LOGIN"Bita."
Ketukan pelan di kaca balkon membuat Bita yang hampir terlelap seketika terjaga. Kamar mereka memang saling berhadapan dengan jarak balkon yang cukup dekat, membuat Vino sering kali menyeberang dengan mudah jika ada perlu. Bita menghela napas, bangkit dari ranjang untuk menggeser pintu kaca. "Kamu bisa lewat pintu depan, kan? Kalau jatuh gimana?" "Lama kalau harus mutar," sahut Vino santai. Cowok itu langsung menerobos masuk tanpa permisi, mengabaikan Bita yang masih mengenakan piyama kaos longgar. "Ini udah jam sepuluh malam, Vin." "Terus kenapa?" Vino berbalik, menyandarkan pinggulnya di tepi meja belajar Bita sambil bersedekap. "Katanya lo mau belaja. Kita mulai malam ini." Bita terdiam sejenak. Kalimat Mas Aksa tadi pagi yang menegaskan bahwa ia hanya dianggap sebagai adik kembali terngiang, menyuntikkan rasa tidak rela yang amat besar di dadanya. "Aku harus ngapain dulu?" tanya Bita akhirnya. Ia melangkah mendekat, duduk di tepi tempat tidur sambil memeluk sebuah bantal kecil. Vino berjalan mendekat, lalu ikut mengambil posisi duduk di hadapan Bita. "Pertama, ubah kebiasaan lo yang selalu menghindari kontak mata sama Mas Aksa." Bita mengernyitkan dahi. "Gue perhatikan, tiap ada Mas Aksa, lo selalu melakukan dua hal, menunduk atau mematung," papar Vino tenang. "Contohnya tadi pagi di mobil. Lo menghindar terus dari awal naik. Gimana seseorang mau tertarik kalau lo bahkan nggak berani menatap matanya?" "Aku... deg-degan, Vin," aku Bita lirih, menenggelamkan dagunya di atas bantal. "Kalau jaraknya dekat begitu, jantungku rasanya mau lepas." "Lo harus bisa kontrol itu. Kontak mata itu langkah paling dasar buat nunjukin kalau lo melihat dia sebagai seorang pria, bukan cuma kakak tetangga," balas Vino, suaranya merendah, terdengar serius tanpa ada nada mengejek. Bita menatap Vino sangsi. "Memangnya kamu nggak pernah ngerasa deg-degan kalau dekat sama cewek?" Vino terkekeh pelan, menggeleng tanpa ragu. "Enggak. Buat apa?" "Kamu kalau menjalin hubungan sebenarnya pakai perasaan nggak, sih?" cetus Bita kesal. Vino merangkul Bita. "Adek kecil, deg-degan itu hanya untuk orang yang lemah. Pakai perasaan tapi bukan perasaan yang bikin gugup sampai mau pingsan kayak lo," sahut Vino santai. "Sekarang, mending praktik." "Praktik gimana?" "Bayangin gue ini Mas Aksa." Vino memajukan posisi duduknya, menatap Bita lekat-lekat. "Kerahkan semua imajinasi lo. Sekarang, tatap mata gue seolah gue adalah pria yang paling lo inginkan." Bita menarik napas dalam-dalam. “Imajinasikan sesuatu yang bisa disebut sebagai kegiatan manusia dewasa." Kekehan Vino mengalun mendapati mata Bita menyorotnya tak mengerti. "Sebenarnya novel yang lo baca tuh novel romansa apa kanak-kanak, sih?" Bita mengedipkan mata dan menjawab dengan lugu. "Remaja." "Yang berpacaran?" "Banyak yang pacaran, sih. Ya gandengan tangan, peluk-pelukan. Tapi aku lebih suka yang kekeluargaan. Emang kenapa kamu nanya gituan?" Vino tertawa hebat. “Bita, lo udah kepala dua!” Bita memutar bola matanya malas. “Udah ayo mulai!” Demi tujuannya, ia mencoba menyingkirkan bayangan Vino dan menggantinya dengan wajah Aksa yang tenang. Bita mulai mendongak, mencoba menantang badai kecanggungan di dalam dirinya. Namun, baru bertahan tiga detik, Bita kembali membuang muka dan menunduk dalam. "Nggak bisa, Vin. Rasanya aneh." "Jangan menunduk, Ta," tegur Vino, nadanya