分享

Bab 4

作者: Liam
Bahan gaun yang tipis itu kini basah kuyup dan menempel ketat di kulitku. Dua titik kemerahan di dada, serta jiplakan thong renda hitam di bagian bawah menjadi samar-samar terlihat, membuat penampilanku terlihat jauh lebih menggoda dibanding tak memakai baju sama sekali.

Aku pun reflek menyilangkan tangan untuk menutupi dada, tapi semua sudah terlambat.

Tatapan mata Rey tampak membara. Dia menatap lekat-lekat tubuhku yang basah kuyup, sementara jakunnya bergerak naik turun.

"Lewat sini!"

Tanpa memberi kesempatan untuk membantah, dia langsung mencengkeram pergelangan tanganku dan menarikku berlari menuju sebuah pondok tukang kebun yang sudah terlantar tidak jauh dari sana.

Telapak tangannya terasa lebar dan bertenaga, dengan kehangatan yang terasa sangat panas.

Dituntun seperti ini membuat aku merasa seperti seekor hewan kecil yang ditangkap oleh seorang pemburu, sama sekali tak punya kekuatan untuk melawan.

Pondok itu sangat kecil dan dipenuhi tumpukan barang-barang tak terpakai, memancarkan aroma tanah yang lembab dan tumbuhan yang membusuk.

Begitu Rey menutup pintu, seketika hanya menyisakan kami berdua di ruang sempit itu.

Suara hujan, angin dan riuh orang-orang di luar sana seolah terhalang oleh sebuah lapisan tipis, terdengar menjauh dan menjadi tidak nyata.

Tidak ada lampu di dalam ruangan, suasananya sangat remang-remang, hanya mengandalkan sedikit cahaya yang menembus masuk dari sebuah jendela kecil.

Dalam suasana yang gelap dan intim seperti ini, aku bisa mendengar dengan jelas suara detak jantungku dan detak jantungnya yang saling bersahutan, memainkan melodi yang membuat wajah merona dan jantung berdebar kencang.

Aku bersandar pada dinding yang dingin, tak berani menatapnya.

Gaun yang basah kuyup menempel ketat pada tubuh dan sensasi dingin yang menerpa membuatku menggigil.

"Dingin?"

Suara Rey terdengar di dekat telinga.

Dia melepas jasnya, lalu menyampirkannya ke bahuku.

Jas yang membawa kehangatan tubuh dan aromanya itu bagai sebuah jaring besar yang hangat, membungkusku dengan erat.

Baru saja aku hendak mengucapkan terima kasih, tiba-tiba dia mencondongkan badannya ke depan. Kedua tangannya bertumpu pada dinding di kedua sisi tubuhku, mengurungku sepenuhnya di antara dada bidangnya dan dinding.

"Bu Sumi, kamu terlihat... sangat cantik sekarang."

Hembusan napasnya yang panas menerpa wajahku, membawa aroma hormon pria yang pekat.

Aku menahan napas dengan tegang, merasa jantung ini sudah mau melompat keluar dari tenggorokan.

Wajahnya terlihat semakin tampan dan berkarakter dalam cahaya yang remang, sementara sepasang matanya yang dalam itu tampak seperti dua pusaran hitam yang menyedot jiwaku ke dalamnya.

Dia mengulurkan satu tangannya, menggunakan ujung jarinya untuk menyeka sisa air hujan di pipiku dengan lembut.

Gerakannya sangat halus dan lambat, membawa ritme yang begitu menggoda.

Bagian jarinya yang agak kapalan menggeser kulitku yang sensitif, memicu sensasi geli dan lemas yang menjalar.

Tubuhku tanpa sadar menjadi lemas, bersandar pada dinding dan hampir tak sanggup untuk berdiri tegak lagi.

Kemudian, jarinya bergerak turun dari pipi, melewati leher dan akhirnya berhenti di bagian kerah gaunku yang basah kuyup.

