로그인Menatap iris jelaga Vino yang bisa membawa siapapun tenggelam ke dalam gelapnya, Bita menggelengkan kepala.
"Aku nggak bisa," tolak Bita. Bita tidak bisa mempercayakan dirinya pada Vino sepenuhnya. Mengingat reputasi Vino yang gemar mempermainkan perempuan, bukan tidak mungkin Bita akan jadi salah satunya. Ia masih waras untuk tidak mengiyakan permintaan Vino. "Lo takut sama gue, Ta?" tebak Vino tepat sasaran. Melihat Bita tak membantah, Vino tertawa. "Lo temen gue. Mana mungkin gue ada niatan mempermainkan lo kalo itu yang lo takutkan?" Sekali lagi, Bita menggeleng tak tertarik. Meski mereka bersahabat sejak lama, Vino tetaplah laki-laki berbahaya yang seharusnya diberi jarak aman. Jangan sampai Bita jatuh ke dalam perangkapnya, karena itu sama saja memberikan nyawanya cuma-cuma. "Emang lo udah nggak tertarik sama Mas Aksa? Nggak mau punya kesempatan mendekatinya?" Vino membungkuk mencari tatapan Bita yang sibuk menyapu lantai. "Mas Aksa selamanya menganggap lo sebagai adiknya, itu yang lo mau?" cecar Vino. Bita tahu tidak akan ada yang berubah jika ia tidak melakukan sesuatu. Tapi menerima tawaran playboy ini beserta syarat yang ia ajukan juga bukan perkara yang mudah, apalagi dengan segenap resiko yang ditawarkan. "Lo mau Mas Aksa berakhir sama Kak Meta?" Ketika Vino menyebut nama perempuan itu, Bita yang semula bergeming akhirnya mengangkat pandangannya. Perasaan tidak rela meliputi hati Bita yang sontak terbaca oleh Vino. "Kalo lo nggak gerak-gerak, bisa jadi Kak Meta yang masih naksir bule itu berbalik membalas perasaan Mas Aksa," ucap Vino kian menakut-nakuti Bita. Perkataan Vino merenggut habis oksigen disekitar Bita, membuatnya tercekat tidak bisa bernapas. "Dan saat itu terjadi, lo udah nggak ada kesempatan lagi, Ta. Itu berarti lo harus merelakan Mas Aksa selama-lamanya sebagai sesuatu yang nggak pernah bisa lo miliki." Sepuluh tahun lebih Bita memendam perasaannya bukanlah waktu yang sedikit. Hal terakhir yang ingin Bita lakukan adalah melihat Aksa bersama orang lain. Dan Vino menyadarkannya, bahwa sewaktu-waktu mimpi buruk itu akan terjadi. Cepat atau lambat, siap tidak siap. "Gue kasih waktu untuk berpikir. Tapi ingat, penawaran gue cuma sampai nanti siang." Vino menepuk puncak kepala Bita. "Pikirkan baik-baik ... adek Bita." *** "Suntuk banget muka kamu. Kenapa?" tegur Sasha, teman seangkatannya yang diincar Vino dari semester satu. Mereka tengah berada di kantin sehabis kelas, menikmati makan siang dengan seporsi bakso yang hanya diaduk-aduk Bita. "Nggak papa," sahut Bita enggan bercerita kemelut yang memenuhi kepalanya. Sudah cukup lelah dengan rasa cemburunya terhadap kedekatan Aksa dan Kak Meta, ditambah lagi tawaran Vino yang belum sanggup dia iyakan. "Liat si Vino. Kamu nggak muak apa lihat tingkahnya tiap hari?" Bita memandangi arah mata Sasha. Tidak jauh dari meja mereka, Vino berjalan memasuki kantin dengan menebarkan senyum yang berhasil membuat para perempuan memekik tertahan. Memakai kemeja flanel yang membungkus kaos putih, dipadukan dengan celana jeans hitam, serta potongan rambut undercut menjadikan penampilan Vino tampak segar. Dimana pun berada, Vino selalu sukses menjadi pusat perhatian. Terkecuali Bita yang langsung membuang muka. "Abaikan," ujar Bita lebih kepada dirinya sendiri. Bita tidak boleh tergoda dengan penawaran Vino, jadi sebaiknya ia mengabaikan keberadaannya. Jangan sampai mereka bersitatap dan memberi kesempatan Vino membujuknya. "Hai, Sasha cantik. Eh, ada Bita." Vino malah menyambangi meja mereka, dan duduk si samping Sasha yang secepatnya merapat ke Bita. "Ta." Sasha yang risih membuat Bita harus turun tangan dan mau tak mau memberikan tatapan mematikan pada Vino agar jangan mengganggu. Vino mengangkat tangannya. "Gue ngapa-ngapain." Dari sekian banyak perempuan memang hanya dua orang ini yang tidak tertarik dengan Vino. Satu