menuntut namun tetap tenang. "Ayo lebih berani lagi. Keinginan lo buat memiliki abang gue harus lebih besar dari rasa gugup lo." Dorongan semangat dari Vino membuat ego Bita terusik. Ia mengatur napasnya yang sempat memburu, memantapkan tekad, lalu kembali mengangkat wajah. Kali ini, Bita menatap lurus ke dalam manik mata Vino. Ia memfokuskan seluruh sisa emosinya hari ini—rasa cemburunya pada Meta, rasa kecewanya pada Aksa—dan menumpahkannya lewat tatapan itu. "Nah, bagus. Tetap kayak gini—" Kalimat Vino mendadak terputus di tenggorokan saat Bita, tanpa diduga, justru memajukan tubuhnya. Gadis itu memangkas jarak di antara mereka hingga menyisakan beberapa senti saja, berhenti tepat sebelum hidung mereka saling bersentuhan. Atmosfer di dalam kamar seketika berubah pekat. Embus napas mereka yang hangat saling bertabrakan di udara yang mendadak terasa tipis. Bita masih mengunci pandangannya, menatap Vino dengan intensitas yang begitu dalam. "Segini cukup?” Vino masih tercenung seakan lidahnya jadi kelu untuk berbicara. “Kurang berani, ya?” Pandangan Bita bergerak turun memaku bibir kemerahan Vino yang merekah lalu menunduk dan mengecupnya pelan. Bita mengurai jarak dan tertawa culas menemukan Vino mematung dengan ekspresi terperangah. Tampak tidak menyangka dengan yang dia lakukan. “Kamu lupa kalo aku pernah sekali pacaran?” Meski hanya coba-coba. Jemari lentik Bita mengetuk dagu Vino. “Tadi termasuk kegiatan manusia dewasa, kan? Aku juga pernah melakukannya sama pacarku dulu, Vin,” papar Bita menggerakkan telunjuknya menyapu bibir bawah Vino, “sebelum aku diputusin hanya karena cemburu melihat kamu lebih dekat sama aku,” ungkap Bita sembari menyematkan senyum sensual. Tangannya merambati bahu Vino yang langsung menegang dengan sentuhannya. “Adek kecil kamu bilang?” Kini Bita yang terkekeh mengejek. Muak sekali dengan tingkah Vino yang terus mengejeknya dengan sebutan itu. Vino juga bilang ia harus mengalahkan rasa gugupnya, kan? “Emang ‘adek kecil’ bisa melakukan ini?” Bita menjemput bibir Vino, dan mengecupnya ringan sebelum menarik diri memandangi Vino dan wajah piasnya. Namun sedetik kemudian, Vino menyeringai tajam membalas tatapan beraninya. Tidak pernah obsidian jelaga milik Vino menatapnya dengan cara seperti ini. Cara yang mampu membuat Bita merasa terperangkap dan tidak bisa lari kemana-mana. “Lo sebut itu ciuman?” Tatapannya mencemo'oh. “Gue ajarin yang namanya ciuman itu seperti apa.” Vino menyambar telak bibir Bita. Melumat tanpa ampun. Bita terdorong mundur tidak siap, namun Vino terus mengejarnya dan menahan belakang kepala Bita dengan satu tangan, sementara tangan lainnya mendekap pinggang ramping Bita. Berhasil membuat Bita terduduk lemas tak berdaya dibawah kendalinya. “Buka mulut lo,” perintah Vino. Bita yang merasa linglung menurut saja untuk meregangkan celah bibirnya. Ketika Vino menyerbu dengan lidah yang menerobos masuk, napas Bita tercuri habis-habisan. Ini sudah terlalu jauh dari yang ia lakukan dengan mantan pacarnya dulu, namun seolah tidak memiliki tenaga untuk melawan, Bita hanya bisa pasrah menyerahkan bibirnya pada Vino yang terus meneguk bibirnya seperti orang kehausan. Kecap lidah memenuhi kamar Bita beradu dengan erangan gadis itu. “Ta … ” Vino menggeram dengan suara rendah dan dalamnya disela ciuman. Desakan gairah mendorong tangan Vino bergerak naik mengusap punggung Bita