LOGINSuasana di Eldoria Sanctum masih dipenuhi ketegangan yang menggantung di udara. Cahaya redup dari lilin-lilin hitam yang berjajar di sepanjang dinding batu berkelap-kelip, menciptakan bayangan yang menari di permukaan meja pertemuan.
Di tengah ruangan, Philip berdiri dengan ekspresi gelisah. Pernyataan ibunya barusan mengguncang hatinya. Mata tajamnya memandang sang Ratu dengan penuh kegelisahan. "Ibu, aku tak mau jika itu membahayakanmu juga! Adakah cara lain?" Suaranya mengandung ketegangan, nyaris seperti desakan. Tangannya terkepal, menunjukkan betapa sulit menerima keputusan ini. Ratu Elenya, yang duduk di kursinya, hanya melirik putranya dengan tatapan datar. Ekspresinya tetap tak terbaca, namun ada sesuatu di balik senyum tipisnya, sebuah keteguhan yang tak bisa digoyahkan oleh siapa pun. "Aku tahu apa yang kulakukan, Nak," ujarnya dengan suara yang lembut tapi penuh ketegasan. "Ini yang terbaik untukmu. Untuk kita semua." Philip ingin membantah, namun dia tahu bahwa ibunya tidak akan mengubah keputusannya. Ratu Elenya bukan hanya seorang ibu, tetapi juga pemimpin tertinggi kaum mereka. Kata-katanya adalah titah yang tak bisa diganggu gugat. Kemudian, sang ratu berdiri dengan anggun, gaun putihnya berdesir mengikuti gerakannya. Matanya menatap ke arah seluruh hadirin sebelum akhirnya mengumumkan, "Besok, bersiaplah pergi ke Gua Abyss Noctis." Nama itu seketika membuat ruangan semakin sunyi. Gua Abyss Noctis, sebuah tempat tersembunyi di dalam gunung bekas letusan dahsyat berabad-abad lalu. Dikatakan, di dalamnya tersimpan kekuatan purba yang hanya bisa dibangkitkan oleh darah kerajaan. Di sana, ritual yang akan mengubah takdir mereka akan dilaksanakan. Para vampir bangsawan yang hadir langsung berdiri dan membungkuk hormat. "Baik, My Lady. Terang abadi bagimu, terima kasih atas kemurahan hatimu," ucap mereka bersamaan dengan suara berlapis yang menggema di ruangan batu itu. Ratu Elenya tidak lagi menanggapi. Dengan langkah ringan seperti tertiup angin, dia meninggalkan ruangan. Tak ada suara dari langkahnya, tak ada bayangan yang tertinggal. Seolah dia telah menyatu dengan kegelapan itu sendiri. Namun, rapat belum berakhir. Para vampir yang masih berada di meja saling bertukar pandang, dan keheningan sesaat berganti dengan percakapan berbisik. Ada misi lain yang harus diselesaikan. Para tetua bangsawan vampir telah sepakat. Enam pangeran vampir, termasuk Jerry dan Philip, dua darah campuran yang memiliki kekuatan unik, akan ditugaskan untuk merebut salah satu kerajaan manusia. Misi ini tak akan dimulai sebelum ritual sang ratu selesai, namun begitu waktunya tiba, kegelapan akan menyelimuti wilayah itu, dan darah akan tertumpah tanpa ampun. Esoknya ... Fajar belum sepenuhnya menyingsing di Abyss Noctis, namun tak ada cahaya yang bisa menembus tempat ini. Kabut tebal menggantung berat di udara, menyelimuti kawasan dengan nuansa muram. Awan-awan hitam berarak di langit, menutupi setiap celah yang seharusnya memungkinkan sinar matahari menembus. Hanya ada kegelapan yang semakin menelan sekeliling, menciptakan suasana yang menekan bagi siapa pun yang melangkah ke dalam wilayah ini. Di tengah kabut, suara langkah kaki menggema pelan di atas tanah berbatu yang lembab. Barisan prajurit elf, berbalut zirah ringan keperakan dengan jubah panjang berkibar, berjalan dalam formasi rapi mengawal sosok pemimpin mereka, Ratu Elenya. Keanggunan sang Ratu tetap terpancar meskipun ia melangkah di tempat yang penuh bahaya ini. Jubah putih panjangnya