공유

Bab 3

작가: macaroonie
last update 게시일: 2026-05-25 16:53:25

"Kamu ngapain?!"

Saat keluar dari rumahnya, Bita dikejutkan dengan kedatangan Vino. Pasalnya pria itu tidak datang dengan motor yang biasanya mereka pakai untuk berangkat sekolah.

Melainkan Toyota Sedan warna hitam yang sangat Bita kenali milik siapa terparkir didepan rumah.

Vino menyandarkan punggungnya di mobil. Sisa kekesalan akibat obrolan semalam di kamar belum sepenuhnya hilang, dan pagi ini Bita sudah harus menghadapi pria ini lagi.

"Jemput lo kayak biasanya, lah," jawabnya santai.

"Tapi kenapa ada … Mas Aksa." Bita semakin memelankan suaranya.

Dibalik kaca hitam jendela, samar-samar Bita bisa melihat Aksa di bagian kemudi.

"Kan gue belum bisa nyetir mobil," belanya.

"Kenapa nggak pake motor kamu kayak biasanya, sih?"

"Motor gue lagi masuk bengkel. Kebetulan Mas Aksa sekalian mau ke kampus buat urus urusan sidang, jadi sekalian nebeng karena searah," sahut Vino tenang.

Laki-laki itu melepas kacamatanya, mengaitkannya di kerah kemeja yang dua kancing atasnya sengaja dibuka.

Bita menggigit bibir bawahnya gelisah. Senyum tipis yang mendadak muncul di sudut bibir Vino membuat Bita sadar bahwa ini semua adalah jebakan.

Laki-laki itu sengaja melakukannya.

Sebelum Bita sempat protes dan berbalik arah, Vino sudah lebih dulu bergerak membukakan pintu penumpang bagian depan.

"Silakan masuk, Nona Nirbita," ujar Vino dengan nada sopan yang dibuat-buat. "Mau duduk di depan, kan? Samping Mas Aksa?"

Kemarin, Bita untuk kesekian kalinya menolak mentah-mentah ide Vino dan mengusir pria itu dari kamarnya supaya tidak meracuni otaknya. Kini, lihatlah senyum jahil yang diam-diam lepas dari bibir laki-laki itu, juga tatapan polos tanpa dosanya.

Dua bola mata Bita nyaris keluar karena melotot mendengar ucapan Vino. "Aku nggak ada ngomong gitu!" desis Bita.

"Bita boleh duduk di depan, kan, Mas?"

"Boleh, masuk aja, Ta," sahut Aksa dari dalam, suaranya terdengar berat dan tenang seperti biasa.

Mau tidak mau, Bita melangkah masuk dengan kaku. Dalam hati, ia berjanji tidak akan pernah lagi membantu Vino menyusun draf presentasi kelompok sampai semester akhir nanti.

Saking gugupnya, tangan Bita sampai gemetar saat mencoba menarik sabuk pengaman. Benda itu mendadak terasa seret dan mengunci.

Aksa menoleh. "Susah, ya?"

Pria itu mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, menampilkan kesan matang seorang mahasiswa pascasarjana yang selalu berhasil membuat Bita terpesona.

"I-iya, Mas. Agak macet." Bita menjawab terbata-bata.

Sebelum Bita sempat menguasai diri, Aksa sudah condong ke arahnya. Jarak mereka terkikis begitu saja saat tangan Aksa meraih sabuk pengaman di sisi bahu Bita, menariknya perlahan lalu menguncinya ke slot dengan bunyi klik yang kentara.

Aroma parfum Aksa yang maskulin dan bersih sempat memenuhi indra penciuman Bita selama beberapa detik, sebelum pria itu kembali tegak di kursi kemudi. Bita membatu, menahan napasnya yang mendadak putus-putus.

Dari kursi belakang, sayup-sayup terdengar kekehan pelan dari Vino.

"Bita kayaknya demam itu, Mas. Tuh, lihat, mukanya merah. Pasti panas banget."

"Enggak!" Saking paniknya Bita sampai kelepasan membentak.

