LOGIN"Kamu ngapain?!"
Saat keluar dari rumahnya, Bita dikejutkan dengan kedatangan Vino. Pasalnya pria itu tidak datang dengan motor yang biasanya mereka pakai untuk berangkat sekolah. Melainkan Toyota Sedan warna hitam yang sangat Bita kenali milik siapa terparkir didepan rumah. Vino menyandarkan punggungnya di mobil. Sisa kekesalan akibat obrolan semalam di kamar belum sepenuhnya hilang, dan pagi ini Bita sudah harus menghadapi pria ini lagi. "Jemput lo kayak biasanya, lah," jawabnya santai. "Tapi kenapa ada … Mas Aksa." Bita semakin memelankan suaranya. Dibalik kaca hitam jendela, samar-samar Bita bisa melihat Aksa di bagian kemudi. "Kan gue belum bisa nyetir mobil," belanya. "Kenapa nggak pake motor kamu kayak biasanya, sih?" "Motor gue lagi masuk bengkel. Kebetulan Mas Aksa sekalian mau ke kampus buat ngurus yudisium dan berkas wisuda, jadi sekalian nebeng karena searah," sahut Vino tenang. Laki-laki itu melepas kacamatanya, mengaitkannya di kerah kemeja yang dua kancing atasnya sengaja dibuka. Bita menggigit bibir bawahnya gelisah. Senyum tipis yang mendadak muncul di sudut bibir Vino membuat Bita sadar bahwa ini semua adalah jebakan. Laki-laki itu sengaja melakukannya. Sebelum Bita sempat protes dan berbalik arah, Vino sudah lebih dulu bergerak membukakan pintu penumpang bagian depan. "Silakan masuk, Nona Nirbita," ujar Vino dengan nada sopan yang dibuat-buat. "Mau duduk di depan, kan? Samping Mas Aksa?" Kemarin, Bita untuk kesekian kalinya menolak mentah-mentah ide Vino dan mengusir pria itu dari kamarnya supaya tidak meracuni otaknya. Kini, lihatlah senyum jahil yang diam-diam lepas dari bibir laki-laki itu, juga tatapan polos tanpa dosanya. Dua bola mata Bita nyaris keluar karena melotot mendengar ucapan Vino. "Aku nggak ada ngomong gitu!" desis Bita. "Bita boleh duduk di depan, kan, Mas?" "Boleh, masuk aja, Ta," sahut Aksa dari dalam, suaranya terdengar berat dan tenang seperti biasa. Mau tidak mau, Bita melangkah masuk dengan kaku. Dalam hati, ia berjanji tidak akan pernah lagi membantu Vino menyusun draf presentasi kelompok sampai semester akhir nanti. Saking gugupnya, tangan Bita sampai gemetar saat mencoba menarik sabuk pengaman. Benda itu mendadak terasa seret dan mengunci. Aksa menoleh. "Susah, ya?" Pria itu mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, menampilkan kesan matang seorang mahasiswa pascasarjana yang selalu berhasil membuat Bita terpesona. "I-iya, Mas. Agak macet." Bita menjawab terbata-bata. Sebelum Bita sempat menguasai diri, Aksa sudah condong ke arahnya. Jarak mereka terkikis begitu saja saat tangan Aksa meraih sabuk pengaman di sisi bahu Bita, menariknya perlahan lalu menguncinya ke slot dengan bunyi klik yang kentara. Aroma parfum Aksa yang maskulin dan bersih sempat memenuhi indra penciuman Bita selama beberapa detik, sebelum pria itu kembali tegak di kursi kemudi. Bita membatu, menahan napasnya yang mendadak putus-putus. Dari kursi belakang, sayup-sayup terdengar kekehan