author-banner
Lee Sizunii
Lee Sizunii
Author

Novels by Lee Sizunii

Bisikan Dosa

Bisikan Dosa

Alana tak pernah menyangka, pindah ke rumah baru berarti menyerahkan dirinya pada dua godaan yang tak termaafkan. Axel, kakak tirinya yang urakan, mengajarinya kenikmatan yang membuatnya candu. Dan Nero, sang kakak sulung yang dingin, justru membuatnya terikat pada pesona yang tak bisa ia lawan. Semua batas seharusnya jelas. Semua larangan seharusnya tak bisa ditembus. Namun semakin ia berusaha menjauh, semakin dalam ia tenggelam dalam bisikan dosa yang memabukkan.
Read
Chapter: Bab 78 - Janji makan malam
Pintu gerbang otomatis kediaman mewah keluarga Graves terbuka perlahan, menyambut sedan hitam Nero yang meluncur halus melintasi halaman yang tertata rapi. Alana duduk mematung di kursi penumpang, memeluk kantong plastik berisi dimsumnya seolah benda itu adalah pelindung dari aura dingin yang memancar dari pria di sampingnya.Begitu mobil terparkir sempurna di basement, Alana segera turun. Ia melangkah kecil, berusaha menyamai ritme tungkai panjang Nero yang berjalan menuju pintu masuk utama.Nero tidak mengucapkan sepatah kata pun sejak mereka meninggalkan pinggir jalan tadi, membuat Alana terus-menerus melirik punggung tegap itu dengan perasaan was-was.Tepat di lobi depan yang luas dengan lantai marmer yang mengkilap, Nero tiba-tiba menghentikan langkahnya dan berbalik. Gerakan mendadak itu membuat Alana nyaris menabrak dada bidang kakaknya."Akh!" Alana tersentak, menengadah menatap wajah Nero yang tetap datar tanpa ekspresi."Kau belum makan siang?" tanya Nero, suaranya berat dan
Last Updated: 2026-02-26
Chapter: Bab 77 - Pengen Dimsum
Perjalanan kembali dari Maldives menyisakan keheningan yang janggal di dalam mobil. Nero turun lebih dulu di depan gedung pencakar langit kantornya tanpa banyak kata, hanya memberikan tatapan singkat yang sulit diartikan kepada Alana. Alana pun melanjutkan perjalanan pulang hanya ditemani sopir pribadi keluarga Graves.Sesampainya di rumah mewah itu, suasana terasa sepi. Vivienne dan Edward sepertinya sedang tidak di rumah, lagi. Alana segera melangkah menuju kamarnya, menutup pintu, dan menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur empuk yang sudah beberapa hari ia tinggalkan. Ia menghela napas panjang, menatap langit-langit kamar.Pikirannya mendadak berputar ke belakang. Kenangan di Maldives menyerbu seperti ombak; sentuhan panas Axel di bawah shower, ciuman memabukkan Nero di kamar hotel yang berantakan, hingga momen heroik Nero menyelamatkannya dari maut di tengah laut. Semuanya terasa seperti mimpi buruk yang indah sekaligus menakutkan. Rasa lelah yang luar biasa akhirnya menarik Alana ke
Last Updated: 2026-02-25
Chapter: Bab 76 - Bangun di pelukan Nero
Fajar di Maldives baru saja menyingsing, menyisakan bias cahaya kebiruan yang lembut menembus sela gorden kamar yang mewah. Alana membuka matanya perlahan, merasakan kehangatan yang tidak biasa menyelimuti tubuhnya. Saat kesadarannya terkumpul sepenuhnya, jantungnya seolah berhenti berdetak selama satu detik.Ia tidak sedang memeluk guling.Lengan kokoh yang melingkar di bahunya, dada bidang yang terasa keras namun nyaman di bawah pipinya, dan aroma kayu cendana bercampur sisa maskulin yang begitu kental—semuanya nyata. Alana mendapati dirinya meringkuk di dalam dekapan Nero, tangan kecilnya bahkan mencengkeram kemeja pria itu seolah takut kehilangan pegangan di tengah malam.Alana terpaku, tidak berani bergerak sedikit pun karena takut mengusik tidur pria di depannya. Dalam jarak sedekat ini, ia bisa mengamati detail wajah Nero yang biasanya tersembunyi di balik topeng kedinginannya. Garis rahang yang tegas namun tampak lebih relaks, hidung yang mancung sempurna, dan bibir yang malam
Last Updated: 2026-02-21
Chapter: Bab 75 - Tidur di sini
