Share

Bab 70

Author: macaroonie
last update publish date: 2026-06-18 12:08:39

"A-aku ..."

Tidak ada yang lebih membahagiakan Vino saat ini selain melihat wajah Fero berubah pias. Dengan pandangan menunduk selayaknya orang bersalah serta mulut yang belepotan merangkai kata, Fero bagai badut yang menghibur mata Vino.

"Kamu pernah juara olimpiade nasional?"

Suara Bita secara tragis memutus kesenangan Vino. Dilihatnya Bita yang menatap Fero dalam binar kagum yang tak repot gadis itu sembunyikan.

Fero mengangguk halus. Baru berani menga
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 230

    Secepatnya Bita mendorong Aiden menjauh. Meski sebenarnya kesal, ia berusaha mempertahankan ekspresi seolah tidak terjadi apa-apa. “Sorry, but I already have a future husband.” Tanpa menunggu respons, Bita segera meninggalkan Aiden yang hanya bisa menatap kepergiannya dengan bingung. Dengan setengah berlari, Bita menghampiri Aksa yang berdiri di samping Vino. Dan jangan tanya bagaimana keadaan Vino sekarang, karena Bita sungguh tidak berani menatapnya. “Mas, aku boleh ke kamar dulu? Aku udah capek banget,” pintanya. Aksa tersenyum. “Yaudah, ayo Mas antar.” “Biar Vino aja yang antar, Mas.” Bita yang baru bergerak mengambil clutch bag di meja menoleh cepat pada Vino dengan mata terbelalak, lalu buru-buru kembali memandang Aksa, berharap pria itu tidak langsung mengiyakan. Biasanya Aksa tidak pernah keberatan. Seperti kemarin, ketika urusan pekerjaan membuatnya tidak bisa menemani B

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 229

    Aiden tampak tak bisa menyembunyikan antusiasmenya. Dengan mata birunya yang berbinar, ia menyambut tangan Bita dan tersenyum lebar. “Aiden. Aiden Nicholas Frederick. You can call me Ai, Nicho, or love.”Bita menutup mulutnya, pura-pura terkekeh mendengar godaannya. “Nice to meet you, Ai.”Genggaman tangan mereka masih terjalin dan sengaja belum ia lepaskan. Dari sudut matanya, Bita melirik Vino. Aura laki-laki itu sudah berubah gelap. Bita mulai menghitung dalam hati.Satu.Dua.Tiga.Ternyata tidak terjadi apa-apa.Vino masih diam. Tidak menyela, tidak mendekat, bahkan tidak mengatakan apa pun. Namun, dari rahang yang terus mengeras dan sorot matanya yang tak pernah benar-benar lepas dari mereka, Bita tahu laki-laki itu jelas terusik.Bita menahan senyum kecil. Lihat saja nanti. Ia ingin tahu sampai sejauh mana Vino mampu bertahan.Gadis itu akhirnya melepaskan genggaman tangan mereka.“I thi

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 228

    Pria itu cukup tinggi, dengan rambut kecokelatan dan sepasang mata biru yang mencolok di antara keramaian.Bita mengerjapkan mata sebelum melirik ke sekitar, memastikan pria itu memang sedang berbicara dengannya. Setelah itu, ia kembali menatap pemilik mata biru tersebut. “You’re talking to me?” tanyanya menunjuk dirinya sendiri.Pria itu tertawa kecil. “Yeah. Who else could be the cutest and sweetest person here besides you?”Bukannya tersipu, Bita justru meringis. Ia sama sekali tidak tahu harus menanggapi pujian itu bagaimana, terlebih ketika pria tersebut tiba-tiba mengulurkan tangan.“Aiden.”Bita menatap tangan yang terulur itu beberapa saat. Ia bahkan belum sempat membalasnya ketika—“Hey, what’s going on, babe?”Sebuah tangan melingkar di pinggangnya, membuat Bita tersentak dan spontan menoleh. Vino sudah berdiri di sampingnya.Laki-laki itu menarik Bita sedikit mendekat, lalu menatap Aiden dengan sorot

