LOGINCahaya putih dari lampu di langit-langit membuat kelopak mata Alana terasa berat. Perlahan, ia membuka mata. Pandangan awalnya buram, namun sedikit demi sedikit bayangan di hadapannya menjadi jelas.
Sosok pertama yang ia lihat adalah Nero. Kakaknya duduk di kursi tepat di samping ranjang, tubuhnya condong ke depan seolah tak ingin kehilangan sedetik pun perubahan pada diri Alana.
Jas hitam yang tadi ia kenakan saat pesta sudah terlepas, kini hanya tersisa kemeja putih dengan beb
Mata Alana mengerjap cepat, berusaha mengumpulkan kesadaran yang tercerai-berai. Sensasi hangat dan lembap di bibirnya masih terasa nyata, meninggalkan jejak yang membuat detak jantungnya berpacu tidak karuan. Ia menatap sosok pria yang berdiri di samping ranjang dengan postur tubuh tegap yang begitu familiar."Kak Nero?" gumam Alana, suaranya parau.Nero menunduk, menatap Alana dengan sorot mata yang sulit diartikan—datar, namun intens. "Mengantuk?"Alana menggeleng cepat, meskipun rasa kantuk masih menggelayuti kelopak matanya. Ia berusaha mengenyahkan pikiran tentang mimpi aneh barusan. "Tidak... hanya sedikit terkejut.""Ayo pulang. Pekerjaanku sudah selesai," ucap Nero singkat. Tanpa menunggu jawaban, ia berbalik dan melangkah menuju pintu.Alana masih terduduk di ranjang, melamun sejenak. Pikirannya dipenuhi pertanyaan yang menggelitik. Apakah mimpi tadi nyata? Ia menyentuh bibirnya sendiri. Rasanya benar-benar basah. Mungkinkah Nero baru saja menciumnya saat ia tidur?Namun, me
Keheningan di dalam ruangan kerja Nero mulai terasa mencekik. Setelah tiga jam bergelut dengan modul kuliah online dan menyelesaikan tumpukan tugas esai, Alana akhirnya menutup laptopnya dengan suara klik yang tajam. Ia menyandarkan punggung ke kursi kerja Nero yang empuk, kursi yang aromanya sangat khas—campuran antara kulit mahal dan parfum maskulin pria itu.Alana menatap meja besar itu. Ia sengaja meninggalkan ponselnya di rumah. Ia tahu dirinya pengecut. Ia tidak siap melihat notifikasi dari grup kampus atau pesan-pesan asing yang mungkin masih menghujatnya karena foto masa lalunya. Baginya, tanpa ponsel, dunia terasa sedikit lebih aman, meskipun membosankan.Ia bangkit dan mulai berjalan berkeliling. Matanya menyisir setiap sudut ruangan. Ada pot bunga yang tertata simetris, piagam-piagam penghargaan di dinding yang membuktikan kejeniusan Nero, hingga papan nama di atas meja: Nero Graves – Chief Executive Officer.Alana menyentuh papan nama itu dengan ujung jarinya. "Nero Graves
Pagi itu, jalanan menuju pusat bisnis kota tampak padat, namun di dalam mobil SUV mewah milik Nero, suasana terasa seperti berada dalam ruang kedap suara yang dingin. Nero sengaja tidak membawa sopir seperti biasanya. Ia duduk di balik kemudi dengan setelan jas yang sempurna, sementara Alana duduk di sampingnya, memeluk tas ransel berisi laptop dengan erat di pangkuannya.Sejak mesin mobil dinyalakan, Alana hanya terdiam. Pandangannya lurus ke depan, namun pikirannya bercabang ke mana-mana. Ia bersiap mental jika tiba-tiba Nero menanyakan kejadian di ruang makan tadi. Posisi Alana dan Axel tadi memang sangat ambigu; dorongan tangan Alana, jarak mereka yang terlalu intim, dan teriakan peringatan itu. Alana bertanya-tanya, apakah Nero mengajaknya ke kantor karena curiga? Ataukah ini cara Nero untuk menjauhkannya dari pengaruh liar Axel? Seingat Alana, Nero bukan tipe orang yang suka membawa urusan rumah ke kantor, apalagi membawa adik tiri yang tidak tahu apa-apa soal bisnis.Nero melir
