Beranda / Horor / Booking Terakhir / CHAPTER 28 : Lampu yang Masih Menyala

Share

CHAPTER 28 : Lampu yang Masih Menyala

Penulis: Newa Lim
last update Tanggal publikasi: 2026-06-09 10:14:25

Angin berhembus lembut membuai di jalanan kosong. Tidak ada monster, tidak ada jeritan ataupun suara langkah yang mengejar. Namun justru itu yang membuat Raka merasakan sesuatu yang jauh lebih mengerikan. Keadaan sunyi yang tak terasa wajar karena mampu memberikan sedikit rasa tenang.

Kini ada empat orang berdiri di tengah jalan utama Kota yang Hilang.

Raka, Naya, Mira dan Dito berlatar belakang pintu hitam yang telah membawa mereka kesana yang mulai memudar secara perlahan hingga akhirnya leny
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Booking Terakhir   Chapter 73 : Jalan Ketiga

    Raka menuruni tangga selangkah demi selangkah, sedangkan di belakangnya terdengar suara benturan pada pintu Kamar Nol yang semakin keras.DUANG! DUANG!Tampaknya seseorang berusaha keras untuk masuk ke dalam.Sementara itu, Ayah Raka berdiri beberapa anak tangga di belakangnya. "Jangan berhenti."Raka tidak menoleh karena masih merasa bingung. "Ke mana tangga ini?""Ke tempat yang tidak pernah masuk blueprint.""Ke tempat apa?""Ke pusat Kamar Nol."Raka berhenti. "Bukankah kita sudah berada di Kamar Nol?"Ayahnya menggeleng. "Ruangan tadi hanya pintunya."Kemudian Raka menatap ke bawah, memperhatikan tangga yang terus turun dan tidak terlihat ujungnya sama sekali. Dinding di kiri dan kanan terbuat dari beton tua yang dipenuhi goresan. Namun semakin jauh mereka turun, semakin banyak gambar dan foto yang muncul di dinding.Gambar dan foto anak-anak, rumah, pohon, wajah, pintu dan ada sebuah gambar yang sama tapi dalam jumlah sangat banyak. Gambar seorang anak sedang berdiri di depan se

  • Booking Terakhir   Chapter 72 : Ingatan Yang Dikunci

    Raka tidak langsung menjawab, sedangkan pria di hadapannya masih berdiri di ambang Kamar Nol."Ayah...," Kata itu keluar begitu saja, membuat pria tersebut tersenyum mendengar kata yang sudah ditunggunya selama puluhan tahun.Lalu Raka mundur selangkah. "Kalau kau ayahku, kenapa aku tidak pernah mengenalmu?""Karena aku yang membuatmu melupakanku." Jawabnya tenang."Kenapa?""Karena kalau kau mengingatku, maka mereka akan menemukanmu.""Siapa?""Aku."Raka mengernyit. "Aku tidak mengerti."Lantas pria itu mulai menjelaskan," Tolong dengarkan." Kemudian ia mengambil sebuah kotak logam dari bawah meja serta langsung membukanya. Raka melihat puluhan benda kecil di dalamnya, seperti kancing, foto, potongan kain, pensil, gelang anak-anak, dan juga sebuah mobil-mobilan merah. Ia mengenali benda itu lalu mengulurkan tangannya."Aku punya ini ketika berumur tujuh tahun." Raka mengambil mobil-mobilan itu.Sebuah kenangan muncul tentang seorang anak laki-laki duduk di lantai yang sedang memper

  • Booking Terakhir   Chapter 71 : Kamar Nol 2

    Setelah sempat terdiam beberapa saat, Kustodian akhirnya menjawab dengan sedikit agak terpaksa, "Orang yang memerintahkan Proyek Kamar Nol.""Siapa yang memerintahkan Proyek Kamar Nol yang sebenarnya?"Kustodian tampak hendak membuka mulutnya untuk menjawab, namun sebelum satu kata pun keluar, Anak itu berteriak dengan suara histeris, "JANGAN!"Seketika itu juga, seluruh ruangan berguncang hebat dan Mesin ketik langsung menyala kembali, disertai oleh tuts yang lagi lagi bergerak sendiri.Tak…! Tak…! Tak…!Selembar kertas baru saja keluar dari sana dan memunculkan satu kalimat baru bertuliskan:KUSTODIAN TIDAK BOLEH MENYEBUT NAMANYA.Akhirnya Kustodian pasrah dan memejamkan mata karena mulai menyerah.Raka bertanya dengan kesal bercampur dengan rasa penasaran, " Sebenarnya siapa yang menulis itu?"Anak itu menjawab. "Dia.""Siapa dia sebenarnya yang dimaksud?"Lalu Anak itu menunjuk ke langit-langit. "Bukan Kustodian, bukan Direktorat, dan juga bukan Pemutus.""Lalu siapa dia?" Suara R