menyapu tanah, tampak kontras dengan kelamnya gua yang menjadi tujuan mereka. Di belakangnya, para vampir bangsawan mengikuti dengan sikap penuh hormat, meski langkah mereka terlihat sedikit berat. Energi di tempat ini begitu padat, atmosfer yang aneh seakan menyerap kekuatan mereka. Beberapa di antara mereka merasakan tubuh mereka melemah, napas tersengal seolah udara di sekitar lebih sulit dihirup. Namun, hanya Ratu Elenya yang memiliki akses dan kendali di tempat ini. Mereka akhirnya tiba di hadapan pintu masuk gua yang menjulang tinggi, tersembunyi di antara bebatuan kasar yang tertutup lumut hitam. Pintu itu bukanlah pintu biasa, ia adalah sebuah lempengan batu raksasa yang dipenuhi ukiran mantra dalam bahasa Elf, bersinar redup seolah menunggu seseorang yang memiliki hak untuk membangunkannya dari tidur panjang. Ratu Elenya berdiri di depan pintu, tangannya terangkat dengan gerakan anggun. Napasnya tenang, dan saat ia membuka bibirnya, suaranya menggema lembut namun penuh kekuatan “Luvea ve'thiel.” Sekejap, ukiran mantra di batu itu bersinar terang, cahaya biru berpendar dari sela-sela ukirannya seperti aliran energi yang mulai bergerak. Gemuruh terdengar, menggema di seluruh lembah. Batu besar itu perlahan bergeser ke dalam, seolah memiliki kesadaran sendiri untuk membukakan jalan bagi sang Ratu. Udara dari dalam gua berembus keluar, membawa aroma tanah basah dan sesuatu yang jauh lebih tua dari waktu itu sendiri. Gua itu kini terbuka, siap menyambut siapa pun yang memiliki keberanian untuk melangkah masuk. Langkah mereka bergema di dalam gua yang luas dan suram. Udara di dalamnya terasa berat, dipenuhi dengan aroma tanah basah dan sesuatu yang lebih tua dari usia para vampir yang hadir di sana. Seiring semakin dalam mereka melangkah, kegelapan pekat menyelimuti setiap sudut, menelan bayangan mereka. Di luar, para prajurit elf tetap berjaga, berdiri dalam formasi sempurna, tidak bergerak seperti patung batu yang dipahat oleh tangan para dewa. Mata mereka tajam mengawasi sekeliling, siap menghalau ancaman yang berani mendekati tempat suci ini. Namun, begitu Ratu Elenya melangkah ke dalam, keajaiban terjadi. Obor-obor tua yang terpajang di sepanjang dinding gua tiba-tiba menyala satu per satu, api biru berpendar terang bagaikan roh yang baru saja dibangunkan dari tidur panjangnya. Cahaya biru itu berdenyut pelan, menari-nari di dalam nyala api, menciptakan bayangan aneh yang bergerak di sepanjang dinding batu. Mereka terus melangkah lebih dalam, hingga akhirnya tiba di pusat gua. Di sana, sebuah cawan raksasa dari batu obsidian hitam berdiri di tengah-tengah ruangan, dikelilingi oleh para tetua vampir serta enam pangeran vampir, Philip, Jerry, Felix, Sebastian, Chriss, dan Steve. Aura cawan itu begitu kuat, seolah menghisap semua energi di sekitarnya. Batuannya dipenuhi ukiran kuno, berkilauan samar seperti darah beku di bawah cahaya api biru. Atmosfer ruangan ini mengandung kekuatan magis yang terasa menekan dada, membuat mereka yang lemah akan langsung tersungkur ketakutan. Sang Ratu berdiri tegak di depan cawan, matanya bersinar penuh otoritas. Suaranya menggema di seluruh gua, seakan diucapkan oleh banyak suara sekaligus. “Di sini aku akan menciptakan Api Biru Keabadian untuk kita semua …, namun api ini perlu diberi makan.” Ia mengangkat dagunya sedikit, suaranya semakin dingin dan tajam. “Berikan tumbal para manusia-manusia malang itu, bakar mereka bersama dendam dan amarahnya … Pikat mereka dengan uang!” Jika saja ada manusia di