Share

ISI AMPLOP COKELAT

Author: Mangata
last update publish date: 2026-11-06 11:26:17

Isinya tiga lembar.

Lembar pertama adalah foto.

Diambil hari itu juga, dengan koran lokal terbentang di pangkuan supaya tanggalnya terbaca. Alicia Hood duduk di kursi kayu, rambutnya berantakan, pipi kirinya lebam, dan satu sudut bibirnya robek.

Tapi ia menatap lurus ke kamera.

Dan dagunya terangkat.

"Dia marah," ucap Kat pelan ketika foto itu diedarkan di ruang dewan malam itu. "Lihat matanya. Dia marah, bukan takut."

"Dia dipukul," ucap Diana.

"Dia dipukul karena dia melawan," koreksi Serena
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Bodyguard Tangguh Dan Enam Putri Mafia Seksi   PEREMPUAN DI TOKO ROTI [TAMAT]

    Empat bulan kemudian. Freya Hood berdiri di balkon lantai dua sebuah rumah di pinggiran Raven City, dengan secangkir kopi di tangan dan rambut yang belum disisir, menatap halaman belakang yang berantakan oleh enam perempuan yang tidak pernah bisa sepakat soal apa pun. "ITU BUKAN TEMPATNYA!" "Ini tempatnya." "KAK SERENA, ITU BUKAN TEMPATNYA!" "Saya dokter bedah. Saya tahu di mana sesuatu harus diletakkan." "Ini kebun, bukan usus orang!" Elizabeth duduk bersila di rumput dengan laptop di pangkuan, tidak membantu sama sekali, dan sesekali mengangkat wajahnya untuk tertawa. Diana berdiri di teras dengan tablet, menelepon seseorang dalam bahasa yang tidak satu pun dari mereka mengerti, sambil sesekali berteriak ke halaman dalam bahasa yang mereka mengerti. Dan Kat berjongkok di sudut kebun, memasang pagar kayu dengan palu, satu-satunya orang yang benar-benar bekerja. "Mereka berisik sekali," ucap Alicia dari balkon sebelah. "Kau ikut berisik tadi pagi." "Itu beda. Ak

  • Bodyguard Tangguh Dan Enam Putri Mafia Seksi   KURSI ROTAN

    Salvador Cruz tidak ditembak.Ia jatuh dari kursi rotannya pukul sebelas lewat enam, di tengah halaman yang dipenuhi puluhan orang, ketika mencoba berdiri untuk melihat ke arah atap tempat Alan dan Dimas berdiri.Yang pertama menangkapnya adalah seorang perempuan berseragam perawat yang namanya Rina, yang baru berkenalan dengan orang di sebelahnya tiga jam lalu."Pak!""Bapak!""Panggil ambulans!""Jangan digerakkan dulu!"Alan dan Dimas turun dari atap dalam empat puluh detik dan menerobos kerumunan yang terbelah sendiri begitu melihat siapa yang datang.Pria tua itu terbaring di rumput halaman dengan kepala di pangkuan perawat bernama Rina, wajahnya pucat, dan tangan kanannya menggenggam dada kirinya.Serena tiba dua puluh dua menit kemudian.***"Minggir! Semuanya mundur tiga langkah!"Perempuan itu berlutut di rumput dengan tas hitam bergaris merahnya dan bekerja selama enam menit tanpa satu pun kata yang tidak perlu.Senter kecil di pupil. Dua jari di leher. Stetoskop. Tekanan da

  • Bodyguard Tangguh Dan Enam Putri Mafia Seksi   TEMBAKAN PERTAMA

    Tembakan itu bukan datang dari dalam tenda.Alan tahu itu sejak bunyinya sampai ke teras, karena bunyinya terlalu kering dan terlalu jauh."Dari atap," ucapnya.Ia sudah berlari ke ujung teras dan menatap ke arah selatan.Dua ratus meter dari rumah batu itu, di atas tenda putih yang masih terang benderang, asap tipis mengepul dari sudut bangunan dua lantai di seberang jalan.Dan di dalam tenda, dua ratus orang mulai berteriak."Kat!" Alan menekan radionya. "Kat, lapor!"Tidak ada jawaban."Elizabeth!"Desis.Lalu, dua detik kemudian, suara perempuan itu terdengar terengah-engah."Bos! Kami baik! Kami di luar tenda!""Siapa yang ditembak?""Bukan siapa-siapa!" teriak Elizabeth. "Tembakannya ke tiang lampu! Ada yang menembak lampu tenda!"***Alan berhenti bergerak."Katakan lagi.""Tembakannya ke lampu, Bos. Dua lampu gantung di tengah tenda pecah. Tidak ada orang yang kena.""Dari jarak dua ratus meter, di malam hari, dua lampu.""Iya."Alan menoleh ke belakang, ke arah teras rumah ba

