Share

Bab 48

Penulis: macaroonie
last update Tanggal publikasi: 2026-06-08 12:35:34
"Vino?"

Bita melintasi ruang tamu rumah Vino sambil memanggil namanya. Dilihat dari pintu yang terbuka, sudah pasti laki-laki itu berada dirumah, tapi dipanggil sejak tadi Vino tidak muncul-muncul.

Laki-laki itu sepertinya ada di kamar. Bita mengayunkan langkahnya menuju tangga yang membawanya ke lantai dua tempat kamar Vino berada. Namun baru saja kakinya menaiki satu anak tangga seseorang tiba-tiba saja memeluknya dari belakang.

Aroma cologne maskulin yang tercium serta merta membuat Bi
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 226

    “Nggak, Ta. Aku nggak mau,” tolak Vino tegas.Bita mendecak. Wajahnya sudah memelas. “Ayo, dong. Sekali aja di sini. Mas Aksa juga nggak bakal tiba-tiba datang. Dia pasti masih di kamar hotel buat ngurus kerjaannya. Itu juga yang bikin Mas Aksa nggak bisa nemenin aku dan akhirnya nyuruh kamu.”Aksa sempat menjelaskan bahwa ada kendala teknis di salah satu proyek yang sedang ditanganinya di Indonesia. Beberapa pekerjaan di lapangan ditemukan tidak sepenuhnya sesuai dengan gambar kerja sehingga tim membutuhkan arahan dan koordinasi darinya sebelum pekerjaan dilanjutkan.Meski sedang mengambil cuti, Aksa tetap harus turun tangan. Karena itu, ia memutuskan untuk tinggal di hotel dan menangani semuanya dari sana. Aksa bahkan sudah berpesan kepada Vino untuk menemani Bita berkeliling London.Jadi, untuk hari ini, praktis hanya ada mereka berdua. Dan Bita merasa seharusnya itu menjadi kesempatan yang sempurna.Bita memandangi Vino yang masih ter

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 225

    Beberapa detik kemudian, keheningan di antara mereka terpecah oleh bunyi ting yang menandakan lift telah tiba. Mereka turun menuju lantai dasar tempat restoran hotel berada. Begitu pintu lift kembali terbuka, Bita melangkah keluar bersama Vino. Namun, baru beberapa langkah memasuki area restoran, langkah Bita mendadak terhenti. Matanya membelalak. Restoran itu ternyata sudah cukup ramai. Beberapa tamu hotel terlihat duduk menikmati sarapan, sementara sebagian lainnya berjalan mengitari area buffet sambil membawa piring. Seketika itu pula Bita merasakan malu yang luar biasa. Ia ingin sekali berbalik dan melesat kembali ke kamar untuk bersolek sebaik mungkin. Bagaimana tidak? Penampilannya benar-benar khas orang yang baru bangun tidur, lengkap dengan rambut awut-awutan dan piyama kusut. Sementara hampir semua tamu di restoran tampak begitu segar dan rapi. Menyadari Bita yang masih mematung di tempat, Vino segera bertanya, “K

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 224

    Bita sudah bangun sejak tadi, tetapi masih enggan beranjak dari tempat tidurnya. Selimut masih menutupi sebagian tubuhnya, sementara pandangannya kosong menatap langit-langit kamar. Mood-nya benar-benar anjlok sejak Vino kembali mengingatkannya untuk menjaga jarak, tepat setelah ia mencuri kecupan singkat darinya. Yang membuat Bita kesal bukan cuma karena Vino melarangnya, tetapi juga caranya. Ia masih ingat bagaimana tatapan laki-laki itu kemarin mendadak menajam ketika menegurnya. Bita tidak suka ditatap seperti itu. Padahal mereka sedang berada di lantai delapan dengan pemandangan kota London yang terbentang penuh cahaya di balik kaca. Suasananya sudah romantis, pemandangannya juga indah, lalu entah bagaimana Bita terbawa suasana dan spontan memberikan kecupan singkat. Tapi respons Vino? Bukannya ikut menikmati momen, laki-laki itu malah mengingatkannya soal batasan. Iya, Bita tahu. Ia tahu

