Beranda / Romansa / Bisikan Dosa / Bab 39 - Adik tiri

Share

Bab 39 - Adik tiri

Penulis: Lee Sizunii
last update Tanggal publikasi: 2025-10-01 20:48:50

Dengan anggun, Axel berdiri di dekat bar, jari-jarinya yang panjang dengan santai memutar batang gelas wine yang berisi cairan merah tua. Matanya, bagai elang yang mengawasi mangsanya, tak pernah benar-benar meninggalkan sosok Alana yang dari kejauhan terus menempel pada Nero. Setiap senyuman yang merekah di bibir Alana, setiap tawanya yang terdengar ringan, seakan menjadi duri kecil yang menusuk-nusuk kesabarannya.

“Hei, Axel! Lama nggak ketemu, bro!”

Suara riuh dua pria mendekat, menepak bahu
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Bisikan Dosa   Bab 89 - Kemana Nero?

    Hari-hari setelah insiden di kamar itu terasa seperti berada di dimensi lain bagi Alana. Axel berubah total. Dia bukan lagi pria yang sering menghilang atau bersikap dingin. Kini, Axel seolah menempel pada Alana seperti bayangan. Setiap pagi, Axel tidak pernah lupa membawa hadiah kecil—entah itu cokelat impor, buku sketsa, atau aksesori cantik—seolah ingin memastikan Alana merasa selalu dipuja.Siang itu, mereka duduk di pinggir kolam renang yang airnya memantulkan cahaya matahari kebiruan. Alana sedang sibuk dengan laptop dan tumpukan buku tebal untuk kuliah online-nya, sementara Axel tampak tidak tertarik sedikit pun pada dunia akademik Alana. Ia lebih tertarik memperhatikan bagaimana dahi Alana berkerut saat konsentrasi."Ayo buka mulut lagi, aaa..." Axel menyodorkan potongan apel yang sudah dikupas rapi ke arah bibir Alana.Alana mencoba tetap fokus pada layar laptopnya. "Kak, aku sudah kenyang. Tadi kan sudah makan siang.""Sedikit saja,

  • Bisikan Dosa   Bab 88 - Mulai manja

    Pintu kamar Alana terbuka dengan derit pelan. Axel melangkah masuk membawa nampan berisi sarapan, wajahnya tampak lebih rileks dibandingkan sebelumnya.Alana, yang baru saja keluar dari kamar mandi, terlihat sudah rapi meski cara berjalannya masih sedikit canggung dan tertatih. Ada jejak kemerahan di lehernya yang tidak tertutup sempurna oleh kerah bajunya, sebuah tanda yang membuat Axel tersenyum penuh kemenangan saat melihatnya."Sarapan dulu, Sayang," ucap Axel lembut.Alana tidak membantah. Meski hatinya masih dibalut rasa canggung yang luar biasa, ia menuruti permintaan Axel. Karena kamar Alana tidak memiliki sofa dan hanya dilengkapi meja belajar yang penuh dengan buku-buku, Axel menepuk sisi ranjangnya, mengundang Alana untuk duduk di sana."Ayo makan," ajak Axel sambil menata bantal di belakang punggung mereka agar bisa bersandar dengan nyaman.Alana duduk di samping Axel, tubuhnya terasa pegal, namun ada perasaan aneh yang menjalar saat melihat perhatian yang pria itu berikan

  • Bisikan Dosa   Bab 87 - Amarah Nero

    Sinar matahari pagi menembus celah gorden, menciptakan pola garis-garis cahaya yang jatuh tepat di atas ranjang Alana. Ia terbangun bukan karena alarm, melainkan karena sebuah sentuhan lembut yang merayap di sepanjang garis rahangnya. Jemari Axel yang biasanya kasar, kini terasa begitu hati-hati saat membelai pipinya.Alana membuka mata perlahan, dan hal pertama yang ia lihat adalah wajah Axel yang sedang menatapnya dengan intensitas yang aneh—bukan tatapan dominan yang penuh tuntutan seperti semalam, melainkan tatapan yang hampir bisa dikatakan... lembut. Axel mengecup keningnya dengan durasi yang sedikit lebih lama dari biasanya."Sudah bangun, princess?" bisik Axel serak.Kesadaran Alana yang baru setengah jalan seketika terhantam realitas. Seluruh ingatan tentang kejadian semalam—desahan yang memecah keheningan, hingga rasa perih dan kepasrahan yang ia berikan—datang menghantamnya seperti banjir bandang. Alana terjingkit di atas ranjang, tubuhnya menegang hebat."A-apa yang... apa