sini, mereka pasti akan terkencing-kencing ketakutan, lutut bergetar hebat hingga tak sanggup berdiri. Dracula melangkah maju dan menundukkan kepalanya hormat. “Tentu, My Lady. Kami telah merencanakan perebutan kerajaan manusia setelah ritual ini selesai. Biarkan anak-anak kita yang memimpin di sana.” Ratu Elenya menyunggingkan senyuman tipis, misterius dan berbahaya. Ia kemudian mengangkat tangannya di atas cawan besar, telapak tangannya menghadap ke langit-langit gua. “Ulurkan tangan kalian semua!” Tanpa ragu, para pangeran dan tetua vampir mengulurkan tangan mereka ke arah cawan, mengikuti perintahnya tanpa pertanyaan. Mereka tahu bahwa darah mereka akan menjadi bahan bakar bagi api keabadian ini. Ratu Elenya mulai melafalkan mantra, suaranya terdengar seperti nyanyian kuno yang dihembuskan oleh angin malam: “Vera ethuil belen'thiel!” Seberkas cahaya muncul di udara, berputar membentuk wujud fisik sebuah belati yang luar biasa indah. Bilahnya ramping dan tajam, terukir rune-rune elf kuno yang berpendar dengan warna keemasan. Pegangannya dihiasi permata rose gold, memancarkan aura sakral dan berbahaya dalam satu kesatuan. Tanpa aba-aba, belati itu melayang di udara dan mulai bergerak cepat. Dalam satu kedipan mata, ia menyayat telapak tangan mereka semua, meninggalkan luka dalam yang segera mengalirkan darah merah pekat ke dalam cawan besar. Begitu darah mereka menyentuh dasar cawan, belati itu melesat kembali ke udara dan lenyap dalam sekejap, seolah hanya dipanggil untuk menjalankan tugasnya, lalu kembali ke dimensi asalnya. Para vampir meringis kesakitan, beberapa mengepalkan tangan mereka, menahan perih yang tajam. Mereka tahu bahwa ini bukan luka biasa, belati itu telah menghisap esensi dari darah mereka. Namun, mereka tetap diam, menerima rasa sakit ini dengan kepala tegak. Mereka sadar, darah yang mereka berikan bukan sekadar pengorbanan, melainkan kunci menuju keabadian. Sang Ratu kembali melafalkan mantra, suaranya penuh kekuatan mistis. “N'quelle lome, n'alaque silme!” Darah di dalam cawan mulai mendidih, berputar seperti pusaran air yang disedot oleh kekuatan tak kasatmata. Dari tengah genangan itu, percikan api biru muncul, menari-nari dengan liar, semakin lama semakin besar. Cahaya biru yang menyilaukan tiba-tiba meledak keluar dari cawan, membentuk kobaran api yang menjilat-jilat langit-langit gua. Suhu di dalam ruangan seketika meningkat, energi luar biasa mengalir liar di sekeliling mereka. Gelombang energi yang terpancar begitu kuat hingga menghantam tubuh para vampir, melemparkan mereka ke belakang dengan kasar. Mereka terhempas ke dinding gua, merasakan betapa kuatnya kekuatan dari api ini. Hanya satu sosok yang tetap berdiri di tengah-tengah badai energi ini, Ratu Elenya. Ia tetap berdiri tegap, gaunnya berkibar liar, rambutnya melayang tertiup arus sihir yang semakin menggila. Kedua matanya kini bersinar terang, seolah menatap ke dimensi lain yang tak bisa dijangkau oleh makhluk fana. “Ibu!” suara Philip terdengar panik di antara kekacauan ini. Ia ingin berlari menghampiri ibunya, namun Felix tiba-tiba mencengkeram lengannya dengan erat, menahannya. “Jangan! Kau akan mengganggu konsentrasinya!” ujar Felix tegas, matanya tajam menatap api yang masih terus membesar di dalam cawan. Philip menggigit bibirnya, kedua tangannya mengepal kuat. Mereka hanya bisa menunggu dan menyaksikan, karena ini adalah ritual yang akan menentukan nasib mereka semua."Apa yang kalian lakukan?" Sebuah suara yang sedingin es tiba-tiba membelah