Ketegangan di antara mereka belum benar-benar luruh meski air laut sudah mengering dari kulit. Malam itu, Maldives diselimuti semburat biru gelap yang tenang, berbanding terbalik dengan gemuruh di dada Alana saat mendengar ketukan di pintunya.Ketika pintu terbuka, Nero berdiri di sana. Di belakangnya, seorang pelayan hotel mendorong troli perak berisi teko porselen dan aroma roti panggang yang masih mengepulkan uap."Kak Nero?" Alana bergumam kecil, merapatkan bathrobe putihnya."Aku mau memastikan kau benar-benar baik saja," ucap Nero pendek.Ia memberi isyarat pada pelayan untuk menaruh troli itu di sudut kamar. Begitu pelayan itu pergi dan pintu tertutup, suasana mendadak menjadi sangat privat.Nero melangkah mendekat. Tanpa aba-aba, ia menaruh telapak tangannya di dahi Alana. Gerakan itu begitu tiba-tiba hingga mata Alana membelalak, menatap lurus ke arah kancing kemeja Nero yang terbuka di bagian atas. Ia bisa merasakan kehangatan tangan pria itu, kontras dengan sikapnya yang se
Last Updated: 2026-02-19
Chapter: Bab 74 - Fobia air
Dingin yang menusuk langsung menyergap indra penciuman Alana begitu tubuhnya terperosok ke dalam air. Dalam sekejap mata, bayangan dek kapal yang kokoh dan wajah panik Axel yang berada di atas sana melebur menjadi bias cahaya yang tak beraturan karena gulungan ombak.Alana meronta. Tangannya menggapai-gapai ke segala arah, mencoba meraih udara yang terasa begitu jauh. Namun, laut Maldives yang tampak indah dari permukaan itu kini menjelma menjadi raksasa yang menelannya hidup-hidup. Air asin mulai merasuk ke dalam paru-parunya, menciptakan rasa perih yang luar biasa.“Apa aku akan mati di sini? Mama… tolong aku. Aku takut,” rintihnya dalam hati. Kesadarannya mulai menipis, dunianya perlahan menjadi gelap dan senyap.Sampai sebuah bayangan membelah buih-buih putih di permukaan. Sesosok tubuh meluncur deras ke arahnya, memecah keputusasaan yang baru saja menyergap Alana. Melalui pandangan yang kabur, Alana melihat sepasang tangan yang kuat mener
Last Updated: 2026-02-15
Chapter: Bab 73 - Trauma masa lalu
Dermaga pribadi itu berkilau di bawah sengatan matahari pagi Maldives yang mulai terik. Alana merasa tangannya yang digenggam Nero sedikit berkeringat, bukan hanya karena cuaca, tapi karena aura dingin yang terpancar dari pria di sampingnya. Di depan mereka, sebuah yacht mewah berwarna putih gading bersandar dengan gagah, mesinnya menderu halus, siap membelah samudera.Namun, ketenangan yang berusaha dibangun Nero hancur saat mereka menapakkan kaki di dek kapal."Lama sekali! Aku hampir saja menghabiskan semua sampanye ini sendirian," seru sebuah suara yang sangat familiar.Axel sudah di sana. Ia mengenakan kemeja pantai bermotif abstrak yang kancingnya terbuka lebar, memperlihatkan tato kecil di dadanya dan kalung perak yang berkilau. Ia duduk bersandar dengan kaki terangkat di atas meja, benar-benar urakan. Tanpa menoleh sedikit pun pada Nero—seolah kakaknya itu hanya udara kosong—Axel langsung melompat berdiri dan menyambar tangan Alana yang bebas dari genggaman Nero."Ayo, Sayang.
Last Updated: 2026-02-14
Mainan Malam Sang Miliarder

Mainan Malam Sang Miliarder

Datang ke pesta hanya untuk pekerjaan sambilan, Yara tak pernah menyangka satu kebohongan kecil akan mengubah hidupnya. Demi menjaga harga diri di hadapan musuh lamanya, ia asal tunjuk pria asing dan mengaku sebagai pacarnya. Masalahnya, pria itu bukan orang biasa. Nathan Liu—pewaris dingin dari keluarga konglomerat—bukan hanya menerima akting gila Yara, tapi juga menawarinya kontrak cinta bernilai miliaran. Awalnya terlihat seperti keberuntungan, sampai Yara tahu satu hal: Nathan sudah menikah. Kini, Yara terjebak dalam permainan berbahaya yang melibatkan cinta palsu, rahasia kelam, dan sebuah keluarga yang tak segan menghancurkan apa pun... termasuk dirinya.