Sebagai anak yang patuh pada orangtua dan tidak pernah satu kali pun mengumpat, Vino sialan sekali. Mas Aksa jadi memperhatikan keseluruhan wajahnya yang merona. Beruntung suara mobil yang sudah dinyalakan Mas Aksa bisa meredam suara detak jantungnya yang berdentum hebat.

"Bita beneran nggak papa?"

Bita tercenung.

"Nggak lagi sakit, kan?"

Pertanyaan bernada khawatir Mas Aksa melemparkan Bita pada kilasan momen ketika ia baru berumur delapan tahun, saat Vino kecil menabrak sepedanya hingga membuatnya jatuh di taman.

Sementara Vino tak membantunya dan malah ketawa-tiwi kesenengan, Mas Aksa datang dengan seraut wajah khawatir menanyakan keadaannya lalu menggendongnya yang pada waktu itu terluka lututnya sampai rumah.

Pada waktu itulah pertama kalinya Mas Aksa menjadi berarti di hatinya hingga sekarang.

"Gapapa.." Bita menjawab malu-malu dan secepatnya membuang tatapan ke jendela samping. Sedang Mas Aksa mulai melajukan mobilnya, Bita mencoba meredam perasaannya yang terasa akan meledak.

"Gimana kabarnya Kak Meta, Mas?"

Suara Vino dari kursi belakang seketika memecah keheningan. Bita menajamkan pendengarannya saat nama asing seorang wanita disebut.

"Mungkin baik-baik saja," jawab Aksa datar, matanya tetap fokus ke jalanan di depan.

"Loh, kok mungkin? Emang udah nggak berhubungan?" kejar Vino lagi.

Aksa terdiam sejenak sebelum membalas, "Dia sibuk studi. Terakhir komunikasi sebulan yang lalu."

Bita meremas pelan tali tas di pangkuannya. Selama ini, karena terlalu malu untuk berdekatan dengan Aksa, ia kerap melewatkan banyak hal. Termasuk fakta bahwa ada nama perempuan lain yang sanggup membuat ekspresi Aksa berubah agak murung.

"Banyak kegiatan pasti, apalagi kuliahnya di luar negeri," sahut Vino manggut-manggut. Ia kemudian memajukan tubuhnya, menatap Bita dari celah kursi.

"Bingung banget sih, Ta. Penasaran ya siapa Kak Meta?"

Tanpa menunggu persetujuan Bita, Vino menyodorkan layar ponselnya dari belakang. "Nih, orangnya, kalau lo mau tahu."

Bita terpaksa melihat ke layar. Di sana menampilkan profil I*******m seorang wanita dengan visual yang tampak sempurna. Rambutnya bergelombang panjang dibiarkan terurai, pakaiannya berkelas, dan memiliki tatapan mata yang hidup serta berani.

Tipe wanita dewasa yang sangat kontras dengan dirinya yang pagi ini hanya menguncir rambut satu rendah, dan pakaian minimalis khas mahasiswi yang tidak terlalu mementingkan fashion selain hadir dikelas untuk mendengarkan dosen.

"Mas Aksa emang jarang cerita," tambah Vino sembari menarik kembali ponselnya. "Tapi karena dia sampai simpan fotonya di dompet, pasti Kak Meta ini lebih dari sekadar teman. Ya nggak, Mas?”

Aksa tidak menyanggah, pria itu hanya diam mempercepat laju kendaraannya. Keheningan itu justru menjadi jawaban paling nyata yang merenggut pasokan udara di dada Bita.

"Lo kok diam aja dari tadi, Ta? Biasanya kalau berangkat sama gue selalu berisik," goda Vino lagi. Tangan cowok itu terulur dari belakang, menjawil dagu Bita beberapa kali dengan usil.

"Jangan ganggu Bita, Vin," tegur Aksa tegas, matanya melirik Vino melalui spion tengah. "Kamu boleh godain cewek-cewek di luar sana sesukamu, tapi jangan Bita."

