author-banner
Lee Sizunii
Lee Sizunii
Author

Novels by Lee Sizunii

Mainan Malam Sang Miliarder

Mainan Malam Sang Miliarder

Follow me on IG: @sizuniilee Datang ke pesta hanya untuk pekerjaan sambilan, Yara tak pernah menyangka satu kebohongan kecil akan mengubah hidupnya. Demi menjaga harga diri di hadapan musuh lamanya, ia asal tunjuk pria asing dan mengaku sebagai pacarnya. Masalahnya, pria itu bukan orang biasa. Nathan Liu—pewaris dingin dari keluarga konglomerat—bukan hanya menerima akting gila Yara, tapi juga menawarinya kontrak cinta bernilai miliaran. Awalnya terlihat seperti keberuntungan, sampai Yara tahu satu hal: Nathan sudah menikah. Kini, Yara terjebak dalam permainan berbahaya yang melibatkan cinta palsu, rahasia kelam, dan sebuah keluarga yang tak segan menghancurkan apa pun... termasuk dirinya.
Read
Chapter: Bab 84
Pagi yang cerah itu membawa Yara dan Linda ke sebuah kedai sarapan tersembunyi di pinggiran kota. Linda sengaja memilih tempat yang tidak ramai dikunjungi orang, sebuah kafe kecil dengan arsitektur klasik yang dikelilingi pepohonan rindang. Di sini, jauh dari sorot lampu kamera dan bisik-bisik miring kaum sosialita London, Yara bisa menjadi dirinya sendiri.Mereka makan dengan lahap. Sepiring waffle hangat dengan siraman sirup maple dan buah beri segar tandas dalam waktu singkat, diselingi cerita ini itu dari Yara yang tak ada habisnya."Kak Linda tahu tidak? Nathan itu kalau tidur ternyata bantalnya harus ditumpuk tiga!" adu Yara sambil mengunyah potongan sosisnya.Linda tertawa renyah, menopang dagunya dengan tangan. "Benarkah? Padahal kalau di kantor, wajahnya kaku seperti tidak butuh bantal sama sekali."Selesai makan, Linda langsung menarik tangan Yara. "Ayo, perjalanan kita belum selesai. Hari ini kita harus bersenang-senang sampai kaki kita lemas!"Linda mengajak Yara jalan-jal
Last Updated: 2026-05-21
Chapter: Bab 83
Malam ini, sedan mewah milik Nathan membelah jalanan aspal yang basah oleh sisa hujan. Lampu-lampu kota London berkelebat di kaca jendela, menandakan bahwa pelarian manis mereka di pesisir pantai telah resmi berakhir. Hari yang seharusnya mereka habiskan untuk bersenang-senang selama tiga hari penuh terpaksa dipangkas begitu saja karena Nathan mendadak menerima telepon darurat mengenai urusan bisnis yang tidak bisa ditunda.Yara duduk di kursi penumpang, menatap keluar jendela. Meskipun ia mengiyakan dan memahami posisi Nathan sebagai seorang pemimpin perusahaan besar, ia tidak bisa menyembunyikan rasa kecewanya. Bahunya merosot saat ia menghela napas panjang, membayangkan betapa membosankannya kembali terkurung di dalam apartemen yang sepi dan megah itu sendirian.Mendengar helaan napas yang cukup berat itu, Nathan menoleh sekilas ke arah Yara tanpa melepaskan fokusnya dari roda kemudi. Pria itu menyadari perubahan raut wajah Yara yang mendadak mendung setelah mereka meninggalkan pen
Last Updated: 2026-05-20
Chapter: Bab 82
Cahaya pagi bergulir lembut, menembus kaca jendela besar yang gordennya telah tersingkap lebar. Saat Yara membuka kelopak matanya, hal pertama yang menyambutnya adalah hamparan laut lepas yang berkilau keemasan diterpa matahari pagi. Rupanya, Nathan sudah bangun lebih dulu dan membuka pembatas antara kamar dengan dunia luar, membiarkan keindahan pantai Camber Sands langsung menyapa penglihatan Yara begitu ia terjaga.Bersamaan dengan kesadarannya yang terkumpul, aroma gurih dari ikan yang dipanggang dengan mentega dan rempah langsung memenuhi rongga hidungnya. Perut Yara seketika berbunyi, merespons wewangian yang begitu menggugah selera.Dengan rambut sedikit acak-acakan dan langkah kaki telanjang, Yara langsung turun dari ranjang. Ia berjalan menuju area pantry terbuka yang berbatasan langsung dengan jendela besar, memperlihatkan pemandangan taman kecil berumput hijau di samping penginapan. Di sana, Nathan sedang berdiri dengan apron gelap membungkus kaos santainya, terlihat begitu
