共有

Bab 3

作者: Liam
Sambil berbicara, dia memutari tubuhku dan berpindah ke belakang. Tubuhnya hampir menempel erat dengan tubuhku.

Tubuhku langsung menegang. Aku bisa merasakan dengan sangat jelas dadanya yang kokoh menempel erat pada tulang belakangku, hanya terhalang oleh kain gaun yang tipis.

Hawa panas dari tubuhnya terus mengalir tanpa henti, rasanya hampir melelehkanku.

Tangannya melewati bahuku untuk membenarkan posisi rangka kanvas yang rusak itu.

Posisi ini membuatnya terlihat seperti sedang memelukku seutuhnya dari belakang.

Akibatnya, bokongku mau tak mau menyentuh bagian bawah perutnya, ke tempat yang terasa keras dan panas.

Otakku langsung berdengung, langsung terasa kosong.

Selama dua puluh tiga tahun hidupku, ini pertama kalinya aku melakukan kontak seintim ini dengan pria lain selain pacarku.

Apalagi pria ini adalah ayah dari muridku sendiri!

Rasa bersalah karena melanggar aturan ini bagaikan rangsangan yang paling kuat, langsung memancing hasrat yang sudah lama kupendam dalam sekejap.

“Bu Sumi, sepertinya kamu… sedang gemetaran?”

Suara Rey yang diwarnai tawa geli terdengar dari atas kepalaku.

Tangannya yang tadi memegang rangka kanvas tiba-tiba bergerak turun. Telapak tangannya yang lebar ‘tak sengaja’ menyentuh bokongku yang montok, bahkan meremasnya dengan lembut.

“Aahh….”

Aku tak bisa menahannya lagi, sebuah desahan tertahan lolos dari mulutku.

Sensasinya terlalu mendebarkan!

Hanya terhalang oleh gaun tipis dan selembar kain renda, kehangatan dan tekstur kasar telapak tangannya tersalurkan dengan sangat jelas.

Seketika, tubuhku terasa lemas tak bertenaga. Sementara dari bagian bawah tubuhku menjalar sensasi geli dan kehampaan yang sulit dijelaskan.

“Maaf, tanganku licin.”

Dia meminta maaf dengan nada santai, tapi tangannya sama sekali tak menjauh. Sebaliknya malah menjadi-jadi dengan mengusap bokongku yang montok, menikmati elastisitas dan lekukannya yang luar biasa.

Aku berusaha merapatkan kedua kaki agar bisa menahan dorongan untuk menggerakkan tubuh dan menyambut sentuhannya.

“Pak… Pak Rey, tolong jaga sikapmu!” Aku menggeramkan kata-kata itu dengan seluruh sisa tenaga yang ada.

“Jaga sikap?” ujarnya sambil terkekeh pelan. Tangannya yang lain ikut melingkar dari depan pinggangku, mengunciku dengan lebih erat ke dalam depakannya.

“Bu Sumi, kamu berpakaian seperti ini, bukannya memang berharap ada orang yang nggak menjaga sikap padamu?”

Kata-katanya bagai pedang tajam yang dengan tepat menghancurkan semua kepura-puraanku.

Aku merasa begitu malu hingga ingin menangis, tapi tubuhku malah mengkhianati akal sehatku. Aku gemetar pelan di dalam pelukannya, mendambakan sentuhan yang lebih jauh darinya.

Tepat saat pertahananku hampir runtuh sepenuhnya, tiba-tiba langit menjadi mendung.

“Mau hujan! Ayo cepat bereskan barang-barang!”

Entah siapa yang berteriak, tempat melukis yang semula tenang langsung berubah kacau.

Murid-murid sibuk membereskan alat lukis mereka dengan panik dan berlarian ke segala arah.

Akhirnya, Rey pun melepaskanku.

Aku merasa seperti kehilangan seluruh tenaga, bersandar lemas pada rangka kanvas sambil terengah-engah.