Suasana pagi di kediaman Graves selalu terasa dingin, sepadan dengan arsitektur minimalis modernnya yang didominasi marmer abu-abu. Alana terbangun dengan kepala yang sedikit berat. Sisa-sisa kekesalannya semalam terbawa hingga ke alam mimpi, membuatnya terus terjaga dan berguling gelisah di atas ranjang.Ia turun ke lantai bawah dengan langkah gontai. Rambut panjangnya yang biasanya tertata rapi kini sedikit acak-acakan, jatuh di bahu gaun tidur selutut berwarna broken white yang ia kenakan. Tenggorokannya terasa kering kerontang, ia butuh sesuatu yang dingin untuk menyiram rasa sesak yang masih tertinggal di dadanya.Di ruang makan, para pelayan sudah sibuk menata piring-piring porselen. Aroma kopi yang kuat dan roti panggang mulai memenuhi udara."Selamat pagi, Nona Alana. Ingin sarapan sekarang?" sapa salah satu pelayan dengan sopan.Alana hanya memberikan senyum tipis yang dipaksakan. "Pagi, Bi. Nanti saja, aku mau minum dulu."Ia melangkah menuju kulkas besar di sudut dapur bers
Mobil mewah Nero meluncur pelus memasuki area parkir kediaman Graves yang megah. Suasana di dalam kabin sunyi, hanya menyisakan aroma parfum maskulin Nero dan sisa rasa manis es krim melon di lidah Alana yang mendadak terasa pahit. Bayangan Axel yang tertawa lepas sambil merangkul wanita asing di trotoar tadi terus berputar-putar di kepala Alana bagaikan kaset rusak.Nero mematikan mesin, lalu menoleh singkat pada Alana yang tampak melamun. "Sudah sampai. Ayo turun."Alana tersentak, lalu mengangguk pelan. Mereka berjalan beriringan memasuki lobi rumah yang sunyi. Lampu kristal di langit-langit memantulkan cahaya temaram, menciptakan bayangan panjang di lantai marmer."Mau langsung tidur?" tanya Nero saat mereka sampai di kaki tangga. Suaranya datar, namun ada nada perhatian yang terselip di sana.Alana mengangguk, mencoba memberikan senyum tipis. "Iya, Kak. Hari ini cukup melelahkan.""Baiklah. Bersih-bersih dulu sebelum tidur. Aku tidak mau kuman dari jalanan menempel di mana-mana.
Malam di kediaman Graves terasa lebih tenang dari biasanya. Alana sudah berdiri di depan cermin selama lima belas menit, memastikan blazer marun yang dikenakannya tampak serasi dengan celana panjang hitamnya. Ia ingin terlihat dewasa, namun tetap ingin mempertahankan sisi cerianya.Tok, tok, tok."Alana, apa kau sudah siap?" Suara berat Nero terdengar dari balik pintu, konsisten dengan nada tenang dan otoritasnya."Iya! Sebentar lagi, Kak!" teriak Alana dari dalam. Ia menyambar tas kecilnya, memberikan satu kedipan terakhir pada pantulannya di cermin, lalu bergegas membuka pintu.Nero berdiri di sana, mengenakan kemeja hitam dengan lengan yang digulung hingga siku. Ia tampak maskulin sekaligus elegan. Alana langsung menyambut wajah kakaknya itu dengan senyum paling lebar yang ia miliki hari ini."Jadi, kita akan makan apa malam ini?" ucapnya bersemangat, matanya berbinar-binar seolah sedang menunggu hadiah besar.Nero memperhatikan perubahan aura Alana. Gadis itu tampak jauh lebih hid
Tring!Dering alarm ponsel Alana membuatnya terbangun. Kelopak matanya terasa berat, tubuhnya lemas seperti habis berlari jauh. Ia mendapati dirinya sudah berada di kamarnya sendiri. Seketika, ingatan semalam menyeruak—Axel, tatapan matanya, sentuhannya, dan… Alana menjerit kecil, buru-buru menarik
Malam itu udara kamar Axel terasa lain. Alana melangkah masuk dengan ragu, jantungnya berdegup seperti hendak pecah. Kamar itu remang, hanya diterangi cahaya lampu meja dan sorot tipis dari balkon yang terbuka.Ia tidak langsung melihat Axel.Kosong.Tapi langkahnya terhenti ketika pintu balkon ber
Malam sudah begitu hening ketika Alana menutup laptopnya. Tugas yang sejak sore menumpuk akhirnya rampung, meski matanya terasa berat.Ia sudah ingin rebah saja di ranjang, ketika bunyi notifikasi email masuk membuatnya menoleh kembali. Satu pesan baru.Dari pengirim yang sama.Black Jack.Alana se
Sore itu, langit kampus berwarna oranye keemasan. Mahasiswa masih lalu-lalang keluar gerbang, sebagian berbincang, sebagian lagi sibuk dengan ponsel masing-masing. Alana berjalan pelan, ransel digendong di bahu.Ketika hampir sampai di depan gerbang, langkahnya terhenti.Di sana, sebuah mobil hitam







