Home / Horor / Booking Terakhir / CHAPTER 28 : Lampu yang Masih Menyala

Share

CHAPTER 28 : Lampu yang Masih Menyala

Author: Newa Lim
last update publish date: 2026-06-09 10:14:25

Angin berhembus lembut membuai di jalanan kosong. Tidak ada monster, tidak ada jeritan ataupun suara langkah yang mengejar. Namun justru itu yang membuat Raka merasakan sesuatu yang jauh lebih mengerikan. Keadaan sunyi yang tak terasa wajar karena mampu memberikan sedikit rasa tenang.

Kini ada empat orang berdiri di tengah jalan utama Kota yang Hilang.

Raka, Naya, Mira dan Dito berlatar belakang pintu hitam yang telah membawa mereka kesana yang mulai memudar secara perlahan hingga akhirnya leny
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Booking Terakhir   CHAPTER 30 : Perempuan yang Tidak Pernah Tumbuh Tua

    "Jadi... mereka masih memakai wajahmu." Kalimat itu ditujukan langsung kepada Dito yang untuk pertama kalinya tampak cemas berlebihan dan tidak tenang cenderung panik. Dipo menapak mundur selangkah demi selangkah seolah melihat sesuatu yang jauh lebih menyeramkan daripada Lautan Hitam. "Kamu..., nggak mungkin ada di sini!" Suara Dito nyaris terdengar marah bercampur takut. Perempuan itu tersenyum tipis, seperti puas mendapatkan sesuatu yang telah ditunggu terlalu lama. "Sudah lama nggak ketemu." Katanya dengan suara lembut mengintimidasi. Raka memperhatikan wajahnya dengan teliti dan merasakan suatu sensasi janggal. Semakin lama terasa semakin aneh. Perempuan itu memang sangat mirip dengan Lena, tapi sepertinya dia bukanlah Lena. Mata mereka tampak berbeda jika lebih diperhatikan, demikian pula dengan cara berdiri dan tersenyumnya. Mungkin lebih tepat bila perempuan itu adalah saudara kandung atau bahkan kembarannya. "Siapa kamu?" Tanya Raka berusaha menjawab rasa penasaran

  • Booking Terakhir   CHAPTER 29 : Orang Orang yang Kembali

    "Mereka adalah orang orang yang pernah dilupakan dan berhasil kembali." Kalimat Dito membuat udara terasa lebih dingin menusuk kalbu.Sedangkan kini di depan mereka, ratusan sosok terus berjalan perlahan dari arah apartemen. Mereka semua tidak mengaum atau pun menunjukkan perilaku layaknya monster karena semua gerakannya masih dalam batas kewajaran sebagai manusia biasa yang normal.Ada seorang pria memakai seragam kantor, ibu menggendong bayi mungil nan lucu, nenek tua dengan tongkat jalannya, anak sekolah berseragam rapi, pengantar makanan, kasir minimarket dan orang biasa lainnya."Berhasil kembali itu maksudnya apa?" Naya bertanya sambil terus mengamati.Dito tidak langsung menjawab karena masih terlihat heran dengan situasi yang terjadi sekarang. "Mereka seharusnya tidak ada," hanya itu yang terlontar dari mulutnya.BOOM!Tanah bergetar lagi karena sesuatu berukuran sangat besar terasa bergerak di bawah kota.Mira langsung menarik mereka masuk ke sebuah toko buku yang berada di t

  • Booking Terakhir   CHAPTER 28 : Lampu yang Masih Menyala

    Angin berhembus lembut membuai di jalanan kosong. Tidak ada monster, tidak ada jeritan ataupun suara langkah yang mengejar. Namun justru itu yang membuat Raka merasakan sesuatu yang jauh lebih mengerikan. Keadaan sunyi yang tak terasa wajar karena mampu memberikan sedikit rasa tenang.Kini ada empat orang berdiri di tengah jalan utama Kota yang Hilang.Raka, Naya, Mira dan Dito berlatar belakang pintu hitam yang telah membawa mereka kesana yang mulai memudar secara perlahan hingga akhirnya lenyap tak berbekas seolah tidak pernah ada."Kita terjebak lagi ya?" tanya Naya pelan dengan nada lelah dan cemas karena merasa terperangkap dalam jebakan tak berujung.Tidak ada satu pun yang mau menjawab, karena semua sedang melihat pada satu titik yang sama.Sebuah lampu apartemen yang menyala di lantai dua belas sebuah gedung apartemen tua dan itu adalah satu satunya cahaya di seluruh kota serta sesosok bayangan yang berdiri dibalik jendelanya yang sedang membalas mengawasi mereka. Lalu tirai d

