Home / Romansa / Bisikan Dosa / Bab 78 - Janji makan malam

Share

Bab 78 - Janji makan malam

Author: Lee Sizunii
last update Last Updated: 2026-02-26 21:09:31

Pintu gerbang otomatis kediaman mewah keluarga Graves terbuka perlahan, menyambut sedan hitam Nero yang meluncur halus melintasi halaman yang tertata rapi. Alana duduk mematung di kursi penumpang, memeluk kantong plastik berisi dimsumnya seolah benda itu adalah pelindung dari aura dingin yang memancar dari pria di sampingnya.

Begitu mobil terparkir sempurna di basement, Alana segera turun. Ia melangkah kecil, berusaha menyamai ritme tungkai panjang Nero yang berjalan menuju pintu masuk utama.

N
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Bisikan Dosa   Bab 79 - Eskrim melon

    Malam di kediaman Graves terasa lebih tenang dari biasanya. Alana sudah berdiri di depan cermin selama lima belas menit, memastikan blazer marun yang dikenakannya tampak serasi dengan celana panjang hitamnya. Ia ingin terlihat dewasa, namun tetap ingin mempertahankan sisi cerianya.Tok, tok, tok."Alana, apa kau sudah siap?" Suara berat Nero terdengar dari balik pintu, konsisten dengan nada tenang dan otoritasnya."Iya! Sebentar lagi, Kak!" teriak Alana dari dalam. Ia menyambar tas kecilnya, memberikan satu kedipan terakhir pada pantulannya di cermin, lalu bergegas membuka pintu.Nero berdiri di sana, mengenakan kemeja hitam dengan lengan yang digulung hingga siku. Ia tampak maskulin sekaligus elegan. Alana langsung menyambut wajah kakaknya itu dengan senyum paling lebar yang ia miliki hari ini."Jadi, kita akan makan apa malam ini?" ucapnya bersemangat, matanya berbinar-binar seolah sedang menunggu hadiah besar.Nero memperhatikan perubahan aura Alana. Gadis itu tampak jauh lebih hid

  • Bisikan Dosa   Bab 78 - Janji makan malam

    Pintu gerbang otomatis kediaman mewah keluarga Graves terbuka perlahan, menyambut sedan hitam Nero yang meluncur halus melintasi halaman yang tertata rapi. Alana duduk mematung di kursi penumpang, memeluk kantong plastik berisi dimsumnya seolah benda itu adalah pelindung dari aura dingin yang memancar dari pria di sampingnya.Begitu mobil terparkir sempurna di basement, Alana segera turun. Ia melangkah kecil, berusaha menyamai ritme tungkai panjang Nero yang berjalan menuju pintu masuk utama.Nero tidak mengucapkan sepatah kata pun sejak mereka meninggalkan pinggir jalan tadi, membuat Alana terus-menerus melirik punggung tegap itu dengan perasaan was-was.Tepat di lobi depan yang luas dengan lantai marmer yang mengkilap, Nero tiba-tiba menghentikan langkahnya dan berbalik. Gerakan mendadak itu membuat Alana nyaris menabrak dada bidang kakaknya."Akh!" Alana tersentak, menengadah menatap wajah Nero yang tetap datar tanpa ekspresi."Kau belum makan siang?" tanya Nero, suaranya berat dan

  • Bisikan Dosa   Bab 77 - Pengen Dimsum

    Perjalanan kembali dari Maldives menyisakan keheningan yang janggal di dalam mobil. Nero turun lebih dulu di depan gedung pencakar langit kantornya tanpa banyak kata, hanya memberikan tatapan singkat yang sulit diartikan kepada Alana. Alana pun melanjutkan perjalanan pulang hanya ditemani sopir pribadi keluarga Graves.Sesampainya di rumah mewah itu, suasana terasa sepi. Vivienne dan Edward sepertinya sedang tidak di rumah, lagi. Alana segera melangkah menuju kamarnya, menutup pintu, dan menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur empuk yang sudah beberapa hari ia tinggalkan. Ia menghela napas panjang, menatap langit-langit kamar.Pikirannya mendadak berputar ke belakang. Kenangan di Maldives menyerbu seperti ombak; sentuhan panas Axel di bawah shower, ciuman memabukkan Nero di kamar hotel yang berantakan, hingga momen heroik Nero menyelamatkannya dari maut di tengah laut. Semuanya terasa seperti mimpi buruk yang indah sekaligus menakutkan. Rasa lelah yang luar biasa akhirnya menarik Alana ke