Bita menatap Mas Aksa tak percaya. Tidak mungkin kan Mas Aksa cemburu?

"Anak kecil ini? Selera kita gak jauh beda gak sih, Mas?” bela Vino memegang pipi kanan Bita gemas.

"Singkirin tangan kamu."

Dada Bita membuncah oleh rasa bahagia. Sebelum Mas Aksa menambahkan. "Bita udah Mas anggap sebagai adik kayak kamu. Jangan iseng.”

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 10

    "Lo sengaja menghindari gue?" Vino yang telah dibukakan pintu masuk menodong Bita. Langkah besarnya meringsek maju mendatangi Bita yang terhuyung mundur hingga betisnya terantuk dipan jati. Tubuh Bita terhempas jatuh memantul diatas kasur empuk."Gue akan datang pukul delapan malam, jadi tetap berada di kamar untuk membukakan pintu. Kurang jelas perintahnya?" geram Vino menempatkan dirinya diatas Bita. Menguasai gadis itu tanpa cela.Bita gemetar menghadapi kemarahan Vino yang menggulung-gulung seperti ombak laut yang mematikan. Posisi Vino yang mengungkungnya, membuat Bita tidak bisa kabur dan hanya bisa berdoa supaya selamat dari amukan Vino."Berapa lama gue menunggu lo?" cecar Vino. Tatapan bengisnya menghujam Bita yang tergolek lemah tak berdaya. "Berjam-jam diluar dalam keadaan kedinginan tanpa kepastian."Bita tidak bisa membayangkan sedingin apa angin malam mengoyak tubuh atletisnya yang hanya terbalut kaos singlet putih kesukaannya dan sepotong celana pendek diatas lutut. T

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 9

    Memiliki reputasi buruk, tidak membuat Bita serta-merta menjauhi Vino. Sikap buruk Vino terhadapnya hanya menjahilinya sampai kesal, yang untungnya masih bisa ditolerir Bita. Namun Bita merasa harus mulai menjaga jarak setelah kejadian tadi malam. "Bita!" Bita yang berniat memutar balik badannya sewaktu menemukan Vino menunggu diparkiran, harus menekan keinginannya untuk kabur lantaran Vino lebih dulu mengetahui keberadaannya. "Aku pulang dulu," pamitnya pada Sasha. "Hati-hati. Kabari kalo udah nyampe!" Seruan Sasha menghantarkannya menghadap Vino yang duduk manis diatas motor sport merahnya. "Aku udah bilang ada kelas sore," cecar Bita. Vino mengantongi ponselnya ke dalam saku jaket kulit yang melekat pas dibadannya. "Gue bilang mau nunggu." Di waktu biasa tentu saja Bita akan melonjak kegirangan karena Vino rela menunggunya, jadi Bita tidak perlu memesan ojek online. Berbeda dengan saat ini. Vino tidak mungkin menunggu sampai sepetang ini padahal laki-laki itu h

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 8

    Bulu kuduk Bita meremang. Ancaman Vino menelannya bulat-bulat, menyisakan jantungnya yang bertalu cepat. Mendadak Vino tertawa tanpa sebab. "Lo temen gue. Mana mungkin gue menelanjangi lo?" ungkap Vino jenaka. "Kecuali kalo lo Sasha." Ketegangan yang menyelimuti keduanya perlahan hilang. Bita mendengus kencang menyadari Vino hanya menggodanya seperti biasa. "Awas aja kalo kamu ngapa-ngapain Sasha!" Vino mengekeh tanpa canggung. Seakan tidak ada Vino yang menatapnya lapar, dan mendesaknya. Suasana kembali terjalin normal. Atau mungkin begitulah yang Bita rasakan. Vino tetap saja laki-laki yang pandai mengelabui perempuan. Vino melirik jam yang berdenting dinakas. Sudah cukup lama Vino berada dikamar Bita, ia perlu segera pergi. "Kita lanjut besok. Lo perlu mempersiapkan diri. Karena pelajaran besok akan lebih sulit dari malam ini," tuturnya disertai seringaian. Bita memukulkan bonekanya tepat ke muka Vino. "Yaudah pergi sana!" usirnya. "Tanpa disuruh juga gue pergi." Vino men

