LOGINLeon hanya mengangguk singkat. Naomi menatap Maya yang pergi, lalu kembali ke Leon. Beberapa detik hening.
“Aku benar-benar mengganggu, kan?” tanya Naomi pelan.
Leon menggeleng lagi, kali ini lebih santai. “Kamu hanya datang di waktu yang kebetulan.”
Naomi tersenyum kecil. Namun kali ini, ada sesuatu yang berbeda di baliknya. Bukan hanya sindiran ringan. Tapi juga sesuatu yang lebih dalam.
Leon melirik jam tangannya, lalu kembali menatap Nao
Naomi dan Killa masih tertawa saat meninggalkan tenant batagor. Setiap kali Killa mulai tenang, ia akan teringat wajah bersalah Naomi ketika menyadari pisang goreng itu milik penjual. Lalu tertawa lagi."Aku benar-benar minta maaf sama bapaknya.""Aku tahu.""Jangan ketawa terus." protes Naomi."Aku berusaha." jawab Killa sambil menahan tawa.Ponsel Naomi tiba-tiba bergetar. Sebuah pesan masuk dari Claudia. Naomi membuka pesan itu sambil berjalan.Claudia: Aku ingin pulang sama Mareeq. Kamu tidak apa bukan? Jika Mareeq bertanya padamu kamutahu jawabannya bukan?Naomi membaca pesan itu beberapa detik. Lalu mengetik balasan singkat.Naomi: Oke.Killa melihat layar ponsel Naomi. Tidak seluruh isi pesan. Tapi cukup untuk menangkap nama Mareeq dan Claudia. Killa tidak berkomentar. Ia hanya menyimpan informasi itu dalam hati."Mau pulang?" tanyanya.Naomi mengangguk. "Sudah sore.""Aku antar."Naomi
Naomi berhenti beberapa meter dari pintu. Melihat tas snack di tangannya. Kemudian menoleh ke belakang. Beberapa detik berlalu. Lalu tanpa berkata apa-apa, ia berbalik kembali masuk.Petugas cleaning service itu terlihat terkejut ketika Naomi muncul lagi. "Ada yang ketinggalan?"Naomi mengulurkan tas snack besar itu. "Untuk Ibu saja."Wanita itu berkedip."Buat anak Ibu." jelas Naomi.Wanita itu langsung menggeleng. "Jangan, Mbak. Jangan.""Tidak apa-apa.""Ini kan mahal."Naomi tersenyum kecil. "Anak Ibu lebih senang menerima tas ini daripada saya."Wanita itu terdiam. Matanya mulai berkaca-kaca."Ambil saja, Bu." Naomi menyerahkan tas itu ke tangannya. "Kebetulan saya juga sudah kebanyakan beli makanan hari ini."Kalimat terakhir itu membuat wanita tersebut tertawa. Dengan senyum yang jauh lebih lebar dari sebelumnya. "Terima kasih, Mbak."Naomi mengangguk. "Sama-sama."Melihat senyum itu, N
Sekitar satu jam setelah Killa meninggalkan festival, ponsel Naomi bergetar. Saat itu Naomi masih duduk di area makan. Di depannya ada sisa minuman, dua bungkus camilan, dan sebuah kotak makanan yang entah mengapa masih ia simpan meski sudah mengaku kenyang.Claudia dan Mareeq berada tidak jauh darinya. Atau lebih tepatnya Claudia sedang berbicara tanpa henti pada Mareeq. Naomi sendiri sedang membalas pesan-pesan yang menumpuk di ponselnya. Salah satunya dari Killa.Killa: Kamu butuh teman?Naomi langsung membalas.Naomi: Tidak.Balasan datang cepat.Killa: Yakin?Naomi: Iya.Claudia tiba-tiba berdiri. "Mareeq.""Hm?""Ayo ke area belakang." ujar Claudia sambil menarik lengan Mareeq."Ada tenant minuman yang mau aku coba."Mareeq tampak ragu. "Kamu mau?" tanya Mareeq pada Naomi."Nggak. Kalian ajah. Aku tunggu di sini."Claudia sudah berdiri di samping kursinya. "Ayo."Naomi kemb
