang yang dikenalnya. Rahaal.Naomi otomatis m