dari luar kaos. Sebelum kesadaran menghantamnya telak, menyadarkan sudah seberapa jauh napsunya bertindak. Vino menarik diri dengan napas terengah-engah.Bita melotot. Sesaat ia hanya menatap Sasha dengan bibir terkatup rapat. Lalu tawanya meledak."Hahahaha!" Ia sampai terpingkal-pingkal di atas kasur sambil memegangi perutnya.Sasha mengernyit. "Kenapa malah ketawa?""Nggak." Bita berusaha menghentikan tawanya. "Aku cuma heran. Kok bisa kamu kepikiran sampai situ?" Ia kembali tertawa kecil. "Vino suka sama aku? Hahaha...""Kamu nggak liat tadi? Telinganya merah waktu ngobrol sama kamu."Bita langsung menggeleng. "Itu karena dia gerah!""Gerah apanya?" Sasha mendengus. "Baru jam sembilan lewat udah gerah? Aku lebih percaya dia salting."Bita hanya tersenyum geli. "Sha..." Gadis itu menggeleng pelan. "Aku sama Vino udah sahabatan dari kecil. Nggak mungkin dia salting cuma gara-gara ngobrol sama aku.""Nggak sekedar ngobrol, tapi kamu acak rambutnya.""Ya terus?" Bita terkekeh kecil. "Mau aku acak rambutnya, peluk dia, atau bahkan cubitin dia se
"Liburan ke Puncak pasti seru banget. Jadi pengen, deh." "Ikut aja, yuk. Orang tuaku pasti seneng kalau kamu ikut," sahut Sasha antusias sambil memasuki pekarangan rumah Bita. "Mana bisa ikut kalau kakiku masih begini." Bita menggerutu sembari turun dari motor Sasha. Sasha buru-buru meringis bersalah. "Sorry, Ta. Lupa kalau lo masih sakit." Namun sesaat kemudian wajahnya kembali berbinar. "Tapi bentar lagi jahitan kamu kan udah kering? Liburannya juga masih seminggu lagi." Bita yang sedang memasang kruknya mendelik. "Iya, sih. Nanti mungkin aku udah boleh jalan. Tapi masalahnya..." Ia mendesah pasrah. "Mau aku udah bisa salto sekalipun, Papaku nggak bakal ngizinin." Sasha ikut mengembuskan napas. "Susah sih kalau udah berurusan sama Papa kamu." "Iya." Bita mengangguk kecil. "Kayaknya liburan semester ini aku bakal di rumah terus. Sampai bosen." "Bita!"
"Panas banget ini telinga," gerutu Vino pelan sambil mengusap daun telinganya. Ia lalu menekan dadanya sekilas. "Jantung juga ikut-ikutan dugem." Vino mendorong pintu toilet dan begitu saja langkahnya terhenti. Menemukan di depan wastafel, Fero tengah membilas kedua tangannya. Mendengar pintu terbuka, Fero lekas mendongak. Ada sedikit keterkejutan yang melintas di wajahnya begitu melihat Vino berdiri di ambang pintu. Namun hanya sesaat. Fero kembali menunduk, melanjutkan bilasannya seolah tak terjadi apa-apa. Di ambang pintu, satu sudut bibir Vino perlahan terangkat. Menarik. Dengan langkah santai laki-laki itu berjalan mendekat dan berdiri di wastafel sebelah, membuka keran, lalu membasahi kedua tangannya. Suara air mengalir memenuhi keheningan beberapa detik.
"Pegel juga dibonceng naik motor lo," keluh Vino begitu turun dari vespa tua milik Martin. Martin yang baru saja mematikan mesin motornya menoleh. Dilihatnya Vino sedang meregangkan badan seolah baru menempuh perjalanan berjam-jam. Sontak ia mendecak. "Salah siapa gue suruh naik motor lo sendiri kagak mau?" Vino mengangkat bahu santai. "Nggak ah. Hemat. BBM lagi naik." "Tau BBM lagi naik, malah seenaknya ngabisin bensin orang!" sembur Martin yang masih kesal mengingat bensin motornya yang baru dua hari lalu diisi penuh ludes tak bersisa. Vino hanya membalas dengan tawa. "Tin!" Seseorang memanggil Martin dari kejauhan, membuat kepala Martin tertoleh. "Dicari Pak Ega!"