Read
Chapter: Bab 67
Malam yang dinanti—atau lebih tepatnya, malam yang ditakuti Yara—akhirnya tiba. Di dalam pantulan kaca mobil yang melaju membelah dinginnya London, Yara nyaris tidak mengenali dirinya sendiri. Riasan wajah yang dipoles oleh penata rias profesional pilihan Nathan sejak sore tadi benar-benar mengubahnya. Ia terlihat elegan, mahal, namun ada aura sensualitas yang memancar dari gaun ungu tua yang memeluk tubuhnya dengan sempurna.Yara tidak berhenti memainkan kuku jarinya. Ia menunduk, menatap nail art yang baru saja selesai dipoles dengan warna senada dengan gaunnya. Kegugupan itu nyata, terasa seperti ribuan jarum yang menusuk ujung jarinya.Nathan, yang sejak tadi duduk diam sambil menatap layar ponsel di sampingnya, akhirnya mengalihkan pandangan. Ia melirik Yara, memperhatikan bagaimana bahu wanita itu tampak tegang."Gugup?" suara Nathan rendah, memecah kesunyian di dalam kabin mobil.Yara tidak menoleh. Ia tetap menatap ke luar jendela, melihat lampu-lampu kota yang mengabur karena
Last Updated: 2026-02-26
Chapter: Bab 66
Lampu meja kerja yang terang menyinari butiran debu yang menari di atas layar tablet milik Clara. Ia sedang berada di dunianya sendiri, sebuah pelarian yang ia bangun dengan garis, warna, dan tekstur kain.Jemarinya yang ramping menggerakkan pena digital dengan lincah, mencoba menyelesaikan desain gaun utama untuk fashion show yang akan digelar beberapa bulan lagi. Di balik kacamata berbingkai tipis itu, mata Clara terlihat merah karena kelelahan, namun ia terus memaksakan fokusnya.Hanya di sini, dalam goresan sketsa, Clara merasa memiliki kontrol penuh atas hidupnya.Namun, kendali itu hancur seketika saat ponsel di atas meja bergetar hebat. Nama "Mama" muncul di layar, seperti sebuah vonis yang tak bisa dihindari. Clara menghela napas panjang, menekan tombol hijau dengan enggan tanpa mengalihkan pandangan dari desainnya."Ya, Ma?" suara Clara terdengar datar, nyaris tak bernyawa."Clara! Kau sudah mendapatkan undangannya, bukan? Pesta topeng malam ini. Kau harus hadir di sana bersa
Last Updated: 2026-02-25
Chapter: Bab 65
Mobil sedan hitam yang dikemudikan Adrian berhenti dengan halus tepat di depan sebuah butik megah dengan fasad kaca tinggi di kawasan elit London. Adrian turun lebih dulu, membukakan pintu untuk Nathan dengan sikap profesional yang tak cela. Adrian sempat melirik Yara sekilas, memberikan senyum tipis yang sopan—sebuah gestur kecil yang menandakan bahwa ia tidak memiliki niat buruk, meski ia tahu persis posisi Yara dalam drama keluarga Liu ini.Nathan melangkah turun, diikuti Yara yang masih merasa sedikit gamang. Ia menatap papan nama butik yang tertulis dengan huruf emas timbul. Ia tahu tempat ini; hanya orang-orang dengan gelar bangsawan atau saldo bank tak terbatas yang bisa menginjakkan kaki di sini."Apa ini tidak terlalu berlebihan?" bisik Yara sambil merapatkan mantelnya, merasa kecil di bawah bayangan kemegahan butik tersebut.Nathan tidak menjawab. Ia hanya menggenggam tangan Yara, menautkan jemari mereka dengan erat, lalu membawanya masuk. Begitu
Last Updated: 2026-02-22
Chapter: Bab 64
Pagi itu, London masih diselimuti sisa hujan semalam, namun suasana di dalam kamar apartemen terasa jauh lebih hangat. Cahaya matahari yang masuk malu-malu melalui celah gorden menyinari sosok pria yang masih terlelap di samping Yara.Yara terjaga lebih dulu. Ia tidak langsung beranjak, melainkan terdiam dalam posisi miring, menatap wajah Nathan dari jarak yang sangat dekat. Nathan tidur dengan tenang, tubuh bagian atasnya yang atletis tidak tertutup sehelai benang pun, memamerkan otot-otot dada dan lengan yang keras namun tampak nyaman sebagai bantal. Napasnya teratur, menyapu permukaan kulit Yara setiap kali pria itu mengembuskan napas.Yara menatap wajah itu cukup lama. Anehnya, tidak ada lagi kepanikan luar biasa seperti saat pertama kali mereka terlibat dalam kontrak ini. Apakah dia sudah terbiasa? Atau mungkin, benteng pertahanannya sudah mulai retak?Tanpa sadar, jemari Yara bergerak pelan, menyentuh pipi Nathan yang sedikit kasar karena bayangan kumis tipis yang mulai tumbuh.