suasana, membuat para pelayan tersentak dan seketika kembali berdiri tegak di posisi masing-masing, napas tertahan di tenggorokan. "Terang abadi untukmu, Pangeran Steve," sapa salah satu pelayan Jerry yang sejak tadi menunggu di depan tirai sekat pemandian, suaranya terdengar sedikit bergetar. Steve tidak menjawab sepatah kata pun. Ia langsung melangkah masuk ke arah kolam, diikuti oleh para pelayannya di belakang. Begitu sampai di area kolam, pandangannya segera menangkap pemandangan itu, Rohana baru saja keluar dari air, tubuhnya basah kuyup menyisakan jejak tetesan air di lantai batu. Sementara Jerry sudah berdiri di sampingnya, kini telah mengenakan jubah mandinya. Steve berhenti sejenak di tempat, menatap diam melihat Jerry dan gadis yang basah kuyup itu. Jerry hanya membalas tatapannya dengan tenang, lalu berbalik dan berlalu pergi begitu saja. Rohana segera menunduk dalam, memberi hormat kepada St
Tak lama setelah sosok Felix lenyap dari ruangan, pintu kembali terbuka. Jerry masuk, diikuti empat orang pelayan yang berjalan tertib di belakangnya. Saat itu Rohana sedang sibuk menaburkan rempah-rempah kering ke permukaan air kolam mandi, aroma harum dan hangat segera menyebar memenuhi ruangan.Rohana menoleh perlahan, segera menghentikan gerakannya. Ia memberi hormat dengan menundukkan kepala sejenak saat Jerry mendekat, lalu menyaksikan Pangeran itu melangkah turun masuk ke dalam kolam. Baru semata kaki, air kolam merendamnya.Keempat pelayan itu meletakkan pakaian ganti Jerry di atas meja batu alam yang tersusun rapi di pinggir kolam, lalu memberi tanda kepada para pelayan untuk pergi dari ruangan."Kecuali kau," ujar Jerry, menoleh sedikit ke arah Rohana yang berdiri diam di samping kolam."Baik, Tuan." Jawab Rohana setenang yang ia mampu. Padahal jantungnya berpacu kencang, adrenalin mengalir deras di setiap uratnya."Bantu aku mandi, dan obati lukaku." Jerry membuka jubah man
Angin dingin menyapu jalanan, menampar wajah Rohana dengan kesejukan yang menusuk hingga ke tulang. Ia sedikit mendongak menatap langit, dan keningnya segera berkerut melihat gumpalan awan hitam pekat yang tampak berkumpul tebal tepat di atas atap istana yang menjulang itu. Gelapnya terasa berat, seolah menekan bumi di bawahnya. Mungkin sebentar lagi akan turun hujan, pikirnya dalam hati, namun ada rasa samar yang mengatakan bahwa dingin di tempat ini bukan sekadar datang dari cuaca. Ia merapatkan jubahnya ke tubuh, melilitkannya lebih erat sebagai perisai tipis. Hembusan napasnya terlihat jelas, berupa kepulan uap putih yang segera lenyap di udara yang sedingin es pagi itu.Langkahnya tak terhenti hingga ia tiba di gerbang samping, khusus jalan keluar masuk para pelayan. Di sana ia mengulurkan tangan, memperlihatkan plakat kayu berukir yang menjadi tanda pengenal dan izin kerjanya. Prajurit penjaga yang berdiri tegak di sana mengenakan baju zirah yang tampak pucat, seolah logam itu
Pagi itu, Rohana menghampiri Dean sebelum ia berangkat menjalankan aktivitasnya. Wajah gadis itu terlihat lebih tenang dibandingkan hari sebelumnya, meski ada sesuatu yang samar dalam sorot matanya, seperti seseorang yang sudah memikirkan sebuah keputusan sejak lama.“Dean, aku mau izin pergi ke rumah belajar hari ini.”Dean yang tengah bersiap menoleh kepadanya. “Ke rumah belajar?”Rohana mengangguk.“Aku juga mendapat tawaran pekerjaan sambilan. Jadi mulai hari ini, mungkin aku tak akan bisa ikut memburu vampir bersamamu.”Kalimat itu membuat Dean terdiam.Ada sesuatu yang terasa berbeda.Bukan hanya karena Rohana mengatakan ia akan bekerja, tetapi karena perubahan sikapnya terasa begitu tiba-tiba. Baru kemarin gadis itu masih bersikeras ingin ikut berburu vampir bersamanya. Bahkan sampai sempat merajuk karena Dean melarangnya ikut terlalu jauh.Namun sekarang …Rohana justru memilih untuk pergi sendiri dan mengurus sesuatu yang sama sekali berbeda.Dean menatapnya cukup lama. Ada s
