Chapter: Bab 87 - Amarah NeroSinar matahari pagi menembus celah gorden, menciptakan pola garis-garis cahaya yang jatuh tepat di atas ranjang Alana. Ia terbangun bukan karena alarm, melainkan karena sebuah sentuhan lembut yang merayap di sepanjang garis rahangnya. Jemari Axel yang biasanya kasar, kini terasa begitu hati-hati saat membelai pipinya.Alana membuka mata perlahan, dan hal pertama yang ia lihat adalah wajah Axel yang sedang menatapnya dengan intensitas yang aneh—bukan tatapan dominan yang penuh tuntutan seperti semalam, melainkan tatapan yang hampir bisa dikatakan... lembut. Axel mengecup keningnya dengan durasi yang sedikit lebih lama dari biasanya."Sudah bangun, princess?" bisik Axel serak.Kesadaran Alana yang baru setengah jalan seketika terhantam realitas. Seluruh ingatan tentang kejadian semalam—desahan yang memecah keheningan, hingga rasa perih dan kepasrahan yang ia berikan—datang menghantamnya seperti banjir bandang. Alana terjingkit di atas ranjang, tubuhnya menegang hebat."A-apa yang... apa
Last Updated: 2026-04-14
Chapter: Bab 86 - Kau adalah milikkuTanpa menunggu jawaban atau persetujuan, Axel membiarkan tubuhnya merubuh, mengunci tubuh Alana di bawahnya. Ciumannya kembali menuntut, kasar pada awalnya, namun perlahan berubah menjadi ritme yang menghancurkan pertahanan Alana. Setiap kali Alana mencoba mengumpulkan sisa-sisa harga dirinya untuk menolak, Axel menghapus perlawanan itu dengan jilatan di leher dan gigitan lembut di bahunya yang membuat napas Alana tercekat.Perlawanan Alana perlahan meluruh, digantikan oleh gelombang panas yang tidak bisa ia jelaskan. Tangan Axel yang besar mulai merayap liar di balik gaun tidur tipis itu. Ia menyentuh setiap inci kulit Alana dengan otoritas yang membuat gadis itu gemetar. Dari sepasang puncak dadanya yang sensitif hingga paha bagian dalamnya yang terasa panas, Axel memainkannya dengan ritme yang sengaja dibuat untuk menaklukkan.Alana tidak tahu mengapa ia begitu mudah menyerah. Mungkin karena ia lelah berpura-pura membenci pria yang selama ini selalu menghantuinya, atau mungkin kare
Last Updated: 2026-04-13
Chapter: Bab 85 - Aku memang menyukaimuHawa malam itu terasa berbeda, berat dengan ketegangan yang belum sepenuhnya surut. Alana baru saja menyelesaikan ritual pembersihannya. Ia melangkah keluar dari kamar mandi dengan gaun tidur berbahan sutra tipis yang jatuh tepat di atas lutut. Tanpa pakaian dalam, ia merasa bebas sekaligus rentan.Ia segera naik ke atas ranjang, memposisikan dirinya tengkurap sambil membuka laptop. Justin Timberlake - Mirrors mengalun lembut dari speaker ponselnya, memberikan sedikit kedamaian yang ia butuhkan.Alana mulai menyenandungkan liriknya, memejamkan mata, membiarkan melodi itu mengusir bayangan tatapan tajam Nero dan amarah Axel yang sempat meledak pagi tadi. Namun, kedamaian itu pecah saat sebuah suara bariton yang familiar menyela dari arah pintu."Bahagia banget kayaknya hari ini."Alana tersentak, laptopnya nyaris meluncur dari pangkuan. Ia menoleh dan mendapati Axel sedang bersandar santai di bingkai pintu, tangannya terlipat di depan dada, menatapnya dengan tatapan yang sulit diartika
Last Updated: 2026-04-13
