ログイン"A-aku ..."
Tidak ada yang lebih membahagiakan Vino saat ini selain melihat wajah Fero berubah pias. Dengan pandangan menunduk selayaknya orang bersalah serta mulut yang belepotan merangkai kata, Fero bagai badut yang menghibur mata Vino."Kamu pernah juara olimpiade nasional?"Suara Bita secara tragis memutus kesenangan Vino. Dilihatnya Bita yang menatap Fero dalam binar kagum yang tak repot gadis itu sembunyikan.Fero mengangguk halus. Baru berani mengaUjung ban depan motor Vino berhenti di depan garis zebra cross. Diikuti Honda Civic milik Fero yang berhenti mulus di sisi kirinya. Sama-sama menunggu lampu lalu lintas berganti warna. Kaca jendela yang turun setengah membuat pantulan sosok Fero yang terlihat dari kaca spion menyapa lapang pandang Bita. Dengan artian baik Fero maupun Bita mampu melihat satu sama lain. Bita kontan memindahkan wajahnya memaling ke kanan, dan berusaha sebisa mungkin tidak terlihat dari balik helm Vino. Diliriknya penghitung mundur yang menggantung di atas. Masih empat puluh dua detik lagi menuju hijau. Sementara pantatnya sudah panas sekali duduk di atas motor Vino. Bukan karena joknya yang lumayan tinggi hingga memaksa pantatnya agak terangkat. Namun genggaman tangan Vino yang belum mau membebaskan lengannya. Bahkan Vino hanya mengendarai dengan satu tangan. Seakan jika tidak di tahan oleh tangannya, Bita akan langsung terbang tersapu angin. Lebih-lebih posisi duduk mereka yang nyaris tanpa
"Aku nggak mau kalo kamu sampai macem-macem sama Fero."Untuk kesekian kalinya, Bita memberikan peringatan pada Vino. Duduk menyamping di atas motor dengan tangan bersedekap dada, Vino mendengus dari balik helmnya. "Emang gue mau ngapain Fero? Muka gue keliatan kayak kriminal?"Helm yang sudah terpasang di kepalanya, membuat wajah Vino hanya terlihat separuh. Namun dari bagian matanya yang tampak, Bita jelas melihat kilat bahaya yang cukup membuatnya yakin kemana semua ini akan bermuara."Kalo tujuan kamu mengajak Fero ke rumah kamu supaya kamu bisa leluasa menekannya, aku nggak akan ngomong sama kamu satu tahun full.""Emang tahan? Gue kecup dikit desah juga lo."Netra Bita membulat besar. "Vino!" Ditaboknya lengan laki-laki itu."Bener, kan?""Udah aku bilang jangan ngomong aneh-aneh di kampus!""Kalo di kamar boleh berarti?" Vino mencekal pergelangan tangan Bita yang hendak melayangkan p
"Kamu jangan aneh-aneh ya, Vin." Bita menatapnya sangsi, memahami ke mana arah pembicaraan ini akan berujung."Apa? Gue cuma menawarkan bantuan?""Aku kenal kamu dan aku tahu kamu sedang merencanakan sesuatu. Dan sesuatu itu udah pasti bukan hal yang baik."Vino memasang raut tertohok. "Gue sejelek itu di mata lo, Ta? Sampai lo nggak percaya gue?"Bita mendesah. "Kalo gitu buat apa kamu menawarkan bantuan ke Fero?""Lo belum tau kalo Fero menganggap gue sama dia setara dalam hubungan persahabatan dengan lo?" tanya Fero. Mata Bita menyipit saat memandangi Fero dan Vino secara bergantian. "Emang kalian pernah ngobrol berdua?"Sesaat Vino terdiam sebelum menyuara santai. "Pernah. Ya ... cuma ngobrol-ngobrol biasa. Saling sapa selayaknya temen? Ya kan Fer?"Tidak langsung menjawab, Fero beradu pandang dengan Vino cukup lama kemudian menganggukkan kepalanya.Bita belum mau melunturkan sorot mata curiganya.