Last Updated: 2026-05-19
Chapter: Bab 81
Galeri seni pribadi Zhen Chu terletak di sebuah gedung tua yang telah direnovasi dengan sentuhan industrial modern yang sangat kental. Begitu pintu besi besar itu terbuka, Clara disambut oleh keheningan yang elegan. Dinding-dinding putih bersih di sana dihiasi oleh berbagai kanvas dengan teknik pewarnaan yang berani, diterangi oleh lampu sorot yang memberikan kesan magis pada setiap goresan kuas.Zhen berjalan perlahan di samping Clara, kedua tangannya disembunyikan di saku celana kainnya. Ia tampak sangat menguasai setiap inci ruangan ini."Kau lihat lukisan abstrak di sana?" Zhen menunjuk pada sebuah kanvas besar dengan dominasi warna biru laut dan percikan emas yang acak. "Itu berjudul The Silent Escape. Pelukisnya membuatnya saat dia merasa terjebak di tengah hiruk-pikuk kota yang tidak pernah tidur. Dia merasa, satu-satunya cara untuk tetap waras adalah dengan menciptakan dunianya sendiri."Clara mendekat, menatap lukisan itu dengan saksama. "Biru ini... terasa sangat dalam. Sepe
Last Updated: 2026-04-24
Chapter: Bab 80
Lampu kristal yang menggantung di langit-langit restoran fine dining itu memantulkan cahaya temaram, menciptakan atmosfer yang intim sekaligus menyesakkan bagi Clara. Dia menghampiri Zhen yang tengah berbicara dengan seseorang.Saat Clara mendekat, pria tersebut pergi membawa tablet yang baru saja di perlihatkan ke Zhen."Sudah datang?" Zhen bangkit sambil tersenyum dan menarik kursi untuk Clara. "Silahkan duduk." Clara sejenak menatapnya, tapi dia tetap duduk.Zhen Chu duduk di hadapannya, terlihat sangat tenang."Kenapa kau melakukan ini, Zhen? Bukankah sudah kukatakan jangan dekat-dekat denganku?" ucap Clara ketus, meski ia tidak beranjak dari kursi beludru itu.Zhen tidak langsung menjawab. Ia mengambil botol vintage wine dan menuangkannya perlahan ke gelas Clara. "Kalau aku bilang, ini karena aku ingin menghabiskan waktu lebih banyak denganmu, apa kau percaya?"Clara mendengus sinis. "Gombalanmu tidak mempan, Zhen. Aku ingatkan kau, aku
Last Updated: 2026-04-22
Chapter: Bab 79
Angin laut malam mulai terasa menggigit kulit saat semburat jingga di cakrawala Camber Sands perlahan ditelan kegelapan. Pasir putih yang tadinya hangat kini berubah dingin di bawah telapak kaki. Yara, dengan rambut yang agak acak-acakkan karena tiupan angin kencang, berjalan sedikit tertatih sambil memegangi lengan Nathan."Nathan... aku lapar," rengek Yara. Suaranya terdengar seperti anak kecil yang kehabisan baterai setelah seharian bermain di taman bermain.Nathan menoleh, menatap Yara yang tampak sedikit pucat namun matanya masih berbinar. "Lapar, hm? Tadi siang sepertinya kau makan udang bakar seperti orang kesurupan. Sekarang sudah lapar lagi?"Yara mendongak, mengerucutkan bibirnya dengan kesal. "Itu kan tadi siang! Bermain air dan berlari mengejarmu itu membakar banyak kalori tahu! Perutku sudah bernyanyi keroncongan sejak sepuluh menit yang lalu."Nathan terkekeh, suara tawa rendah yang selalu berhasil membuat perut Yara terasa geli. Ia menarik
Last Updated: 2026-04-21
Bisikan Dosa

Bisikan Dosa

Follow me on IG: @sizuniilee Alana tak pernah menyangka, pindah ke rumah baru berarti menyerahkan dirinya pada dua godaan yang tak termaafkan. Axel, kakak tirinya yang urakan, mengajarinya kenikmatan yang membuatnya candu. Dan Nero, sang kakak sulung yang dingin, justru membuatnya terikat pada pesona yang tak bisa ia lawan. Semua batas seharusnya jelas. Semua larangan seharusnya tak bisa ditembus. Namun semakin ia berusaha menjauh, semakin dalam ia tenggelam dalam bisikan dosa yang memabukkan.