Chapter: Bab 84 - Erangan di balik pintuMata Alana mengerjap cepat, berusaha mengumpulkan kesadaran yang tercerai-berai. Sensasi hangat dan lembap di bibirnya masih terasa nyata, meninggalkan jejak yang membuat detak jantungnya berpacu tidak karuan. Ia menatap sosok pria yang berdiri di samping ranjang dengan postur tubuh tegap yang begitu familiar."Kak Nero?" gumam Alana, suaranya parau.Nero menunduk, menatap Alana dengan sorot mata yang sulit diartikan—datar, namun intens. "Mengantuk?"Alana menggeleng cepat, meskipun rasa kantuk masih menggelayuti kelopak matanya. Ia berusaha mengenyahkan pikiran tentang mimpi aneh barusan. "Tidak... hanya sedikit terkejut.""Ayo pulang. Pekerjaanku sudah selesai," ucap Nero singkat. Tanpa menunggu jawaban, ia berbalik dan melangkah menuju pintu.Alana masih terduduk di ranjang, melamun sejenak. Pikirannya dipenuhi pertanyaan yang menggelitik. Apakah mimpi tadi nyata? Ia menyentuh bibirnya sendiri. Rasanya benar-benar basah. Mungkinkah Nero baru saja menciumnya saat ia tidur?Namun, me
Last Updated: 2026-04-12
Chapter: Bab 83 - BosanKeheningan di dalam ruangan kerja Nero mulai terasa mencekik. Setelah tiga jam bergelut dengan modul kuliah online dan menyelesaikan tumpukan tugas esai, Alana akhirnya menutup laptopnya dengan suara klik yang tajam. Ia menyandarkan punggung ke kursi kerja Nero yang empuk, kursi yang aromanya sangat khas—campuran antara kulit mahal dan parfum maskulin pria itu.Alana menatap meja besar itu. Ia sengaja meninggalkan ponselnya di rumah. Ia tahu dirinya pengecut. Ia tidak siap melihat notifikasi dari grup kampus atau pesan-pesan asing yang mungkin masih menghujatnya karena foto masa lalunya. Baginya, tanpa ponsel, dunia terasa sedikit lebih aman, meskipun membosankan.Ia bangkit dan mulai berjalan berkeliling. Matanya menyisir setiap sudut ruangan. Ada pot bunga yang tertata simetris, piagam-piagam penghargaan di dinding yang membuktikan kejeniusan Nero, hingga papan nama di atas meja: Nero Graves – Chief Executive Officer.Alana menyentuh papan nama itu dengan ujung jarinya. "Nero Graves
Last Updated: 2026-04-11
Chapter: Bab 82 - Usapan di bibirPagi itu, jalanan menuju pusat bisnis kota tampak padat, namun di dalam mobil SUV mewah milik Nero, suasana terasa seperti berada dalam ruang kedap suara yang dingin. Nero sengaja tidak membawa sopir seperti biasanya. Ia duduk di balik kemudi dengan setelan jas yang sempurna, sementara Alana duduk di sampingnya, memeluk tas ransel berisi laptop dengan erat di pangkuannya.Sejak mesin mobil dinyalakan, Alana hanya terdiam. Pandangannya lurus ke depan, namun pikirannya bercabang ke mana-mana. Ia bersiap mental jika tiba-tiba Nero menanyakan kejadian di ruang makan tadi. Posisi Alana dan Axel tadi memang sangat ambigu; dorongan tangan Alana, jarak mereka yang terlalu intim, dan teriakan peringatan itu. Alana bertanya-tanya, apakah Nero mengajaknya ke kantor karena curiga? Ataukah ini cara Nero untuk menjauhkannya dari pengaruh liar Axel? Seingat Alana, Nero bukan tipe orang yang suka membawa urusan rumah ke kantor, apalagi membawa adik tiri yang tidak tahu apa-apa soal bisnis.Nero melir
Last Updated: 2026-04-10
Mainan Malam Sang Miliarder
Follow me on IG: @sizuniilee
Datang ke pesta hanya untuk pekerjaan sambilan, Yara tak pernah menyangka satu kebohongan kecil akan mengubah hidupnya. Demi menjaga harga diri di hadapan musuh lamanya, ia asal tunjuk pria asing dan mengaku sebagai pacarnya.
Masalahnya, pria itu bukan orang biasa.
Nathan Liu—pewaris dingin dari keluarga konglomerat—bukan hanya menerima akting gila Yara, tapi juga menawarinya kontrak cinta bernilai miliaran.
Awalnya terlihat seperti keberuntungan, sampai Yara tahu satu hal:
Nathan sudah menikah.
