MasukEntah mendapat kekuatan dari mana, Bita yang semula terlihat tak berdaya tiba-tiba menepis tangan Vino dari dagunya, lalu mendorong dadanya hingga laki-laki itu terpaksa mundur selangkah.
Vino mengerjap, menatap kedua mata bulat yang kini memancarkan kekesalan. “Iya, aku sengaja mancing kamu karena penasaran apa yang bakal kamu lakuin! Emang kenapa?!” sentak Bita. Kemudian menyedekapkan kedua tangan di depan dada dan mendesah jengVino sempat membuka mulut, tetapi kembali terdiam sebelum satu kata pun keluar. Jemarinya saling meremas di atas pangkuan, sesekali mengusap telapak tangannya yang berkeringat pada celana. Ia menarik napas, lalu mengangkat wajah seolah hendak bicara, tetapi sedetik kemudian kembali menunduk. Bahkan ketika akhirnya mendongak lagi, bibirnya tampak bergetar tipis sebelum kembali terkatup rapat. Lelaki itu terlihat begitu kesulitan merangkai kata-kata di hadapan Bita.Sementara itu, Sasha memutar bola matanya, lalu mendekatkan wajah ke telinga Bita. “Tuh, kan. Baru disuruh ngomong aja udah ragu-ragu begitu.”Dira menahan tawa kecil. “Jangan-jangan sebenarnya dia nggak punya penjelasan yang masuk akal.”“Makanya. Jangan sampai kamu luluh cuma karena dia datang bawa uang lima ratus juta. Menepati satu janji bukan berarti dia bisa seenaknya melupakan janji yang lain.”Bita mendengar suara mereka, tetapi tak benar-benar menyimak. Pandangannya ma
Setelah menempuh perjalanan kurang dari satu jam, mobil Sasha yang dikemudikan Dira akhirnya memasuki pekarangan rumah Bita.Begitu turun dari mobil, pandangan Bita langsung tertuju pada sebuah motor sport yang terparkir tak jauh dari teras, membuat gadis itu seketika terdiam.Bita mengenali motor itu. Milik Vino. Selama berminggu-minggu tinggal di apartemen yang sama, Bita hampir tidak pernah melihat Vino mengendarai motor tersebut. Laki-laki itu lebih sering menggunakan mobil untuk bepergian, terutama ke lokasi syuting atau menghadiri urusan pekerjaannya. Motor sport itu bahkan seolah sudah lama tak terlihat.Namun, sekarang motor itu terparkir di rumahnya.Yang berarti Vino juga ada di dalam.Bita semakin terpaku menatap motor itu dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Ada gugup, tidak percaya, juga harapan yang sejak tadi berusaha ia tahan agar tidak tumbuh terlalu tinggi.“Ta, ayo masuk!” Sasha menepuk bahunya.
Vino masih bersimpuh di lantai, membenamkan wajahnya di pangkuan Anggun. Kedua tangannya menggenggam lembut tangan perempuan itu, seolah takut kehilangan kesempatan untuk merasakan kehangatannya lagi.Sejak tadi, air matanya tidak berhenti mengalir.Ia masih ingat betapa terkejutnya dirinya ketika pertama kali melihat Anggun duduk di kursi roda. Ia bahkan sempat berharap bahwa penglihatannya keliru, bahwa ada penjelasan lain yang lebih baik daripada kenyataan yang harus ia terima.Namun, setelah mendengar cerita Anggun tentang kecelakaan yang menimpanya setahun lalu, hati Vino seolah diremas kuat-kuat.Selama ini, ia sibuk mengejar karier, berusaha mengumpulkan uang, dan mempersiapkan masa depannya bersama Bita. Sementara itu, sesuatu yang begitu besar telah terjadi pada perempuan yang selama ini sudah ia anggap seperti ibu sendiri.Dan ia bahkan tidak mengetahuinya.“Vin, ayo, Nak. Bangun dulu.” Anggun mengusap kepala Vino perla
