Beranda / Romansa / Bisikan Dosa / Bab 1 - Rumah baru

Share

Bisikan Dosa
Bisikan Dosa
Penulis: Lee Sizunii

Bab 1 - Rumah baru

Penulis: Lee Sizunii
last update Tanggal publikasi: 2025-08-19 21:19:53

Alana berdiri di depan gerbang besi hitam yang menjulang tinggi. Ukirannya rumit, tampak angkuh sekaligus indah, seperti gerbang istana dalam dongeng.

Bedanya, ini bukan dongeng. Ini kenyataan baru yang harus ia jalani, sebuah rumah megah milik keluarga Graves, tempat ibunya kini tinggal bersama suami barunya.

Mobil berhenti. Supir turun, membukakan pintu untuknya.

Dengan langkah ragu, Alana menapaki jalan setapak menuju rumah utama. Setiap sisi dipenuhi taman yang tertata sempurna, dengan patung-patung marmer putih dan air mancur berkilauan di tengah halaman. Rumah itu begitu besar hingga membuatnya merasa kecil.

"Apa aku benar-benar akan tinggal di sini...?" pikirnya.

Ada kekaguman, tapi juga ketakutan yang merayap. Selama hidup, Alana hanya mengenal rumah sederhana di pinggiran kota, tempat suara ayam tetangga terdengar setiap pagi dan jalanan tanah selalu becek setelah hujan.

Kini, semua tampak asing. Dinding menjulang tinggi, jendela kaca besar, dan kesunyian mewah yang membuatnya gugup.

Di pintu masuk, Edward Graves sudah menunggu. Pria dewasa yang masih sangat tampan itu berdiri tegak dengan jas abu-abu yang rapi. Senyumnya tipis, lebih terlihat sebagai formalitas ketimbang sambutan hangat.

“Selamat datang di rumahmu yang baru, Alana,” kata Edward, nada suaranya datar.

Alana mengangguk, berusaha sopan. “Terima kasih, Tuan Graves.” Dia ingin berkata 'ayah tiri', tapi lidahnya kelu.

Ibunya, Vivienne, segera meraih tangan Alana dan menepuknya lembut. “Kamu pasti capek, sayang. Ayo masuk, Mama tunjukkan kamarmu nanti.” Wajah Vivienne penuh senyum, seolah yakin semua ini akan menjadi awal indah.

Namun sebelum langkah mereka berlanjut, dua sosok muncul dari dalam rumah.

Yang pertama, tinggi dan tegap dengan kemeja hitam pas badan. Rambutnya rapi, wajahnya serius, sorot matanya tajam seperti sedang menilai. Itulah Nero Graves, putra sulung Edward. Tatapannya berhenti lama pada Alana, dingin dan menghitung, seakan hanya dengan sekali pandang dia sudah menentukan Alana tak pantas berada di sini.

“Ini adik barumu, Nero,” ucap Edward.

Nero hanya mengangguk singkat. “Selamat datang,” katanya, nadanya formal, tanpa sedikit pun kehangatan.

Alana menelan ludah, merasa tercekik oleh tatapan itu. Kakak tirinya terlihat mengerikan.

Kemudian, suara langkah santai terdengar dari tangga. Axel Graves turun dengan kemeja putih yang kancing atasnya terbuka, rambut acak-acakan, dan senyum lebar di wajah. Berbanding terbalik dengan Nero, Axel terlihat urakan, seolah tak peduli pada aturan rumah mewah ini.

“Oh, jadi ini yang namanya Alana?” Axel menyipitkan mata, lalu menyeringai nakal. “Wah, lebih manis dari yang kubayangkan.”

Dia menyandarkan tubuh ke pegangan tangga, tatapannya terang-terangan menelusuri Alana dari atas sampai bawah.

Alana terdiam, wajahnya memanas. “Uh… terima kasih?” suaranya terdengar gugup.

Vivienne buru-buru menengahi. “Axel, jangan membuat adikmu tidak nyaman.”

“Tapi aku cuma jujur, Ma,” jawab Axel, terkekeh pelan. Lalu, tanpa rasa bersalah, ia menambahkan, “Kalau begini sih aku jadi nggak keberatan punya adik baru.”

Alana merasa darahnya naik ke wajah. Tangannya meremas tali tas di pundak, berusaha menutupi kegugupan. Dalam hati, ia langsung sadar, rumah baru ini memang megah, tapi orang-orang di dalamnya… tidak semuanya ramah.

"Aku harap kalian bisa akur di rumah ini. Nero, jangan buat Alana merasa tertekan. Axel, jaga sikapmu dan jangan bertingkah," ingat Edward.

"Apa sih Pa, mana mungkin aku bertingkah. Aku suka kok punya adik perempuan." Axel tersenyum ke arah Alana.

Alana menunduk kikuk. Ini sangat tidak nyaman untuknya.