  • Booking Terakhir   Chapter 70 : Kamar Nol 1

    Anak itu tersenyum dengan senyum yang sama persis. Itu wajah Raka yang selama ini hanya pernah ia lihat dalam foto-foto masa kanak-kanak, namun sekarang wajah itu hanya berdiri beberapa meter di depannya."Kamu terlambat," ulang anak itu.Tetapi Raka masih tidak menjawab karena seluruh tubuhnya seperti sudah lupa akan bagaimana caranya bergerak."Siapa kamu?" Akhirnya Raka bersuara.Anak tersebut memiringkan kepala. "Pertanyaan yang salah.""Lalu apa pertanyaan yang benar?""Kenapa kamu keluar?" Ujarnya ketus.Raka mengerutkan kening. "Aku tidak mengerti."Kemudian anak itu menunjuk dadanya sendiri. "Karena aku tidak pernah keluar." Lalu ia menunjuk Raka. "Kamu yang keluar."Bima tampak terkejut bukan kepalang. "Ini tidak mungkin."Sementara itu, Surya memandang anak itu dengan wajah pucat. "Kamar Nol..."Kustodian langsung mengangkat tangan. "Jangan mendekat."Raka menoleh dengan ekspresi penuh tanda tanya, "Kenapa?""Karena kita belum tahu mana yang asli." Sahut Kustodian cepat.Ana

  • Booking Terakhir   Chapter 69 : Anak Yang Seharusnya Mati

    Tba tiba foto itu jatuh dari tangan Raka.Hanya terdengar bunyi kecil kertas yang menyentuh lantai beton, namun rasanya seperti seluruh ruangan baru saja kehilangan udara.12 Mei 1987 adalah tanggal lahirnya dan wajah anak laki-laki dalam foto itu, tidak lain adalah wajahnya juga. Sama persis identik, bahkan hingga bekas luka kecil di dekat alis kanan.Lantas Raka menyentuh alisnya sendiri yang menyimpan bekas luka yang sudah ada sejak kecil. Selama bertahun-tahun ia mengira luka tersebut akibat jatuh dari sepeda, tapi kini ia tidak yakin lagi.Lalu Naya mengambil foto itu dengan tangan gemetar. "Raka...""Aku tahu.""Tapi ini tidak mungkin.""Aku juga tahu."Sementara itu, Alia berdiri beberapa meter dari mereka dengan wajah terlihat pucat. Dia sendiri tampak seperti seseorang yang baru saja menemukan bahwa ingatan yang selama ini dipercayainya ternyata menyimpan kebohongan. "Aku tidak pernah tahu siapa anak itu," katanya. "Tapi aku pernah melihat foto ini.""Di mana?""Di rumah sak

  • Booking Terakhir   Chapter 68 : Nama yang Tidak Boleh Ada

    Tak….!R..., A..., K...Raka terus menatap mesin ketik itu tanpa berkedip seakan tak mau ketinggalan satu momen pun, padahal ruangan generator masih gelap, hanya ada cahaya tipis dari layar panel darurat yang menerangi wajah mereka.Sementara itu, Arman masih berdiri di samping mesin tik dengan tubuh tampak kaku.Naya yang terlihat sangat khawatir, langsung memegang lengan Raka."Jangan mendekat."Mendengar peringatan dari Naya, Raka tetap tidak menjawab, karena sepasang matanya masih tetap tertuju pada kertas.Kemudian huruf berikutnya belum muncul, membuat semua menunggu dalam keheningan mencekam.Kemudian terdengar suara yang memang paling dinantikan…Tak…!Akhirnya huruf keempat pun muncul.A.Raka kontan menarik napas panjang.R-A-K-A.Itu memang adalah namanya. Namun ternyata mesin belum berhenti sampai disitu.Tak…!Lalu muncul spasi., kemudian muncul satu huruf baru.P.Melihat itu, Bima langsung berkata, "Matikan!"Arman menggeleng. "Aku tidak bisa.""Cabut sumber listrik!" B

  • Booking Terakhir   CHAPTER 7  : Check-Out Pertama

    TOK.Ketukan itu berhenti dan seketika sunyi. Tapi justru itu yang membuatnya lebih menakutkan.Raka berdiri di tengah kamar, matanya terpaku ke pintu. Notifikasi di ponselnya masih menyala:“ANDA TERPILIH UNTUK CHECK-OUT.”Di sampingnya, Naya menggenggam lengannya erat. “Jangan buka…” bisiknya. “A

  • Booking Terakhir   CHAPTER 3 – Reset Pertama

    Naya mundur satu langkah seolah tubuhnya menolak apa yang terlihat. “Itu…,bukan gue!” suaranya bergetar penuh penyangkalan cenderung sedikit histeris. Mendengar itu, Raka tidak menjawab karena dia juga melihatnya. Sosok di ujung lorong itu, tinggi, bentuk tubuh, rambut, bahkan cara berdirinya sama

  • Booking Terakhir   CHAPTER 2 – Tamu yang Tidak Terdaftar

    Raka membeku mematung tak mampu bergerak. Napasnya tercekat di tenggorokan. Suara itu terlalu dekat, seolah seseorang benar-benar berdiri di belakangnya, menempel di punggungnya. Ia menoleh cepat. Kosong. Hanya pintu kamar mandi yang masih terbuka sedikit, menganga seperti mulut gelap.“Ini nggak

  • Booking Terakhir   CHAPTER 1 – Hotel yang Tidak Ada di Peta

    Hujan turun seperti seseorang sedang menghapus dunia, berhiaskan kilatan petir yang liar bebas menyambar.Raka menatap layar ponselnya, sinyal naik turun di sudut kanan atas. Jalanan yang mereka lewati sejak tadi berubah jadi jalur sempit, gelap, dan sepi. Tidak ada lampu jalan. Tidak ada rumah. Ha

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status