LOGINFollow me on IG: @sizuniilee Alana tak pernah menyangka, pindah ke rumah baru berarti menyerahkan dirinya pada dua godaan yang tak termaafkan. Axel, kakak tirinya yang urakan, mengajarinya kenikmatan yang membuatnya candu. Dan Nero, sang kakak sulung yang dingin, justru membuatnya terikat pada pesona yang tak bisa ia lawan. Semua batas seharusnya jelas. Semua larangan seharusnya tak bisa ditembus. Namun semakin ia berusaha menjauh, semakin dalam ia tenggelam dalam bisikan dosa yang memabukkan.
View MoreAlana berdiri di depan gerbang besi hitam yang menjulang tinggi. Ukirannya rumit, tampak angkuh sekaligus indah, seperti gerbang istana dalam dongeng.
Bedanya, ini bukan dongeng. Ini kenyataan baru yang harus ia jalani, sebuah rumah megah milik keluarga Graves, tempat ibunya kini tinggal bersama suami barunya. Mobil berhenti. Supir turun, membukakan pintu untuknya. Dengan langkah ragu, Alana menapaki jalan setapak menuju rumah utama. Setiap sisi dipenuhi taman yang tertata sempurna, dengan patung-patung marmer putih dan air mancur berkilauan di tengah halaman. Rumah itu begitu besar hingga membuatnya merasa kecil. "Apa aku benar-benar akan tinggal di sini...?" pikirnya. Ada kekaguman, tapi juga ketakutan yang merayap. Selama hidup, Alana hanya mengenal rumah sederhana di pinggiran kota, tempat suara ayam tetangga terdengar setiap pagi dan jalanan tanah selalu becek setelah hujan. Kini, semua tampak asing. Dinding menjulang tinggi, jendela kaca besar, dan kesunyian mewah yang membuatnya gugup. Di pintu masuk, Edward Graves sudah menunggu. Pria dewasa yang masih sangat tampan itu berdiri tegak dengan jas abu-abu yang rapi. Senyumnya tipis, lebih terlihat sebagai formalitas ketimbang sambutan hangat. “Selamat datang di rumahmu yang baru, Alana,” kata Edward, nada suaranya datar. Alana mengangguk, berusaha sopan. “Terima kasih, Tuan Graves.” Dia ingin berkata 'ayah tiri', tapi lidahnya kelu. Ibunya, Vivienne, segera meraih tangan Alana dan menepuknya lembut. “Kamu pasti capek, sayang. Ayo masuk, Mama tunjukkan kamarmu nanti.” Wajah Vivienne penuh senyum, seolah yakin semua ini akan menjadi awal indah. Namun sebelum langkah mereka berlanjut, dua sosok muncul dari dalam rumah. Yang pertama, tinggi dan tegap dengan kemeja hitam pas badan. Rambutnya rapi, wajahnya serius, sorot matanya tajam seperti sedang menilai. Itulah Nero Graves, putra sulung Edward. Tatapannya berhenti lama pada Alana, dingin dan menghitung, seakan hanya dengan sekali pandang dia sudah menentukan Alana tak pantas berada di sini. “Ini adik barumu, Nero,” ucap Edward. Nero hanya mengangguk singkat. “Selamat datang,” katanya, nadanya formal, tanpa sedikit pun kehangatan. Alana menelan ludah, merasa tercekik oleh tatapan itu. Kakak tirinya terlihat mengerikan. Kemudian, suara langkah santai terdengar dari tangga. Axel Graves turun dengan kemeja putih yang kancing atasnya terbuka, rambut acak-acakan, dan senyum lebar di wajah. Berbanding terbalik dengan Nero, Axel terlihat urakan, seolah tak peduli pada aturan rumah mewah ini. “Oh, jadi ini yang namanya Alana?” Axel menyipitkan mata, lalu menyeringai nakal. “Wah, lebih manis dari yang kubayangkan.” Dia menyandarkan tubuh ke pegangan tangga, tatapannya terang-terangan menelusuri Alana dari atas sampai bawah. Alana terdiam, wajahnya memanas. “Uh… terima kasih?” suaranya terdengar gugup. Vivienne buru-buru menengahi. “Axel, jangan membuat adikmu tidak nyaman.” “Tapi aku cuma jujur, Ma,” jawab Axel, terkekeh pelan. Lalu, tanpa rasa bersalah, ia menambahkan, “Kalau begini sih aku jadi nggak keberatan punya adik baru.” Alana merasa darahnya naik ke wajah. Tangannya meremas tali tas di pundak, berusaha menutupi kegugupan. Dalam hati, ia langsung sadar, rumah baru ini memang megah, tapi orang-orang di dalamnya… tidak semuanya ramah. "Aku harap kalian bisa akur di rumah ini. Nero, jangan buat Alana merasa tertekan. Axel, jaga sikapmu dan jangan bertingkah," ingat Edward. "Apa sih Pa, mana mungkin aku bertingkah. Aku suka kok punya adik perempuan." Axel tersenyum ke arah Alana. Alana menunduk kikuk. Ini sangat tidak nyaman untuknya. "Ayo sayang, Mama antar kamu ke kamar." Vivienne