Sejak hari pertama mereka bertemu di pasar, kebiasaan Stayrus tak pernah berubah.Setiap kali Vivian muncul dengan keranjang belanjaan yang selalu terlalu berat untuk tubuhnya yang kecil, Stayrus akan tiba entah dari mana, seolah angin pagi membawa sosoknya turun dari langit.“Biar aku bantu,” katanya sambil meraih keranjang belanja Vivian.Vivian tersenyum tipis, pucat tapi tetap manis. “Kamu ini selalu pas muncul ya? Apa pekerjaanmu sebenernya?” tanyanya sambil berjalan pelan menyusuri jalan desa.“Ada urusan di sekitar sini,” jawab Stayrus dengan nada santai. “kebetulan lewat lalu bertemu kamu.”“Hmm, selalu kebetulan, ya?” Vivian tertawa kecil, batuk sedikit, lalu menunduk.Senyumnya tetap dipaksa cerah padahal matanya terlihat capek.Hari demi hari, pola itu terus berulang.Stayrus menemani Vivian belanja, ngobrol di jalan pulang, kadang hanya jalan di samping tanpa banyak kata. Untuk Stayrus, kedekatan kecil itu seperti hadiah, bahkan kalau itu hanya lima menit.Tapi keadaan Viv
Di langit tertinggi, jauh di atas batas pandang manusia, berdirilah Skylume, sebuah negeri di atas awan. Awan-awan tipis melayang seperti sutra putih, memantulkan semburat keemasan yang tak pernah pudar.Sungai-sungai cahaya mengalir tenang di antara jembatan kristal, menciptakan gemericik lembut seperti denting piano. Di sana, para dewa berjalan sibuk lalu lalang mengemban tugas-tugasnya.Di puncak Skylum, pada sebuah menara yang berputar perlahan mengikuti alur waktu, tinggal seorang dewa yang tak pernah benar-benar beristirahat: Stayrus, sang Seer, penjaga takdir seluruh jiwa di bumi.Penglihatannya menembus lebih jauh dibanding siapa pun. Setiap benang takdir manusia berpendar di hadapannya, mengalir seperti ratusan ribu helai cahaya. Namun, ada satu benang, satu cahaya yang selalu membuatnya berhenti.Benang seorang gadis.Gadis itu hidup di bumi, di sebuah desa kecil yang terpencil. Ia hidup bersama keluarga angkatnya, keluarga yang seharusnya memberi kasih, namun justru membeba
Prajurit-prajurit di barisan belakang bergidik ngeri, sebagian mulai merapal doa dengan suara bergetar. Pedang mereka masih terangkat, tapi tangan mereka gemetar hebat. Chriss dan Jerry kini melangkah maju. Chriss, dalam wujud bayangan hitamnya, melesat tanpa bisa di
Di malam yang sama, para pangeran vampir mulai bergerak. Langit gelap tanpa bintang, tertutup awan kelam yang seolah menjadi pertanda datangnya kehancuran. Bayangan-bayangan samar berkelebat di antara pepohonan hutan yang mengelilingi istana, nyaris tak terlihat oleh mata manusia.Mereka
Langit di atas Dawnshire kelabu, seolah matahari enggan menampakkan sinarnya. Kabut tipis merayap di antara rumah-rumah tua yang sebagian besar telah ditinggalkan manusia. Aroma tanah basah bercampur dengan bau samar darah yang masih melekat di jalanan berbatu. Di berand
Pertanyaan Raven juga justru mengganggu pikiran Dean. Pekikkan suara kuda yang begitu nyaring, hentakkan sepatu kuda, semua bercampur dengan desiran suara angin. Pergerakan orang-orang di sekitarnya begitu jelas terbaca walau hanya dari suara yang di timbulkan.Bahkan suara nafas Raven di sampingny