Read
Chapter: Bab 105 - Aku merindukanmu
Keheningan yang mencekam itu seolah membekukan udara di dalam lorong apartemen. Axel menatap layar ponsel Nero dengan rahang yang mengatup rapat, kilatan syok di matanya perlahan berubah menjadi kemarahan baru yang lebih pekat. Namun, alih-alih mundur, cengkeraman tangan Axel pada pergelangan tangan Alana justru semakin mengencang."Aku bisa atasi masalah itu sendiri, kau jangan ikut campur!" desis Axel, suaranya rendah dan penuh penekanan, mencoba menutupi badai yang sedang bergemuruh di dalam dadanya.Nero tidak bergeming. Dengan gerakan yang tidak kalah cepat dan kuat, tangan besarnya kembali menyambar pergelangan tangan Alana yang satunya, menahan gadis itu agar tidak bergeser satu senti pun. "Selagi itu urusan Alana, aku akan terus ikut campur."Kedua pria dominan itu saling melempar tatapan mematikan. Ketegangan di antara mereka begitu pekat, seolah satu percikan kecil saja bisa meledakkan seluruh tempat itu. Alana yang berada di tengah-tengah merasa tubuhnya seperti hendak terb
Last Updated: 2026-05-21
Chapter: Bab 104 - Terjebak di antara Nero dan Axel
Di pinggir jalan raya yang diterangi lampu neon temaram, Axel duduk diam di atas motor sportnya. Deru mesin motornya yang sengaja tidak dimatikan berpadu dengan gemuruh amarah di dadanya.Ponsel di dalam saku jaket kulitnya bergetar. Axel langsung menyambar benda itu dan menempelkannya ke telinga tanpa membuang waktu."Bagaimana?" tanya Axel, suaranya rendah dan sarat akan ancaman."Aku sudah mengikutinya sejak dari rumah sakit, Bang. Mobil Nero berhenti di sebuah gedung apartemen mewah di pusat kota. Dia membawa Alana masuk lewat lift khusus," lapor suara seorang pria di seberang telepon. "Akan aku kirimkan alamat lengkapnya sekarang.""Bagus," jawab Axel singkat.Ting. Sebuah notifikasi pesan masuk, menampilkan sebuah alamat lengkap beserta nomor lantai penthouse milik Nero. Mata Axel berkilat tajam di balik kaca helmnya. Rahangnya mengeras hingga urat-urat di lehernya menonjol."Kena kau, Nero," desis Axel penuh dendam.Ia langsung menarik kaca helmnya ke bawah, memutar gas dengan
Last Updated: 2026-05-20
Chapter: Bab 103 - Taktik Nero
Tiga hari berlalu di rumah sakit, dan akhirnya Dokter Clarissa mengizinkan Alana untuk pulang. Namun, kepulangan Alana kali ini sama sekali tidak seperti yang ia bayangkan. Langkahnya di sepanjang koridor rumah sakit tidak dibiarkan bebas. Tangan besar Nero menggandengnya dengan begitu erat, seolah-olah Alana adalah porselen rapuh yang bisa hancur kapan saja jika tersenggol orang lain."Kak, tidak usah seperti ini. Aku bisa jalan sendiri, sungguh," bisik Alana pelan, merasa agak risih karena beberapa perawat sesekali melirik ke arah mereka. "Aku sudah sehat, Kak Nero."Nero tidak melepaskan genggamannya, bahkan tidak menoleh sedikit pun. "Diam dan jalan saja, Alana. Jangan membantah."Alana hanya bisa menghela napas pasrah. Ketika mereka sampai di lobi, sebuah mobil sedan hitam mewah sudah menunggu. Nero melangkah maju, membukakan pintu bagian belakang untuk Alana. Setelah Alana masuk dengan ragu, Nero ikut masuk dan duduk tepat di sampingnya, menutup pintu dengan bunyi debuman yang s
Last Updated: 2026-05-19
Chapter: 102 - Ciuman di kening
Pintu kamar rawat VIP itu bergeser pelan saat Dokter Clarissa melangkah keluar dengan senyum tipis yang tampak sedikit dipaksakan. Di tangannya terdapat berkas medis yang baru saja ia perbarui. Ia menatap Alana yang masih duduk bersandar di ranjang, lalu beralih menatap Nero yang berdiri di koridor."Semuanya sudah benar-benar stabil, Nero," ucap Clarissa dengan nada profesional yang tenang. "Reaksi alerginya sudah ditekan sepenuhnya. Dia hanya butuh istirahat total dan makanan bergizi untuk memulihkan staminanya. Aku sudah memberikan resep vitamin tambahan."Nero hanya mengangguk singkat, matanya sudah tidak sabar untuk kembali masuk ke dalam ruangan."Oh, satu lagi," Clarissa menahan langkah Nero sejenak. "Jangan terlalu keras padanya. Dia baru saja melewati trauma fisik dan mental. Pastikan dia merasa aman.""Aku tahu," jawab Nero datar.Begitu Clarissa menjauh, Nero segera masuk dan menutup pintu rapat-rapat, mengunci kebisingan rumah sakit di luar sana. Suasana mendadak menjadi s