karena terhasut omongan temannya yang mewanti-wanti agar tidak termakan rayuan playboy, dan satunya lagi karena memiliki perasaan mendalam dengan abangnya. "Kamu jangan duduk disini. Sama teman-temanmu sana!" "Lo juga temen gue, kan?" Vino justru menyeringai. "Ngomong-ngomong, udah siang ya ini," gumamnya sarat makna. Bita termangu. Sadar penawaran Vino akan segera berakhir dan dia tidak punya banyak waktu untuk berpikir. "Lo nggak kelupaan sesuatu kan, Ta?" "Kita harus bicara." Bita menyambar tangan Vino dan menyeretnya ke belakang kantin yang sepi. "Kamu nggak bakalan ngapa-ngapain aku kan kalo setuju?" tanya Bita tak sabaran. Vino melipat tangannya didada. "Gue cuma ngajarin lo supaya bisa menarik dimata Mas Aksa. Nggak ada intensi lain." "Ada jaminannya?" "Berapa lama kita berteman dan kenal satu sama lain? Lo masih nggak percaya sama gue?" "Karena aku kenal kamu lebih dari siapapun, dan kamu yang kukenal suka mainin cewek, makanya aku butuh jaminan," tegas Bita. Matanya menyipit melawan terik matahari demi menatap Vino yang berdiri menjulang didepannya. "Apa gue pernah ngapa-ngapain lo selama kita sahabatan?" Jawabannya adalah tidak. Vino hanya sering menggodanya main-main. "Terserah lo mau apa nggak. Gue nggak maksa. Tapi kalo lo mau, ikuti cara gue beserta syarat yang udah gue sebutin," final Vino lalu melirik jam dipergelangan tangan. "Sebentar lagi gue ada kelas. Gue harus cabut seka—" "Aku setuju," ungkap Bita menepikan keraguannya. Bagaimana pun juga ini adalah kesempatan emas untuknya menjadi lebih dekat dengan Mas Aksa. Bita akan tanggung resikonya. "Benaran?" ulang Vino, dibalas anggukan singkat Bita. Vino menarik sudut bibirnya. Menyeringai lebar. "Karena sekali lo bilang setuju, nggak ada kesempatan buat lari, Ta.""Lo sengaja menghindari gue?" Vino yang telah dibukakan pintu masuk menodong Bita. Langkah besarnya meringsek maju mendatangi Bita yang terhuyung mundur hingga betisnya terantuk dipan jati. Tubuh Bita terhempas jatuh memantul diatas kasur empuk."Gue akan datang pukul delapan malam, jadi tetap berada di kamar untuk membukakan pintu. Kurang jelas perintahnya?" geram Vino menempatkan dirinya diatas Bita. Menguasai gadis itu tanpa cela.Bita gemetar menghadapi kemarahan Vino yang menggulung-gulung seperti ombak laut yang mematikan. Posisi Vino yang mengungkungnya, membuat Bita tidak bisa kabur dan hanya bisa berdoa supaya selamat dari amukan Vino."Berapa lama gue menunggu lo?" cecar Vino. Tatapan bengisnya menghujam Bita yang tergolek lemah tak berdaya. "Berjam-jam diluar dalam keadaan kedinginan tanpa kepastian."Bita tidak bisa membayangkan sedingin apa angin malam mengoyak tubuh atletisnya yang hanya terbalut kaos singlet putih kesukaannya dan sepotong celana pendek diatas lutut. T
Memiliki reputasi buruk, tidak membuat Bita serta-merta menjauhi Vino. Sikap buruk Vino terhadapnya hanya menjahilinya sampai kesal, yang untungnya masih bisa ditolerir Bita. Namun Bita merasa harus mulai menjaga jarak setelah kejadian tadi malam. "Bita!" Bita yang berniat memutar balik badannya sewaktu menemukan Vino menunggu diparkiran, harus menekan keinginannya untuk kabur lantaran Vino lebih dulu mengetahui keberadaannya. "Aku pulang dulu," pamitnya pada Sasha. "Hati-hati. Kabari kalo udah nyampe!" Seruan Sasha menghantarkannya menghadap Vino yang duduk manis diatas motor sport merahnya. "Aku udah bilang ada kelas sore," cecar Bita. Vino mengantongi ponselnya ke dalam saku jaket kulit yang melekat pas dibadannya. "Gue bilang mau nunggu." Di waktu biasa tentu saja Bita akan melonjak kegirangan karena Vino rela menunggunya, jadi Bita tidak perlu memesan ojek online. Berbeda dengan saat ini. Vino tidak mungkin menunggu sampai sepetang ini padahal laki-laki itu h