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 7

    "Ciuman juga termasuk sesuatu yang harus aku pelajari?" Setelah lama berkutat dengan pikiran masing-masing, Bita mengajukan pertanyaan. Ada jeda sebelum Vino menganggukkan kepala. "Ya. Wanita dewasa juga harus bisa berciuman. Mas Aksa akan lebih suka kalo lo pandai dalam hal itu." "Ciuman yang setidakterkendali tadi bakalan disukai Mas Aksa?" tanya Bita skeptis. Mas Aksa yang setenang itu, Bita ragu menyukai kegiatan tergesa-gesa seperti Vino yang bergerak kasar melahap bibirnya. "Sorry, gue kelepasan," sesal Vino. Bita mengatur embus napasnya susah payah. Sejujurnya, dia tidak tau harus mengatakan apa. Didepannya, Vino yang hanya memakai kaos singlet tampak basah, sekujur tubuhnya dipenuhi bulir keringat, dengan jakun naik turun, menunduk seakan takut bertatapan dengannya. Entah kemana perginya rasa percaya diri Vino saat menggoda perempuan, karena dihadapannya kini Vino bak anak anjing yang meminta ampun setelah melakukan kesalahan besar. "Yang tadi diluar kendali kamu?" "

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 6

    "Bita." Ketukan pelan di kaca balkon membuat Bita yang hampir terlelap seketika terjaga. Kamar mereka memang saling berhadapan dengan jarak balkon yang cukup dekat, membuat Vino sering kali menyeberang dengan mudah jika ada perlu. Bita menghela napas, bangkit dari ranjang untuk menggeser pintu kaca. "Kamu bisa lewat pintu depan, kan? Kalau jatuh gimana?" "Lama kalau harus mutar," sahut Vino santai. Cowok itu langsung menerobos masuk tanpa permisi, mengabaikan Bita yang masih mengenakan piyama kaos longgar. "Ini udah jam sepuluh malam, Vin." "Terus kenapa?" Vino berbalik, menyandarkan pinggulnya di tepi meja belajar Bita sambil bersedekap. "Katanya lo mau belaja. Kita mulai malam ini." Bita terdiam sejenak. Kalimat Mas Aksa tadi pagi yang menegaskan bahwa ia hanya dianggap sebagai adik kembali terngiang, menyuntikkan rasa tidak rela yang amat besar di dadanya. "Aku harus ngapain dulu?" tanya Bita akhirnya. Ia melangkah mendekat, duduk di tepi tempat tidur sambil memeluk s

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 5

    Menatap iris jelaga Vino yang bisa membawa siapapun tenggelam ke dalam gelapnya, Bita menggelengkan kepala. "Aku nggak bisa," tolak Bita. Bita tidak bisa mempercayakan dirinya pada Vino sepenuhnya. Mengingat reputasi Vino yang gemar mempermainkan perempuan, bukan tidak mungkin Bita akan jadi salah satunya. Ia masih waras untuk tidak mengiyakan permintaan Vino. "Lo takut sama gue, Ta?" tebak Vino tepat sasaran. Melihat Bita tak membantah, Vino tertawa. "Lo temen gue. Mana mungkin gue ada niatan mempermainkan lo kalo itu yang lo takutkan?" Sekali lagi, Bita menggeleng tak tertarik. Meski mereka bersahabat sejak lama, Vino tetaplah laki-laki berbahaya yang seharusnya diberi jarak aman. Jangan sampai Bita jatuh ke dalam perangkapnya, karena itu sama saja memberikan nyawanya cuma-cuma. "Emang lo udah nggak tertarik sama Mas Aksa? Nggak mau punya kesempatan mendekatinya?" Vino membungkuk mencari tatapan Bita yang sibuk menyapu lantai. "Mas Aksa selamanya menganggap lo s

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status