"Lagi kumpul keluarga besar antar generasi ceritanya? Ikut, dong."Hening merayap di antara mereka. Tidak seorang pun terlihat berniat menjawab pertanyaan Vino."Kalo kamu mau merusuh, jangan sekarang. Kami lagi belajar buat ujian nanti." Bita menjatuhkan peringatan.Vino menyipitkan matanya pada Bita yang menatapnya datar. "Siapa yang mau merusuh? Orang gue cuma duduk dan pengen liat proses belajar kalian."Diambilnya catatan Fero tanpa permisi. "Sebagai anak manajemen, gue menyimpan banyak rasa penasaran terhadap hal-hal yang dikerjakan anak-anak akuntansi yang manis-manis ini."Sasha menampilkan raut jijik sebelum beringsut meninggalkan kursinya dengan alasan ingin meminjam buku di perpustakaan.Vino memindahkan perhatiannya dari Sasha yang menyambar bukunya lalu melipir dengan langkah kaki tergesa ke laki-laki asing di depannya. "Lo nggak ikutan pergi? Tiba-tiba pengen ngapain gitu? Kebelet boker?"Bagas menggelengka
Bita menghela napas panjang sambil memandangi catatannya. "Aku masih suka ketuker antara biaya sama beban.""Nah!" Sasha menjentikkan jarinya. "Aku juga. Perasaan sama-sama keluar uang. Kenapa dosen ngotot bilang beda?""Karena memang beda."Bita dan Sasha serentak menoleh pada Fero. Bersama Bagas, Fero kembali bergabung di gazebo dengan kedua gadis itu guna mempersiapkan ujian berikutnya.Bagas menunjuk Fero. "Bener, kan? Udah gue bilang dia google berjalan, Kak. Gerak dikit udah bisa buka kuliah umum. Coba apa bedanya, Fer. Gue juga mau tau."Pipi Fero sedikit memerah. Namun setelah didesak tatapan penasaran dua mahasiswi itu, ia akhirnya melanjutkan."Biaya itu lebih ke pengorbanan sumber daya untuk memperoleh manfaat ekonomi. Sementara beban adalah bagian dari biaya yang manfaat ekonominya sudah dipakai dalam periode berjalan."Bita berkedip. "Bisa pake bahasa bayi?"Fero tertawa kecil."Misalnya pe
Bita turun dari motor ojek online tepat di depan gerbang rumah. Di tangannya tergenggam segelas matcha mint latte ukuran sedang yang dibelinya dalam perjalanan pulang.Gelas plastik bening itu masih dingin. Butiran embun menempel di permukaannya, sementara warna hijau pucat minuman di dalamnya tampak kontras dengan tutup transparan yang membungkus bagian atas.Bita menatap minuman tersebut beberapa detik. Kemudian menatap rumah di seberang. Lebih tepatnya pada mobil toyota sedan yang sudah terparkir di teras. Niat Bita ingin memberikan minuman ini untuk Vino supaya mereka bisa berdamai. Meski jelas dengan Vino terlebih dulu mengirimnya pesan membuktikan bahwa laki-laki itu tidak lagi memendam amarah, namun tetap saja Bita kesulitan menyingkirkan rasa canggung yang mengganjal di dadanya.Bagaimanapun juga, mereka baru saja melalui perang dingin tersengit setelah percakapan yang berakhir tidak menyenangkan di basement kampus. Banyak dari ucapan Bit
Disela hembusan napasnya yang berhamburan riuh di udara, panas tubuh yang belum juga reda, dan keringat yang mengalir dari pelipis lalu membasahi pipi, Bita memerhatikan Vino yang bertumpu lutut di atas kasur dan sedang membenahi handuknya yang tersingkap.Vino mematrikan pandangan tepat di mata Bi
"Kenapa bangun?" Bita mengedikkan bahu bingung. "Aku ngerasa ada yang memerhatikan aku. Terus waktu bangun aku lihat kamu ada disini," ungkapnya lalu menggeser badannya yang menghalangi pintu. "Ayo, masuk." "Lo nggak ngatuk?" Vino memastikan dengan bertanya, melihat sudah dua kali Bita mengua
"Akhir-akhir ini lo selalu nolak kalo gue ajak ke bar. Masa sekarang lo juga nggak mau?"Dengan satu lengan dijadikan bantal, dan satunya lagi menyangga ponsel yang terhubung dengan Martin, Vino memandangi langit-langit.Gerutuan Martin yang dilatarbelakangi musik bar yang kencang menjadi satu-satu
"Nggak bisa."Bita memandangi profil samping wajah Vino dengan kernyitan dalam. "Nggak bisa gimana?""Setelah gue pikir matang-matang, gue nggak bisa mengajari lo lebih dari ciuman.""Kenapa?" Bita semakin dibuat Vino tak mengerti. "Katanya kamu bisa, kamu sanggup. Kenapa berubah pikiran?""Bukan