Last Updated: 2026-02-21
Chapter: Bab 63
"Mhh... Nathan, geli... ahh!"Suara Yara pecah di udara ruangan yang sunyi. Setiap sentuhan ujung jari Nathan di kulit lehernya terasa seperti percikan api yang membakar sarafnya. Nathan menatap wajah Yara yang memerah di bawah temaram lampu; matanya yang sayu dan bibirnya yang sedikit terbuka membuat akal sehat Nathan seolah ditarik ke dalam kegelapan. Ia tidak pernah merasa seterangsang ini hanya dengan melihat ekspresi seorang wanita.Tanpa berkata-kata, Nathan menyusupkan lengannya di bawah lutut dan punggung Yara. Ia mengangkat tubuh mungil itu dengan mudah. Yara yang terkejut secara refleks memeluk leher Nathan, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher pria itu agar tidak jatuh, sekaligus menyembunyikan rasa malunya yang meledak-ledak.Nathan membawa Yara ke dalam kamar tidur Yara. Dengan gerakan posesif, ia merebahkan tubuh Yara di atas kasur king size yang empuk. Cahaya rembulan dari balik jendela besar apartemen menyinari lekuk tubuh Yara yang sudah setengah terbuka. Nathan seg
Last Updated: 2026-02-14
Chapter: Bab 62
Suara hujan yang menghantam kaca jendela apartemen lantai atas itu terdengar seperti genderang yang bertalu-talu. Di dalam ruangan yang hanya diterangi lampu temaram, Yara meringkuk di sofa panjang. Rasa bosan dan lelah menunggunya membuatnya terhanyut ke dalam tidur yang tidak direncanakan.Namun, tidurnya terusik. Sebuah sentuhan lembut, namun memiliki otoritas yang kuat, terasa merayap di sepanjang garis lehernya. Yara mengerang kecil, kelopak matanya bergetar sebelum akhirnya terbuka perlahan.Hal pertama yang ia lihat adalah sepasang mata gelap yang menatapnya dengan intensitas yang nyaris membakar. Nathan sudah berada di sana, berlutut dengan satu kaki di samping sofa, masih mengenakan kemeja kantornya yang sedikit berantakan di bagian kerah."N-Nathan?" suara Yara parau, khas orang baru bangun tidur. "Kapan kau pulang?"Yara mencoba bangkit untuk duduk, tetapi tangan besar Nathan segera menahan bahunya. Alih-alih membiarkannya bangun, Nathan justru mendorongnya lembut hingga Ya
Last Updated: 2026-02-13
Istri Yang Kau Hina, Incaran Mafia

Istri Yang Kau Hina, Incaran Mafia

Manjadi seorang istri tentunya sangat tidak mudah untuk Valeria, apalagi keluarga dari suaminya selalu saja menuntut Valeria menjadi sempurna. Setelah melahirkan seorang anak, tubuh Valeria yang berubah drastis membuat suaminya berselingkuh dengan alasan Valeria tidak cantik lagi. Tak lama setelah itu, Valeria juga kehilangan anak yang baru saja dia lahirkan. Semua orang menyalahkan Valeria karena tidak becus menjaga anak. Julian menceraikan Valeria, di saat yang bersamaan, keluarga Valeria membawanya pulang dan diam-diam dia menerima warisan dari keluarganya yang pura-pura bangkrut selama ini. Valeria kembali bangkit, dia mulai mengubah penampilannya dan menjadi CEO di perusahaannya. Perlahan, Valeria membalaskan dendamnya kepada keluarga Julian. Saat Valeria menyelidiki ternyata keluarga Julian bekerja sama dengan seorang mafia untuk memperlancar bisnisnya. Karena Valeria hanya fokus membalas dendam, dia tak tahu jika mafia itu tertarik dengan Valeria. Valeria yang sudah trauma dengan percintaan kini di goyahkan lagi dengan pria mapan dan berwibawa itu. Dengan semua usaha yang di kerahkan Salvatore, Valeria mulai kembali membuka hati. Sal bahkan membuat Valeria semakin bertumbuh menjadi wanita yang jauh lebih baik. Mereka menjadi pasangan yang paling di segani di dunia perbisnisan.