Kini, Yara terjebak dalam permainan berbahaya yang melibatkan cinta palsu, rahasia kelam, dan sebuah keluarga yang tak segan menghancurkan apa pun... termasuk dirinya.
Read
Chapter: Bab 75 -Mobil sedan hitam Nathan berhenti dengan anggun di depan port-cochère sebuah hotel bintang lima yang menjadi tempat pertemuan klien besar hari ini. Di dalam kabin yang senyap, Nathan baru saja menutup sambungan telepon dengan Adrian. Wajahnya yang semula datar kini berubah menjadi lapisan es setelah mendengar laporan singkat tentang kunjungan tak diundang Clara ke apartemennya tadi pagi.Ia menatap lurus ke depan, matanya tajam seperti elang yang siap menerkam, saat melihat sosok Clara berjalan turun dari mobil lain, diikuti oleh asistennya yang membawa tumpukan dokumen desain."Sudah kubilang jangan pernah menyentuh kehidupanku, Clara. Apa kau sudah lupa?" gumam Nathan dengan nada rendah yang penuh ancaman. Ia menatap punggung Clara dengan tatapan seolah sedang menatap mangsa yang siap untuk dicabik. "Mari, akan kupastikan kau ingat persis siapa dirimu di hidupku."Nathan turun dari mobil, diikuti oleh barisan staf dan asisten dari mobil-mobil di belakangnya. Mereka bergerak seperti
Last Updated: 2026-04-14
Chapter: Bab 73Pagi itu, suasana di apartemen terasa lebih ringan setelah Nathan berangkat ke kantor. Sebelum melangkah pergi, ia sempat mengecup kening Yara—sebuah gestur yang masih membuat jantung Yara berdegup kencang meski pria itu sudah menghilang di balik pintu lift. Nathan sempat berpesan bahwa ia mungkin akan pulang agak larut karena urusan audit mendadak yang harus ia selesaikan, dan Yara hanya mengangguk patuh.Yara merasa bosan. Kehidupan "simpanan" yang ia jalani ini ternyata lebih banyak diisi dengan menunggu daripada berpetualang. Ia memutuskan untuk mengeluarkan laptop yang dihadiahkan Nathan beberapa waktu lalu. Dengan secangkir smoothie dingin dan sepiring cookies cokelat di sampingnya, ia memposisikan diri di meja ruang tengah. Suasana hatinya sedang cukup baik untuk menuangkan imajinasi ke dalam naskah novel barunya. Jari-jarinya menari di atas keyboard, tenggelam dalam dunia fiksi di mana ia memiliki kendali penuh atas nasib setiap karakternya.Namun, ketenangan itu terusik saat
Last Updated: 2026-04-12
Chapter: Bab 72Pintu kamar mandi terbuka, menyebarkan uap hangat ke seluruh ruangan. Yara melangkah keluar dengan piyama satin berwarna dusty rose yang lembut, memeluk tubuhnya sendiri karena merasa sedikit canggung. Di luar dugaan, pemandangan yang menyambutnya bukanlah Nathan yang sedang sibuk dengan ponsel atau dokumen kerja, melainkan Nathan yang sudah mengenakan piyama pria berwarna biru tua, duduk santai di sisi ranjang. Pria itu tampak jauh lebih manusiawi, jauh dari kesan kaku yang biasanya melekat pada sosok miliarder angkuh."Sini," ucap Nathan singkat, menepuk ruang kosong di sampingnya.Yara mendekat seperti anak kecil yang tertangkap basah bermain hujan—malu-malu namun penasaran. "Duduk," perintah Nathan lagi, kali ini nada suaranya lembut, tidak ada perintah mutlak yang biasa ia gunakan.Yara duduk di tepi ranjang. Tiba-tiba, Nathan mengambil sebuah hairdryer dari atas nakas. Yara tertegun. "A-apa yang kau lakukan?""Rambutmu masih basah. Nanti kau sakit kalau tidur dengan rambut seper
Last Updated: 2026-04-11