pelan dari Vino. "Bita kayaknya demam itu, Mas. Tuh, lihat, mukanya merah. Pasti panas banget." "Enggak!" Saking paniknya Bita sampai kelepasan membentak. Sebagai anak yang patuh pada orangtua dan tidak pernah satu kali pun mengumpat, Vino sialan sekali. Mas Aksa jadi memperhatikan keseluruhan wajahnya yang merona. Beruntung suara mobil yang sudah dinyalakan Mas Aksa bisa meredam suara detak jantungnya yang berdentum hebat. "Bita beneran nggak papa?" Bita tercenung. "Nggak lagi sakit, kan?" Pertanyaan bernada khawatir Mas Aksa melemparkan Bita pada kilasan momen ketika ia baru berumur delapan tahun, saat Vino kecil menabrak sepedanya hingga membuatnya jatuh di taman. Sementara Vino tak membantunya dan malah ketawa-tiwi kesenengan, Mas Aksa datang dengan seraut wajah khawatir menanyakan keadaannya lalu menggendongnya yang pada waktu itu terluka lututnya sampai rumah. Pada waktu itulah pertama kalinya Mas Aksa menjadi berarti di hatinya hingga sekarang. "Gapapa.." Bita menjawab malu-malu dan secepatnya membuang tatapan ke jendela samping. Sedang Mas Aksa mulai melajukan mobilnya, Bita mencoba meredam perasaannya yang terasa akan meledak. "Gimana kabarnya Kak Meta, Mas?" Suara Vino dari kursi belakang seketika memecah keheningan. Bita menajamkan pendengarannya saat nama asing seorang wanita disebut. "Mungkin baik-baik saja," jawab Aksa datar, matanya tetap fokus ke jalanan di depan. "Loh, kok mungkin? Emang udah nggak berhubungan?" kejar Vino lagi. Aksa terdiam sejenak sebelum membalas, "Dia sibuk studi. Terakhir komunikasi sebulan yang lalu." Bita meremas pelan tali tas di pangkuannya. Selama ini, karena terlalu malu untuk berdekatan dengan Aksa, ia kerap melewatkan banyak hal. Termasuk fakta bahwa ada nama perempuan lain yang sanggup membuat ekspresi Aksa berubah agak murung. "Banyak kegiatan pasti, apalagi kuliahnya di luar negeri," sahut Vino manggut-manggut. Ia kemudian memajukan tubuhnya, menatap Bita dari celah kursi. "Bingung banget sih, Ta. Penasaran ya siapa Kak Meta?" Tanpa menunggu persetujuan Bita, Vino menyodorkan layar ponselnya dari belakang. "Nih, orangnya, kalau lo mau tahu." Bita terpaksa melihat ke layar. Di sana menampilkan profil I*******m seorang wanita dengan visual yang tampak sempurna. Rambutnya bergelombang panjang dibiarkan terurai, pakaiannya berkelas, dan memiliki tatapan mata yang hidup serta berani. Tipe wanita dewasa yang sangat kontras dengan dirinya yang pagi ini hanya menguncir rambut satu rendah, dan pakaian minimalis khas mahasiswi yang tidak terlalu mementingkan fashion selain hadir dikelas untuk mendengarkan dosen. "Mas Aksa emang jarang cerita," tambah Vino sembari menarik kembali ponselnya. "Tapi karena dia sampai simpan fotonya di dompet, pasti Kak Meta ini lebih dari sekadar teman. Ya nggak, Mas?” Aksa tidak menyanggah, pria itu hanya diam mempercepat laju kendaraannya. Keheningan itu justru menjadi jawaban paling nyata yang merenggut pasokan udara di dada Bita. "Lo kok diam