Last Updated: 2026-05-02
Chapter: Bab 101 - Iblis dari neraka
Gudang tua di pinggir kota itu berbau karat, debu, dan anyir darah yang menyengat. Suara musik diskotik semalam telah digantikan oleh suara daging yang dihantam benda tumpul dan rintihan yang menyayat.Bugh! Bugh!"Ampun... ampun, Kak! Akh!" teriakan itu menggelegar, memantul di dinding-dinding seng yang berkarat.Axel tidak berhenti. Napasnya memburu, matanya memerah seperti iblis yang baru saja bangkit dari neraka. Ia tidak menggunakan senjata; ia menggunakan kepalan tangannya sendiri untuk menghancurkan wajah pria yang malang itu. Dua pemuda lainnya sudah tergeletak tak sadarkan diri di lantai semen yang dingin, tubuh mereka bengkok tak beraturan. Dua sisanya masih terikat di kursi kayu dengan mata melotot ketakutan, gemetar hebat melihat rekan mereka dihancurkan satu per satu.Di sudut gudang, teman-teman Axel—Kevin, Drean, Guen, dan Leon—berdiri menyandar ke tumpukan peti kayu, memperhatikan tontonan brutal di depan mereka."Sepert
Last Updated: 2026-05-01
Chapter: Bab 100 - Genggaman tangan Nero
Sinar matahari pagi mulai menyerobos masuk melalui celah gorden ruang VIP rumah sakit, memberikan nuansa hangat yang kontras dengan aroma obat-obatan yang tajam. Di dalam ruangan itu, hanya terdengar detak ritmis dari mesin pemantau jantung dan desah napas halus Alana yang masih terlelap. Nero duduk di sisi ranjang, matanya merah dan wajahnya tampak kuyu. Ia tidak beranjak sedikit pun sejak semalam, seolah sedetik saja ia berpaling, Alana akan menghilang.Ponsel Nero yang tergeletak di atas nakas bergetar tanpa henti. Layarnya menyala, menampilkan rentetan telepon dan pesan dari Axel yang dipenuhi amarah."DI MANA DIA, NERO?!""JANGAN SEMBUNYIKAN ALANA DARIKU. KATAKAN DI MANA RUMAH SAKITNYA!""AKU AKAN MENGOBRAK-ABRIK SELURUH RUMAH SAKIT DI KOTA INI KALAU KAU TIDAK MENJAWAB!"Nero hanya melirik layar itu dengan tatapan dingin. Jangankan membalas, menyentuhnya pun ia enggan. Ia kembali memfokuskan seluruh perhatiannya pada tangan mungil Alana
Last Updated: 2026-04-30
Istri Yang Kau Hina, Incaran Mafia

Istri Yang Kau Hina, Incaran Mafia

Follow me on IG : @sizuniilee Manjadi seorang istri tentunya sangat tidak mudah untuk Valeria, apalagi keluarga dari suaminya selalu saja menuntut Valeria menjadi sempurna. Setelah melahirkan seorang anak, tubuh Valeria yang berubah drastis membuat suaminya berselingkuh dengan alasan Valeria tidak cantik lagi. Tak lama setelah itu, Valeria juga kehilangan anak yang baru saja dia lahirkan. Semua orang menyalahkan Valeria karena tidak becus menjaga anak. Julian menceraikan Valeria, di saat yang bersamaan, keluarga Valeria membawanya pulang dan diam-diam dia menerima warisan dari keluarganya yang pura-pura bangkrut selama ini. Valeria kembali bangkit, dia mulai mengubah penampilannya dan menjadi CEO di perusahaannya. Perlahan, Valeria membalaskan dendamnya kepada keluarga Julian. Saat Valeria menyelidiki ternyata keluarga Julian bekerja sama dengan seorang mafia untuk memperlancar bisnisnya. Karena Valeria hanya fokus membalas dendam, dia tak tahu jika mafia itu tertarik dengan Valeria. Valeria yang sudah trauma dengan percintaan kini di goyahkan lagi dengan pria mapan dan berwibawa itu. Dengan semua usaha yang di kerahkan Salvatore, Valeria mulai kembali membuka hati. Sal bahkan membuat Valeria semakin bertumbuh menjadi wanita yang jauh lebih baik. Mereka menjadi pasangan yang paling di segani di dunia perbisnisan.