Naomi sedang mencari kursi kosong ketika pandangannya berhenti pada seseorang. Ia menyipitkan mata. Lalu wajahnya langsung berubah cerah."Killa?"Tanpa menunggu jawaban, Naomi langsung berjalan ke arah salah satu meja. Seorang pria yang sedang memegang gelas minuman menoleh. Dan langsung melotot ke arahnya."Naomi!"Mereka saling menyapa seperti teman lama yang kebetulan bertemu. Di samping Killa duduk seorang wanita yang pernah beberapa kali Naomi temui sebelumnya. Tunangan Killa."Halo," sapa Naomi ramah."Halo, Naomi." Wanita itu tersenyum hangat."Senang bertemu lagi.""Aku juga."Killa menunjuk kursi kosong. "Duduk."Kemudian Killa melihat ke belakang Naomi. Tatapannya bergerak ke kiri. Lalu ke kanan. Lalu ke belakang lagi.Naomi memperhatikan. "Kamu kenapa?"Killa masih melihat ke arah kerumunan. "Aku sedang mencari.""Mencari apa?""Singa."Naomi berkedip. Dia diam sejena
Hari Sabtu siang. Setelah melalui pertarungan panjang antara rasa malas dan rasa penasaran, Naomi akhirnya keluar dari apartemen. Alasan resminya adalah melihat booth perusahaan. Alasan sebenarnya adalah ia sendiri tidak terlalu yakin.Festival kuliner itu jauh lebih ramai dari yang ia bayangkan. Musik terdengar dari panggung utama. Aroma berbagai makanan bercampur di udara. Antrean panjang terlihat di beberapa tenant yang sedang viral.Naomi berjalan santai sambil memegang ponselnya. Ia bahkan belum membeli apa pun. Langkahnya langsung mengarah ke area tempat perusahaan mereka membuka booth.Dari kejauhan, booth minuman perusahaan terlihat cukup mencolok. Banner besar. Dekorasi yang rapi. Beberapa staf promosi. Dan tentu saja... Claudia.Naomi berhenti beberapa meter dari sana. Tidak langsung mendekat. Ia memilih berdiri di dekat salah satu tenant minuman sambil mengamati.Claudia terlihat sangat sibuk. Sesekali mengatur staf. Sesekali berbicara d
Mareeq menyalakan Mobil dan meluncur ke jalan raya. Mobil melaju di tengah lalu lintas sore yang mulai padat. Suasana sempat hening beberapa menit.Naomi memandangi jalanan di luar jendela. Mareeq sesekali meliriknya. Keheningan menemani perjalanan mereka hingga sampai di tempat parkir apartemen.Mareeq mematikan mesin mobil. Lampu-lampu parkiran apartemen memantulkan cahaya kekuningan melalui kaca depan. Namun Naomi tidak langsung membuka pintu. Naomi tetap duduk di tempatnya, lalu menoleh ke arah Mareeq."Aku akan datang, tapi aku nggak akan sendiri."Mareeq diam menatap Naomi. Kalimat itu membuatnya langsung memikirkan satu orang. Satu nama yang selama ini selalu muncul setiap kali Naomi membicarakan akhir pekan atau acara di luar kantor."Leon?" nama itu meluncur begitu saja dari bibirnya."Mungkin." Jawaban Naomi terdengar santai. Namun tatapannya tidak santai sama sekali. Ia justru menatap Mareeq lekat-lekat seolah sedang mengamati set
Mereka pun berfoto bersama pengantin. Kemudian mereka menuju area makan. Rupanya beberapa eja sudah disiapkan untuk tim marketing.Area meja bundar di bagian belakang gedung cukup lengang. Tim pemasaran berhasil menguasai satu meja besar. Begitu duduk, suasana langsung ramai.Topik
Sabtu menjelang siang, area parkir kantor sudah jauh lebih ramai daripada biasanya. Hari itu adalah hari pernikahan Fadlan. Karena lokasi gedung cukup jauh dari pusat kota, sebagian besar anggota tim sepakat berangkat bersama menggunakan beberapa mobil.Naomi datang tepat waktu. Ia mengena
Naomi baru kembali ke kantor setelah makan siang bersama Mareeq. Kepalanya masih terasa berat setelah insiden di lobby tadi. Meskipun Mareeq sudah berhasil menenangkannya, rasa kesal dan lelah itu belum benar-benar hilang.Saat memasuki ruangan, Naomi langsung menuju mejanya. Namun langkah
“Kalau ada sesuatu itu tanya dulu,” katanya lirih pada istrinya.Rian kemudian menoleh cepat ke arah Naomi. “Maaf banget, Mbak Naomi.” Nada suaranya penuh rasa bersalah.Naomi yang sejak tadi menahan emosi akhirnya menghela napas kecil. Ia bisa melihat sendir







