LOGIN“Gue berharap lo nggak ragu lagi sama Bita. Lihat aja, semesta lagi-lagi mempertemukan kalian tanpa sengaja, seakan-akan emang udah jodoh,” ucap Martin begitu sadar apa yang membuat Vino berhenti melangkah dan mematung di tempat.
“Dan nggak usah kepikiran buat kabur. Gue udah males nyari restoran panas-panas begini," imbuh Martin memberi peringatan.Di sisi tubuhnya, tangan Vino mengepal.Laki-laki itu memang bisa mencoba mengikuti perkataan Martin bahwa tidak apa-apa ji“Gue berharap lo nggak ragu lagi sama Bita. Lihat aja, semesta lagi-lagi mempertemukan kalian tanpa sengaja, seakan-akan emang udah jodoh,” ucap Martin begitu sadar apa yang membuat Vino berhenti melangkah dan mematung di tempat.“Dan nggak usah kepikiran buat kabur. Gue udah males nyari restoran panas-panas begini," imbuh Martin memberi peringatan.Di sisi tubuhnya, tangan Vino mengepal.Laki-laki itu memang bisa mencoba mengikuti perkataan Martin bahwa tidak apa-apa jika mereka kebetulan bertemu. Tapi sekarang Bram juga berada di sana. Ketakutan itu kembali muncul begitu saja.Vino ingin segera angkat kaki sebelum Bram menyadari keberadaannya. Namun seakan sudah tahu niatnya, Martin justru lebih dulu menyeretnya tanpa ampun menuju salah satu meja.Seakan ingin membuatnya mati berdiri, bukannya memilih tempat yang paling jauh dan terpojok, laki-laki kampret itu malah membawanya tepat ke meja di sebelah Bita dan Bram.Kehadiran mereka
Martin memberhentikan Vespa-nya di depan sebuah restoran.“Ngapain kita ke sini?” tanya Vino sambil ikut menghentikan motornya di samping Martin.“Nanem padi,” sahut Martin asal sambil melepas helm. “Lo nggak lihat di dalam ada orang makan? Berarti apa? Yak, betul! Nyuciin piring orang habis makan!”“Makan?”“Iyaaa, makan!” balas Martin greget. “Sebagai perayaan karena lo udah mengambil langkah besar dalam hidup lo, gue mau nraktir lo makan. Seneng kan lo? Jarang-jarang nih gue ngeluarin uang buat bikin lo seneng."Bukannya senang, Vino justru terdiam di atas motornya.Helmnya sudah Vino lepas, memperlihatkan ekspresi murung yang sejak tadi disembunyikannya. Entah kenapa, sejak keluar dari gedung Apex, Vino jadi jauh lebih pendiam. Berbeda sekali dengan saat ia meminta Martin menemaninya ke sana, ketika semangatnya masih membara-bara.Martin memperhatikannya beberapa saat sebelum mendecak. “Kenapa sih sama muka lo? Kayak
“Coba saya lihat dulu.” Adrian mendekat dan memperhatikan wajah Vino dari beberapa sisi. Tatapannya berpindah dari satu lebam ke lebam lainnya, memastikan tidak ada luka terbuka, goresan, ataupun bagian yang terlihat mengalami kerusakan serius.Adrian akhirnya mengembuskan napas lega. Setidaknya, tidak ada luka yang tampaknya meninggalkan bekas permanen. Lebam seperti itu masih bisa hilang seiring waktu.“Untungnya cuma lebam,” gumam Adrian. “Berarti nggak masalah, Pak?” Vino memastikan.“Kamu tetap harus menunggu sampai wajahmu pulih dulu,” jawab Adrian.Vino mengembuskan napas panjang yang sejak tadi tanpa sadar ia tahan. “Lebamnya memang bukan masalah besar, tapi kalau kamu mau terjun sebagai talent, wajah adalah salah satu modal utama kamu," lanjut Adrian. "Saya nggak mungkin membawa kamu ke casting atau menawarkan kamu ke brand dalam kondisi seperti ini.”Vino mengangguk paham.Adrian melanjutkan, “Kalau
