Share

Bab 81

Author: Nabila Ara
last update publish date: 2026-10-02 20:05:09

"Morning cantik," ucap Tara begitu Luna membuka matanya.

Luna menoleh ke arah jendela kamar hotel yang tirainya sudah Tara buka. Di luar sana sudah terang menderang.

"Tara, jam berapa sekarang?" tanya Luna dengan suara seraknya.

Rambut gadis itu masih sangat berantakan sama seperti tadi. Gadis itu bahkan tidak sadar jika selimut melorot ke bawah hingga sepasang bukit kembarnya terlihat jelas di mata Tara.

"Sekarang sudah jam delapan pagi. Ayo bangun, kamu harus sarapan." Tara berusaha menahan d
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Bodyguard Idaman Nona Muda   Bab 81

    "Morning cantik," ucap Tara begitu Luna membuka matanya.Luna menoleh ke arah jendela kamar hotel yang tirainya sudah Tara buka. Di luar sana sudah terang menderang."Tara, jam berapa sekarang?" tanya Luna dengan suara seraknya.Rambut gadis itu masih sangat berantakan sama seperti tadi. Gadis itu bahkan tidak sadar jika selimut melorot ke bawah hingga sepasang bukit kembarnya terlihat jelas di mata Tara."Sekarang sudah jam delapan pagi. Ayo bangun, kamu harus sarapan." Tara berusaha menahan dirinya.Pemandangan di depannya sungguh sangat menggoda imannya, terlebih lagi saat ini pagi hari adalah waktu krusial untuk kelangsungan bagian bawah tubuhnya."Aku lapar Tara. Kamu sih semalam kayak singa kelaparan. Nggak kasih jeda sama sekali. Kalau aku nggak ngerengek minta berhenti aku yakin kamu nggak akan berhenti. Kamu minum obat kuat ya Tara."Tara terkekeh. Lalu ia mendekati Luna dan mencium bibir gadis itu dengan lembut.Bukan ciuman terburu-buru tetapi hanya ciuman lembut saja.Lalu

  • Bodyguard Idaman Nona Muda   Bab 80

    Tara membuka matanya dan ia menoleh ke samping pada gadis dipelukannya. Satu senyuman merekah di bibirnya saat melihat Luna masih terlelap dengan mulutnya sedikit terbuka. Rambut gadis itu tampak berantakan. Tara menarik selimut menutupi tubuh mereka yang masih sama-sama polos.Satu jam setelah Luna tertidur mereka kembali melanjutkan sesi kedua pendakian mencapai puncak karena Luna. Tara yang tidak bisa menahan hasratnya saat melihat Luna dengan tubuh polosnya hingga pria itu kembali menyentuh Luna. Pria itu hanya berhenti setelah Luna merengek kelelahan."Kamu itu cantik dan istimewa, Luna. Aku tidak akan meninggalkan kamu begitu saja. Aku sudah lama melihatmu dari jauh," bisik Tara.Pria itu mengecup kening Luna, lalu ia menarik pelan lengannya yang dijadikan gadis itu sebagai bantalan. Tara menghela napas lega ketika ia sudah berhasil menarik lengannya dan Luna tidak bangun sama sekali. Gadis itu sempat mengeliat sedikit.Tara menggerakkan tangannya karena rasa kebas akibat tid

  • Bodyguard Idaman Nona Muda   Bab 79

    Tara mencabut miliknya yang sudah kembali tidur dari lembah kenikmatan Luna. Kemudian, pria itu membawa Luna dalam pelukannya. Tara menarik selimut agar menutupi tubuh mereka yang masih sama polosnya.Keringat di tubuhnya masing-masing sudah mulai mengering. Suhu dalam kamar mewah itu sudah mulai terasa dingin kembali. Tara menepikan rambut Luna yang menutupi wajah cantik Luna.Ia mencium kening gadis di pelukannya itu dengan lembut, sementara Luna memejamkan matanya ketika keningnya Tara mengecup keningnya."Tara..""Hmm...""Bisakah kita selalu seperti ini?""Kenapa?"Luna mengeratkan pelukannya pada Tara, lalu ia mendongak hingga tatapan mereka bertemu. "Aku takut nanti kita berpisah saat misi kamu sudah berhasil," lirih Luna.Tara terkekeh sambil mengusap pipi Luna dengan lembut."Kenapa kamu bisa kepikiran begitu, hmm?""Aku takut kamu juga meninggalkan aku Tara, seperti Mas Alvin. Dulu dia begitu memperjuangkanku agar aku mau menikah dengannya, tapi setelah menikah dia mengab