Kain pakaian di bagian itu menempel ketat pada tulang selangkaku. Saat ujung jarinya yang dingin menyentuh kulitku yang hangat, lagi-lagi itu membuatku merinding.

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • Bimbingan Khusus Ayah Muridku   Bab 10

    Di antara kami berdua, kini telah terjalin sebuah hubungan yang rumit dan berbahaya, sesuatu yang telah melampaui batas antara guru dan orang rua murid, bahkan melampaui hubungan pria dan wanita biasa.Mobil pun segera tiba di area komplek rumahku.“Sudah sampai.” Rey menghentikan mobilnya, lalu melepas sabuk pengamannya sendiri.Namun, aku tetap tak bergerak. Aku menoleh dan menatap ke arahnya.“Pak Rey, kejadian hari ini….”Aku menarik napas dalam-dalam, berniat mengakhiri semua ini.“Anggap saja nggak pernah terjadi apa-apa.”Rey menatapku tanpa menjawab, hanya saja sorot matanya berubah menjadi lebih dalam.Saat aku mengira dia akan setuju, tiba-tiba dia mendekat ke arahku.Aku tersentak kaget dan reflek memundurkan tubuh.Namun, dia tak menciumku ataupun melakukan hal-hal lain seperti yang kubayangkan.Dia hanya mengulurkan tangan ke dalam saku bagian dalam jasnya, lalu mengeluarkan sebuah kartu nama.Kemudian, di bawah tatapanku, dia membuka kancing pertama di bagian dada gaunku

  • Bimbingan Khusus Ayah Muridku   Bab 9

    Karena hanya satu jari saja yang menusuk ke dalam.Jari ini bagaikan sebuah kunci yang membuka pintu hasrat di tubuhku, tapi masih jauh dari kata cukup untuk membendung gejolak yang meluap deras.Rasa hampa yang luar biasa besar malah membuatku semakin gila.“Kurang… aku masih mau….”Aku bagaikan siluman yang tak mengenal puas, terus melekat padanya dan menginginkan lebih.Namun, tepat pada saat itu, tiba-tiba Rey menarik keluar jarinya.“Bu Sumi, permainannya selesai.”Dia berdiri, menatapku dari posisi yang lebih tinggi. Sorot matanya kini sudah kembali jernih dan tenang, hanya menyisakan sisa gairah yang belum sepenuhnya pudar.“Sepertinya hujannya sudah reda.”Aku tercengang.Di luar jendela, suara gemercik hujan memang sudah berhenti, hanya menyisakan bunyi tetesan air yang jatuh dari atap.Cahaya tipis masuk melalui celah pintu, mengusir kegelapan di dalam pondok.Sekaligus membubarkan seluruh suasana intim yang semula memenuhi ruangan.Aku menunduk melihat diriku sendiri.Pakaia

  • Bimbingan Khusus Ayah Muridku   Bab 8

    “Katakan, Bu Sumi.”Suara Rey terdengar begitu penuh godaan.“Kasih tahu aku, apa yang kamu mau?”Aku menggigit bibir bawah dengan air mata yang menggenang di pelupuk mata, tapi tak mampu mengeluarkan sepatah katapun.Apa yang aku mau?Diriku sendiri juga tidak tahu.Aku hanya tahu bahwa kobaran api di dalam tubuhku telah terpancing sepenuhnya oleh pria ini, membakar habis seluruh akal sehat dan hanya menyisakan naluri paling dasar.Aku menginginkannya. Aku menginginkan pria yang belum lama kukenal itu, ingin dia mengisi kekosongan yang sudah terlalu lama melanda tubuhku dengan cara yang paling kasar.Melihat aku diam, Rey tak mendesak lagi.Dia tiba-tiba berlutut.Gerakan ini langsung membuatku tegang.Aku menunduk dan melihatnya sedang mendongak, menatapku dari bawah dengan tatapan yang sangat agresif.Gaun putihku yang basah kuyup menempel ketat di tubuh, membentuk siluet yang sexy.Sebenarnya ujung gaun itu hanya sebatas pertengahan paha dan karena pergerakan tadi, bagian bawahnya