Martin memutar matanya melihat Vino yang masih mematung di sampingnya.“Ngerti. Ngerti banget gue sama kondisi lo. Bita baru aja nggak sengaja nelpon lo, dan meskipun nggak sengaja, tetap bikin lo senang. Terus sekarang lo malah cuma pengin mandangin bekas riwayat panggilannya doang."Kemudian tanpa permisi Martin merampas ponsel yang masih berada dalam genggaman Vino. “Tapi sekarang lo punya tujuan. Nggak ada waktu buat diem ngegalau. Lo perlu gerak karena tujuannya udah ada di depan mata lo. Noh!”Martin menunjuk ke depan, lalu mendecak kecil. “Gue kira kantornya kayak ruko. Ternyata lumayan gede juga, ya?”Vino kembali mengangkat pandangannya. Di hadapan mereka berdiri sebuah gedung perkantoran tiga lantai dengan fasad modern yang cukup luas. Bagian depannya didominasi kaca dan dinding berwarna putih serta abu-abu, sementara sebuah papan nama bertuliskan APEX MANAGEMENT terpampang jelas di atas pintu masuk. Area parkir di depannya jug
“Kalau yang ini, Kak, mesinnya 125 cc. Cocok buat pemakaian harian dan cukup ringan kalau dipakai buat keliling kota. Bagasinya juga lumayan luas.”Bita mengangguk-angguk sambil memperhatikan motor di hadapannya.“Kalau yang sebelah?”“Kalau yang itu 150 cc. Tenaganya lebih besar, fiturnya juga lebih lengkap. Tapi bodinya sedikit lebih besar dari yang tadi.”Bita kembali menoleh ke deretan motor lainnya. “Terus kalau yang warna itu?”Sales tersebut ikut mengarahkan pandangannya. “Oh, kalau yang itu beda tipe lagi, Kak. Mesinnya memang sama-sama 150 cc, tapi fitur dan desainnya sedikit berbeda.” Ia kembali menjelaskan panjang lebar, membuat Bita mengangguk-angguk sambil memperhatikan motor yang dimaksud.Setelah itu mereka kembali melangkah. Motor demi motor menarik perhatian Bita. Setiap kali matanya berhenti pada satu unit, sales tersebut dengan sabar ikut mendekat dan menjelaskan berbagai hal tentangnya. Mulai dari kapasitas me
Vino bersyukur karena di hari keempat ia memutuskan untuk pergi ke kampus. Tentunya setelah berhasil membujuk Mami yang masih kekeh bahwa anaknya membutuhkan waktu istirahat lebih panjang. Sebab, di hari keempat inilah ia bisa melihat Bita. Bahkan berada dalam jarak paling dekat dengannya selama beberapa hari terakhir tanpa berkomunikasi sedikit pun dengan gadis itu. Menatap bulat matanya yang lucu. Menghirup aroma strawberry yang entah bagaimana masih bisa menembus maskernya. Sebenarnya tidak heran jika di kampus Vino akan melihat gadis itu. Mereka berada di gedung yang sama. Namun, dalam situasi seperti sekarang, ketika Vino bahkan sengaja mempercepat langkahnya demi menghindari kemungkinan berpapasan dengan Bita, tetap saja pertemuan tak terduga itu membuatnya terkejut. Dan senang. Apalagi selain bisa menatap gadis itu lagi, Vino juga sempat mendengar tawanya. Tawa yang begitu
"Lo naksir abang gue?" Bita tersentak. Selang air di tangannya terlepas begitu saja, membasahi ujung sandal rumahnya sebelum ia sempat mematikan keran. Niatnya berpura-pura menyiram tanaman siang-siang begini hanya agar bisa melihat Aksa yang baru pulang kuliah. Meskipun Aksa terpaut usia be
Menatap iris jelaga Vino yang bisa membawa siapapun tenggelam ke dalam gelapnya, Bita menggelengkan kepala. "Aku nggak bisa," tolak Bita. Bita tidak bisa mempercayakan dirinya pada Vino sepenuhnya. Mengingat reputasi Vino yang gemar mempermainkan perempuan, bukan tidak mungkin Bita akan jadi sal
"Bita." Ketukan pelan di kaca balkon membuat Bita yang hampir terlelap seketika terjaga. Kamar mereka memang saling berhadapan dengan jarak balkon yang cukup dekat, membuat Vino sering kali menyeberang dengan mudah jika ada perlu. Bita menghela napas, bangkit dari ranjang untuk menggeser pintu
"Ati-ati, Mas!" Vino berseru pendek sembari melambaikan tangan, menatap sedan hitam Aksa yang mulai bergerak membelah jalanan kampus. Bita yang masih termenung setengah mati akibat pembicaraan tadi hanya sanggup memandangi mobil itu sampai tidak terlihat, lalu melangkah gontai memasuki koridor fa
![Without You [Indonesia]](https://www.goodnovel.com/pcdist/src/assets/images/book/43949cad-default_cover.png)