"Ayo sayang, Mama antar kamu ke kamar."

Vivienne menggandeng tangan Alana untuk pergi dari sana. Sementara Axel melompat kecil membuntuti mereka.

"Aku ikut!"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Bisikan Dosa   Bab 105 - Aku merindukanmu

    Keheningan yang mencekam itu seolah membekukan udara di dalam lorong apartemen. Axel menatap layar ponsel Nero dengan rahang yang mengatup rapat, kilatan syok di matanya perlahan berubah menjadi kemarahan baru yang lebih pekat. Namun, alih-alih mundur, cengkeraman tangan Axel pada pergelangan tangan Alana justru semakin mengencang."Aku bisa atasi masalah itu sendiri, kau jangan ikut campur!" desis Axel, suaranya rendah dan penuh penekanan, mencoba menutupi badai yang sedang bergemuruh di dalam dadanya.Nero tidak bergeming. Dengan gerakan yang tidak kalah cepat dan kuat, tangan besarnya kembali menyambar pergelangan tangan Alana yang satunya, menahan gadis itu agar tidak bergeser satu senti pun. "Selagi itu urusan Alana, aku akan terus ikut campur."Kedua pria dominan itu saling melempar tatapan mematikan. Ketegangan di antara mereka begitu pekat, seolah satu percikan kecil saja bisa meledakkan seluruh tempat itu. Alana yang berada di tengah-tengah merasa tubuhnya seperti hendak terb

  • Bisikan Dosa   Bab 104 - Terjebak di antara Nero dan Axel

    Di pinggir jalan raya yang diterangi lampu neon temaram, Axel duduk diam di atas motor sportnya. Deru mesin motornya yang sengaja tidak dimatikan berpadu dengan gemuruh amarah di dadanya.Ponsel di dalam saku jaket kulitnya bergetar. Axel langsung menyambar benda itu dan menempelkannya ke telinga tanpa membuang waktu."Bagaimana?" tanya Axel, suaranya rendah dan sarat akan ancaman."Aku sudah mengikutinya sejak dari rumah sakit, Bang. Mobil Nero berhenti di sebuah gedung apartemen mewah di pusat kota. Dia membawa Alana masuk lewat lift khusus," lapor suara seorang pria di seberang telepon. "Akan aku kirimkan alamat lengkapnya sekarang.""Bagus," jawab Axel singkat.Ting. Sebuah notifikasi pesan masuk, menampilkan sebuah alamat lengkap beserta nomor lantai penthouse milik Nero. Mata Axel berkilat tajam di balik kaca helmnya. Rahangnya mengeras hingga urat-urat di lehernya menonjol."Kena kau, Nero," desis Axel penuh dendam.Ia langsung menarik kaca helmnya ke bawah, memutar gas dengan

  • Bisikan Dosa   Bab 103 - Taktik Nero

    Tiga hari berlalu di rumah sakit, dan akhirnya Dokter Clarissa mengizinkan Alana untuk pulang. Namun, kepulangan Alana kali ini sama sekali tidak seperti yang ia bayangkan. Langkahnya di sepanjang koridor rumah sakit tidak dibiarkan bebas. Tangan besar Nero menggandengnya dengan begitu erat, seolah-olah Alana adalah porselen rapuh yang bisa hancur kapan saja jika tersenggol orang lain."Kak, tidak usah seperti ini. Aku bisa jalan sendiri, sungguh," bisik Alana pelan, merasa agak risih karena beberapa perawat sesekali melirik ke arah mereka. "Aku sudah sehat, Kak Nero."Nero tidak melepaskan genggamannya, bahkan tidak menoleh sedikit pun. "Diam dan jalan saja, Alana. Jangan membantah."Alana hanya bisa menghela napas pasrah. Ketika mereka sampai di lobi, sebuah mobil sedan hitam mewah sudah menunggu. Nero melangkah maju, membukakan pintu bagian belakang untuk Alana. Setelah Alana masuk dengan ragu, Nero ikut masuk dan duduk tepat di sampingnya, menutup pintu dengan bunyi debuman yang s

  • Bisikan Dosa   102 - Ciuman di kening

    Pintu kamar rawat VIP itu bergeser pelan saat Dokter Clarissa melangkah keluar dengan senyum tipis yang tampak sedikit dipaksakan. Di tangannya terdapat berkas medis yang baru saja ia perbarui. Ia menatap Alana yang masih duduk bersandar di ranjang, lalu beralih menatap Nero yang berdiri di koridor."Semuanya sudah benar-benar stabil, Nero," ucap Clarissa dengan nada profesional yang tenang. "Reaksi alerginya sudah ditekan sepenuhnya. Dia hanya butuh istirahat total dan makanan bergizi untuk memulihkan staminanya. Aku sudah memberikan resep vitamin tambahan."Nero hanya mengangguk singkat, matanya sudah tidak sabar untuk kembali masuk ke dalam ruangan."Oh, satu lagi," Clarissa menahan langkah Nero sejenak. "Jangan terlalu keras padanya. Dia baru saja melewati trauma fisik dan mental. Pastikan dia merasa aman.""Aku tahu," jawab Nero datar.Begitu Clarissa menjauh, Nero segera masuk dan menutup pintu rapat-rapat, mengunci kebisingan rumah sakit di luar sana. Suasana mendadak menjadi s