  • Booking Terakhir   CHAPTER 27 : Kota yang Hilang

    "Sekarang giliran kalian yang masuk ke dalam kamar." Suara Lena bergema di seluruh stasiun yang runtuh namun tidak terdengar sebagai sebuah ancaman karena nadanya terlalu tenang dan tidaklah keras. Tapi kalimat itu sanggup membuat mereka semua berdiri mematung.Sementara itu, debu masih berputaran di udara disertai potongan beton melayang tanpa jatuh ke dasar. Rel kereta yang patah menggantung seperti tertahan oleh tangan tak terlihat, bahkan tangan tangan raksasa dari Lautan Hitam yang selama ini menghancurkan hotel kini juga terdiam seolah mereka sedang menunggu keputusan Lena.Raka menatap anak perempuan itu, anak yang selama dua puluh tujuh tahun tidak pernah ia ingat dan seharusnya telah mati. Anak yang kini membuat hotel, Dito, bahkan Lautan Hitam sendiri berhenti bergerak."Lena..." suara Raka serak. "Aku sudah ingat sedikit."Senyum Lena menghilang. Sekelebat tampak kesedihan di raut wajahnya walau hanya sesaat. "Lima menit," kata Lena pelan hampir tak terdengar."Apa?" Raka

  • Booking Terakhir   CHAPTER 26 : Anak Ketiga yang Dihapus

    "Itu Lena, adik gue."Kalimat Mira menggantung di udara yang penuh debu dan reruntuhan.Di sekitar mereka, dunia terus runtuh. Tangan tangan raksasa dari lautan hitam merobek bagian demi bagian hotel. Lorong lorong yang selama ini tampak abadi kini hancur seperti kardus basah. Pintu pintu kamar terus berjatuhan dan jeritan terdengar dari balik dinding yang pecah.Namun bagi Raka, semua suara itu seolah menghilang karena konsentrasi dan matanya terpaku pada foto tua di layar ponsel.Ada tiga anak.Dirinya, Dito dan seorang anak perempuan yang tidak pernah muncul dalam ingatan mana pun. Padahal wajahnya terasa familiar seakan Raka pernah melihat dan mengenalnya. Tapi seseorang atau sesuatu mungkin saja sudah menghapus semua itu."Lena...," gumam Raka lebih pada dirinya sendiri.Mira masih tampak lebih pucat daripada sebelumnya dengan tangan gemetar. "Itu nggak mungkin...""Kenapa nggak mungkin?" Tanya Naya sambil turut memperhatikan foto tersebut.Ekspresi Mira sekarang terlihat benar b

  • Booking Terakhir   CHAPTER 25 : Anak yang Salah

    "DITO BUKAN ANAK YANG TERKUNCI DI MALAM ITU!"Kalimat terakhir ibunya menghantam perasaan Raka lebih keras daripada runtuhnya seluruh stasiun. Dunia terasa seperti berhenti dengan menghilangnya suara kereta, beton retak dan raungan monster yang terdengar menggeram sebelumnya.Sekarang hanya ada satu pikiran di kepala Raka yang sibuk bertanya tanya. Kalau Dito bukan anak yang terkunci, lalu siapa sebenarnya yang ada di dalam kamar?BOOOOOOM!Tangan raksasa dari langit menghantam peron disertai dengan rel kereta yang melengkung seperti kawat lunak. Gerbong gerbong kereta hitam terangkat ke udara seperti kapas dengan iringan suara teriakan histeris puluhan penumpang didalamnya.Sesaat kemudian, Raka tersadar akan sesuatu, “IBU!" teriaknya cemas.Tapi sosok perempuan di peron seberang sudah mulai memudar dengan cepat layaknya gambar televisi yang mulai rusak."RAKA!" Teriak Naya menggugah Raka yang sedang terhenyak ditempatnya. "GERAK!"Lantai stasiun pecah tepat di bawah kaki mereka memb

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status