Share

Bab 4

Author: macaroonie
last update publish date: 2026-05-25 16:56:08

"Ati-ati, Mas!" Vino berseru pendek sembari melambaikan tangan, menatap sedan hitam Aksa yang mulai bergerak membelah jalanan kampus.

Bita yang masih termenung setengah mati akibat pembicaraan tadi hanya sanggup memandangi mobil itu sampai tidak terlihat, lalu melangkah gontai memasuki koridor fakultas.

Vino menyenggol lengannya tanpa perasaan. "Kenapa lagi?”

"Mas Aksa beneran suka sama Kak Meta?" tanya Bita lirih tak ada tenaga.

Vino terkekeh pelan. Ia memakai kembali kacamata hitamnya sebelum menjawab. "Kalau nggak suka, mana mungkin foto itu cewek betah di dompetnya sampai bertahun-tahun? Mau bukti apa lagi, Ta?"

Bita menggeleng lemah. Ia hanya ingin mencari satu saja kemungkinan bahwa Aksa tidak sedang memikirkan orang lain. Namun, semua fakta justru merujuk pada satu kesimpulan tak terbantahkan yang membuat nyalinya mengerdil. Napasnya terembus berat.

"Ada masalah, Ta?" tanya Vino sekonyong-konyong.

Bita menoleh, menatap Vino dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Maksud kamu apa cerita-cerita soal hubungan Mas Aksa dan Kak Meta tadi?" Suaranya mulai bergetar menahan tangis. “Kamu, kan udah tau perasaanku ke Mas Aksa, kenapa sengaja mancing-mancing? Kamu jahat, Vin."

Vino mendecak pelan. Tangan panjangnya menarik bahu Bita, membawa gadis itu menjauh menuju sudut selasar yang sepi. "Dengerin gue dulu."

Bita tidak menjawab, hanya sesenggukan kecil sambil memalingkan wajah.

"Gue sengaja bawa-bawa nama Kak Meta buat tes seberapa serius lo sama abang gue," ujar Vino, bersandar pada pilar beton di dekat mereka. "Ternyata lo se-nggak rela itu, ya?"

Bita memilin ujung cardigan longgarnya, memilih bungkam karena Vino jelas sudah tahu jawabannya.

“Tapi, Ta. Mas Aksa cuma cinta sepihak. Gue pernah dengar dia ditelepon Kak Meta di kamar, dan mereka cuma bahas cowok bule yang lagi didekati Kak Meta di luar negeri."

Bita langsung mendongak, menatap Vino penuh minat.

"Mas Aksa cuma dijadikan tempat curhat. Ya tahu sendiri, kan, dia kalau sudah mode dewasa, omongannya mirip motivator," tambah Vino.

Ia melangkah mendekat, mencengkeram kedua bahu Bita dengan santai namun tegas. "Kesempatan lo masih terbuka lebar. Masalahnya, lo mau gue bantu atau enggak?"

Bita menatap Vino gamang. "Tapi Kak Meta... jauh lebih dewasa. Apa aku masih ada kesempatan?"

"Cowok itu makhluk visual, Ta. Apalagi tipe-tipe kaku kayak Mas Aksa, seleranya yang elegan dan sensual. Jelas bertolak belakang sama lo yang bentukannya begini," tutur Vino jujur tanpa berniat menghina.

“Tapi tenang, lo masih bisa diubah untuk masuk ke tipe Mas Aksa. Jadi … mau gue dibantu, kan?”

Belum sempat Bita menjawab, segerombolan mahasiswi dari jurusan sebelah berjalan melewati selasar dan langsung mengenali Vino. Sebagian bahkan terang-terangan meminta nomornya.

Vino hanya melempar senyum tipis, menaikkan kacamata hitamnya ke atas kepala. "Duluan, ya. Lagi ada urusan bentar," jawabnya singkat.

Suaranya yang berat dan pembawaannya yang tenang justru membuat cewek-cewek itu tertawa genit sebelum akhirnya berjalan menjauh.

Sikap Vino yang tidak banyak tingkah namun magnetis itu membuat Bita sadar, bajingan di depannya ini memang punya kontrol penuh atas pesonanya.

Vino kembali mengalihkan atensi sepenuhnya pada Bita. "Jadi, gimana?"

"Aku mau."

Vino menaikkan sebelah alisnya. "Mau apa? Nomor gue?"

"Bukan! Penawaran kamu yang tadi. Aku mau asalkan bisa bikin Mas Aksa ngelirik aku," jawab Bita cepat, membuang gengsinya jauh-jauh.

Vino terdiam beberapa detik, mengamati binar keputusasaan di mata bulat milik Bita. Seringai badung yang tipis perlahan terukir di sudut bibirnya.