  • Bisikan Dosa   Bab 86 - Kau adalah milikku

    Tanpa menunggu jawaban atau persetujuan, Axel membiarkan tubuhnya merubuh, mengunci tubuh Alana di bawahnya. Ciumannya kembali menuntut, kasar pada awalnya, namun perlahan berubah menjadi ritme yang menghancurkan pertahanan Alana. Setiap kali Alana mencoba mengumpulkan sisa-sisa harga dirinya untuk menolak, Axel menghapus perlawanan itu dengan jilatan di leher dan gigitan lembut di bahunya yang membuat napas Alana tercekat.Perlawanan Alana perlahan meluruh, digantikan oleh gelombang panas yang tidak bisa ia jelaskan. Tangan Axel yang besar mulai merayap liar di balik gaun tidur tipis itu. Ia menyentuh setiap inci kulit Alana dengan otoritas yang membuat gadis itu gemetar. Dari sepasang puncak dadanya yang sensitif hingga paha bagian dalamnya yang terasa panas, Axel memainkannya dengan ritme yang sengaja dibuat untuk menaklukkan.Alana tidak tahu mengapa ia begitu mudah menyerah. Mungkin karena ia lelah berpura-pura membenci pria yang selama ini selalu menghantuinya, atau mungkin kare

  • Bisikan Dosa   Bab 85 - Aku memang menyukaimu

    Hawa malam itu terasa berbeda, berat dengan ketegangan yang belum sepenuhnya surut. Alana baru saja menyelesaikan ritual pembersihannya. Ia melangkah keluar dari kamar mandi dengan gaun tidur berbahan sutra tipis yang jatuh tepat di atas lutut. Tanpa pakaian dalam, ia merasa bebas sekaligus rentan.Ia segera naik ke atas ranjang, memposisikan dirinya tengkurap sambil membuka laptop. Justin Timberlake - Mirrors mengalun lembut dari speaker ponselnya, memberikan sedikit kedamaian yang ia butuhkan.Alana mulai menyenandungkan liriknya, memejamkan mata, membiarkan melodi itu mengusir bayangan tatapan tajam Nero dan amarah Axel yang sempat meledak pagi tadi. Namun, kedamaian itu pecah saat sebuah suara bariton yang familiar menyela dari arah pintu."Bahagia banget kayaknya hari ini."Alana tersentak, laptopnya nyaris meluncur dari pangkuan. Ia menoleh dan mendapati Axel sedang bersandar santai di bingkai pintu, tangannya terlipat di depan dada, menatapnya dengan tatapan yang sulit diartika

  • Bisikan Dosa   Bab 84 - Erangan di balik pintu

    Mata Alana mengerjap cepat, berusaha mengumpulkan kesadaran yang tercerai-berai. Sensasi hangat dan lembap di bibirnya masih terasa nyata, meninggalkan jejak yang membuat detak jantungnya berpacu tidak karuan. Ia menatap sosok pria yang berdiri di samping ranjang dengan postur tubuh tegap yang begitu familiar."Kak Nero?" gumam Alana, suaranya parau.Nero menunduk, menatap Alana dengan sorot mata yang sulit diartikan—datar, namun intens. "Mengantuk?"Alana menggeleng cepat, meskipun rasa kantuk masih menggelayuti kelopak matanya. Ia berusaha mengenyahkan pikiran tentang mimpi aneh barusan. "Tidak... hanya sedikit terkejut.""Ayo pulang. Pekerjaanku sudah selesai," ucap Nero singkat. Tanpa menunggu jawaban, ia berbalik dan melangkah menuju pintu.Alana masih terduduk di ranjang, melamun sejenak. Pikirannya dipenuhi pertanyaan yang menggelitik. Apakah mimpi tadi nyata? Ia menyentuh bibirnya sendiri. Rasanya benar-benar basah. Mungkinkah Nero baru saja menciumnya saat ia tidur?Namun, me

  • Bisikan Dosa   Bab 81 - Jangan sentuh aku

    Suasana pagi di kediaman Graves selalu terasa dingin, sepadan dengan arsitektur minimalis modernnya yang didominasi marmer abu-abu. Alana terbangun dengan kepala yang sedikit berat. Sisa-sisa kekesalannya semalam terbawa hingga ke alam mimpi, membuatnya terus terjaga dan berguling gelisah di atas r

  • Bisikan Dosa   Bab 80 - Aku benci Axel

    Mobil mewah Nero meluncur pelus memasuki area parkir kediaman Graves yang megah. Suasana di dalam kabin sunyi, hanya menyisakan aroma parfum maskulin Nero dan sisa rasa manis es krim melon di lidah Alana yang mendadak terasa pahit. Bayangan Axel yang tertawa lepas sambil merangkul wanita asing di t

  • Bisikan Dosa   Bab 79 - Eskrim melon

    Malam di kediaman Graves terasa lebih tenang dari biasanya. Alana sudah berdiri di depan cermin selama lima belas menit, memastikan blazer marun yang dikenakannya tampak serasi dengan celana panjang hitamnya. Ia ingin terlihat dewasa, namun tetap ingin mempertahankan sisi cerianya.Tok, tok, tok."

  • Bisikan Dosa   Bab 78 - Janji makan malam

    Pintu gerbang otomatis kediaman mewah keluarga Graves terbuka perlahan, menyambut sedan hitam Nero yang meluncur halus melintasi halaman yang tertata rapi. Alana duduk mematung di kursi penumpang, memeluk kantong plastik berisi dimsumnya seolah benda itu adalah pelindung dari aura dingin yang meman

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status