  • Bimbingan Khusus Ayah Muridku   Bab 7

    Aku bagaikan sulur yang kehausan, tanpa sadar merambat dan melilit pohon besar yang kokoh, berharap bisa menyerap nutrisi yang membuatku tetap bertahan hidup darinya.Entah sejak kapan kedua tanganku sudah melingkar di lehernya. Tubuhku bergerak aktif mendekat ke arahnya, mencium leher dan dagunya tanpa beraturan.Rey jelas agak terkejut dengan gairahku yang tiba-tiba ini, tapi tak menunggu lama, dia langsung mengambil alih kendali.Dia mencengkeram bagian belakang kepalaku, lalu mencium bibirku dengan kasar seolah ingin menguasai segalanya.Ciumannya terasa begitu dominan dan tegas. Berbeda dengan Bayu yang selalu begitu lembut, tapi sikapnya yang agresif dan obsesi untuk menguasai, dia membuka paksa sela-sela gigiku, menyusup jauh ke dalam, mengait, bersahutan dan menghisap lidahku dengan gila-gilaan.Aku hampir kehabisan napas karena ciumannya, hanya bisa mengeluarkan suara desahan lirih. Seketika, tubuhku lemas seperti genangan lumpur, sepenuhnya bergantung pada topangan tubuhnya a

  • Bimbingan Khusus Ayah Muridku   Bab 6

    Melihat nama itu, aku seperti disiram seember air es. Kesadaranku pun langsung pulih sepenuhnya.Astaga… apa yang sedang kulakukan?Bisa-bisanya aku melakukan hal memalukan seperti ini di dalam pondok terbengkalai bersama orang tua murid yang baru kutemui pertama kali!Aku meronta dan mencoba mengambil ponselku, tapi gerakan Rey jauh lebih cepat.Dia mengambil ponsel itu, melirik ke arah layar, lalu menekan tombol jawab tepat di hadapanku.“Halo?”Suara Rey terdengar berat dan santai dengan sedikit serak yang intim.Mataku terbelalak panik. Aku menggelengkan kepala sekuat tenaga, memberi isyarat menyuruhnya jangan bicara sembarangan.Di balik telepon, Bayu tampaknya terkejut. Setelah beberapa detik kemudian, barulah dia bertanya, “Siapa kamu? Di mana Sumi?”Rey menatapku, sudut bibirnya menajam membentuk senyuman nakal yang licik.Satu tangannya memegang ponsel, sementara tangannya yang lain malah semakin menjadi-jadi dengan meremas dadaku. Jari-jarinya bahkan menyusup ke balik nipple

  • Bimbingan Khusus Ayah Muridku   Bab 5

    “Di sini… juga basah.”Suaranya terdengar serak. Dengan satu sentuhan ringan dari jarinya, dia menyusup masuk ke dalam kerah bajuku.Seluruh tubuhku menegang, langsung ingin menghentikannya.Namun, baru saja tanganku terangkat, sudah langsung ditahan tangannya dan ditekan dengan kuat ke dinding.“Jangan gerak.”Dia memberi perintah, suaranya membawa wibawa yang tak bisa dibantah.Jarinya mengusap perlahan di atas tulang selangkaku yang halus, kemudian perlahan-lahan bergerak turun. Aku merasa seperti seekor anak domba yang pasrah menunggu giliran, hanya bisa menatap pasrah ujung pisau sang pemburu yang perlahan mendekati bagian paling rapuh dari diriku.Rasa malu, takut, sekaligus secercah harapan yang liar bercampur aduk di dalam hati, membentuk jaring tebal yang mengurungku rapat-rapat.Akhirnya, jarinya menyentuh tepi bagian lembut dadaku. Hanya terhalang oleh nipple pad yang tipis, aku bisa merasakan dengan sangat jelas kehangatan dan tekanan ujung jarinya.Dia tak melakukan gera

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status