Chapter: Bab 71Suasana apartemen yang biasanya terasa sunyi dan dingin, kini mendadak terasa menyesakkan. Nathan melangkah lebar masuk ke dalam, menarik Yara dengan lembut namun tegas. Topeng-topeng kristal dan logam yang mereka kenakan di pesta tadi sudah dibuang begitu saja ke kursi mobil; benda-benda itu tidak lagi berguna setelah sandiwara di lantai dansa berubah menjadi tragedi kecil yang memuakkan.Nathan langsung membawa Yara ke kamar tidurnya. Ia mendudukkan wanita itu di tepi ranjang yang empuk. Gaun ungu tua yang tadi terlihat sangat mewah kini tampak menyedihkan dengan noda anggur merah yang sudah mulai mengering dan lengket."Tunggu di sini," perintah Nathan, suaranya rendah namun penuh otoritas. "Aku akan menyiapkan air hangat untukmu."Tanpa menunggu jawaban, Nathan langsung berbalik menuju kamar mandi. Suara gemericik air yang mengisi bathtub mulai terdengar, memecah keheningan di dalam kamar.Yara terduduk diam, menatap ujung kakinya yang masih terbalut sepatu hak tinggi. Berat. Rasa
Last Updated: 2026-04-10
Chapter: Bab 70Waktu seolah merayap lambat di bawah denting jam besar aula. Sudah lebih dari satu jam Yara berdiri di sisi Nathan, menjadi pusat perhatian sekaligus sasaran bisik-bisik yang tak kunjung reda. Nathan benar-benar menjalankan perannya sebagai pelindung yang posesif; ia tak membiarkan jarak antara tubuhnya dan Yara lebih dari sepuluh sentimeter. Setiap kali ada kolega bisnis yang mencoba mendekat dengan tatapan menilai, Nathan akan membalasnya dengan tatapan tajam yang membungkam mulut mereka."Apa kau lelah?" bisik Nathan rendah. Napasnya yang hangat menerpa telinga Yara, membuat bulu kuduk wanita itu meremang.Yara mengangguk kecil, mencoba membetulkan posisi kakinya yang mulai berdenyut di dalam sepatu hak tinggi. "Ya, sedikit. Kepalaku juga mulai pening karena aroma parfum yang terlalu pekat di sini.""Bertahanlah sebentar lagi. Kita akan pulang setelah sesi ini," balas Nathan, jemarinya mengusap pinggang Yara dengan gerakan menenangkan yang tidak disadari pria itu sendiri.Tepat saa
Last Updated: 2026-03-08
Chapter: Bab 69Clara Liu menarik napas panjang, mencoba menstabilkan detak jantungnya yang seolah ingin melompat keluar dari dadanya. Ia berdiri di sudut aula, memegang gelas berisi air mineral dengan jari yang sedikit gemetar. Matanya yang tajam di balik topeng terus bergerak, mencari alasan logis untuk menenangkan jiwanya yang koyak."Tenang, Clara. Dia hanya pelampiasan," bisiknya dalam hati, berulang kali seperti mantra.Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa wanita yang dibawa Nathan malam ini hanyalah boneka baru. Bukan pertama kalinya Nathan melakukan ini. Dulu, Nathan sering tertangkap kamera bersama model atau aktris kelas bawah hanya untuk membuat skandal agar keluarga mereka setuju untuk menyetujui perceraian. Ini adalah pola yang sama. Nathan tidak benar-benar menyukainya. Pria itu hanya menggunakan wanita malang tersebut untuk menghancurkan pernikahan mereka.Namun, saat Clara menegak air putihnya, tatapannya tak sengaja terpaku pada satu pemandangan di seberang aula. Di sana, Nath
Last Updated: 2026-03-02

Istri Yang Kau Hina, Incaran Mafia
Follow me on IG : @sizuniilee
Manjadi seorang istri tentunya sangat tidak mudah untuk Valeria, apalagi keluarga dari suaminya selalu saja menuntut Valeria menjadi sempurna. Setelah melahirkan seorang anak, tubuh Valeria yang berubah drastis membuat suaminya berselingkuh dengan alasan Valeria tidak cantik lagi. Tak lama setelah itu, Valeria juga kehilangan anak yang baru saja dia lahirkan. Semua orang menyalahkan Valeria karena tidak becus menjaga anak.