aja dari tadi, Ta? Biasanya kalau berangkat sama gue selalu berisik," goda Vino lagi. Tangan cowok itu terulur dari belakang, menjawil dagu Bita beberapa kali dengan usil. "Jangan ganggu Bita, Vin," tegur Aksa tegas, matanya melirik Vino melalui spion tengah. "Kamu boleh godain cewek-cewek di luar sana sesukamu, tapi jangan Bita." Bita menatap Mas Aksa tak percaya. Tidak mungkin kan Mas Aksa cemburu? "Anak kecil ini? Selera kita gak jauh beda gak sih, Mas?” bela Vino memegang pipi kanan Bita gemas. "Singkirin tangan kamu." Dada Bita membuncah oleh rasa bahagia. Sebelum Mas Aksa menambahkan. "Bita udah Mas anggap sebagai adik kayak kamu. Jangan iseng.”"Liburan ke Puncak pasti seru banget. Jadi pengen, deh." "Ikut aja, yuk. Orang tuaku pasti seneng kalau kamu ikut," sahut Sasha antusias sambil memasuki pekarangan rumah Bita. "Mana bisa ikut kalau kakiku masih begini." Bita menggerutu sembari turun dari motor Sasha. Sasha buru-buru meringis bersalah. "Sorry, Ta. Lupa kalau lo masih sakit." Namun sesaat kemudian wajahnya kembali berbinar. "Tapi bentar lagi jahitan kamu kan udah kering? Liburannya juga masih seminggu lagi." Bita yang sedang memasang kruknya mendelik. "Iya, sih. Nanti mungkin aku udah boleh jalan. Tapi masalahnya..." Ia mendesah pasrah. "Mau aku udah bisa salto sekalipun, Papaku nggak bakal ngizinin." Sasha ikut mengembuskan napas. "Susah sih kalau udah berurusan sama Papa kamu." "Iya." Bita mengangguk kecil. "Kayaknya liburan semester ini aku bakal di rumah terus. Sampai bosen." "Bita!"
"Panas banget ini telinga," gerutu Vino pelan sambil mengusap daun telinganya. Ia lalu menekan dadanya sekilas. "Jantung juga ikut-ikutan dugem." Vino mendorong pintu toilet dan begitu saja langkahnya terhenti. Menemukan di depan wastafel, Fero tengah membilas kedua tangannya. Mendengar pintu terbuka, Fero lekas mendongak. Ada sedikit keterkejutan yang melintas di wajahnya begitu melihat Vino berdiri di ambang pintu. Namun hanya sesaat. Fero kembali menunduk, melanjutkan bilasannya seolah tak terjadi apa-apa. Di ambang pintu, satu sudut bibir Vino perlahan terangkat. Menarik. Dengan langkah santai laki-laki itu berjalan mendekat dan berdiri di wastafel sebelah, membuka keran, lalu membasahi kedua tangannya. Suara air mengalir memenuhi keheningan beberapa detik.
"Pegel juga dibonceng naik motor lo," keluh Vino begitu turun dari vespa tua milik Martin. Martin yang baru saja mematikan mesin motornya menoleh. Dilihatnya Vino sedang meregangkan badan seolah baru menempuh perjalanan berjam-jam. Sontak ia mendecak. "Salah siapa gue suruh naik motor lo sendiri kagak mau?" Vino mengangkat bahu santai. "Nggak ah. Hemat. BBM lagi naik." "Tau BBM lagi naik, malah seenaknya ngabisin bensin orang!" sembur Martin yang masih kesal mengingat bensin motornya yang baru dua hari lalu diisi penuh ludes tak bersisa. Vino hanya membalas dengan tawa. "Tin!" Seseorang memanggil Martin dari kejauhan, membuat kepala Martin tertoleh. "Dicari Pak Ega!"