Read
Chapter: EPILOG
Lima Tahun Kemudian ....Di markas Il Leone d'Ombra, seorang gadis kecil duduk di samping seorang pria bertubuh kekar. Suasana ruangan itu penuh dengan aroma logam dan minyak senjata, namun gadis kecil itu tampak tidak terganggu sedikit pun.Antonio, pria yang tengah merapikan senjata, berkali-kali menarik napas panjang. Di sebelahnya, Elettra—gadis kecil berusia lima tahun dengan rambut ikal kecokelatan dan mata secerah musim semi—terus berbicara tanpa jeda."Uncle Antonio, kenapa peluru ini warnanya beda? Apa senjatanya juga beda? Kalau senjata ini bisa buat tembak monster nggak? Kenapa di sini gelap banget? Uncle nggak takut hantu?"Antonio menghela napas, berusaha tetap fokus membersihkan senjatanya. "Elettra, bukankah kau seharusnya menggambar atau bermain boneka? Anak seusiamu biasanya tidak tertarik pada senjata.""Aku bukan anak kecil biasa, Uncle. Aku Elettra Marino! Aku harus tahu semuanya supaya bisa melindungi Mommy dan Daddy. Kalau Uncle nggak mau jawab, aku tanya sama Da
Last Updated: 2025-03-07
Chapter: Bab 210
Elena menangis tak henti-henti di pelukan Lorenzo. Tubuhnya bergetar, wajahnya penuh kekhawatiran."Tuhan, jangan ambil putriku ..., jangan ambil cucuku ...," isaknya berulang kali.Lorenzo mencoba menenangkan istrinya, meski dalam hatinya sendiri ada badai yang tak kalah hebat. "Tenanglah, sayang. Valeria perempuan yang kuat. Dia akan baik-baik saja." Meski suaranya terdengar tenang, genggaman tangannya pada bahu Elena menunjukkan betapa kerasnya dia menahan diri untuk tidak ikut larut dalam kepanikan.Sementara itu, Anna mondar-mandir di koridor rumah sakit. Setiap detik terasa seperti menit, setiap menit terasa seperti jam."Kenapa lama sekali? Kenapa belum ada kabar?" Anna bergumam, tatapannya kosong.Di tengah semua kegaduhan itu, Salvatore justru terdiam. Dia berdiri di sudut ruangan, tubuhnya kaku seperti patung. Matanya tertuju pada pintu ruang operasi, seolah menunggu keajaiban. Namun, dalam keheningannya, tubuhnya gemetar. Keringat dingin membasahi pelipisnya."Valeria ...,
Last Updated: 2025-03-07
Chapter: Bab 209
Hari berganti hari, minggu berganti minggu. Kini perut Valeria sudah semakin membesar, hampir memasuki usia delapan bulan.Musim semi menghiasi kota dengan udara hangat dan bunga bermekaran. Valeria duduk di bangku kayu di tepi jalan, menikmati es krim stroberi yang mencair perlahan di tangannya.Wajahnya berseri-seri, matanya berbinar penuh kebahagiaan. Di sampingnya, Salvatore duduk santai, sesekali menyeka tetesan es krim yang hampir jatuh ke gaun Valeria."Kau tahu, Salvatore," ucap Valeria sambil menjilati sendok es krimnya. "Aku berharap anak kita nanti suka es krim sepertiku. Bagaimana menurutmu?"Salvatore tertawa kecil. "Kalau begitu, aku harus siap-siap mengisi freezer penuh es krim. Anak kita akan jadi pecinta es krim garis keras sepertimu."Valeria tertawa terbahak. Suara tawanya menggema lembut di tengah keramaian jalan. Beberapa orang yang lewat ikut tersenyum melihat pasangan itu, seolah kebahagiaan mereka menular.Tas belanja di kaki mereka penuh dengan perlengkapan ba
Last Updated: 2025-03-07
Chapter: Bab 208