Julian menceraikan Valeria, di saat yang bersamaan, keluarga Valeria membawanya pulang dan diam-diam dia menerima warisan dari keluarganya yang pura-pura bangkrut selama ini. Valeria kembali bangkit, dia mulai mengubah penampilannya dan menjadi CEO di perusahaannya. Perlahan, Valeria membalaskan dendamnya kepada keluarga Julian. Saat Valeria menyelidiki ternyata keluarga Julian bekerja sama dengan seorang mafia untuk memperlancar bisnisnya.
Karena Valeria hanya fokus membalas dendam, dia tak tahu jika mafia itu tertarik dengan Valeria. Valeria yang sudah trauma dengan percintaan kini di goyahkan lagi dengan pria mapan dan berwibawa itu. Dengan semua usaha yang di kerahkan Salvatore, Valeria mulai kembali membuka hati. Sal bahkan membuat Valeria semakin bertumbuh menjadi wanita yang jauh lebih baik. Mereka menjadi pasangan yang paling di segani di dunia perbisnisan.
Read
Chapter: EPILOGLima Tahun Kemudian ....Di markas Il Leone d'Ombra, seorang gadis kecil duduk di samping seorang pria bertubuh kekar. Suasana ruangan itu penuh dengan aroma logam dan minyak senjata, namun gadis kecil itu tampak tidak terganggu sedikit pun.Antonio, pria yang tengah merapikan senjata, berkali-kali menarik napas panjang. Di sebelahnya, Elettra—gadis kecil berusia lima tahun dengan rambut ikal kecokelatan dan mata secerah musim semi—terus berbicara tanpa jeda."Uncle Antonio, kenapa peluru ini warnanya beda? Apa senjatanya juga beda? Kalau senjata ini bisa buat tembak monster nggak? Kenapa di sini gelap banget? Uncle nggak takut hantu?"Antonio menghela napas, berusaha tetap fokus membersihkan senjatanya. "Elettra, bukankah kau seharusnya menggambar atau bermain boneka? Anak seusiamu biasanya tidak tertarik pada senjata.""Aku bukan anak kecil biasa, Uncle. Aku Elettra Marino! Aku harus tahu semuanya supaya bisa melindungi Mommy dan Daddy. Kalau Uncle nggak mau jawab, aku tanya sama Da
Last Updated: 2025-03-07
Chapter: Bab 210Elena menangis tak henti-henti di pelukan Lorenzo. Tubuhnya bergetar, wajahnya penuh kekhawatiran."Tuhan, jangan ambil putriku ..., jangan ambil cucuku ...," isaknya berulang kali.Lorenzo mencoba menenangkan istrinya, meski dalam hatinya sendiri ada badai yang tak kalah hebat. "Tenanglah, sayang. Valeria perempuan yang kuat. Dia akan baik-baik saja." Meski suaranya terdengar tenang, genggaman tangannya pada bahu Elena menunjukkan betapa kerasnya dia menahan diri untuk tidak ikut larut dalam kepanikan.Sementara itu, Anna mondar-mandir di koridor rumah sakit. Setiap detik terasa seperti menit, setiap menit terasa seperti jam."Kenapa lama sekali? Kenapa belum ada kabar?" Anna bergumam, tatapannya kosong.Di tengah semua kegaduhan itu, Salvatore justru terdiam. Dia berdiri di sudut ruangan, tubuhnya kaku seperti patung. Matanya tertuju pada pintu ruang operasi, seolah menunggu keajaiban. Namun, dalam keheningannya, tubuhnya gemetar. Keringat dingin membasahi pelipisnya."Valeria ...,
Last Updated: 2025-03-07
Chapter: Bab 209Hari berganti hari, minggu berganti minggu. Kini perut Valeria sudah semakin membesar, hampir memasuki usia delapan bulan.Musim semi menghiasi kota dengan udara hangat dan bunga bermekaran. Valeria duduk di bangku kayu di tepi jalan, menikmati es krim stroberi yang mencair perlahan di tangannya.Wajahnya berseri-seri, matanya berbinar penuh kebahagiaan. Di sampingnya, Salvatore duduk santai, sesekali menyeka tetesan es krim yang hampir jatuh ke gaun Valeria."Kau tahu, Salvatore," ucap Valeria sambil menjilati sendok es krimnya. "Aku berharap anak kita nanti suka es krim sepertiku. Bagaimana menurutmu?"Salvatore tertawa kecil. "Kalau begitu, aku harus siap-siap mengisi freezer penuh es krim. Anak kita akan jadi pecinta es krim garis keras sepertimu."Valeria tertawa terbahak. Suara tawanya menggema lembut di tengah keramaian jalan. Beberapa orang yang lewat ikut tersenyum melihat pasangan itu, seolah kebahagiaan mereka menular.Tas belanja di kaki mereka penuh dengan perlengkapan ba
