ホーム / Zaman Kuno / Bisikan Darah Beku / EPISODE 7 — Pengawasan yang Terlalu Rapi

共有

EPISODE 7 — Pengawasan yang Terlalu Rapi

作者: red carnation
last update 公開日: 2025-12-15 18:31:54

Pagi itu, Akademi Lingyun terasa seperti sangkar emas.

Indah. Bersih. Sunyi—terlalu sunyi untuk tempat yang menampung ratusan murid berbakat. Formasi pelindung diperbarui semalam; garis cahaya tipis berwarna perak berpendar samar di sepanjang atap dan pilar. Penjaga berganti setiap dua jam. Tidak ada sudut mati.

Dan Lin Yuelian berada tepat di pusatnya.

Ia berjalan menuju aula kuliah dengan dua bayangan mengikuti dari jarak terukur—penjaga akademi, berpura-pura santai, tapi langkah mereka disel
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Bisikan Darah Beku   EPISODE 12 — Retakan yang Tidak Seharusnya Ada

    Lin Yuelian terbangun dengan napas tercekat, seolah seseorang baru saja menariknya keluar dari air dingin yang terlalu dalam.Dada kirinya terasa berat. Bukan sakit—lebih seperti ditekan oleh sesuatu yang tak terlihat. Tangannya refleks meraih kain di dadanya, tepat di atas segel yang selama enam belas tahun menjadi bagian dari tubuhnya. Segel itu tidak panas, tidak dingin, tapi ada getaran halus yang membuat kulitnya merinding.Mimpi itu… terlalu jelas untuk disebut mimpi.Ia masih bisa melihatnya bahkan dengan mata terbuka.Ibunya berdiri di tengah aula es yang luas, rambut hitamnya terurai, jubah putihnya bersih tanpa noda darah seperti yang selalu Yuelian bayangkan. Wajah itu tenang. Terlalu tenang. Seperti seseorang yang sudah menerima sesuatu jauh sebelum orang lain menyadarinya.“Lian’er,” suara itu memanggilnya.Yuelian melangkah maju—namun lantai di bawah kakinya retak, bukan pecah, hanya satu garis tipis yang menjalar cepat seperti kilat beku.Dan saat ia mendongak, bayangan

  • Bisikan Darah Beku   EPISODE 11 — Ingatan yang Tidak Pernah Terjadi

    Rasa sakit datang lebih dulu daripada mimpi.Lin Yuelian terbangun dengan sensasi seolah kepalanya dibelah dua, bukan oleh suara atau cahaya—melainkan oleh kenangan.Ia terengah, jemarinya mencengkeram seprai. Tidak ada darah. Tidak ada es. Namun di balik matanya, sesuatu berputar liar, menekan dari dalam seperti gelombang yang memaksa keluar.“Jangan… sekarang,” bisiknya.Segel di pergelangan tangannya berdenyut—bukan dingin seperti biasa, melainkan panas yang salah.Bai Shuqing muncul di permukaan wadah air dengan cipratan keras, sisiknya meredup. Ini bukan mimpi, katanya cepat. Ini disusupkan.Yuelian memejamkan mata—dan dunia runtuh.Ia berdiri di sebuah aula yang dikenalnya.Istana Changan.Namun ada yang berbeda.Langit-langitnya lebih rendah. Pilar-pilar naga dipenuhi retakan. Bau darah samar bercampur dupa.Dan di tengah aula—Ibunya berlutut.Tidak. Itu tidak mungkin.“Ibu?” suara Yuelian bergetar.Lin Meiyun mendongak. Wajahnya pucat, rambutnya berantakan, jubahnya ternodai

  • Bisikan Darah Beku   EPISODE 10 — Mimpi yang Tidak Pernah Diceritakan

    Darah menetes dari langit.Bukan hujan—melainkan tetesan berat yang jatuh satu per satu, menghantam permukaan danau beku di bawah kaki Lin Yuelian.Setiap tetes memecahkan es.Setiap retakan memantulkan wajahnya sendiri—namun lebih pucat, lebih dingin, dengan mata biru menyala yang bukan miliknya.Yuelian tersentak bangun.Napasnya tersangkut di tenggorokan, dadanya naik turun cepat. Kamar paviliun dalam masih gelap, hanya diterangi cahaya bulan yang menembus tirai sutra. Tapi hawa dingin menyelimuti kulitnya seolah mimpi itu belum pergi.Tangannya gemetar.Di pergelangan kirinya—tepat di bawah kulit—garis cahaya biru berdenyut pelan.Segel.Bai Shuqing muncul di permukaan wadah air dengan cipratan tajam, sisiknya berkilau biru pucat. Itu bukan mimpi biasa, katanya tanpa basa-basi. Itu sentuhan.Yuelian menelan ludah. “Sentuhan… siapa?”Siluman ikan biru itu menatapnya lama. Sesuatu yang tidak seharusnya mengingatmu—namun mengenal namamu.Rasa dingin itu tidak hilang keesokan paginya.

  • Bisikan Darah Beku   EPISODE 9 — Mereka yang Menyebutnya Takdir

    Tidak semua orang melihat kegagalan sebagai kekalahan.Bagi sebagian orang, kegagalan hanyalah cara dunia mengonfirmasi bahwa papan permainan masih utuh—dan bidak yang paling berharga akhirnya bergerak.Di bawah kota Changan, jauh dari cahaya lentera dan doa-doa palsu istana, ada ruang yang tidak tercatat dalam peta.Dindingnya bukan batu, melainkan lapisan kristal hitam yang memantulkan bayangan dengan cara keliru—wajah yang seharusnya bulat tampak memanjang, mata terlihat terlalu dalam. Udara di sana berbau lembap dan logam tua.Seorang pria berdiri di tengah ruangan.Jubahnya sederhana. Tidak ada lambang sekte. Tidak ada tanda klan. Rambutnya diikat rapi, wajahnya tertutup separuh bayangan. Jika ia berjalan di jalanan Changan, tidak seorang pun akan mengingatnya sepuluh detik kemudian.Di hadapannya, tiga orang berlutut.Dua di antaranya tidak bernapas.Tubuh mereka membeku dari dalam—urat darah pecah menjadi kristal kusam. Kematian yang rapi. Efisien.Yang ketiga gemetar.“Ulangi,

  • Bisikan Darah Beku   EPISODE 8 — Darah di Balik Tirai Istana

    Hujan berhenti tepat sebelum fajar.Udara di Akademi Lingyun terasa bersih—terlalu bersih, seolah sesuatu telah dicuci paksa dari dunia, meninggalkan aroma dingin yang tidak wajar. Lin Yuelian terbangun sebelum lonceng pagi berbunyi, dadanya terasa berat seperti ditekan es tipis.Ada yang salah, bisik Bai Shuqing dari dalam wadah air. Riakannya tidak stabil. Bukan di sini. Tapi dekat.Yuelian duduk perlahan. Jendela kamarnya tertutup rapat, namun hawa dingin tetap merembes masuk, menyentuh pergelangan kakinya. Ia memeluk lutut, mencoba menenangkan napas.“Sejak kapan firasatmu meluas?” bisiknya.Sejak mereka mulai menggunakan darah, jawab siluman ikan biru itu lirih. Dan sejak darah tertentu… mendekatimu.Nama itu tidak perlu disebut.Perintah datang saat matahari belum sepenuhnya terbit.Lin Yuelian dipanggil ke aula kecil sisi barat—bukan sebagai tersangka, melainkan sebagai “tamu istana”. Kalimat itu terdengar sopan, namun dua penjaga istana berdiri di depan pintunya, bukan penjaga

  • Bisikan Darah Beku   EPISODE 7 — Pengawasan yang Terlalu Rapi

    Pagi itu, Akademi Lingyun terasa seperti sangkar emas.Indah. Bersih. Sunyi—terlalu sunyi untuk tempat yang menampung ratusan murid berbakat. Formasi pelindung diperbarui semalam; garis cahaya tipis berwarna perak berpendar samar di sepanjang atap dan pilar. Penjaga berganti setiap dua jam. Tidak ada sudut mati.Dan Lin Yuelian berada tepat di pusatnya.Ia berjalan menuju aula kuliah dengan dua bayangan mengikuti dari jarak terukur—penjaga akademi, berpura-pura santai, tapi langkah mereka diselaraskan dengan napasnya. Setiap kali Yuelian berhenti, mereka berhenti. Setiap kali ia berbelok, mereka berbelok.Ini bukan perlindungan, gumam Bai Shuqing dari dalam wadah air. Ini kurungan yang dibuat sopan.Yuelian mengangguk pelan. Ia merasakan hal yang sama. Tidak ada belenggu di pergelangan tangan, tapi udara di sekelilingnya terasa lebih sempit.Di aula, bisik-bisik memudar saat ia masuk. Bukan ejekan kali ini—melainkan kehati-hatian. Murid-murid menggeser bangku sedikit menjauh. Beberapa

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status