LOGINSore itu, langkah Alana terasa berat ketika ia menuruni mobil yang baru saja membawanya pulang dari kampus. Hari yang panjang benar-benar menguras tenaga. Tasnya terasa lebih berat dari biasanya, meski hanya berisi buku dan catatan.
Begitu memasuki rumah keluarga Graves, kesunyian langsung menyambut. Rumah megah itu terasa dingin, terlalu luas untuk diisi oleh hanya satu orang. Tidak ada suara tawa, tidak ada percakapan. Bahkan jejak langkahnya bergema di lorong panjang, membuat kesepian semakin terasa menusuk. Alana berhenti sejenak di ruang tamu. Matanya menyapu setiap detail yang sebelumnya tak pernah ia perhatikan. Kenapa aku tidak pernah berjalan-jalan di rumah ini sejak datang? pikirnya. Rasa penasaran pun mendorong langkahnya. Ia mulai menelusuri lorong-lorong besar dengan karpet tebal berwarna merah marun, melewati deretan lukisan tua dengan bingkai emas. Ada sebuah ruang musik dengan piano grand hitam berkilau, sunyi namun anggun, seolah menunggu seseorang untuk menyentuh tutsnya. Keluar sedikit lebih jauh, ia menemukan kolam indoor yang airnya berkilau tenang. Cahaya sore menyelinap masuk dari kaca tinggi, menciptakan pantulan lembut di permukaan air. Alana berdiri lama di sana, menikmati keteduhan, sebelum melanjutkan. Hingga akhirnya, ia sampai di sebuah ruangan lain. Pintu kayu besar dengan ukiran klasik terbuka sedikit. Alana mendorongnya perlahan, dan matanya langsung berbinar. “Ruang baca…” gumamnya lirih. Rak-rak tinggi menjulang, dipenuhi buku-buku berbagai ukuran. Aroma khas kertas tua dan kayu menguar, menenangkan hati. Tanpa ragu, Alana masuk. Seharusnya ruangan ini boleh dimasuki, kan? pikirnya sambil menelusuri rak. Jarinya menyusuri punggung buku, hingga berhenti pada satu judul yang menarik. Ia mengambil buku itu, lalu duduk di kursi empuk di sudut ruangan. Suasana damai membuatnya betah, seolah dunia luar menghilang. Namun ketenangan itu terpecah oleh bunyi ponselnya. Notifikasi email masuk. Alana membuka ponselnya dengan malas. Dari pengirim asing, dengan nama Black Jack. Hanya ada satu kalimat singkat dengan tautan di bawahnya. Tanpa banyak berpikir, ia menekan link tersebut. Layar ponsel berganti. Video terbuka. Seorang wanita muncul, menari dengan lembut, gerakannya gemulai, sensual. Musik samar terdengar dari speaker kecil ponsel. Tak lama, seorang pria masuk ke layar, merangkul wanita itu dari belakang. Gerakan mereka semakin intim, semakin erat. Alana menegang. Matanya terpaku, napasnya mendadak terasa berat. Ada sesuatu yang aneh merambat dari ujung jemari hingga dadanya. Tubuhnya hangat, bahkan panas. Pipi dan telinganya memerah. “Apa… ini…” bisiknya dengan suara tercekat. Jantungnya berdebar begitu keras hingga terasa di telinga. Tangannya bergetar, tapi ia tak bisa mengalihkan pandangan. Tubuhnya menegang, keringat dingin mulai muncul di lehernya. Namun Alana tak ingin benar-benar menutup video itu. Tangan nakal pria itu menelusuri paha sanga wanita sampai membuat roknya terangkat. Jari-jarinya menari di paha wanita itu. Erangan kecil terdengar, membuat tubuh Alana menegang. “Alana.” Suara berat itu membuatnya hampir melompat dari kursi. Ponselnya terlepas dan jatuh ke lantai, layar video itu