تسجيل الدخولPedang itu telah berubah, namun tak ada waktu untuk mencerna keajaiban yang baru saja terjadi. Cahaya kebiruan samar masih berkilau di sepanjang bilahnya ketika Rohana melesat maju, membelah kegelapan, menahan napas, langkahnya mantap namun cepat.Di ujung lorong, pertempuran sengit sedang berlangsung. Dean berdiri membelakangi cahaya, tubuhnya bergerak dengan kelincahan liar saat menghadapi seekor vampir yang bersembunyi di bayangan. Matanya menyala merah terang, kilau kebinatangan yang menandakan sesuatu yang tak lagi sepenuhnya manusia. Wajahnya tegang, kulitnya pucat, dan di tatapannya berkobar keganasan yang belum pernah Rohana lihat sebelumnya.Dentang senjata terdengar tajam, gema benturannya memantul di dinding lorong yang sempit. Serangan demi serangan dilancarkan, dihindari, dikejar. Vampir itu bergerak lincah, seperti asap yang mengalir, namun Dean mampu mengimbanginya, didorong oleh sesuatu yang lebih liar dari sekadar keterampilan.Saat Rohana tiba, pedang Elf di tangann
Rohana kembali mendorong dada Dean, kali ini bukan karena amarah yang meledak-ledak, melainkan dengan tekad yang tegas namun masih menyisakan sentuhan lembut khas dirinya. Dorongan itu membuat Dean benar-benar mundur selangkah. Namun ia tak berkata apa-apa. Keheningannya bukan tanda kalah, melainkan pilihannya untuk tidak kembali menyulut ketegangan yang baru saja mereda.Meski tak ada kata terucap, Dean tetap berada di dapur, membantu Rohana memotong sayuran dan menyiapkan bumbu, seolah tak pernah terjadi apa pun sebelumnya. Gerakannya tenang dan fokus, meski sesekali ia melirik Rohana dari sudut matanya. Sementara itu, Stayrus sempat mengintip dari lorong, lalu kembali ke posnya di meja depan depan penginapan untuk menyambut tamu dan membantu membawa barang-barang mereka.Saat hidangan akhirnya siap dan tertata rapi di meja makan, aroma hangatnya memenuhi ruangan. Dean menarik napas dalam-dalam, lalu berbicara tanpa menatap langsung ke arah Rohana.“Baik,” katanya datar, suaranya t
Desa Dawnshire, yang dulunya hanyalah pemukiman kecil yang dikelilingi hutan lebat dan ladang para petani sederhana, kini telah berubah menjadi kota yang ramai dan penuh kehidupan. Perubahan itu terjadi perlahan namun pasti, berkembang seiring waktu di bawah kepemimpinan para pangeran dari Kerajaan Solaria. Jalan-jalan tanah telah digantikan oleh susunan batu yang rapi. Bangunan kayu berubah menjadi rumah-rumah batu dengan arsitektur khas kerajaan. Pasar-pasar kecil bermunculan di setiap sudut kota. Segalanya menandakan kemajuan pesat, sesuatu yang tak pernah dibayangkan oleh penduduk setempat sebelumnya. Sementara itu, Rohana berjalan sendirian menyusuri jalan sempit yang membelah hutan menuju kota. Tubuhnya masih sedikit berkeringat usai sesi latihan pedang yang intens, dan langkahnya ringan namun mantap. Ia mengembuskan napas tajam, bibirnya mengatup tipis. Pikirannya masih terpaku pada sikap Dean yang, menurutnya, semakin menyebalkan. Pria itu terlalu protektif, penuh atura
Hari-hari berlalu dengan berat. Langit di atas Dawnshire tampak lebih kelabu dari biasanya, seolah ikut berkabung atas duka yang menyelimuti hati para penduduk desa. Dean dan Rohana menjalani waktu dengan langkah tertatih, seakan hidup telah kehilangan warna dan nyalanya. Kehilangan Raven terasa seperti sebagian jiwa mereka direnggut, menyisakan kekosongan yang tak akan pernah mampu dijelaskan dengan kata-kata.Rohana tak lagi menunjukkan semangat yang sama dalam latihan pedang. Bahkan sekadar menggenggam gagang bilahnya terasa memberatkan. Gerakan yang dulu mengalir penuh api dan gairah telah lenyap, digantikan tatapan kosong dan napas panjang yang sarat beban.Dean pun tak jauh berbeda. Sudah seminggu sejak terakhir kali ia melakukan patroli malam. Biasanya, ia tak pernah melewatkan satu malam pun tanpa mengitari perbatasan desa, memastikan keamanan dari kemungkinan serangan vampir. Namun kini? Tak ada laporan. Tak ada ancaman. Seolah dunia sendiri berhenti sejenak, memberi mereka
Pagi buta menyelimuti desa Dawnshire dalam selubung awan kelabu.Meski hujan telah berhenti sejak tengah malam, aroma tanah basah masih terasa kuat di udara, bercampur dengan dinginnya embun yang menggigit kulit. Kabut tipis menggantung di antara pepohonan pinus, menambah kesuraman desa yang biasanya damai itu.Hari ini, Raven dimakamkan.Tak ada tawa, tak ada suara anak-anak bermain seperti biasanya. Seluruh desa Dawnshire sedang berkabung. Di depan setiap rumah, sebuah bendera hitam kecil tergantung lunglai di pintu, berkibar pelan tertiup angin pagi.Duka bukan milik satu orang saja, ia milik seluruh desa. Karena Raven bukan sekadar seorang pria. Ia adalah pelindung mereka, penuntun mereka, dan sahabat bagi siapa pun yang pernah mengenalnya merasa kehilangan.Di atas tanah yang masih lembap dan berlumpur, beberapa orang berdiri dalam diam di depan sebuah batu nisan sederhana yang baru ditanam. Nama itu terukir jelas, meski masih basah oleh sentuhan tanah liat: Raven Beggins.Stayru
Di malam hujan deras itu, di dalam Solar Room, sebuah ruangan berkubah kaca berlapis kristal di sisi timur Istana Solaria, dua siluet duduk saling berhadapan di bawah temaram cahaya lentera gantung. Di antara mereka, sebuah papan catur dari marmer hitam dan putih terbentang seperti medan pertempuran sunyi.Hujan menari-nari di atas kaca, menciptakan irama samar yang menemani ketegangan di antara mereka. Sebastian, dengan jubah panjang berwarna hitam kemerahan, menjulurkan tangannya perlahan. Jemarinya yang ramping namun tegas menggenggam bidak mentereng, sang Ratu, lalu menjatuhkannya ke petak terakhir di depan Raja Felix."Skak mat," ucap Sebastian datar, suaranya tenang seperti embusan angin musim dingin. Tatapannya menusuk, tidak sekadar merujuk pada permainan. "Nasib pemburu vampir itu mudah sekali kita renggut."Felix duduk bersandar di kursinya, tidak menunjukkan kejutan apa pun. Senyuman tipis merekah di sudut bibirnya, bukan senyum kegembiraan, melainkan smirk dari seseorang