"Oke. Tapi ada biaya administrasi di awal," kata Vino santai.

"Maksud kamu?"

"Minta nomor Shasa.”

Bita melotot, rasa sedihnya seketika menguap digantikan rasa kesal. “Udah aku bilang cari cewek lain aja buat dideketin. Jangan Sasha!"

"Itu namanya simbiosis, Ta. Lo dapat abang gue, gue dapat teman lo. Adil, kan?" Vino terkekeh pelan, lalu merendahkan suaranya, membuat atmosfer di antara mereka mendadak berubah serius.

"Dan satu lagi ... ada syarat utamanya."

"Apa? Jangan yang aneh-aneh."

Vino menatap langsung ke manik mata Bita, mengunci fokus gadis itu sepenuhnya. "Apapun pelajaran yang gue kasih nanti, lo nggak boleh membantah. Lo harus ikut semua instruksi gue tanpa pengecualian."

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
kinantiartavia
Berharap vino dan bita malah jatuh cinta bneran
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 240

    Bita akhirnya menemukan Vino di perpustakaan.Laki-laki itu duduk membaca buku dengan begitu fokus. Barangkali itulah alasan ia tidak mengangkat telepon maupun membalas pesan Bita yang sejak tadi menanyakan keberadaannya setelah tidak menemukannya di gazebo ataupun kantin. Vino memang sengaja mengatur ponselnya dalam mode senyap setiap kali belajar agar tidak terganggu.Saking fokusnya, bahkan derap langkah Bita yang semakin mendekat pun tak terdengar olehnya. Baru ketika Bita menarik kursi di hadapannya, Vino mengangkat pandangan.Awalnya laki-laki itu hanya menatap Bita seolah memastikan apa yang dilihatnya benar. Namun beberapa detik kemudian, matanya membulat. "Bita? Kamu ke kampus?" tanyanya, tak mampu menyembunyikan antusiasme.Bita tersenyum lalu mengangguk. "Papa pengennya aku izin aja nggak masuk. Tapi aku nggak mau." Lalu menghela napas sebelum kembali bertanya, "Kamu tadi disuruh duluan sama Papa?"Vino mengatupkan bibir, lalu

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 239

    "Kalau perusahaan membeli sebuah mesin seharga dua ratus juta rupiah dan diperkirakan memiliki umur manfaat selama lima tahun, dengan nilai residu sebesar dua puluh juta, maka berapa beban penyusutannya setiap tahun kalau kita menggunakan metode garis lurus?" Suara dosen terus mengalun memenuhi ruang kelas. Beberapa mahasiswa mulai sibuk menghitung. Sasha menunduk, tangannya terus bergerak mencatat penjelasan dosen ke dalam buku. "Jadi, rumusnya sederhana. Harga perolehan dikurangi nilai residu, kemudian dibagi dengan umur manfaat. Jangan sampai kalian cuma hafal rumusnya, tapi tidak paham kenapa nilai residu harus dikurangkan." Dosen melanjutkan penjelasannya sambil sesekali menuliskan poin-poin penting di papan tulis. Namun Bita sama sekali tidak memperhatikan. Tatapannya justru terpaku ke luar jendela. "Kalau menggunakan metode saldo menurun, tentu hasil beban penyusutannya akan berbeda. Beban pada tahun-tahun awal akan

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 238

    Bita mengerjapkan mata ketika terbangun keesokan harinya dengan perut yang terasa kosong. Rasanya lapar sekali. Mungkin itulah yang membuatnya terbangun sekitar pukul enam pagi.Seketika Bita mengernyit ketika rasa pening mendadak menghantam kepalanya. Reaksi yang selalu ia rasakan setiap kali terlalu banyak menangis.Tangannya terangkat memegangi kepala, berusaha meredakan nyeri di sana. Namun ketika Bita menoleh ke samping, matanya langsung melebar. Jantungnya seakan baru saja jatuh. Sesaat, rasa takut dan deja vu menyergapnya.Namun detak jantungnya perlahan kembali tenang ketika menyadari sosok yang tertidur di sampingnya tidak lain adalah Mama.Bita mengerjapkan mata, memandangi Anggun yang tidur menyamping menghadap dirinya. Pandangannya turun, menemukan satu tangan Mama masih melingkar memeluknya.Pemandangan yang seharusnya terasa hangat justru membuat dada Bita kembali terasa sakit.Bita teringat bagaimana Mama semalaman