padam. Dengan mata membesar, ia mendongak. Nero berdiri di ambang pintu. Jas kerjanya masih melekat rapi, dasi hitam terikat sempurna. Tatapannya tajam, menusuk, seakan bisa membaca apa yang baru saja terjadi. Alana buru-buru meraih ponsel dari lantai, menyembunyikannya ke dalam saku. “A-aku… cuma baca buku, Kak,” katanya gugup, wajahnya memerah jelas. Nero tidak segera menjawab. Hanya menatap, dengan ekspresi dingin yang tak terbaca. Langkahnya pelan masuk ke ruangan, sepatu kulitnya menimbulkan bunyi lembut di lantai kayu. Alana berdiri terburu-buru. “Aku… mau ke kamar dulu.” Ia hendak melewati Nero, tapi sebuah tangan kuat mendarat di bahunya, menahan langkahnya. Sentuhan itu sederhana, tapi cukup untuk membuat tubuh Alana bergetar. Terlalu panas, terlalu dekat. Erangan kecil lolos dari bibirnya tanpa bisa dikendalikan. “Mhh!” Nero terkejut, alisnya terangkat tipis. Alana sendiri lebih panik lagi. Wajahnya memerah hebat, matanya tak berani menatap. “M-maaf, Kak… aku… sepertinya kurang enak badan.” Suaranya bergetar, hampir berbisik. Nero membuka mulut, hendak mengatakan sesuatu, tapi urung. Entah kenapa kata-kata tidak keluar. Akhirnya ia hanya mengangguk singkat, melepaskan bahu Alana. Secepat mungkin, Alana melangkah keluar ruangan, berlari kecil menuju kamarnya. Begitu pintu tertutup rapat di belakangnya, ia langsung menempelkan tubuh ke pintu, mencoba mengatur napas yang berantakan. Tangannya naik menyentuh leher yang basah oleh keringat dingin. Detak jantungnya kacau. “Kenapa aku… seperti ini?” gumamnya dengan suara bergetar. Ia berjalan ke meja, menaruh ponsel dengan gemetar. Tubuhnya masih panas, perasaan itu tidak hilang meski ia mencoba menarik napas dalam. Dengan ragu, tangannya menyentuh lengannya sendiri. Rasa hangat itu tetap ada. Ia menutup mata, mencoba melawan sensasi aneh yang menguasai tubuhnya. “Ah… ada apa denganku…” Alana jatuh terduduk di tepi ranjang, wajahnya tertutup kedua tangan. Rasa asing itu menempel, sulit dilepaskan. Antara takut, malu, dan… sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Dan di balik semua itu, bayangan tatapan dingin Nero, senyum nakal Axel, bahkan video singkat tadi, bercampur menjadi satu di kepalanya. Membuat tubuhnya terus bergetar dalam kebingungan yang tak bisa ia jelaskan. Ponselnya kembali berdering. Alana membuka dengan malas. “Setelah makan malam, pergi ke kamarku. Bantu aku menyalin tugas dari kampus.”Mata Alana mengerjap cepat, berusaha mengumpulkan kesadaran yang tercerai-berai. Sensasi hangat dan lembap di bibirnya masih terasa nyata, meninggalkan jejak yang membuat detak jantungnya berpacu tidak karuan. Ia menatap sosok pria yang berdiri di samping ranjang dengan postur tubuh tegap yang begitu familiar."Kak Nero?" gumam Alana, suaranya parau.Nero menunduk, menatap Alana dengan sorot mata yang sulit diartikan—datar, namun intens. "Mengantuk?"Alana menggeleng cepat, meskipun rasa kantuk masih menggelayuti kelopak matanya. Ia berusaha mengenyahkan pikiran tentang mimpi aneh barusan. "Tidak... hanya sedikit terkejut.""Ayo pulang. Pekerjaanku sudah selesai," ucap Nero singkat. Tanpa menunggu jawaban, ia berbalik dan melangkah menuju pintu.Alana masih terduduk di ranjang, melamun sejenak. Pikirannya dipenuhi pertanyaan yang menggelitik. Apakah mimpi tadi nyata? Ia menyentuh bibirnya sendiri. Rasanya benar-benar basah. Mungkinkah Nero baru saja menciumnya saat ia tidur?Namun, me