Bulu kuduk Bita meremang. Ancaman Vino menelannya bulat-bulat, menyisakan jantungnya yang bertalu cepat. Mendadak Vino tertawa tanpa sebab. "Lo temen gue. Mana mungkin gue menelanjangi lo?" ungkap Vino jenaka. "Kecuali kalo lo Sasha." Ketegangan yang menyelimuti keduanya perlahan hilang. Bita mendengus kencang menyadari Vino hanya menggodanya seperti biasa. "Awas aja kalo kamu ngapa-ngapain Sasha!" Vino mengekeh tanpa canggung. Seakan tidak ada Vino yang menatapnya lapar, dan mendesaknya. Suasana kembali terjalin normal. Atau mungkin begitulah yang Bita rasakan. Vino tetap saja laki-laki yang pandai mengelabui perempuan. Vino melirik jam yang berdenting dinakas. Sudah cukup lama Vino berada dikamar Bita, ia perlu segera pergi. "Kita lanjut besok. Lo perlu mempersiapkan diri. Karena pelajaran besok akan lebih sulit dari malam ini," tuturnya disertai seringaian. Bita memukulkan bonekanya tepat ke muka Vino. "Yaudah pergi sana!" usirnya. "Tanpa disuruh juga gue pergi." Vino men
"Ciuman juga termasuk sesuatu yang harus aku pelajari?" Setelah lama berkutat dengan pikiran masing-masing, Bita mengajukan pertanyaan. Ada jeda sebelum Vino menganggukkan kepala. "Ya. Wanita dewasa juga harus bisa berciuman. Mas Aksa akan lebih suka kalo lo pandai dalam hal itu." "Ciuman yang setidakterkendali tadi bakalan disukai Mas Aksa?" tanya Bita skeptis. Mas Aksa yang setenang itu, Bita ragu menyukai kegiatan tergesa-gesa seperti Vino yang bergerak kasar melahap bibirnya. "Sorry, gue kelepasan," sesal Vino. Bita mengatur embus napasnya susah payah. Sejujurnya, dia tidak tau harus mengatakan apa. Didepannya, Vino yang hanya memakai kaos singlet tampak basah, sekujur tubuhnya dipenuhi bulir keringat, dengan jakun naik turun, menunduk seakan takut bertatapan dengannya. Entah kemana perginya rasa percaya diri Vino saat menggoda perempuan, karena dihadapannya kini Vino bak anak anjing yang meminta ampun setelah melakukan kesalahan besar. "Yang tadi diluar kendali kamu?" "
"Bita." Ketukan pelan di kaca balkon membuat Bita yang hampir terlelap seketika terjaga. Kamar mereka memang saling berhadapan dengan jarak balkon yang cukup dekat, membuat Vino sering kali menyeberang dengan mudah jika ada perlu. Bita menghela napas, bangkit dari ranjang untuk menggeser pintu kaca. "Kamu bisa lewat pintu depan, kan? Kalau jatuh gimana?" "Lama kalau harus mutar," sahut Vino santai. Cowok itu langsung menerobos masuk tanpa permisi, mengabaikan Bita yang masih mengenakan piyama kaos longgar. "Ini udah jam sepuluh malam, Vin." "Terus kenapa?" Vino berbalik, menyandarkan pinggulnya di tepi meja belajar Bita sambil bersedekap. "Katanya lo mau belaja. Kita mulai malam ini." Bita terdiam sejenak. Kalimat Mas Aksa tadi pagi yang menegaskan bahwa ia hanya dianggap sebagai adik kembali terngiang, menyuntikkan rasa tidak rela yang amat besar di dadanya. "Aku harus ngapain dulu?" tanya Bita akhirnya. Ia melangkah mendekat, duduk di tepi tempat tidur sambil memeluk s
Menatap iris jelaga Vino yang bisa membawa siapapun tenggelam ke dalam gelapnya, Bita menggelengkan kepala. "Aku nggak bisa," tolak Bita. Bita tidak bisa mempercayakan dirinya pada Vino sepenuhnya. Mengingat reputasi Vino yang gemar mempermainkan perempuan, bukan tidak mungkin Bita akan jadi salah satunya. Ia masih waras untuk tidak mengiyakan permintaan Vino. "Lo takut sama gue, Ta?" tebak Vino tepat sasaran. Melihat Bita tak membantah, Vino tertawa. "Lo temen gue. Mana mungkin gue ada niatan mempermainkan lo kalo itu yang lo takutkan?" Sekali lagi, Bita menggeleng tak tertarik. Meski mereka bersahabat sejak lama, Vino tetaplah laki-laki berbahaya yang seharusnya diberi jarak aman. Jangan sampai Bita jatuh ke dalam perangkapnya, karena itu sama saja memberikan nyawanya cuma-cuma. "Emang lo udah nggak tertarik sama Mas Aksa? Nggak mau punya kesempatan mendekatinya?" Vino membungkuk mencari tatapan Bita yang sibuk menyapu lantai. "Mas Aksa selamanya menganggap lo s