menggandeng tangan Alana untuk pergi dari sana. Sementara Axel melompat kecil membuntuti mereka. "Aku ikut!"Keheningan yang mencekam itu seolah membekukan udara di dalam lorong apartemen. Axel menatap layar ponsel Nero dengan rahang yang mengatup rapat, kilatan syok di matanya perlahan berubah menjadi kemarahan baru yang lebih pekat. Namun, alih-alih mundur, cengkeraman tangan Axel pada pergelangan tangan Alana justru semakin mengencang."Aku bisa atasi masalah itu sendiri, kau jangan ikut campur!" desis Axel, suaranya rendah dan penuh penekanan, mencoba menutupi badai yang sedang bergemuruh di dalam dadanya.Nero tidak bergeming. Dengan gerakan yang tidak kalah cepat dan kuat, tangan besarnya kembali menyambar pergelangan tangan Alana yang satunya, menahan gadis itu agar tidak bergeser satu senti pun. "Selagi itu urusan Alana, aku akan terus ikut campur."Kedua pria dominan itu saling melempar tatapan mematikan. Ketegangan di antara mereka begitu pekat, seolah satu percikan kecil saja bisa meledakkan seluruh tempat itu. Alana yang berada di tengah-tengah merasa tubuhnya seperti hendak terb
Di pinggir jalan raya yang diterangi lampu neon temaram, Axel duduk diam di atas motor sportnya. Deru mesin motornya yang sengaja tidak dimatikan berpadu dengan gemuruh amarah di dadanya.Ponsel di dalam saku jaket kulitnya bergetar. Axel langsung menyambar benda itu dan menempelkannya ke telinga tanpa membuang waktu."Bagaimana?" tanya Axel, suaranya rendah dan sarat akan ancaman."Aku sudah mengikutinya sejak dari rumah sakit, Bang. Mobil Nero berhenti di sebuah gedung apartemen mewah di pusat kota. Dia membawa Alana masuk lewat lift khusus," lapor suara seorang pria di seberang telepon. "Akan aku kirimkan alamat lengkapnya sekarang.""Bagus," jawab Axel singkat.Ting. Sebuah notifikasi pesan masuk, menampilkan sebuah alamat lengkap beserta nomor lantai penthouse milik Nero. Mata Axel berkilat tajam di balik kaca helmnya. Rahangnya mengeras hingga urat-urat di lehernya menonjol."Kena kau, Nero," desis Axel penuh dendam.Ia langsung menarik kaca helmnya ke bawah, memutar gas dengan
Tiga hari berlalu di rumah sakit, dan akhirnya Dokter Clarissa mengizinkan Alana untuk pulang. Namun, kepulangan Alana kali ini sama sekali tidak seperti yang ia bayangkan. Langkahnya di sepanjang koridor rumah sakit tidak dibiarkan bebas. Tangan besar Nero menggandengnya dengan begitu erat, seolah-olah Alana adalah porselen rapuh yang bisa hancur kapan saja jika tersenggol orang lain."Kak, tidak usah seperti ini. Aku bisa jalan sendiri, sungguh," bisik Alana pelan, merasa agak risih karena beberapa perawat sesekali melirik ke arah mereka. "Aku sudah sehat, Kak Nero."Nero tidak melepaskan genggamannya, bahkan tidak menoleh sedikit pun. "Diam dan jalan saja, Alana. Jangan membantah."Alana hanya bisa menghela napas pasrah. Ketika mereka sampai di lobi, sebuah mobil sedan hitam mewah sudah menunggu. Nero melangkah maju, membukakan pintu bagian belakang untuk Alana. Setelah Alana masuk dengan ragu, Nero ikut masuk dan duduk tepat di sampingnya, menutup pintu dengan bunyi debuman yang s
Pintu kamar rawat VIP itu bergeser pelan saat Dokter Clarissa melangkah keluar dengan senyum tipis yang tampak sedikit dipaksakan. Di tangannya terdapat berkas medis yang baru saja ia perbarui. Ia menatap Alana yang masih duduk bersandar di ranjang, lalu beralih menatap Nero yang berdiri di koridor."Semuanya sudah benar-benar stabil, Nero," ucap Clarissa dengan nada profesional yang tenang. "Reaksi alerginya sudah ditekan sepenuhnya. Dia hanya butuh istirahat total dan makanan bergizi untuk memulihkan staminanya. Aku sudah memberikan resep vitamin tambahan."Nero hanya mengangguk singkat, matanya sudah tidak sabar untuk kembali masuk ke dalam ruangan."Oh, satu lagi," Clarissa menahan langkah Nero sejenak. "Jangan terlalu keras padanya. Dia baru saja melewati trauma fisik dan mental. Pastikan dia merasa aman.""Aku tahu," jawab Nero datar.Begitu Clarissa menjauh, Nero segera masuk dan menutup pintu rapat-rapat, mengunci kebisingan rumah sakit di luar sana. Suasana mendadak menjadi s












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.