  • Bisikan Dosa   Bab 101 - Iblis dari neraka

    Gudang tua di pinggir kota itu berbau karat, debu, dan anyir darah yang menyengat. Suara musik diskotik semalam telah digantikan oleh suara daging yang dihantam benda tumpul dan rintihan yang menyayat.Bugh! Bugh!"Ampun... ampun, Kak! Akh!" teriakan itu menggelegar, memantul di dinding-dinding seng yang berkarat.Axel tidak berhenti. Napasnya memburu, matanya memerah seperti iblis yang baru saja bangkit dari neraka. Ia tidak menggunakan senjata; ia menggunakan kepalan tangannya sendiri untuk menghancurkan wajah pria yang malang itu. Dua pemuda lainnya sudah tergeletak tak sadarkan diri di lantai semen yang dingin, tubuh mereka bengkok tak beraturan. Dua sisanya masih terikat di kursi kayu dengan mata melotot ketakutan, gemetar hebat melihat rekan mereka dihancurkan satu per satu.Di sudut gudang, teman-teman Axel—Kevin, Drean, Guen, dan Leon—berdiri menyandar ke tumpukan peti kayu, memperhatikan tontonan brutal di depan mereka."Sepert

  • Bisikan Dosa   Bab 100 - Genggaman tangan Nero

    Sinar matahari pagi mulai menyerobos masuk melalui celah gorden ruang VIP rumah sakit, memberikan nuansa hangat yang kontras dengan aroma obat-obatan yang tajam. Di dalam ruangan itu, hanya terdengar detak ritmis dari mesin pemantau jantung dan desah napas halus Alana yang masih terlelap. Nero duduk di sisi ranjang, matanya merah dan wajahnya tampak kuyu. Ia tidak beranjak sedikit pun sejak semalam, seolah sedetik saja ia berpaling, Alana akan menghilang.Ponsel Nero yang tergeletak di atas nakas bergetar tanpa henti. Layarnya menyala, menampilkan rentetan telepon dan pesan dari Axel yang dipenuhi amarah."DI MANA DIA, NERO?!""JANGAN SEMBUNYIKAN ALANA DARIKU. KATAKAN DI MANA RUMAH SAKITNYA!""AKU AKAN MENGOBRAK-ABRIK SELURUH RUMAH SAKIT DI KOTA INI KALAU KAU TIDAK MENJAWAB!"Nero hanya melirik layar itu dengan tatapan dingin. Jangankan membalas, menyentuhnya pun ia enggan. Ia kembali memfokuskan seluruh perhatiannya pada tangan mungil Alana

  • Bisikan Dosa   Bab 84 - Erangan di balik pintu

    Mata Alana mengerjap cepat, berusaha mengumpulkan kesadaran yang tercerai-berai. Sensasi hangat dan lembap di bibirnya masih terasa nyata, meninggalkan jejak yang membuat detak jantungnya berpacu tidak karuan. Ia menatap sosok pria yang berdiri di samping ranjang dengan postur tubuh tegap yang begi

  • Bisikan Dosa   Bab 83 - Bosan

    Keheningan di dalam ruangan kerja Nero mulai terasa mencekik. Setelah tiga jam bergelut dengan modul kuliah online dan menyelesaikan tumpukan tugas esai, Alana akhirnya menutup laptopnya dengan suara klik yang tajam. Ia menyandarkan punggung ke kursi kerja Nero yang empuk, kursi yang aromanya sanga

  • Bisikan Dosa   Bab 82 - Usapan di bibir

    Pagi itu, jalanan menuju pusat bisnis kota tampak padat, namun di dalam mobil SUV mewah milik Nero, suasana terasa seperti berada dalam ruang kedap suara yang dingin. Nero sengaja tidak membawa sopir seperti biasanya. Ia duduk di balik kemudi dengan setelan jas yang sempurna, sementara Alana duduk

  • Bisikan Dosa   Bab 8 - Link video

    Sore itu, langkah Alana terasa berat ketika ia menuruni mobil yang baru saja membawanya pulang dari kampus. Hari yang panjang benar-benar menguras tenaga. Tasnya terasa lebih berat dari biasanya, meski hanya berisi buku dan catatan. Begitu memasuki rumah keluarga Graves, kesunyian langsung menyamb

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status