Read
Chapter: EPILOG
Lima Tahun Kemudian ....Di markas Il Leone d'Ombra, seorang gadis kecil duduk di samping seorang pria bertubuh kekar. Suasana ruangan itu penuh dengan aroma logam dan minyak senjata, namun gadis kecil itu tampak tidak terganggu sedikit pun.Antonio, pria yang tengah merapikan senjata, berkali-kali menarik napas panjang. Di sebelahnya, Elettra—gadis kecil berusia lima tahun dengan rambut ikal kecokelatan dan mata secerah musim semi—terus berbicara tanpa jeda."Uncle Antonio, kenapa peluru ini warnanya beda? Apa senjatanya juga beda? Kalau senjata ini bisa buat tembak monster nggak? Kenapa di sini gelap banget? Uncle nggak takut hantu?"Antonio menghela napas, berusaha tetap fokus membersihkan senjatanya. "Elettra, bukankah kau seharusnya menggambar atau bermain boneka? Anak seusiamu biasanya tidak tertarik pada senjata.""Aku bukan anak kecil biasa, Uncle. Aku Elettra Marino! Aku harus tahu semuanya supaya bisa melindungi Mommy dan Daddy. Kalau Uncle nggak mau jawab, aku tanya sama Da
Last Updated: 2025-03-07
Chapter: Bab 210
Elena menangis tak henti-henti di pelukan Lorenzo. Tubuhnya bergetar, wajahnya penuh kekhawatiran."Tuhan, jangan ambil putriku ..., jangan ambil cucuku ...," isaknya berulang kali.Lorenzo mencoba menenangkan istrinya, meski dalam hatinya sendiri ada badai yang tak kalah hebat. "Tenanglah, sayang. Valeria perempuan yang kuat. Dia akan baik-baik saja." Meski suaranya terdengar tenang, genggaman tangannya pada bahu Elena menunjukkan betapa kerasnya dia menahan diri untuk tidak ikut larut dalam kepanikan.Sementara itu, Anna mondar-mandir di koridor rumah sakit. Setiap detik terasa seperti menit, setiap menit terasa seperti jam."Kenapa lama sekali? Kenapa belum ada kabar?" Anna bergumam, tatapannya kosong.Di tengah semua kegaduhan itu, Salvatore justru terdiam. Dia berdiri di sudut ruangan, tubuhnya kaku seperti patung. Matanya tertuju pada pintu ruang operasi, seolah menunggu keajaiban. Namun, dalam keheningannya, tubuhnya gemetar. Keringat dingin membasahi pelipisnya."Valeria ...,
Last Updated: 2025-03-07
Chapter: Bab 209
Hari berganti hari, minggu berganti minggu. Kini perut Valeria sudah semakin membesar, hampir memasuki usia delapan bulan.Musim semi menghiasi kota dengan udara hangat dan bunga bermekaran. Valeria duduk di bangku kayu di tepi jalan, menikmati es krim stroberi yang mencair perlahan di tangannya.Wajahnya berseri-seri, matanya berbinar penuh kebahagiaan. Di sampingnya, Salvatore duduk santai, sesekali menyeka tetesan es krim yang hampir jatuh ke gaun Valeria."Kau tahu, Salvatore," ucap Valeria sambil menjilati sendok es krimnya. "Aku berharap anak kita nanti suka es krim sepertiku. Bagaimana menurutmu?"Salvatore tertawa kecil. "Kalau begitu, aku harus siap-siap mengisi freezer penuh es krim. Anak kita akan jadi pecinta es krim garis keras sepertimu."Valeria tertawa terbahak. Suara tawanya menggema lembut di tengah keramaian jalan. Beberapa orang yang lewat ikut tersenyum melihat pasangan itu, seolah kebahagiaan mereka menular.Tas belanja di kaki mereka penuh dengan perlengkapan ba
Last Updated: 2025-03-07
Chapter: Bab 208