Suara dering ponsel dari dalam tasnya terdengar. Bita segera merogoh tasnya. Nama Tante Sandra muncul di layar."Halo, Tan.""Kamu masih sama Vino?"Bita melirik sekilas ke arah Vino yang baru selesai menyampirkan handuk di belakang pintu. Laki-laki itu berjalan mendekat sambil memperhatikannya."Iya, Tan.""Ini Tante udah di depan kos. Orang tua kamu ternyata jadi pulang lebih cepat."Bita langsung membelalak. "Hah? Bukannya katanya pulangnya sore?""Iya. Katanya khawatir sama kamu. Makanya Tante buru-buru jemput sebelum mereka sampai."Di saat yang sama, sisi ranjang di sebelah Bita sedikit berdecit. Vino ikut duduk di sampingnya.Meski tak ikut bicara, laki-laki itu tampak mendengarkan percakapan mereka."Makanya cepetan keluar," lanjut Tante Sandra. "Keburu orang tua kamu datang. Nanti kamu malah nggak bisa ketemu lagi sama kesayangan kamu itu.""Dih..." Bita langsung mengernyit. "Kesay
Bita menautkan alis sebelum akhirnya terkekeh kecil. Ujung jarinya iseng menyentuh daun telinga Vino."Telinga kamu merah. Kayak orang salting.""Khuk... khuk!" Vino mendadak terbatuk-batuk."Eh!" Bita langsung bangkit panik. Matanya berkeliling mencari sesuatu. "Minum! Minum!"Masih terbatuk, Vino mengangkat telunjuknya lemah ke arah sudut kamar. "Di—uhuk—situ."Bita segera menghampiri dispenser, mengisi gelas plastik disana dengan air putih, lalu kembali dengan langkah tergesa. "Nih. Pelan-pelan." Ia membantu Vino meminum air itu sampai batuknya mereda.Setelah gelas diletakkan di lantai, Bita kembali mengusap pelan punggung Vino. "Hati-hati kalau makan."Vino mengangguk kecil sebelum kembali menyuapkan nasi ke mulutnya. "Gue cuma ... gerah aja" katanya di sela kunyahan. Ia mengusap tengkuknya asal. "Makanya telinga gue merah.""Oh..." Bita mengangguk pelan. Tatapannya sempat kembali jatuh pada telinga Vino ya
"Ati-ati, Mas!" Vino berseru pendek sembari melambaikan tangan, menatap sedan hitam Aksa yang mulai bergerak membelah jalanan kampus. Bita yang masih termenung setengah mati akibat pembicaraan tadi hanya sanggup memandangi mobil itu sampai tidak terlihat, lalu melangkah gontai memasuki koridor fa
"Kamu ngapain?!"Saat keluar dari rumahnya, Bita dikejutkan dengan kedatangan Vino. Pasalnya pria itu tidak datang dengan motor yang biasanya mereka pakai untuk berangkat sekolah. Melainkan Toyota Sedan warna hitam yang sangat Bita kenali milik siapa terparkir didepan rumah.Vino menyandarkan pung
"Bercinta? Kamu gila?!" Vino tidak langsung menjawab. Laki-laki itu justru mengulurkan tangan, menjepit kedua pipi Bita dengan telapak tangannya yang terasa hangat. "Lo kapan gedenya, sih? Hal begini aja harus dijelasin." Bita menepis tangan Vino dengan gusar. "Nggak usah pegang-pegang!" Vino
Menatap iris jelaga Vino yang bisa membawa siapapun tenggelam ke dalam gelapnya, Bita menggelengkan kepala. "Aku nggak bisa," tolak Bita. Bita tidak bisa mempercayakan dirinya pada Vino sepenuhnya. Mengingat reputasi Vino yang gemar mempermainkan perempuan, bukan tidak mungkin Bita akan jadi sal