Matahari mulai tenggelam, menciptakan gradasi oranye dan ungu di langit senja. Salvatore duduk di kursi balkon kamar Valeria, memandangi langit dengan tatapan kosong.Angin sore berhembus lembut, namun tidak mampu mendinginkan pikirannya yang berkecamuk. Kata-kata Julian terus terngiang di kepalanya, mengalun seperti nada minor yang menghantui."Lepaskan Sofia .... Hentikan penyiksaannya ...."Salvatore memijit pelipisnya. Rasa pusing itu kembali datang, semakin tajam seiring bayangan-bayangan samar yang muncul. Wajah Sofia, jeruji penjara, dan suara erangan kesakitan yang entah berasal dari mana. Apa benar semua itu ulahnya?Dia mendesah panjang, rasa bersalah mulai merayapi hatinya. Bagaimana mungkin dia mencintai Valeria namun di saat yang sama menyakiti orang lain? Apakah ini sisi gelapnya yang tersembunyi?"Salvatore?"Suara lembut Valeria membuyarkan lamunannya. Salvatore menoleh, melihat Valeria berdiri di sampingnya dengan segelas jus segar di tangannya. Senyum perempuan itu t
Last Updated: 2025-03-07
Chapter: Bab 207
Setelah menjalani pemeriksaan di rumah sakit, Salvatore dan Valeria keluar dengan senyum lega. Hasil pemeriksaan menunjukkan kondisi mereka baik-baik saja. Kaki Salvatore hanya memerlukan sedikit terapi, dan kehamilan Valeria dalam keadaan sehat. Beban yang sempat menggantung di benak mereka pun perlahan terangkat."Ayo, kita makan siang. Aku sudah lapar," ujar Valeria ceria, menggenggam tangan Salvatore dengan erat."Aku juga," Salvatore tersenyum hangat. "Ada restoran di sekitar sini yang katanya enak. Mau coba?""Tahu darimana?""Tadi aku sempat mendengar percakapan orang di rumah sakit. Mau coba makan di sana?"Valeria mengangguk antusias. Mereka berjalan bergandengan tangan menuju restoran kecil berdesain klasik yang tak jauh dari rumah sakit. Suasananya tenang dengan dekorasi kayu dan jendela besar yang menghadap ke taman kota.Mereka memilih meja di dekat jendela, menikmati pemandangan hijau di luar sembari menunggu pesanan datang. Percakapan ringan mengalir, sesekali diiringi
Last Updated: 2025-03-07
Chapter: Bab 206
Sinar matahari pagi menerobos jendela ruang makan, menciptakan pola-pola cahaya yang menari di atas meja kayu panjang yang telah dipenuhi oleh berbagai hidangan sarapan. Aroma roti panggang yang baru matang, telur dadar lembut, dan kopi hitam pekat menguar di udara, memberikan suasana hangat di rumah keluarga Valeria.Di ujung meja, Salvatore duduk dengan rapi dalam setelan kasual, mengenakan kemeja putih yang digulung hingga siku dan celana panjang gelap. Di sebelahnya, Valeria tampak anggun dalam gaun sederhana berwarna pastel yang lembut membungkus tubuhnya yang kini tengah mengandung. Tangannya sesekali mengusap perutnya yang mulai membuncit, seolah secara naluriah melindungi kehidupan kecil di dalamnya.Elena meletakkan cangkir kopi di depannya, kemudian duduk di samping Lorenzo. Giulia dan Roberto juga telah mengambil tempat, memulai sarapan dengan senda gurau kecil."Kalian tampak rapi pagi ini." Elena membuka percakapan dengan senyum keibuan. "Ada acara khusus?"Valeria dan Sa
Last Updated: 2025-03-07
You may also like
The Slut of QT's System [BL]
The Slut of QT's System [BL]
Romansa · deelnefire
3.0K views
Dibalas Dengan Dusta
Dibalas Dengan Dusta
Romansa · nanderstory
3.0K views
Triple Z's Love Story
Triple Z's Love Story
Romansa · Siti Indah Lestari
3.0K views
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status