FAZER LOGINEntah mendapat kekuatan dari mana, Bita yang semula terlihat tak berdaya tiba-tiba menepis tangan Vino dari dagunya, lalu mendorong dadanya hingga laki-laki itu terpaksa mundur selangkah.
Vino mengerjap, menatap kedua mata bulat yang kini memancarkan kekesalan. “Iya, aku sengaja mancing kamu karena penasaran apa yang bakal kamu lakuin! Emang kenapa?!” sentak Bita. Kemudian menyedekapkan kedua tangan di depan dada dan mendesah jengSeperti janjinya, keesokan paginya, bahkan sebelum matahari terbit, Vino sudah mendatangi kamar Bita. Sesaat setelah Bita membukakan pintu, laki-laki itu langsung menyeruak masuk dengan wajah panik.Vino segera menutup pintu, kemudian membingkai wajah Bita dengan kedua tangannya. Tatapannya berpindah dari satu mata ke mata lainnya, seolah memastikan sendiri apa yang sejak tadi ia khawatirkan.Mata yang semalam sempat Bita lihat di cermin kini sudah pasti tampak sama mengenaskannya dengan yang Vino lihat. Kantung matanya tebal dan menghitam, sementara kedua matanya masih sembap."Ta, kamu nangis lagi, ya?" tanya Vino khawatir."Kentara banget, ya?" Bita langsung tahu apa yang membuat Vino begitu cemas.Vino mengangguk dengan tatapan sendu.Bita mencoba menarik segaris senyum tipis. "Nggak papa. Nanti bisa ditutupi pakai concealer. Terus aku pakai makeup tipis biar kelihatan seger."Bita kemudian mengajak Vino duduk di sof
Vino menelan ludah. Mami masih bisa ia kelabui. Ia bisa membuat semuanya terlihat mudah, termasuk kebohongan-kebohongan yang harus Vino tutupi.Tapi Aksa?Pria itu adalah satu-satunya orang yang sulit Vino kelabui. Entah bagaimana, kakaknya itu selalu bisa menemukan kejanggalan sekecil apa pun dalam diri Vino, bahkan ketika ia sudah berusaha menutupinya rapat-rapat. Seolah-olah pria itu memiliki mata yang mampu menembus apa saja, termasuk kebohongannya.Dan kini, tatapan Aksa sukses membuat Vino merasa seperti seorang tersangka.Vino mencoba menyembunyikan kegelisahannya dengan terkekeh. "Apaan sih, Mas? Ngelihatinnya gitu banget?"Ia menutup pintu, lalu berbalik menghadapi Aksa yang masih menatapnya lurus. Vino berusaha memasang wajah setenang mungkin."Tadi Bita ngajak aku keluar. Katanya masih pengin jalan-jalan. Besok kan kita harus balik, jadi udah nggak ada waktu lagi. Bita pengin puas-puasin jalan-jalannya," jelasnya. Vino
Vino menatap kedua mata Bita yang bergetar. Ketakutan, kegelisahan, dan keputusasaan bercampur aduk di sana. Perasaan yang mungkin tak jauh berbeda dari apa yang tengah bergejolak di dalam dirinya.Dada Vino bergemuruh menahan ketakutan yang sama. Untuk sesaat, Vino mengakui bahwa ide Bita terdengar masuk akal. Jika mereka tidak mengatakan apa pun, mungkin tidak akan ada yang tahu. Mereka tetap bisa bersama tanpa harus menghadapi kekecewaan kedua orang tua Bita.Pandangan Vino terangkat. Kelopak matanya berkedip pelan, seolah masih menimbang pilihan itu.Namun ketika jemari Bita merambat ke wajahnya dan mengusap pipinya, tatapan Vino kembali jatuh pada gadis itu.“Kita bisa merahasiakannya berdua,” gumam Bita. “Nggak akan ada yang tahu. Kita cuma perlu sama-sama tutup mulut.”Sesaat, Vino hampir mengangguk. Namun ia segera memejamkan mata rapat-rapat, lalu menggeleng kuat. “Nggak. Aku nggak bisa, Ta.” Vino menatap Bita dengan wajah frustr