  • Bisikan Dosa   Bab 76 - Bangun di pelukan Nero

    Fajar di Maldives baru saja menyingsing, menyisakan bias cahaya kebiruan yang lembut menembus sela gorden kamar yang mewah. Alana membuka matanya perlahan, merasakan kehangatan yang tidak biasa menyelimuti tubuhnya. Saat kesadarannya terkumpul sepenuhnya, jantungnya seolah berhenti berdetak selama satu detik.Ia tidak sedang memeluk guling.Lengan kokoh yang melingkar di bahunya, dada bidang yang terasa keras namun nyaman di bawah pipinya, dan aroma kayu cendana bercampur sisa maskulin yang begitu kental—semuanya nyata. Alana mendapati dirinya meringkuk di dalam dekapan Nero, tangan kecilnya bahkan mencengkeram kemeja pria itu seolah takut kehilangan pegangan di tengah malam.Alana terpaku, tidak berani bergerak sedikit pun karena takut mengusik tidur pria di depannya. Dalam jarak sedekat ini, ia bisa mengamati detail wajah Nero yang biasanya tersembunyi di balik topeng kedinginannya. Garis rahang yang tegas namun tampak lebih relaks, hidung yang mancung sempurna, dan bibir yang malam

  • Bisikan Dosa   Bab 75 - Tidur di sini

    Ketegangan di antara mereka belum benar-benar luruh meski air laut sudah mengering dari kulit. Malam itu, Maldives diselimuti semburat biru gelap yang tenang, berbanding terbalik dengan gemuruh di dada Alana saat mendengar ketukan di pintunya.Ketika pintu terbuka, Nero berdiri di sana. Di belakangnya, seorang pelayan hotel mendorong troli perak berisi teko porselen dan aroma roti panggang yang masih mengepulkan uap."Kak Nero?" Alana bergumam kecil, merapatkan bathrobe putihnya."Aku mau memastikan kau benar-benar baik saja," ucap Nero pendek.Ia memberi isyarat pada pelayan untuk menaruh troli itu di sudut kamar. Begitu pelayan itu pergi dan pintu tertutup, suasana mendadak menjadi sangat privat.Nero melangkah mendekat. Tanpa aba-aba, ia menaruh telapak tangannya di dahi Alana. Gerakan itu begitu tiba-tiba hingga mata Alana membelalak, menatap lurus ke arah kancing kemeja Nero yang terbuka di bagian atas. Ia bisa merasakan kehangatan tangan pria itu, kontras dengan sikapnya yang se

  • Bisikan Dosa   Bab 74 - Fobia air

    Dingin yang menusuk langsung menyergap indra penciuman Alana begitu tubuhnya terperosok ke dalam air. Dalam sekejap mata, bayangan dek kapal yang kokoh dan wajah panik Axel yang berada di atas sana melebur menjadi bias cahaya yang tak beraturan karena gulungan ombak.Alana meronta. Tangannya menggapai-gapai ke segala arah, mencoba meraih udara yang terasa begitu jauh. Namun, laut Maldives yang tampak indah dari permukaan itu kini menjelma menjadi raksasa yang menelannya hidup-hidup. Air asin mulai merasuk ke dalam paru-parunya, menciptakan rasa perih yang luar biasa.“Apa aku akan mati di sini? Mama… tolong aku. Aku takut,” rintihnya dalam hati. Kesadarannya mulai menipis, dunianya perlahan menjadi gelap dan senyap.Sampai sebuah bayangan membelah buih-buih putih di permukaan. Sesosok tubuh meluncur deras ke arahnya, memecah keputusasaan yang baru saja menyergap Alana. Melalui pandangan yang kabur, Alana melihat sepasang tangan yang kuat mener

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status