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 227

    Wedding Ceremony Meta akan dilangsungkan pukul sebelas siang di grand ballroom hotel tempatnya menginap. Karena itu, sekitar pukul sembilan pagi Bita sudah berada di depan meja rias, mempersiapkan diri.Kini, setelah hampir satu jam berkutat di depan cermin, Bita memasang sepasang anting kecil sebagai sentuhan terakhir penampilannya.Bita mengenakan dress panjang berwarna sage green dengan potongan sederhana yang tetap terlihat elegan. Rambutnya ditata setengah tergerai, sementara beberapa helai dibiarkan jatuh lembut di sekitar wajah. Makeup-nya dibuat tipis dan natural. Base ringan, blush lembut, sedikit maskara, serta lip tint bernuansa peach yang membuat wajahnya terlihat segar.Tinggal satu anting lagi yang belum terpasang ketika terdengar bunyi bel dari balik pintu. Gerakan Bita seketika terhenti.Bita yakin, di balik pintu itu pasti Vino, entah datang sendirian atau bersama Aksa. Memikirkan laki-laki itu membuat Bita kembali terin

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 226

    “Nggak, Ta. Aku nggak mau,” tolak Vino tegas.Bita mendecak. Wajahnya sudah memelas. “Ayo, dong. Sekali aja di sini. Mas Aksa juga nggak bakal tiba-tiba datang. Dia pasti masih di kamar hotel buat ngurus kerjaannya. Itu juga yang bikin Mas Aksa nggak bisa nemenin aku dan akhirnya nyuruh kamu.”Aksa sempat menjelaskan bahwa ada kendala teknis di salah satu proyek yang sedang ditanganinya di Indonesia. Beberapa pekerjaan di lapangan ditemukan tidak sepenuhnya sesuai dengan gambar kerja sehingga tim membutuhkan arahan dan koordinasi darinya sebelum pekerjaan dilanjutkan.Meski sedang mengambil cuti, Aksa tetap harus turun tangan. Karena itu, ia memutuskan untuk tinggal di hotel dan menangani semuanya dari sana. Aksa bahkan sudah berpesan kepada Vino untuk menemani Bita berkeliling London.Jadi, untuk hari ini, praktis hanya ada mereka berdua. Dan Bita merasa seharusnya itu menjadi kesempatan yang sempurna.Bita memandangi Vino yang masih ter

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 225

    Beberapa detik kemudian, keheningan di antara mereka terpecah oleh bunyi ting yang menandakan lift telah tiba. Mereka turun menuju lantai dasar tempat restoran hotel berada. Begitu pintu lift kembali terbuka, Bita melangkah keluar bersama Vino. Namun, baru beberapa langkah memasuki area restoran, langkah Bita mendadak terhenti. Matanya membelalak. Restoran itu ternyata sudah cukup ramai. Beberapa tamu hotel terlihat duduk menikmati sarapan, sementara sebagian lainnya berjalan mengitari area buffet sambil membawa piring. Seketika itu pula Bita merasakan malu yang luar biasa. Ia ingin sekali berbalik dan melesat kembali ke kamar untuk bersolek sebaik mungkin. Bagaimana tidak? Penampilannya benar-benar khas orang yang baru bangun tidur, lengkap dengan rambut awut-awutan dan piyama kusut. Sementara hampir semua tamu di restoran tampak begitu segar dan rapi. Menyadari Bita yang masih mematung di tempat, Vino segera bertanya, “K

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 6

    "Bita." Ketukan pelan di kaca balkon membuat Bita yang hampir terlelap seketika terjaga. Kamar mereka memang saling berhadapan dengan jarak balkon yang cukup dekat, membuat Vino sering kali menyeberang dengan mudah jika ada perlu. Bita menghela napas, bangkit dari ranjang untuk menggeser pintu

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 4

    "Ati-ati, Mas!" Vino berseru pendek sembari melambaikan tangan, menatap sedan hitam Aksa yang mulai bergerak membelah jalanan kampus. Bita yang masih termenung setengah mati akibat pembicaraan tadi hanya sanggup memandangi mobil itu sampai tidak terlihat, lalu melangkah gontai memasuki koridor fa

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 3

    "Kamu ngapain?!"Saat keluar dari rumahnya, Bita dikejutkan dengan kedatangan Vino. Pasalnya pria itu tidak datang dengan motor yang biasanya mereka pakai untuk berangkat sekolah. Melainkan Toyota Sedan warna hitam yang sangat Bita kenali milik siapa terparkir didepan rumah.Vino menyandarkan pung

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 2

    "Bercinta? Kamu gila?!" Vino tidak langsung menjawab. Laki-laki itu justru mengulurkan tangan, menjepit kedua pipi Bita dengan telapak tangannya yang terasa hangat. "Lo kapan gedenya, sih? Hal begini aja harus dijelasin." Bita menepis tangan Vino dengan gusar. "Nggak usah pegang-pegang!" Vino

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status