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 223

    Tak lama kemudian, lift berhenti di lantai delapan. Pintu terbuka, dan mereka bertiga keluar sambil membawa barang masing-masing. Khusus Bita, kopernya bergantian dibawa Vino dan Aksa.Aksa berjalan beberapa langkah di depan, lalu berhenti di sebuah pintu kamar. “Ini kamar kamu, Ta.” Ia menunjuk pintu di hadapannya, kemudian menggeser pandangan ke pintu di sebelahnya. “Kalau kamar Mas sama Vino yang itu.”Aksa kemudian menyerahkan kartu akses kamar kepada Bita. “Nih, simpan baik-baik. Kalau ada apa-apa, langsung bilang Mas atau Vino, ya.”Bita menerima kartu itu, tetapi wajahnya masih tampak lesu. “Ini aku beneran tidur sendirian?”Vino memperhatikannya beberapa saat sebelum akhirnya tersenyum lembut. “Yaudah, ayo. Aku sama Mas Aksa antar kamu masuk dulu.” Ia menoleh kepada Aksa. “Ayo, Mas. Kita antar putri kecil yang takut bobok sendiri padahal udah gede ini ke kamarnya.”“Jangan ngejek aku!” seru Bita pura-pura kesal. Dengan wajah sumri

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 222

    Perjalanan menuju London dimulai sejak pagi buta. Bita tiba di bandara bersama Aksa dan Vino dengan koper masing-masing. Karena penerbangan mereka cukup panjang, ketiganya sudah sepakat untuk datang lebih awal agar tidak terburu-buru saat proses check-in.Setelah melewati pemeriksaan keamanan, mereka menuju area keberangkatan. Bita berjalan di samping Vino sambil memperhatikan Aksa yang sejak tadi sibuk memastikan segala sesuatunya aman. Boarding pass dan paspor mereka kembali diperiksa satu per satu, begitu pula tas dan barang bawaan, seolah laki-laki itu takut ada sesuatu yang tertinggal.Vino yang melihatnya akhirnya merangkul bahu Aksa. "Udah, Mas. Tenangin diri. Semuanya aman terkendali. Nggak ada yang ketinggalan."Aksa menoleh dengan tatapan datar. "Kamu nggak lupa bawa charger?"Vino seketika membulatkan mata dan langsung menepuk dahinya. "Oh iya! Mas lupa!" Lalu terkekeh kikuk. "Nanti pinjem charger Mas, ya?"Aksa mengembuskan na

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 221

    Hari-hari berganti hingga tanpa terasa, tinggal seminggu lagi sebelum pernikahan Meta digelar. Jemari Bita saling meremas gelisah di atas pangkuannya. Di sampingnya, Bram duduk dengan tenang di sofa ruang keluarga, sementara di hadapan mereka duduk Aksa. Bita sudah tahu tujuan kedatangan laki-laki itu. Tadi pagi, Vino sudah memberitahunya bahwa Aksa akan datang untuk meminta izin kepada Bram membawanya ke London menghadiri pernikahan Meta. Aksa duduk dengan sikap tenang, meski jemarinya sesekali saling bertaut di atas paha. Setelah beberapa saat, ia membuka percakapan lebih dulu. "Proyek Om yang kemarin gimana? Udah selesai?" Bram mengangguk. "Sudah. Tinggal serah terima sama beberapa bagian kecil." "Wah, cepat juga, Om." "Kalau sesuai jadwal memang harusnya begitu. Tapi namanya proyek, pasti ada aja kendalanya." Bram terkekeh kecil. "Kadang material telat, tenaga kerja kurang, belum lagi kala

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 4

    "Ati-ati, Mas!" Vino berseru pendek sembari melambaikan tangan, menatap sedan hitam Aksa yang mulai bergerak membelah jalanan kampus. Bita yang masih termenung setengah mati akibat pembicaraan tadi hanya sanggup memandangi mobil itu sampai tidak terlihat, lalu melangkah gontai memasuki koridor fa

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 3

    "Kamu ngapain?!"Saat keluar dari rumahnya, Bita dikejutkan dengan kedatangan Vino. Pasalnya pria itu tidak datang dengan motor yang biasanya mereka pakai untuk berangkat sekolah. Melainkan Toyota Sedan warna hitam yang sangat Bita kenali milik siapa terparkir didepan rumah.Vino menyandarkan pung

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 2

    "Bercinta? Kamu gila?!" Vino tidak langsung menjawab. Laki-laki itu justru mengulurkan tangan, menjepit kedua pipi Bita dengan telapak tangannya yang terasa hangat. "Lo kapan gedenya, sih? Hal begini aja harus dijelasin." Bita menepis tangan Vino dengan gusar. "Nggak usah pegang-pegang!" Vino

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 1

    "Lo naksir abang gue?" Bita tersentak. Selang air di tangannya terlepas begitu saja, membasahi ujung sandal rumahnya sebelum ia sempat mematikan keran. Niatnya berpura-pura menyiram tanaman siang-siang begini hanya agar bisa melihat Aksa yang baru pulang kuliah. Meskipun Aksa terpaut usia be

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status