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 237

    Bram menutup pintu kamar Bita setelah menaruh putri semata wayangnya di atas ranjang, meninggalkan Anggun di dalam untuk menenangkan anak mereka. Kemudian pria itu berbalik menatap Aksa serta Vino yang masih berdiri di depan pintu, ketiganya sama-sama menunjukkan wajah penuh kekhawatiran."Sebenarnya ada kejadian apa selama di London sampai Bita pulang-pulang malah menangis?" tanya Bram.Vino langsung membeku. Kepalanya tertunduk, tak berani mengangkat pandangan.Sementara Aksa yang ditatap Bram akhirnya bersuara. "Selama di London, Bita baik-baik saja, Om. Saya rasa nggak ada kejadian yang tidak menyenangkan, apalagi kemalangan yang menimpa Bita. Dia malah kelihatan bersenang-senang selama di sana.""Saya rasa?" Alis Bram langsung menukik tajam. "Memangnya kamu nggak selalu sama Bita sampai jawabnya nggak yakin begitu?"Aksa tertunduk, ekspresinya berubah bersalah. "Maaf, Om. Karena ada beberapa urusan pekerjaan yang harus saya tangani,

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 236

    Seperti janjinya, keesokan paginya, bahkan sebelum matahari terbit, Vino sudah mendatangi kamar Bita. Sesaat setelah Bita membukakan pintu, laki-laki itu langsung menyeruak masuk dengan wajah panik.Vino segera menutup pintu, kemudian membingkai wajah Bita dengan kedua tangannya. Tatapannya berpindah dari satu mata ke mata lainnya, seolah memastikan sendiri apa yang sejak tadi ia khawatirkan.Mata yang semalam sempat Bita lihat di cermin kini sudah pasti tampak sama mengenaskannya dengan yang Vino lihat. Kantung matanya tebal dan menghitam, sementara kedua matanya masih sembap."Ta, kamu nangis lagi, ya?" tanya Vino khawatir."Kentara banget, ya?" Bita langsung tahu apa yang membuat Vino begitu cemas.Vino mengangguk dengan tatapan sendu.Bita mencoba menarik segaris senyum tipis. "Nggak papa. Nanti bisa ditutupi pakai concealer. Terus aku pakai makeup tipis biar kelihatan seger."Bita kemudian mengajak Vino duduk di sof

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 235

    Vino menelan ludah. Mami masih bisa ia kelabui. Ia bisa membuat semuanya terlihat mudah, termasuk kebohongan-kebohongan yang harus Vino tutupi.Tapi Aksa?Pria itu adalah satu-satunya orang yang sulit Vino kelabui. Entah bagaimana, kakaknya itu selalu bisa menemukan kejanggalan sekecil apa pun dalam diri Vino, bahkan ketika ia sudah berusaha menutupinya rapat-rapat. Seolah-olah pria itu memiliki mata yang mampu menembus apa saja, termasuk kebohongannya.Dan kini, tatapan Aksa sukses membuat Vino merasa seperti seorang tersangka.Vino mencoba menyembunyikan kegelisahannya dengan terkekeh. "Apaan sih, Mas? Ngelihatinnya gitu banget?"Ia menutup pintu, lalu berbalik menghadapi Aksa yang masih menatapnya lurus. Vino berusaha memasang wajah setenang mungkin."Tadi Bita ngajak aku keluar. Katanya masih pengin jalan-jalan. Besok kan kita harus balik, jadi udah nggak ada waktu lagi. Bita pengin puas-puasin jalan-jalannya," jelasnya. Vino

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 3

    "Kamu ngapain?!"Saat keluar dari rumahnya, Bita dikejutkan dengan kedatangan Vino. Pasalnya pria itu tidak datang dengan motor yang biasanya mereka pakai untuk berangkat sekolah. Melainkan Toyota Sedan warna hitam yang sangat Bita kenali milik siapa terparkir didepan rumah.Vino menyandarkan pung

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 2

    "Bercinta? Kamu gila?!" Vino tidak langsung menjawab. Laki-laki itu justru mengulurkan tangan, menjepit kedua pipi Bita dengan telapak tangannya yang terasa hangat. "Lo kapan gedenya, sih? Hal begini aja harus dijelasin." Bita menepis tangan Vino dengan gusar. "Nggak usah pegang-pegang!" Vino

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 1

    "Lo naksir abang gue?" Bita tersentak. Selang air di tangannya terlepas begitu saja, membasahi ujung sandal rumahnya sebelum ia sempat mematikan keran. Niatnya berpura-pura menyiram tanaman siang-siang begini hanya agar bisa melihat Aksa yang baru pulang kuliah. Meskipun Aksa terpaut usia be

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 5

    Menatap iris jelaga Vino yang bisa membawa siapapun tenggelam ke dalam gelapnya, Bita menggelengkan kepala. "Aku nggak bisa," tolak Bita. Bita tidak bisa mempercayakan dirinya pada Vino sepenuhnya. Mengingat reputasi Vino yang gemar mempermainkan perempuan, bukan tidak mungkin Bita akan jadi sal

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status