Keheningan di dalam ruangan kerja Nero mulai terasa mencekik. Setelah tiga jam bergelut dengan modul kuliah online dan menyelesaikan tumpukan tugas esai, Alana akhirnya menutup laptopnya dengan suara klik yang tajam. Ia menyandarkan punggung ke kursi kerja Nero yang empuk, kursi yang aromanya sangat khas—campuran antara kulit mahal dan parfum maskulin pria itu.Alana menatap meja besar itu. Ia sengaja meninggalkan ponselnya di rumah. Ia tahu dirinya pengecut. Ia tidak siap melihat notifikasi dari grup kampus atau pesan-pesan asing yang mungkin masih menghujatnya karena foto masa lalunya. Baginya, tanpa ponsel, dunia terasa sedikit lebih aman, meskipun membosankan.Ia bangkit dan mulai berjalan berkeliling. Matanya menyisir setiap sudut ruangan. Ada pot bunga yang tertata simetris, piagam-piagam penghargaan di dinding yang membuktikan kejeniusan Nero, hingga papan nama di atas meja: Nero Graves – Chief Executive Officer.Alana menyentuh papan nama itu dengan ujung jarinya. "Nero Graves
Pagi itu, jalanan menuju pusat bisnis kota tampak padat, namun di dalam mobil SUV mewah milik Nero, suasana terasa seperti berada dalam ruang kedap suara yang dingin. Nero sengaja tidak membawa sopir seperti biasanya. Ia duduk di balik kemudi dengan setelan jas yang sempurna, sementara Alana duduk di sampingnya, memeluk tas ransel berisi laptop dengan erat di pangkuannya.Sejak mesin mobil dinyalakan, Alana hanya terdiam. Pandangannya lurus ke depan, namun pikirannya bercabang ke mana-mana. Ia bersiap mental jika tiba-tiba Nero menanyakan kejadian di ruang makan tadi. Posisi Alana dan Axel tadi memang sangat ambigu; dorongan tangan Alana, jarak mereka yang terlalu intim, dan teriakan peringatan itu. Alana bertanya-tanya, apakah Nero mengajaknya ke kantor karena curiga? Ataukah ini cara Nero untuk menjauhkannya dari pengaruh liar Axel? Seingat Alana, Nero bukan tipe orang yang suka membawa urusan rumah ke kantor, apalagi membawa adik tiri yang tidak tahu apa-apa soal bisnis.Nero melir
Suasana pagi di kediaman Graves selalu terasa dingin, sepadan dengan arsitektur minimalis modernnya yang didominasi marmer abu-abu. Alana terbangun dengan kepala yang sedikit berat. Sisa-sisa kekesalannya semalam terbawa hingga ke alam mimpi, membuatnya terus terjaga dan berguling gelisah di atas ranjang.Ia turun ke lantai bawah dengan langkah gontai. Rambut panjangnya yang biasanya tertata rapi kini sedikit acak-acakan, jatuh di bahu gaun tidur selutut berwarna broken white yang ia kenakan. Tenggorokannya terasa kering kerontang, ia butuh sesuatu yang dingin untuk menyiram rasa sesak yang masih tertinggal di dadanya.Di ruang makan, para pelayan sudah sibuk menata piring-piring porselen. Aroma kopi yang kuat dan roti panggang mulai memenuhi udara."Selamat pagi, Nona Alana. Ingin sarapan sekarang?" sapa salah satu pelayan dengan sopan.Alana hanya memberikan senyum tipis yang dipaksakan. "Pagi, Bi. Nanti saja, aku mau minum dulu."Ia melangkah menuju kulkas besar di sudut dapur bers