Butiran hujan yang besar mulai berjatuhan, dalam waktu sekejap langsung membasahi gaun putih yang kukenakan.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Bimbingan Khusus Ayah Muridku   Bab 10

    Di antara kami berdua, kini telah terjalin sebuah hubungan yang rumit dan berbahaya, sesuatu yang telah melampaui batas antara guru dan orang rua murid, bahkan melampaui hubungan pria dan wanita biasa.Mobil pun segera tiba di area komplek rumahku.“Sudah sampai.” Rey menghentikan mobilnya, lalu melepas sabuk pengamannya sendiri.Namun, aku tetap tak bergerak. Aku menoleh dan menatap ke arahnya.“Pak Rey, kejadian hari ini….”Aku menarik napas dalam-dalam, berniat mengakhiri semua ini.“Anggap saja nggak pernah terjadi apa-apa.”Rey menatapku tanpa menjawab, hanya saja sorot matanya berubah menjadi lebih dalam.Saat aku mengira dia akan setuju, tiba-tiba dia mendekat ke arahku.Aku tersentak kaget dan reflek memundurkan tubuh.Namun, dia tak menciumku ataupun melakukan hal-hal lain seperti yang kubayangkan.Dia hanya mengulurkan tangan ke dalam saku bagian dalam jasnya, lalu mengeluarkan sebuah kartu nama.Kemudian, di bawah tatapanku, dia membuka kancing pertama di bagian dada gaunku

  • Bimbingan Khusus Ayah Muridku   Bab 9

    Karena hanya satu jari saja yang menusuk ke dalam.Jari ini bagaikan sebuah kunci yang membuka pintu hasrat di tubuhku, tapi masih jauh dari kata cukup untuk membendung gejolak yang meluap deras.Rasa hampa yang luar biasa besar malah membuatku semakin gila.“Kurang… aku masih mau….”Aku bagaikan siluman yang tak mengenal puas, terus melekat padanya dan menginginkan lebih.Namun, tepat pada saat itu, tiba-tiba Rey menarik keluar jarinya.“Bu Sumi, permainannya selesai.”Dia berdiri, menatapku dari posisi yang lebih tinggi. Sorot matanya kini sudah kembali jernih dan tenang, hanya menyisakan sisa gairah yang belum sepenuhnya pudar.“Sepertinya hujannya sudah reda.”Aku tercengang.Di luar jendela, suara gemercik hujan memang sudah berhenti, hanya menyisakan bunyi tetesan air yang jatuh dari atap.Cahaya tipis masuk melalui celah pintu, mengusir kegelapan di dalam pondok.Sekaligus membubarkan seluruh suasana intim yang semula memenuhi ruangan.Aku menunduk melihat diriku sendiri.Pakaia

  • Bimbingan Khusus Ayah Muridku   Bab 8

    “Katakan, Bu Sumi.”Suara Rey terdengar begitu penuh godaan.“Kasih tahu aku, apa yang kamu mau?”Aku menggigit bibir bawah dengan air mata yang menggenang di pelupuk mata, tapi tak mampu mengeluarkan sepatah katapun.Apa yang aku mau?Diriku sendiri juga tidak tahu.Aku hanya tahu bahwa kobaran api di dalam tubuhku telah terpancing sepenuhnya oleh pria ini, membakar habis seluruh akal sehat dan hanya menyisakan naluri paling dasar.Aku menginginkannya. Aku menginginkan pria yang belum lama kukenal itu, ingin dia mengisi kekosongan yang sudah terlalu lama melanda tubuhku dengan cara yang paling kasar.Melihat aku diam, Rey tak mendesak lagi.Dia tiba-tiba berlutut.Gerakan ini langsung membuatku tegang.Aku menunduk dan melihatnya sedang mendongak, menatapku dari bawah dengan tatapan yang sangat agresif.Gaun putihku yang basah kuyup menempel ketat di tubuh, membentuk siluet yang sexy.Sebenarnya ujung gaun itu hanya sebatas pertengahan paha dan karena pergerakan tadi, bagian bawahnya

