MasukPagi itu, sinar matahari menerobos kaca jendela ruang makan keluarga Graves, menyoroti meja panjang yang sudah tertata rapi dengan hidangan sarapan. Alana duduk di kursi, berusaha menenangkan diri. Semalaman ia hampir tidak tidur. Bayangan Axel, suara tawanya, dan kalimat “Kamu penasaran?” terus bergema di kepalanya.
Namun sekarang, semua anggota keluarga hadir di meja. Vivianne duduk anggun di sisi Edward, wajahnya penuh kehangatan. Nero, seperti biasa, tampak serius dengan kemeja rapi meski hanya sarapan. Dan Axel… duduk santai di kursinya, melahap roti dan telur seolah dunia sama sekali tidak menyimpan rahasia. “Alana sayang,” suara lembut Vivianne memecah keheningan. “Bagaimana kuliahmu kemarin? Semua baik-baik saja?” Alana tersenyum kaku, menunduk sebentar sebelum menjawab, “Iya, Mama. Baik-baik saja.” Edward menambahkan, dengan nada perhatian khas seorang ayah, “Kalau ada apa-apa, jangan ragu bilang ke Papa, ya. Kamu sekarang bagian dari keluarga ini. Tidak ada yang perlu ditahan-tahan.” Kata-kata itu membuat hati Alana sedikit hangat, meski rasa canggung masih menjeratnya. Ia menoleh singkat pada Nero, hanya untuk menemukan tatapan dingin kakak tirinya itu yang terasa menelanjangi. Nero tidak berkata sepatah pun, hanya sekilas lirikan, lalu kembali ke piringnya. Axel? Seakan tidak ada apa-apa, dia sibuk mengunyah, bahkan tidak melirik Alana sekali pun. Tidak ada senyum nakal, tidak ada komentar iseng. Seolah kejadian semalam hanya hal sepele yang sudah ia lupakan. Bagi Alana, itu jauh lebih menyiksa. Karena yang tidak bisa melupakan justru dirinya. Setelah sarapan selesai, Alana pamit berangkat kuliah. Sopir keluarga sudah menunggu di depan dengan mobil hitam elegan. Alana masuk ke kursi belakang, menghela napas lega, berpikir akhirnya ia bisa melarikan diri sejenak dari rumah yang penuh tekanan itu. Namun baru saja mobil bergerak beberapa meter, pintu sebelahnya terbuka. Axel masuk dengan santai, tubuhnya menjatuh ke kursi di samping Alana. Alana langsung menegang. “K-kamu… ikut juga?” Axel hanya mengedikkan bahu, menyandarkan tubuh dengan santai. “Ya, kenapa nggak? Kita kan searah. Jalan, Pak.” Sopir mengangguk, mobil pun melaju. Suasana di dalam mobil mendadak terasa sesak. Alana menatap keluar jendela, berusaha keras tidak menoleh. Jantungnya berdebar tak beraturan hanya karena jarak mereka terlalu dekat. Beberapa menit dalam keheningan, Axel membuka suara. “Hei, kita kan belum tukar nomor. Kasih nomormu, dong.” Alana menoleh singkat, ragu. “Untuk apa?” Axel terkekeh kecil. “Untuk apa lagi? Supaya gampang kalau aku butuh sesuatu… atau kamu butuh aku.” Wajah Alana memanas. Ia ingin menolak, tapi tatapan santai sekaligus penuh dominasi dari Axel membuatnya sulit berkata tidak. “Sepertinya, gak perlu deh,” kata Alana. Axel mengulurkan tangannya. “Mana ponselmu.” Alana hanya membalas Axel dengan tatapan mata curiga. “Cepetan!” Akhirnya Alana menyerahkan ponselnya dengan enggan. “Jangan macam-macam, ya.” Axel meraih ponselnya dengan tangan yang hangat. Jemarinya lincah mengetik nomor ke dalam kontak. Sekilas, Alana berusaha tetap menatap keluar, tapi ekor matanya melihat betapa santainya Axel, seperti sudah terbiasa mengendalikan keadaan. Setelah selesai, Axel tidak langsung menyerahkan kembali. Ia justru mendekat sedikit, lalu mengulurkan ponsel itu ke tangan Alana. Namun bukan sekadar menyerahkan, ujung jarinya dengan sengaja menyapu telapak tangan Alana, gerakan kecil yang membuat tubuh gadis itu merinding seketika. Sebuah aliran panas menjalar dari tangannya ke seluruh tubuh. Napas Alana tercekat. Ia menarik cepat ponselnya, tapi efek sentuhan itu