Suara dering ponsel dari dalam tasnya terdengar. Bita segera merogoh tasnya. Nama Tante Sandra muncul di layar."Halo, Tan.""Kamu masih sama Vino?"Bita melirik sekilas ke arah Vino yang baru selesai menyampirkan handuk di belakang pintu. Laki-laki itu berjalan mendekat sambil memperhatikannya."Iya, Tan.""Ini Tante udah di depan kos. Orang tua kamu ternyata jadi pulang lebih cepat."Bita langsung membelalak. "Hah? Bukannya katanya pulangnya sore?""Iya. Katanya khawatir sama kamu. Makanya Tante buru-buru jemput sebelum mereka sampai."Di saat yang sama, sisi ranjang di sebelah Bita sedikit berdecit. Vino ikut duduk di sampingnya.Meski tak ikut bicara, laki-laki itu tampak mendengarkan percakapan mereka."Makanya cepetan keluar," lanjut Tante Sandra. "Keburu orang tua kamu datang. Nanti kamu malah nggak bisa ketemu lagi sama kesayangan kamu itu.""Dih..." Bita langsung mengernyit. "Kesay
Bita menautkan alis sebelum akhirnya terkekeh kecil. Ujung jarinya iseng menyentuh daun telinga Vino."Telinga kamu merah. Kayak orang salting.""Khuk... khuk!" Vino mendadak terbatuk-batuk."Eh!" Bita langsung bangkit panik. Matanya berkeliling mencari sesuatu. "Minum! Minum!"Masih terbatuk, Vino mengangkat telunjuknya lemah ke arah sudut kamar. "Di—uhuk—situ."Bita segera menghampiri dispenser, mengisi gelas plastik disana dengan air putih, lalu kembali dengan langkah tergesa. "Nih. Pelan-pelan." Ia membantu Vino meminum air itu sampai batuknya mereda.Setelah gelas diletakkan di lantai, Bita kembali mengusap pelan punggung Vino. "Hati-hati kalau makan."Vino mengangguk kecil sebelum kembali menyuapkan nasi ke mulutnya. "Gue cuma ... gerah aja" katanya di sela kunyahan. Ia mengusap tengkuknya asal. "Makanya telinga gue merah.""Oh..." Bita mengangguk pelan. Tatapannya sempat kembali jatuh pada telinga Vino ya
Berbekal informasi dari Martin bahwa Vino tidak masuk kampus dan masih berada di kos, keesokan paginya Bita kembali datang. Bita mengangkat tangan, lalu mengetuk pintu pelan. Dari dalam terdengar gerutuan kesal. "Nggak gue kunci, Tin!" Bita menggigit bibir, menahan senyum lalu kembali mengetuk. Kali ini suara Vino terdengar lebih keras. "Gue pukul juga lo, Tin!" Disusul derap langkah yang menghentak mendekat. Brak. Pintu terbuka lebar. Wajah kusut dengan rambut berantakan langsung menyembul dari balik pintu. "Awas aja lo—" Ucapan Vino terhenti di tenggorokan. Matanya berkedip pelan. "...Ta?" Bita terkikik kecil sambil menunjuk wajah Vino. "Baru bangun, ya? Itu ilernya masih ada." Spontan Vino langsung mengusap sudut bibirnya. Bita tak mampu lagi menahan tawa. "Bercanda!" Vino langsung menatapnya tak percaya. "Pinter boh
"Bercinta? Kamu gila?!" Vino tidak langsung menjawab. Laki-laki itu justru mengulurkan tangan, menjepit kedua pipi Bita dengan telapak tangannya yang terasa hangat. "Lo kapan gedenya, sih? Hal begini aja harus dijelasin." Bita menepis tangan Vino dengan gusar. "Nggak usah pegang-pegang!" Vino
"Lo naksir abang gue?" Bita tersentak. Selang air di tangannya terlepas begitu saja, membasahi ujung sandal rumahnya sebelum ia sempat mematikan keran. Niatnya berpura-pura menyiram tanaman siang-siang begini hanya agar bisa melihat Aksa yang baru pulang kuliah. Meskipun Aksa terpaut usia be
Menatap iris jelaga Vino yang bisa membawa siapapun tenggelam ke dalam gelapnya, Bita menggelengkan kepala. "Aku nggak bisa," tolak Bita. Bita tidak bisa mempercayakan dirinya pada Vino sepenuhnya. Mengingat reputasi Vino yang gemar mempermainkan perempuan, bukan tidak mungkin Bita akan jadi sal
"Bita." Ketukan pelan di kaca balkon membuat Bita yang hampir terlelap seketika terjaga. Kamar mereka memang saling berhadapan dengan jarak balkon yang cukup dekat, membuat Vino sering kali menyeberang dengan mudah jika ada perlu. Bita menghela napas, bangkit dari ranjang untuk menggeser pintu