  • Bimbingan Khusus Ayah Muridku   Bab 7

    Aku bagaikan sulur yang kehausan, tanpa sadar merambat dan melilit pohon besar yang kokoh, berharap bisa menyerap nutrisi yang membuatku tetap bertahan hidup darinya.Entah sejak kapan kedua tanganku sudah melingkar di lehernya. Tubuhku bergerak aktif mendekat ke arahnya, mencium leher dan dagunya tanpa beraturan.Rey jelas agak terkejut dengan gairahku yang tiba-tiba ini, tapi tak menunggu lama, dia langsung mengambil alih kendali.Dia mencengkeram bagian belakang kepalaku, lalu mencium bibirku dengan kasar seolah ingin menguasai segalanya.Ciumannya terasa begitu dominan dan tegas. Berbeda dengan Bayu yang selalu begitu lembut, tapi sikapnya yang agresif dan obsesi untuk menguasai, dia membuka paksa sela-sela gigiku, menyusup jauh ke dalam, mengait, bersahutan dan menghisap lidahku dengan gila-gilaan.Aku hampir kehabisan napas karena ciumannya, hanya bisa mengeluarkan suara desahan lirih. Seketika, tubuhku lemas seperti genangan lumpur, sepenuhnya bergantung pada topangan tubuhnya a

  • Bimbingan Khusus Ayah Muridku   Bab 6

    Melihat nama itu, aku seperti disiram seember air es. Kesadaranku pun langsung pulih sepenuhnya.Astaga… apa yang sedang kulakukan?Bisa-bisanya aku melakukan hal memalukan seperti ini di dalam pondok terbengkalai bersama orang tua murid yang baru kutemui pertama kali!Aku meronta dan mencoba mengambil ponselku, tapi gerakan Rey jauh lebih cepat.Dia mengambil ponsel itu, melirik ke arah layar, lalu menekan tombol jawab tepat di hadapanku.“Halo?”Suara Rey terdengar berat dan santai dengan sedikit serak yang intim.Mataku terbelalak panik. Aku menggelengkan kepala sekuat tenaga, memberi isyarat menyuruhnya jangan bicara sembarangan.Di balik telepon, Bayu tampaknya terkejut. Setelah beberapa detik kemudian, barulah dia bertanya, “Siapa kamu? Di mana Sumi?”Rey menatapku, sudut bibirnya menajam membentuk senyuman nakal yang licik.Satu tangannya memegang ponsel, sementara tangannya yang lain malah semakin menjadi-jadi dengan meremas dadaku. Jari-jarinya bahkan menyusup ke balik nipple

  • Bimbingan Khusus Ayah Muridku   Bab 5

    “Di sini… juga basah.”Suaranya terdengar serak. Dengan satu sentuhan ringan dari jarinya, dia menyusup masuk ke dalam kerah bajuku.Seluruh tubuhku menegang, langsung ingin menghentikannya.Namun, baru saja tanganku terangkat, sudah langsung ditahan tangannya dan ditekan dengan kuat ke dinding.“Jangan gerak.”Dia memberi perintah, suaranya membawa wibawa yang tak bisa dibantah.Jarinya mengusap perlahan di atas tulang selangkaku yang halus, kemudian perlahan-lahan bergerak turun. Aku merasa seperti seekor anak domba yang pasrah menunggu giliran, hanya bisa menatap pasrah ujung pisau sang pemburu yang perlahan mendekati bagian paling rapuh dari diriku.Rasa malu, takut, sekaligus secercah harapan yang liar bercampur aduk di dalam hati, membentuk jaring tebal yang mengurungku rapat-rapat.Akhirnya, jarinya menyentuh tepi bagian lembut dadaku. Hanya terhalang oleh nipple pad yang tipis, aku bisa merasakan dengan sangat jelas kehangatan dan tekanan ujung jarinya.Dia tak melakukan gera

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status