sudah terlanjur tertinggal, membakar kulitnya. “Lihat?” bisik Axel, senyumnya samar. “Nggak sakit, kan?” Alana menelan ludah, menunduk, tidak berani membalas. Tangannya yang memegang ponsel masih bergetar halus. Kenapa aku membiarkan dia seenaknya begitu? Kenapa aku malah… merasa sesuatu?. Tidak sakit? Apa maksudnya? Beberapa menit kemudian, Axel tiba-tiba menepuk bahu sopir. “Berhenti di sini, Pak.” Sopir menoleh, bingung. “Tuan Axel, ini masih jauh dari kampus.” “Nggak apa-apa.” Axel sudah membuka pintu, lalu keluar dengan santai. Ia menoleh sebentar pada Alana, mengedipkan mata nakal sebelum menutup pintu. Mobil kembali melaju, meninggalkan Axel di trotoar. Alana terdiam, masih mencoba memahami apa yang barusan terjadi. Jantungnya berdegup kencang, kepalanya penuh gejolak yang tidak bisa ia kendalikan. Axel benar-benar gila. Satu malam ia seakan melupakan segalanya, tapi di detik lain, ia memberi tanda kecil yang membuat Alana kalang kabut. Ia menutup mata sebentar, mencoba bernapas dalam. Tapi bukannya tenang, justru sensasi hangat di tangannya kembali terasa, bekas sentuhan Axel yang entah kenapa tidak mau hilang. Tak lama, ponsel Alana berdering kecil tanda pesan masuk. Nomor yang bertanda "Kakakku yang paling ganteng" membuat Alana mengerutkan dahinya. Ini pasti ulah Axel. “Ini nomorku adik manis, aku peringatkan untuk tidak mengabaikan pesanku.”Keheningan yang mencekam itu seolah membekukan udara di dalam lorong apartemen. Axel menatap layar ponsel Nero dengan rahang yang mengatup rapat, kilatan syok di matanya perlahan berubah menjadi kemarahan baru yang lebih pekat. Namun, alih-alih mundur, cengkeraman tangan Axel pada pergelangan tangan Alana justru semakin mengencang."Aku bisa atasi masalah itu sendiri, kau jangan ikut campur!" desis Axel, suaranya rendah dan penuh penekanan, mencoba menutupi badai yang sedang bergemuruh di dalam dadanya.Nero tidak bergeming. Dengan gerakan yang tidak kalah cepat dan kuat, tangan besarnya kembali menyambar pergelangan tangan Alana yang satunya, menahan gadis itu agar tidak bergeser satu senti pun. "Selagi itu urusan Alana, aku akan terus ikut campur."Kedua pria dominan itu saling melempar tatapan mematikan. Ketegangan di antara mereka begitu pekat, seolah satu percikan kecil saja bisa meledakkan seluruh tempat itu. Alana yang berada di tengah-tengah merasa tubuhnya seperti hendak terb
Di pinggir jalan raya yang diterangi lampu neon temaram, Axel duduk diam di atas motor sportnya. Deru mesin motornya yang sengaja tidak dimatikan berpadu dengan gemuruh amarah di dadanya.Ponsel di dalam saku jaket kulitnya bergetar. Axel langsung menyambar benda itu dan menempelkannya ke telinga tanpa membuang waktu."Bagaimana?" tanya Axel, suaranya rendah dan sarat akan ancaman."Aku sudah mengikutinya sejak dari rumah sakit, Bang. Mobil Nero berhenti di sebuah gedung apartemen mewah di pusat kota. Dia membawa Alana masuk lewat lift khusus," lapor suara seorang pria di seberang telepon. "Akan aku kirimkan alamat lengkapnya sekarang.""Bagus," jawab Axel singkat.Ting. Sebuah notifikasi pesan masuk, menampilkan sebuah alamat lengkap beserta nomor lantai penthouse milik Nero. Mata Axel berkilat tajam di balik kaca helmnya. Rahangnya mengeras hingga urat-urat di lehernya menonjol."Kena kau, Nero," desis Axel penuh dendam.Ia langsung menarik kaca helmnya ke bawah, memutar gas dengan
