Beranda / Horor / Booking Terakhir / CHAPTER 1 – Hotel yang Tidak Ada di Peta

Share

Booking Terakhir
Booking Terakhir
Penulis: Newa Lim

CHAPTER 1 – Hotel yang Tidak Ada di Peta

Penulis: Newa Lim
last update Tanggal publikasi: 2026-04-10 12:25:11

Hujan turun seperti seseorang sedang menghapus dunia, berhiaskan kilatan petir yang liar bebas menyambar.

Raka menatap layar ponselnya, sinyal naik turun di sudut kanan atas. Jalanan yang mereka lewati sejak tadi berubah jadi jalur sempit, gelap, dan sepi. Tidak ada lampu jalan. Tidak ada rumah. Hanya pepohonan yang berdiri seperti bayangan hitam.

“Ini serius tempatnya?” Naya bertanya dari kursi penumpang, suaranya setengah kesal, setengah penasaran.

Raka memperbesar peta di layar. Titik biru berkedip pelan.

“Katanya di sini,” jawabnya. “Rating-nya juga tinggi. Banyak yang bilang hidden gem.”

Naya mendengus. “Hidden banget sampai hilang dari dunia nyata.”

Mobil mereka melambat. Di depan, kabut turun tipis seperti tirai. Kemudian Bangunan itu muncul. Sebuah hotel tua. Lampu di bagian depan berkedip lemah. Cat temboknya mengelupas. Tulisan nama hotel di atas pintu masuk sudah pudar, hanya menyisakan huruf-huruf samar yang sulit dibaca.

Raka memicingkan mata. “Aneh, difoto kelihatan bagus.”

Naya sudah mengeluarkan ponselnya, kamera aktif. “Justru ini bagus. Konten horror vibes.

“Ini bukan konten, Nay. Ini…” Raka berhenti bicara.

Pintu utama hotel itu perlahan terbuka sendiri, berderit hingga mendirikan bulu kuduk, seolah memberi sambutan hangat pada mereka.

Dengan perasaan campur aduk, kaki mereka pun melangkah masuk menjejak lantai. Udara terasa dingin sampai merayap ke tulang. Lobi luas, tapi kosong. Lampu gantung tua berayun pelan tanpa angin. Bau kayu lapuk terhirup bebas. Seperti lembap yang terlalu lama tidak disentuh manusia.

“Halo?” suara Naya menggema.

Tidak ada jawaban.

Raka melangkah mendekati meja resepsionis. Kayu meja itu penuh goresan. Di atasnya ada buku tamu tebal, terbuka di halaman kosong. Seorang pria tua duduk seperti mematung. Menatap mereka dengan tatapan samar susah ditebak.

“Selamat datang,” suara pria itu serak, seperti sudah lama tidak dipakai berbicara. “Kami sudah menunggu.”

Naya langsung tersenyum,“Kami booking online. Atas nama Naya.”

Pria itu tidak bergerak. Tidak mengetik. Tidak membuka komputer. Ia hanya menarik buku tamu ke arahnya, menuliskan sesuatu dengan perlahan. “Tidak perlu, nama kalian sudah tercatat.”

Raka mengerutkan kening. “Tapi kami baru booking tadi sore.”

Pria itu berhenti menulis, sambil menatap Raka lama, ia menjawab, “Tamu selalu datang tepat waktu,” Ada sesuatu dalam cara dia bicara, seolah kalimat itu punya makna lain.

Naya menyikut Raka kecil. “Udah, jangan ribet. Kita cuma butuh istirahat.”

Pria itu mendorong dua kunci ke arah mereka.Tidak ada nomor kamar di gantungannya. Hanya angka yang terukir samar: 305, 306

“Lantai tiga,” katanya. “Lorong kiri.”

Raka mengambil kunci itu. Dingin. Terlalu dingin untuk sekadar logam. “Pak, ada tamu lain?” tanya Raka.

Pria itu tersenyum tipis, “Ada.”

“Banyak?”

Pria itu tidak langsung menjawab. Matanya bergeser ke arah lorong gelap di belakang mereka. “Kalian akan bertemu mereka,” katanya pelan.