Mobil mewah Nero meluncur pelus memasuki area parkir kediaman Graves yang megah. Suasana di dalam kabin sunyi, hanya menyisakan aroma parfum maskulin Nero dan sisa rasa manis es krim melon di lidah Alana yang mendadak terasa pahit. Bayangan Axel yang tertawa lepas sambil merangkul wanita asing di trotoar tadi terus berputar-putar di kepala Alana bagaikan kaset rusak.Nero mematikan mesin, lalu menoleh singkat pada Alana yang tampak melamun. "Sudah sampai. Ayo turun."Alana tersentak, lalu mengangguk pelan. Mereka berjalan beriringan memasuki lobi rumah yang sunyi. Lampu kristal di langit-langit memantulkan cahaya temaram, menciptakan bayangan panjang di lantai marmer."Mau langsung tidur?" tanya Nero saat mereka sampai di kaki tangga. Suaranya datar, namun ada nada perhatian yang terselip di sana.Alana mengangguk, mencoba memberikan senyum tipis. "Iya, Kak. Hari ini cukup melelahkan.""Baiklah. Bersih-bersih dulu sebelum tidur. Aku tidak mau kuman dari jalanan menempel di mana-mana.
Malam di kediaman Graves terasa lebih tenang dari biasanya. Alana sudah berdiri di depan cermin selama lima belas menit, memastikan blazer marun yang dikenakannya tampak serasi dengan celana panjang hitamnya. Ia ingin terlihat dewasa, namun tetap ingin mempertahankan sisi cerianya.Tok, tok, tok."Alana, apa kau sudah siap?" Suara berat Nero terdengar dari balik pintu, konsisten dengan nada tenang dan otoritasnya."Iya! Sebentar lagi, Kak!" teriak Alana dari dalam. Ia menyambar tas kecilnya, memberikan satu kedipan terakhir pada pantulannya di cermin, lalu bergegas membuka pintu.Nero berdiri di sana, mengenakan kemeja hitam dengan lengan yang digulung hingga siku. Ia tampak maskulin sekaligus elegan. Alana langsung menyambut wajah kakaknya itu dengan senyum paling lebar yang ia miliki hari ini."Jadi, kita akan makan apa malam ini?" ucapnya bersemangat, matanya berbinar-binar seolah sedang menunggu hadiah besar.Nero memperhatikan perubahan aura Alana. Gadis itu tampak jauh lebih hid
“Lanaaa, cepet jalan! Aku udah nunggu dari tadi!”Welda melambai-lambaikan tangan di depan gerbang kampus sambil tertawa lebar. Sementara Alana hanya bisa mendesah kecil, setengah malas, setengah bingung kenapa bisa diseret lagi pagi-pagi begini.“Kita mau ke mana sih sebenernya, Wel?”“Ke bazar, d
“Axel! Kamu udah janji sama aku kemarin!”Suara itu melengking di antara kerumunan mahasiswa yang baru saja bubar dari kelas sore. Reina berlari kecil, sepatu hak pendeknya mengetuk-ngetuk lantai koridor yang dingin, berusaha menyeimbangkan langkahnya dengan langkah panjang Axel yang berjalan cepat
“Alana, bagaimana pesta semalam? Menyenangkan?”Suara lembut Vivienne memecah suasana pagi di meja makan.Alana terangkat sedikit dari lamunannya. Sendok di tangannya berhenti, padahal bubur yang disendok masih mengepul hangat.“Ah… i-ya, Ma. Menyenangkan,” jawabnya cepat, sekadar menyahut, tanpa m
Mobil mewah Nero berhenti dengan halus di depan gerbang rumah Graves. Dalam kabin yang sunyi, hanya terdengar napas teratur Alana yang telah tertidur pulas di kursi penumpang. Wajahnya yang biasanya cerah kini terlihat tenang di bawah sorot lampu taman, rambutnya yang hitam berkilau menempel di pip