Tiga hari berlalu di rumah sakit, dan akhirnya Dokter Clarissa mengizinkan Alana untuk pulang. Namun, kepulangan Alana kali ini sama sekali tidak seperti yang ia bayangkan. Langkahnya di sepanjang koridor rumah sakit tidak dibiarkan bebas. Tangan besar Nero menggandengnya dengan begitu erat, seolah-olah Alana adalah porselen rapuh yang bisa hancur kapan saja jika tersenggol orang lain."Kak, tidak usah seperti ini. Aku bisa jalan sendiri, sungguh," bisik Alana pelan, merasa agak risih karena beberapa perawat sesekali melirik ke arah mereka. "Aku sudah sehat, Kak Nero."Nero tidak melepaskan genggamannya, bahkan tidak menoleh sedikit pun. "Diam dan jalan saja, Alana. Jangan membantah."Alana hanya bisa menghela napas pasrah. Ketika mereka sampai di lobi, sebuah mobil sedan hitam mewah sudah menunggu. Nero melangkah maju, membukakan pintu bagian belakang untuk Alana. Setelah Alana masuk dengan ragu, Nero ikut masuk dan duduk tepat di sampingnya, menutup pintu dengan bunyi debuman yang s
Pintu kamar rawat VIP itu bergeser pelan saat Dokter Clarissa melangkah keluar dengan senyum tipis yang tampak sedikit dipaksakan. Di tangannya terdapat berkas medis yang baru saja ia perbarui. Ia menatap Alana yang masih duduk bersandar di ranjang, lalu beralih menatap Nero yang berdiri di koridor."Semuanya sudah benar-benar stabil, Nero," ucap Clarissa dengan nada profesional yang tenang. "Reaksi alerginya sudah ditekan sepenuhnya. Dia hanya butuh istirahat total dan makanan bergizi untuk memulihkan staminanya. Aku sudah memberikan resep vitamin tambahan."Nero hanya mengangguk singkat, matanya sudah tidak sabar untuk kembali masuk ke dalam ruangan."Oh, satu lagi," Clarissa menahan langkah Nero sejenak. "Jangan terlalu keras padanya. Dia baru saja melewati trauma fisik dan mental. Pastikan dia merasa aman.""Aku tahu," jawab Nero datar.Begitu Clarissa menjauh, Nero segera masuk dan menutup pintu rapat-rapat, mengunci kebisingan rumah sakit di luar sana. Suasana mendadak menjadi s
Gudang tua di pinggir kota itu berbau karat, debu, dan anyir darah yang menyengat. Suara musik diskotik semalam telah digantikan oleh suara daging yang dihantam benda tumpul dan rintihan yang menyayat.Bugh! Bugh!"Ampun... ampun, Kak! Akh!" teriakan itu menggelegar, memantul di dinding-dinding seng yang berkarat.Axel tidak berhenti. Napasnya memburu, matanya memerah seperti iblis yang baru saja bangkit dari neraka. Ia tidak menggunakan senjata; ia menggunakan kepalan tangannya sendiri untuk menghancurkan wajah pria yang malang itu. Dua pemuda lainnya sudah tergeletak tak sadarkan diri di lantai semen yang dingin, tubuh mereka bengkok tak beraturan. Dua sisanya masih terikat di kursi kayu dengan mata melotot ketakutan, gemetar hebat melihat rekan mereka dihancurkan satu per satu.Di sudut gudang, teman-teman Axel—Kevin, Drean, Guen, dan Leon—berdiri menyandar ke tumpukan peti kayu, memperhatikan tontonan brutal di depan mereka."Sepert
Sinar matahari pagi mulai menyerobos masuk melalui celah gorden ruang VIP rumah sakit, memberikan nuansa hangat yang kontras dengan aroma obat-obatan yang tajam. Di dalam ruangan itu, hanya terdengar detak ritmis dari mesin pemantau jantung dan desah napas halus Alana yang masih terlelap. Nero duduk di sisi ranjang, matanya merah dan wajahnya tampak kuyu. Ia tidak beranjak sedikit pun sejak semalam, seolah sedetik saja ia berpaling, Alana akan menghilang.Ponsel Nero yang tergeletak di atas nakas bergetar tanpa henti. Layarnya menyala, menampilkan rentetan telepon dan pesan dari Axel yang dipenuhi amarah."DI MANA DIA, NERO?!""JANGAN SEMBUNYIKAN ALANA DARIKU. KATAKAN DI MANA RUMAH SAKITNYA!""AKU AKAN MENGOBRAK-ABRIK SELURUH RUMAH SAKIT DI KOTA INI KALAU KAU TIDAK MENJAWAB!"Nero hanya melirik layar itu dengan tatapan dingin. Jangankan membalas, menyentuhnya pun ia enggan. Ia kembali memfokuskan seluruh perhatiannya pada tangan mungil Alana