Setelah lagu berakhir, Meta bukannya melepaskan Aksa tapi malah menarik lengan pria itu dan membawanya menemui beberapa anggota keluarganya. Suaminya ikut bergabung, memperkenalkan Aksa kepada kerabat yang belum pernah ditemuinya. Niat Aksa untuk segera kembali kepada Bita dan mengecek keadaannya pun tertunda.Satu percakapan berganti percakapan lain. Dari cerita masa SMA, kabar pekerjaan, hingga berbagai kenangan lama yang membuat Meta beberapa kali tertawa. Setiap kali Aksa berpikir ia sudah bisa pamit, selalu ada orang lain yang menghampiri.Tanpa terasa, suasana ballroom perlahan berubah. Musik mulai mengecil, meja-meja mulai dibereskan, dan para tamu satu per satu meninggalkan ruangan. Baru setelah reception benar-benar berakhir, Aksa akhirnya berhasil melepaskan diri.Pria itu berpamitan kepada Meta dan suaminya sebelum berjalan menuju lift. Beberapa saat kemudian, pintu lift tertutup di hadapannya. Aksa menekan tombol 8.Entah ken
Mata Bita nyaris meloncat keluar ketika Vino kembali menatapnya dengan tatapan tajam penuh amarah, ditambah ibu jarinya yang masih menekan bibirnya.Aura yang dipancarkan Vino benar-benar berbeda. Menyeramkan. Untuk pertama kalinya, Bita merasa Vino benar-benar telah melewati batas kendali dirinya. Seolah-olah laki-laki itu bisa melakukan apa saja, bahkan menghancurkannya hanya dengan tatapan.Bita segera menepis jemari Vino, lalu kembali mendorong dada laki-laki itu. Namun, Vino sama sekali tidak bergeser. Tubuhnya justru semakin mendesak Bita, membuat kepanikan gadis itu kian menjadi-jadi.Bita kembali mendorongnya sekuat tenaga. "Vino! Menyingkir, nggak? Atau aku teriak?!" ancamnya.Vino tak bergeming."Vino!" Sekali lagi Bita mendorong dada laki-laki itu. Namun, tubuh Vino seolah menjadi tembok yang menolak bergeser sedikit pun.Bita mengerahkan seluruh tenaganya, tetapi Vino tetap mempertahankan posisinya. Tatapannya pun tak
Entah mendapat kekuatan dari mana, Bita yang semula terlihat tak berdaya tiba-tiba menepis tangan Vino dari dagunya, lalu mendorong dadanya hingga laki-laki itu terpaksa mundur selangkah. Vino mengerjap, menatap kedua mata bulat yang kini memancarkan kekesalan. “Iya, aku sengaja mancing kamu karena penasaran apa yang bakal kamu lakuin! Emang kenapa?!” sentak Bita. Kemudian menyedekapkan kedua tangan di depan dada dan mendesah jengkel. “Waktu di St Dunstan aja kamu nolak permintaan aku mentah-mentah. Katanya kamu harus ngejaga aku. Katanya kita harus membatasi kedekatan dan bla, bla, bla.” Bita mengibaskan tangan kesal. “Tapi tadi? Bisa tuh kamu peluk-peluk aku. Bisa tuh kamu lupa sama prinsip kamu sendiri. Kenapa kemarin nggak bisa?” “Dan kamu kesal?” “Iyalah!” sergah Bita, suaranya kembali meninggi. Sepasang mata Vino tak lepas dari wajah Bita. Dari ekspresi
"Bercinta? Kamu gila?!" Vino tidak langsung menjawab. Laki-laki itu justru mengulurkan tangan, menjepit kedua pipi Bita dengan telapak tangannya yang terasa hangat. "Lo kapan gedenya, sih? Hal begini aja harus dijelasin." Bita menepis tangan Vino dengan gusar. "Nggak usah pegang-pegang!" Vino
"Lo naksir abang gue?" Bita tersentak. Selang air di tangannya terlepas begitu saja, membasahi ujung sandal rumahnya sebelum ia sempat mematikan keran. Niatnya berpura-pura menyiram tanaman siang-siang begini hanya agar bisa melihat Aksa yang baru pulang kuliah. Meskipun Aksa terpaut usia be
Menatap iris jelaga Vino yang bisa membawa siapapun tenggelam ke dalam gelapnya, Bita menggelengkan kepala. "Aku nggak bisa," tolak Bita. Bita tidak bisa mempercayakan dirinya pada Vino sepenuhnya. Mengingat reputasi Vino yang gemar mempermainkan perempuan, bukan tidak mungkin Bita akan jadi sal
"Bita." Ketukan pelan di kaca balkon membuat Bita yang hampir terlelap seketika terjaga. Kamar mereka memang saling berhadapan dengan jarak balkon yang cukup dekat, membuat Vino sering kali menyeberang dengan mudah jika ada perlu. Bita menghela napas, bangkit dari ranjang untuk menggeser pintu