Tanpa menunggu lagi, Raka dan Naya bergegas mencari dan melangkah cepat menuju lift yang tampak mengundang. Ternyata, lift tidak berfungsi. Tak ada pilihan, mereka terpaksa naik tangga. Setiap langkah menghasilkan bunyi berderit yang terlalu keras untuk bangunan kosong. Lampu di tangga berkedip-kedip, kadang terang, kadang hampir mati. Naya masih merekam.

“Gila sih ini aesthetic-nya,” bisiknya ke kamera. “Kalau gue hilang di sini, minimal views gue naik.”

“Jangan ngomong gitu,” Raka menegur.

“Relax. Bercanda.” Sambar Naya.

Tapi Raka tidak tertawa. Ada perasaan aneh sejak mereka masuk. Seperti… dia pernah berada di tempat ini, padahal jelas-jelas belum pernah, Ia lalu berhenti di tengah tangga.

“Nay”

“Apa?”

Raka menggeleng pelan. “Nggak. Perasaan doang.”

Lantai tiga, lorong panjang membentang, dengan pintu-pintu kamar di kiri dan kanan. Karpet merah tua menutupi lantai, tapi warnanya sudah kusam, hampir seperti cokelat gelap, lampu di lorong lebih redup dibanding bawah. Dan sunyi, bahkan terlalu sunyi. Mereka pun berjalan pelan hingga akhirnya tiba di kamar mereka yang bersebelahan.

“Gue di sini ya,” kata Naya sambil mengangkat kunci 305.

Raka mengangguk. “Kalau ada apa-apa, langsung panggil.”

Naya tersenyum. “Santai, Bang. Ini hotel, bukan rumah hantu.”

Raka ingin membalas, tapi urung. Karena tepat saat itu dari ujung lorong ada bayangan seseorang.

Raka menatap.“Lo lihat itu?” bisiknya.

Naya menoleh, lorong kosong. “Apaan?” katanya.

Raka kembali melihat ke ujung lorong. Tidak ada siapa-siapa. Ia menghela napas. “Nggak jadi.”

“Capek lo,” kata Naya sambil membuka pintu kamarnya.

Klik.

Pintu terbuka, gelap di dalam sana.

“See you,” katanya sebelum masuk, kemudian pintu tertutup.

Raka berdiri beberapa detik di Lorong, lalu membuka kamar 306.

Ternyata kamar itu lebih bagus dari perkiraan. Interiornya rapi. Tempat tidur bersih. Lampu hangat. Seolah dua dunia berbeda antara luar dan dalam.

Raka menutup pintu, menguncinya. Kemudian meletakkan tas, duduk di tepi kasur, lalu menghempaskan diri ke pembaringan.Tapi perasaan aneh itu belum hilang. Ia mengambil ponsel, ternyata sinyal hilang.

“Bagus,” gumamnya pelan sarkas.

Ia bangkit, berjalan ke kamar mandi dan menyalakan lampu. Normal, cermin bersih, sama sekali tidak ada yang aneh. Ia mencuci muka dengan air yang terasa dingin seperti air yang tidak pernah tersentuh matahari. Raka mengangkat kepala dan menatap cermin. Untuk sesaat, ia merasa bayangannya terlambat bergerak sepersekian detik, lalu normal lagi. Raka melangkah mundur. “Capek,” bisiknya menenangkan diri sendiri.

Ia kembali ke kamar,menjatuhkan tubuh ke kasur. Matanya kosong menatap langit-langit. Hujan masih terdengar di luar. Detik berlalu berubah menjadi menit. Menit pun berlalu menjelma menjadi jam. Pelan-pelan, matanya mulai terpejam.

TOK

Raka membuka mata. Sunyi. Ia menoleh ke arah pintu dan tidak ada apa apa disana. Mungkin suara dari kamar sebelah. Ia memejamkan mata lagi.

TOK TOK

Lebih jelas. Asal suara seperti dari dalam kamar. Raka langsung terduduk memandang sekeliling ruangan. Kosong, Tidak ada siapa-siapa. Lalu, suara terdengar lagi.

TOK

Kali ini… dari arah kamar mandi. Raka menahan napas sebab pintu kamar mandi .Lampu di dalamnya mati, padahal ia tidak mematikannya.

Perlahan, ia berdiri lalu melangkah pelan satu per satu mendekati pintu kamar mandi. Tangannya terangkat dan berhenti di gagang pintu. Tidak ada suara lagi. