ログインTerjepit utang nyawa demi operasi ibunya, Helena terpaksa menukar kehormatannya dengan koin emas dari sang Duke yang haus belaian. Di balik kemegahan kastil, Arthur yang dingin dan diabaikan istrinya menuntut Helena bukan sekadar menjadi pelayan, melainkan pemuas gairah di ranjang rahasianya. Satu tanda tangan pada kontrak gelap itu menjerat Helena dalam pusaran syahwat dan pengkhianatan yang tak memiliki jalan pulang.
もっと見る“Selamat pagi, Tuan Duke. Saya Helena, pelayan baru di kastil ini dan atas perintah Duchess, saya diminta untuk memenuhi semua keperluan Tuan.”
Suara Helena terdengar sedikit bergetar, namun ia berusaha menjaga punggungnya tetap tegak di tengah aula utama yang megah dan mencekam. Di hadapannya, Duke Arthur Grosvenor berdiri dengan keangkuhan yang meluap-luap. Pria itu bahkan tampak tidak mengenakan jubah kebesarannya, hanya kemeja putih dengan kancing atas terbuka yang memperlihatkan gurat kemarahan yang belum padam di wajahnya yang rupawan. Helena bisa merasakan tatapan mata elang Arthur memindai seluruh sosoknya, mulai dari ujung sepatu hitamnya yang bersih hingga seragam pelayan yang terasa sedikit terlalu ketat di bagian dada. Ia merasa seperti mangsa di bawah pengawasan predator. Arthur mendengus, lalu sebuah tawa sinis yang membuat bulu kuduk Helena meremang. “Memenuhi semua keperluanku?” Arthur melangkah maju untuk memangkas jarak di antara mereka hingga Helena bisa mencium aroma wiski dan tembakau mahal yang menguar dari tubuh sang Duke. “Selene rupanya sudah benar-benar kehilangan akal sehatnya. Dia ingin lepas tangan dari tanggung jawabnya sebagai istri, hingga urusan pribadiku pun kini dilimpahkan ke tangan seorang pelayan,” desis Arthur dengan nada yang penuh luka sekaligus amarah yang tertahan. Mendengar ucapan tersebut, Helena langsung mengerjap, dan kepalanya sedikit miring karena bingung. “Tanggung jawab ... istri, Tuan? Saya tidak mengerti. Duchess hanya memberi instruksi agar saya memastikan Anda tidak kekurangan apa pun selama beliau berada di kantor gubernur.” Wajah Arthur sontak mengeras, dan rahangnya mengetat hingga otot-otot di lehernya menonjol. “Kau tidak perlu mengerti urusan ranjang yang dingin di rumah ini, Gadis Kecil. Yang perlu kau tahu adalah aku tidak butuh pelayan tambahan. Aku tidak butuh mata-mata yang dikirim istriku untuk mengawasi kegiatanku di sini.” Arthur berbalik badan, hendak melangkah pergi meninggalkan Helena yang terpaku. “Keluar dari sini. Aku akan menyuruh kusir mengantarmu kembali ke desa.” Jantung Helena langsung mencelos mendengar penolakan sang Duke yang tampaknya tak membutuhkannya di sana. “Tolong, Tuan Duke! Jangan!” Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Helena. Ia pun mengambil langkah berani dengan mendekat, lalu tangannya hampir menyentuh lengan kemeja Arthur sebelum ia menariknya kembali karena sadar akan posisinya. Napas Helena memburu karena rasa panik mulai menguasai dadanya. “Saya mohon, jangan usir saya. Saya sangat membutuhkan pekerjaan ini,” pinta Helena dengan suara yang nyaris berbisik namun penuh kesungguhan. Bayangan wajah adik-adiknya yang kelaparan di rumah, tumpukan utang ayahnya, dan ibunya yang sakit jantung akut, melintas di benaknya, hingga memberinya keberanian yang nekat. “Saya akan melakukan apa saja. Apa pun yang Anda perintahkan. Saya tidak akan mengeluh, saya tidak akan membantah. Tolong, biarkan saya tinggal dan melayani Anda.” Arthur menghentikan langkahnya. Lalu berbalik perlahan dan menatap Helena dengan sorot mata yang kini berubah, bukan lagi kemarahan murni, melainkan sebuah ketertarikan gelap yang berbahaya. Ia memperhatikan bagaimana Helena menggigit bibir bawahnya, tengah menanti putusan dengan mata cokelat yang berkaca-kaca. “Apa saja?” tanya Arthur dengan suara rendah yang serak. Kemudian melangkah kembali mendekati Helena, dan kali ini begitu dekat hingga ujung sepatu mereka bersentuhan. “Kau sadar apa yang kau tawarkan, Helena? Di kastil yang sepi ini, di mana istriku lebih memilih dokumen negara daripada suaminya sendiri, kata ‘apa saja’ memiliki arti yang sangat luas.” Helena menelan ludahnya karena kerongkongannya terasa kering. Ia bisa merasakan hawa panas yang memancar dari tubuh Arthur. Meskipun hatinya berteriak bahwa ini adalah jebakan, logika kemiskinannya memaksa Helena untuk tetap teguh. “Saya tahu, Tuan,” sahut Helena pelan namun mantap. “Saya tidak punya alasan untuk menolak penguasa di mansion ini, selama saya bisa bekerja.” Sebuah seringai gelap muncul di sudut bibir Arthur. Ia lalu meraih sehelai rambut Helena yang jatuh ke bahu, memilinnya dengan jari-jari kasarnya yang hangat. Tekanan di antara mereka meledak seketika, menciptakan atmosfer yang jauh lebih menyesakkan daripada udara musim gugur di luar sana. “Selene pikir dia bisa menggantikan kehadirannya dengan gadis sepertimu untuk menguji kesabaranku,” gumam Arthur dengan tatapan matanya kini terpaku pada bibir Helena. “Masuklah,” perintah Arthur dengan nada yang penuh ancaman sekaligus damba yang tak terselubung. “Dan tutup pintunya, Helena. Kita akan lihat sejauh mana kau bisa bertahan melayaniku.”Badai di luar kastil Grosvenor tidak sebanding dengan kemelut yang menghantam dada Helena. Bayangan wajah ibunya yang pucat di ranjang rumah sakit, dikelilingi bau karbol dan suara mesin medis yang dingin, terus menghantuinya.Seratus koin emas. Harga yang mustahil digapai oleh seorang pelayan, namun terasa begitu murah bagi pria yang kini duduk dengan angkuh di hadapannya.Helena menarik napas panjang, menatap Arthur yang sedang menyesap kopi hitamnya dengan tenang. “Sa-saya ... saya bersedia, Tuan. Asalkan Anda menepati janji untuk mengirimkan biaya operasi itu secara tunai jam ini juga.”Senyum tipis terukir di wajah Arthur. Bukan senyum hangat, melainkan seringai kemenangan seorang predator yang sudah memprediksi mangsanya akan menyerah. Ia lalu meletakkan cangkir porselennya tanpa suara.“Keputusan yang bijak, Helena. Aku tidak pernah mengingkari kontrak apa pun itu,” sahut Arthur rendah.Sebelum bangkit untuk pergi ke kantor pemerintahan, Arthur melangkah mendekat.Helena terpak
“T-Tuan Arthur ….”Tubuh Helena menggigil hebat. Meski uap panas masih mengepul di ruangan itu, ia merasa seolah disiram air es. Keringat dingin bercucuran di pelipisnya, menyatu dengan sisa uap yang menempel di wajahnya yang kini merah padam.“Kenapa kau berlagak terkejut?” sahut Arthur dengan nada rendah yang menghina.Matanya kemudian menatap tajam ke arah dada Helena yang turun naik karena napas yang memburu. “Bukankah di kedai perbatasan itu kau sudah terbiasa melakukan ini dengan pria-pria yang membayarmu?”Sesaat, Helena merasa jantungnya berhenti berdetak. Rasa sakit hati yang luar biasa menghantam dadanya, lebih sakit daripada remasan tangan Arthur.Tubuhnya menegang kaku. Memang benar ia pernah menjadi penghibur di kedai bar kecil di kampungnya, tempat sederhana yang menjadi satu-satunya sumber nafkahnya.Namun, ia tidak pernah menjual harga dirinya. Ia melihat teman-temannya menyerahkan tubuh demi koin tambahan, tapi Helena selalu menjaga batasannya.“Saya bukan wanita mura
Gagang pintu kuningan itu berputar dengan suara klik yang tajam. Selene kemudian melangkah masuk ke dalam ruang pemandian yang masih dipenuhi kepulan uap putih tebal.Sepatu hak tingginya berdenting ritmis di atas lantai marmer, memecah keheningan yang sejak tadi mencekik Helena. Di balik lemari handuk besar yang pengap, Helena meringkuk, sembari menahan napas hingga dadanya terasa nyeri.“Arthur? Kenapa kau lama sekali di dalam sini? Aku sudah memanggilmu dua kali dari luar,” teriak Selena terdengar tidak sabar.Dia lalu mengibaskan tangan di depan wajahnya, mencoba menghalau uap panas yang menghalangi pandangan.Sementara Arthur tetap tenang, bahkan nyaris terlalu tenang.Dia tampak sedang menyandarkan punggungnya di tepian bak mandi, meraih sabun batangan dan mulai menggosok lengannya dengan gerakan santai. Air memercik pelan saat ia bergerak, menciptakan suasana seolah-olah ia sedang menikmati waktu sendirinya dengan damai.“Airnya sangat nyaman, Selene. Aku sedang mencoba melemas
“Jangan hanya berdiri di sana, Helena. Kemari.”Helena yang sedang berdiri kaku di sana lantas tersentak usai mendengar perintah sang Duke untuk mendekat.Pria itu sudah berada di dalam air, menyandarkan punggung kokohnya pada tepian bak. Bahunya yang lebar terpampang jelas, kecokelatan dan berkilau oleh sisa air yang mengalir turun ke dada bidangnya yang berotot.Helena melangkah perlahan, namun kakinya terasa berat seolah terikat timah. “S-saya harus mulai dari mana, Tuan?”“Gosok bahuku. Ototku kaku sekali karena rapat dengan dewan seharian,” perintah Arthur tanpa menoleh sedikit pun.Dengan tangan yang gemetar hebat, Helena berlutut di belakang pria itu. Ia mencelupkan kain ke dalam air hangat, lalu perlahan menyentuh kulit bahu Arthur.Saat jemarinya yang halus bersentuhan dengan kulit kasar sang Duke, sebuah desahan rendah lolos dari bibir pria itu, hingga membuat Helena berjengit kaget.“Tekan lebih kuat. Kau tidak sedang mengelap meja, Helena,” tegur Arthur.“Maaf, Tuan,” bisi






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.