Matahari mulai tenggelam, menciptakan gradasi oranye dan ungu di langit senja. Salvatore duduk di kursi balkon kamar Valeria, memandangi langit dengan tatapan kosong.Angin sore berhembus lembut, namun tidak mampu mendinginkan pikirannya yang berkecamuk. Kata-kata Julian terus terngiang di kepalanya, mengalun seperti nada minor yang menghantui."Lepaskan Sofia .... Hentikan penyiksaannya ...."Salvatore memijit pelipisnya. Rasa pusing itu kembali datang, semakin tajam seiring bayangan-bayangan samar yang muncul. Wajah Sofia, jeruji penjara, dan suara erangan kesakitan yang entah berasal dari mana. Apa benar semua itu ulahnya?Dia mendesah panjang, rasa bersalah mulai merayapi hatinya. Bagaimana mungkin dia mencintai Valeria namun di saat yang sama menyakiti orang lain? Apakah ini sisi gelapnya yang tersembunyi?"Salvatore?"Suara lembut Valeria membuyarkan lamunannya. Salvatore menoleh, melihat Valeria berdiri di sampingnya dengan segelas jus segar di tangannya. Senyum perempuan itu t
Last Updated: 2025-03-07
Chapter: Bab 207
Setelah menjalani pemeriksaan di rumah sakit, Salvatore dan Valeria keluar dengan senyum lega. Hasil pemeriksaan menunjukkan kondisi mereka baik-baik saja. Kaki Salvatore hanya memerlukan sedikit terapi, dan kehamilan Valeria dalam keadaan sehat. Beban yang sempat menggantung di benak mereka pun perlahan terangkat."Ayo, kita makan siang. Aku sudah lapar," ujar Valeria ceria, menggenggam tangan Salvatore dengan erat."Aku juga," Salvatore tersenyum hangat. "Ada restoran di sekitar sini yang katanya enak. Mau coba?""Tahu darimana?""Tadi aku sempat mendengar percakapan orang di rumah sakit. Mau coba makan di sana?"Valeria mengangguk antusias. Mereka berjalan bergandengan tangan menuju restoran kecil berdesain klasik yang tak jauh dari rumah sakit. Suasananya tenang dengan dekorasi kayu dan jendela besar yang menghadap ke taman kota.Mereka memilih meja di dekat jendela, menikmati pemandangan hijau di luar sembari menunggu pesanan datang. Percakapan ringan mengalir, sesekali diiringi
Last Updated: 2025-03-07
Chapter: Bab 206
Sinar matahari pagi menerobos jendela ruang makan, menciptakan pola-pola cahaya yang menari di atas meja kayu panjang yang telah dipenuhi oleh berbagai hidangan sarapan. Aroma roti panggang yang baru matang, telur dadar lembut, dan kopi hitam pekat menguar di udara, memberikan suasana hangat di rumah keluarga Valeria.Di ujung meja, Salvatore duduk dengan rapi dalam setelan kasual, mengenakan kemeja putih yang digulung hingga siku dan celana panjang gelap. Di sebelahnya, Valeria tampak anggun dalam gaun sederhana berwarna pastel yang lembut membungkus tubuhnya yang kini tengah mengandung. Tangannya sesekali mengusap perutnya yang mulai membuncit, seolah secara naluriah melindungi kehidupan kecil di dalamnya.Elena meletakkan cangkir kopi di depannya, kemudian duduk di samping Lorenzo. Giulia dan Roberto juga telah mengambil tempat, memulai sarapan dengan senda gurau kecil."Kalian tampak rapi pagi ini." Elena membuka percakapan dengan senyum keibuan. "Ada acara khusus?"Valeria dan Sa
Last Updated: 2025-03-07
You may also like
Bos, Kamu Terlalu Panas
Bos, Kamu Terlalu Panas
Romansa · Jackie Boyz
1.4K views
My Sweet Baby
My Sweet Baby
Romansa · Shao_sān
1.4K views
Terpaksa Menikah
Terpaksa Menikah
Romansa · Yunita Cihuy
1.4K views
Tawanan Mafia Blackwood
Tawanan Mafia Blackwood
Romansa · Avelina Anggel
1.4K views
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status