Last Updated: 2025-03-07
Chapter: Bab 208Matahari mulai tenggelam, menciptakan gradasi oranye dan ungu di langit senja. Salvatore duduk di kursi balkon kamar Valeria, memandangi langit dengan tatapan kosong.Angin sore berhembus lembut, namun tidak mampu mendinginkan pikirannya yang berkecamuk. Kata-kata Julian terus terngiang di kepalanya, mengalun seperti nada minor yang menghantui."Lepaskan Sofia .... Hentikan penyiksaannya ...."Salvatore memijit pelipisnya. Rasa pusing itu kembali datang, semakin tajam seiring bayangan-bayangan samar yang muncul. Wajah Sofia, jeruji penjara, dan suara erangan kesakitan yang entah berasal dari mana. Apa benar semua itu ulahnya?Dia mendesah panjang, rasa bersalah mulai merayapi hatinya. Bagaimana mungkin dia mencintai Valeria namun di saat yang sama menyakiti orang lain? Apakah ini sisi gelapnya yang tersembunyi?"Salvatore?"Suara lembut Valeria membuyarkan lamunannya. Salvatore menoleh, melihat Valeria berdiri di sampingnya dengan segelas jus segar di tangannya. Senyum perempuan itu t
Last Updated: 2025-03-07
Chapter: Bab 207Setelah menjalani pemeriksaan di rumah sakit, Salvatore dan Valeria keluar dengan senyum lega. Hasil pemeriksaan menunjukkan kondisi mereka baik-baik saja. Kaki Salvatore hanya memerlukan sedikit terapi, dan kehamilan Valeria dalam keadaan sehat. Beban yang sempat menggantung di benak mereka pun perlahan terangkat."Ayo, kita makan siang. Aku sudah lapar," ujar Valeria ceria, menggenggam tangan Salvatore dengan erat."Aku juga," Salvatore tersenyum hangat. "Ada restoran di sekitar sini yang katanya enak. Mau coba?""Tahu darimana?""Tadi aku sempat mendengar percakapan orang di rumah sakit. Mau coba makan di sana?"Valeria mengangguk antusias. Mereka berjalan bergandengan tangan menuju restoran kecil berdesain klasik yang tak jauh dari rumah sakit. Suasananya tenang dengan dekorasi kayu dan jendela besar yang menghadap ke taman kota.Mereka memilih meja di dekat jendela, menikmati pemandangan hijau di luar sembari menunggu pesanan datang. Percakapan ringan mengalir, sesekali diiringi
Last Updated: 2025-03-07
Chapter: Bab 206Sinar matahari pagi menerobos jendela ruang makan, menciptakan pola-pola cahaya yang menari di atas meja kayu panjang yang telah dipenuhi oleh berbagai hidangan sarapan. Aroma roti panggang yang baru matang, telur dadar lembut, dan kopi hitam pekat menguar di udara, memberikan suasana hangat di rumah keluarga Valeria.Di ujung meja, Salvatore duduk dengan rapi dalam setelan kasual, mengenakan kemeja putih yang digulung hingga siku dan celana panjang gelap. Di sebelahnya, Valeria tampak anggun dalam gaun sederhana berwarna pastel yang lembut membungkus tubuhnya yang kini tengah mengandung. Tangannya sesekali mengusap perutnya yang mulai membuncit, seolah secara naluriah melindungi kehidupan kecil di dalamnya.Elena meletakkan cangkir kopi di depannya, kemudian duduk di samping Lorenzo. Giulia dan Roberto juga telah mengambil tempat, memulai sarapan dengan senda gurau kecil."Kalian tampak rapi pagi ini." Elena membuka percakapan dengan senyum keibuan. "Ada acara khusus?"Valeria dan Sa
Last Updated: 2025-03-07