Bita baru bisa menyelesaikan pekerjaannya setelah jam pulang kantor lewat cukup lama. Beberapa kali ia harus memeriksa ulang laporan auditnya, memastikan tidak ada lagi angka yang keliru sebelum akhirnya diizinkan pulang.Meski begitu, ia sama sekali tidak merasa kesal karena harus lembur.Sepanjang perjalanan pulang dengan ojek, Bita justru sibuk membayangkan kemungkinan bertemu Vino lagi.Siapa tahu mereka berpapasan di lobi. Atau bertemu lagi di lift seperti tadi pagi. Bita bahkan membayangkan Vino keluar dari apartemennya tepat saat ia tiba, lalu mereka saling bertatapan sebelum laki-laki itu kembali tersenyum dan tertawa kecil dengan ekspresi manisnya yang sukses membuat jantung Bita berdebar tak karuan.Membayangkannya saja sudah cukup membuat Bita tersenyum lebar. Bahkan, ia sampai terkikik sendiri di atas motor, membuat pengemudi ojek sempat meliriknya lewat kaca spion.Namun, tawanya perlahan berhenti ketika motor itu akhirnya ti
Bita membuka pintu apartemennya sambil menguap lebar. Semalaman ia hampir tidak bisa tidur karena suara tawa aneh yang kembali terdengar dari lorong apartemen. Suara itu membuatnya terus terjaga hingga menjelang subuh. Alhasil, pagi ini ia harus bersiap berangkat kerja dengan mata berat dan tubuh yang masih terasa lemas, meskipun sudah berusaha menyegarkan diri. Dengan langkah gontai, Bita menyusuri lorong menuju lift. Begitu pintunya terbuka, Bita langsung masuk dan menekan tombol lantai dasar sebelum mundur beberapa langkah. Ia bahkan sudah bersiap memejamkan mata sejenak ketika pintu lift mulai merapat. Namun, sebuah tangan tiba-tiba menyelip di antara kedua pintu, menahan hingga sensor membuatnya kembali terbuka. Bita mendongak mendapati Vino-lah yang menahan pintu lift. Laki-laki itu berdiri di ambang pintu tanpa masker, menatapnya sekilas sebelum melangkah masuk. Tubuh Bit
“Gue pernah bilang, kan, kalau lima ratus juta itu cuma buat mahar? Sementara buat biaya pernikahan dan kehidupan setelahnya, gue masih harus ngumpulin uang lagi.”Martin mengernyitkan dahi. “Ya, terus? Lo bukannya dapat banyak job sekarang? Belum kekumpul juga?”Vino tidak langsung menjawab. Tatapannya beralih ke kaleng soda di atas nakas. Ia memutar tubuh sedikit, menyandarkan kedua siku di atas paha, lalu menunduk sambil meremas kedua tangannya sendiri.Beberapa saat berlalu sebelum akhirnya ia mengembuskan napas panjang. “Dulu sebenarnya udah sempat kekumpul,” jawabnya pelan. “Tapi ada sesuatu yang bikin gue harus ngambil uang dari tabungan itu.”Martin terdiam sejenak, berusaha mencerna jawabannya. “Oke. Terus sekarang masih belum kekumpul lagi?”Vino menggeleng. “Lima ratus jutanya udah kekumpul lagi, sih.” Ia menjeda, kemudian menggeleng pelan. “Cuma uang buat pernikahannya yang belum.”Martin mengusap wajahnya sebentar se
"Kamu ngapain?!"Saat keluar dari rumahnya, Bita dikejutkan dengan kedatangan Vino. Pasalnya pria itu tidak datang dengan motor yang biasanya mereka pakai untuk berangkat sekolah. Melainkan Toyota Sedan warna hitam yang sangat Bita kenali milik siapa terparkir didepan rumah.Vino menyandarkan pung
Menatap iris jelaga Vino yang bisa membawa siapapun tenggelam ke dalam gelapnya, Bita menggelengkan kepala. "Aku nggak bisa," tolak Bita. Bita tidak bisa mempercayakan dirinya pada Vino sepenuhnya. Mengingat reputasi Vino yang gemar mempermainkan perempuan, bukan tidak mungkin Bita akan jadi sal
"Bercinta? Kamu gila?!" Vino tidak langsung menjawab. Laki-laki itu justru mengulurkan tangan, menjepit kedua pipi Bita dengan telapak tangannya yang terasa hangat. "Lo kapan gedenya, sih? Hal begini aja harus dijelasin." Bita menepis tangan Vino dengan gusar. "Nggak usah pegang-pegang!" Vino
"Lo naksir abang gue?" Bita tersentak. Selang air di tangannya terlepas begitu saja, membasahi ujung sandal rumahnya sebelum ia sempat mematikan keran. Niatnya berpura-pura menyiram tanaman siang-siang begini hanya agar bisa melihat Aksa yang baru pulang kuliah. Meskipun Aksa terpaut usia be