  • Bodyguard Tangguh Dan Enam Putri Mafia Seksi   PERTANYAAN KEDUA

    Salvador Cruz tidak ada di dalam tenda.Alan menemukannya di teras rumah batu dua blok ke utara, duduk sendirian di kursi rotan dengan selimut tipis di atas lututnya, memandangi jalanan sempit yang sejak tadi dipenuhi suara pesta dari kejauhan.Di meja kecil di sampingnya ada dua cangkir.Keduanya sudah terisi."Duduk, Nak," ucapnya tanpa menoleh. "Bapak tahu kamu akan datang begitu Dimas kasih amplopnya."Alan berhenti di anak tangga teras."Bapak tahu isinya?""Bapak yang menyuruh dia memberikannya."***Alan tidak duduk.Ia berdiri di anak tangga itu, dengan satu tangan masih di sisi tubuhnya, dan menatap pria tua yang kini terlihat jauh lebih kecil dari empat hari lalu."Dia hidup," ucapnya."Iya.""Adik saya hidup.""Iya, Nak."Sesuatu di dada Alan terasa pecah dan tidak mengeluarkan suara apa pun."Bapak membiarkan saya percaya dia mati selama tujuh belas tahun.""Iya.""Kenapa?"Salvador Cruz mengambil cangkirnya dengan dua tangan, karena satu tangan sudah tidak cukup kuat."Du

  • Bodyguard Tangguh Dan Enam Putri Mafia Seksi   KAKAK SULUNG

    Dua ratus orang menunggu Alan menjawab.Tangan pria tua itu masih berada di bahunya. Ringan sekali, nyaris tidak terasa, dan justru karena itulah tangan itu terasa seperti timah.Alan menoleh ke seluruh tenda.Delapan puluh satu wajah. Perawat, polisi, pegawai pelabuhan, nelayan, pegawai kantoran, dan orang-orang yang jelas-jelas memegang senjata untuk hidup.Dan semuanya sedang menatapnya dengan satu pertanyaan yang sama di wajah mereka.Benarkah?"Bapak salah," ucap Alan.Tenda itu sunyi.Salvador Cruz menoleh, dan alisnya terangkat sedikit."Salah bagaimana?""Saya bukan kakak sulung mereka," ucap Alan. Suaranya tidak keras, tapi cukup jelas. "Saya memang yang paling lama Bapak simpan. Tapi kakak sulung itu bukan soal umur.""Lalu soal apa?"Alan menoleh ke arah meja-meja itu."Soal siapa yang datang waktu salah satu dari mereka ditembak," ucapnya.Ia melepaskan tangan pria tua itu dari bahunya, pelan sekali, dan tanpa kasar."Dan saya tidak pernah datang untuk satu pun dari mereka

  • Bodyguard Tangguh Dan Enam Putri Mafia Seksi   DELAPAN PULUH SATU

    Rhodes City pada tanggal empat belas tidak sunyi seperti terakhir kali.Lampu-lampu jalan kota tua itu menyala sejak pukul lima sore, dan di sepanjang dermaga batu, orang-orang memasang bendera kecil berwarna putih di tiang lampu. Bukan bendera organisasi mana pun. Bendera polos tanpa lambang.Toko-toko tutup lebih awal. Kedai kopi di alun-alun mengeluarkan seluruh kursinya ke trotoar. Dan di halaman rumah batu berlantai dua dua blok ke utara, tenda putih berukuran dua puluh kali tiga puluh meter sudah berdiri sejak pagi."Mereka menutup satu kota untuk pesta ulang tahun," ucap Elizabeth dari kursi belakang mobil."Mereka tidak menutupnya," ucap Alicia. "Mereka datang sendiri.""Apa maksudmu?"Perempuan itu menunjuk ke luar jendela.Di trotoar, seorang perempuan tua sedang menata kue di atas nampan dan membawanya ke arah tenda."Separuh kota ini pernah dibayari sesuatu oleh beliau," ucap Alicia. "Biaya sekolah, biaya rumah sakit, biaya pemakaman. Mereka tidak tahu apa-apa soal The Sev

  • Bodyguard Tangguh Dan Enam Putri Mafia Seksi   Campville & Ranjang Panas

    “Ini rumah ibumu?” Alan terkejut dengan luasnya rumah ibu seorang artis. Mungkin luasnya bisa disamakan dengan luas lapangan bola. “Dia sangat suka berkebun dan membuat beberapa pendopo. Tidak mungkin, ‘kan aku memberikannya apartemen. Dia mungkin akan menggantung setiap tanaman di setiap sudut ru

  • Bodyguard Tangguh Dan Enam Putri Mafia Seksi   Misi Pertama; Penyelamatan

    “Ini adalah tempatnya.” Dengan mengenakan earphone di telinga, Freya menghubungi lelaki yang sudah berada di belakang gedung tua. Ia pun juga baru tiba di seberang gedung itu. Dengan mobil Alan, ia mendekati pintu masuk gedung yang sudah dijaga oleh para pria berjas hitam. Mereka tampak kaku dan b

  • Bodyguard Tangguh Dan Enam Putri Mafia Seksi   Griya Tawang

    “Jadi, ini adalah tempatmu?” Alan memarkir mobilnya di basemen sebuah gedung apartemen mewah di pinggir kota yang terkenal dengan griya tawangnya. “Jangan bicara. Aku benci laki-laki yang banyak bicara seperti wanita!” Freya melangkah meninggalkan lelaki itu dengan wajah sinis. Ia menuju ke lift y

  • Bodyguard Tangguh Dan Enam Putri Mafia Seksi   Dikejar Pria Tak Dikenal

    “Apa kau punya nomor telepon si putri keenam?”[Aku akan mengirimkannya.]Alan tampak khawatir. Sepertinya ia tidak bisa sampai tepat waktu ke lokasi ‘Gala Dinner’. Dengan sedikit improvisasi, ia mengirimkan pesan kepada Freya Hood untuk tetap di dalam gedung. [Hei, maaf mengganggu. Tapi aku adala

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status