  • Bodyguard Idaman Nona Muda   Bab 78

    Tara menggerakkan pinggulnya menghujam goa sempit milik Luna. Pria itu memejamkan matanya saat merasakan jepitan dari milik Luna pada Jhon yang sedang mengobrak abrik di bawah sana. Irama khas penyatuan dua raga mulai memenuhi seisi kamar, beradu dengan suara napas yang memburu saat tubuh Tara mengayun pelan diselingi gerakan keras kemudian menghentak ketika tidak lagi kuat bertahan dalam suasana damai dan tenang.Kepala Luna bergerak resah dengan bibir terus saja menggaungkan nama Tara sementara kedua tangannya yang tadi mencengkeram seprei sudah berpindah pada punggung pria itu."Aahhh... Ta-Tara...""Yaa Lunaa.." balas Tara dengan gerakan lincahnya memompa tubuh Nyonya mudanya yang berada dalam kekuasaannya.Beberapa kali bibir itu kembali menyasar puncak bukit Luna bergantian hingga respon Luna pun semakin liar.Gadis itu mungkin tidak sadari jika bibirnya begitu berisik hingga Tara tahu kalau kaki gadis itu mengejang dengan tubuh melengkung bagai busur dan memeluk pinggangnya b

  • Bodyguard Idaman Nona Muda   Bab 77

    "Keluarkan saja Luna, jangan di tahan."Bersamaan gerakan jarinya semakin kuat disertai suara desah nikmat dari bibir Luna.Tubuh Luna bergetar.Tara tahu, Luna mendapatkan klimaks untuk pertama kalinya.Tara mengeluarkan jarinya dari lembah kenikmatan Luna. Pria itu menatap wajah Luna yang berkeringat dan napas gadis itu yang masih ngos-ngosan seolah baru saja lari jauh."Sudah siap untuk ke menu utama, Luna?" tanya Tara.Di saat Luna masih menikmati pelepasannya, Tara menarik kain segitga berenda yang masih menutupi lembah kenikmatan gadis di bawah kendalinya ini. Luna mengangkat bokongnya agar memudahkan Tara melepaskan kain segitiga berenda itu dan lagi lagi pria itu melemparkannya ke sembarangan arah.Tara menatap lembah kenikmatan Luna yang sangat terawat. Warna merah muda dan bersih tanpa di tumbuhi oleh rerumputan. Sejak pertama kali Tara melihat pusat gairah Luna, pria itu langsung menyukainya.Milik Luna sangat berbeda dengan milik wanita yang pernah ia lihat di dalam video

  • Bodyguard Idaman Nona Muda   Bab 76

    Tubuh Luna mengejang saat merasakan hisapan lidah di permukaan lehernya. Kedua kaki gadis itu bergerak resah.Tara semakin bergerak ke bawah menyelusuri permukaan kulit putih Luna. Jejak-jejak merah hampir memenuhi kulit leher Luna."Tara, jangan di sana. Nanti kelihatan sama yang lain," lirih Luna dengan suara bergetar karena gadis itu menahan sensasi dari sentuhan Tara.Tara hanya diam saja. Pria itu tetap melanjutkan aktivitasnya tanpa mengindahkan permintaan Luna. Ia masih saja membuat maha karya di sana.Satu tangannya sejak tadi tidak diam karena sudah berada di salah satu bukit Luna yang masih tertutup oleh gaun yang masih menempel pada tubuh gadis itu. Tangan Tara terus meremas bukit Luna secara bergantian yang semakin menambah sensasi yang meresahkan dan menambah kobaran api gairah dalam tubuh Luna.Seolah tidak puas membuat jejak merah di leher Luna, pria itu kini membuat jejak cinta di dekat dengan tulang selangka Luna."Ta-Taraaa...."Mulut Luna sejak tadi tidak bisa diam

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status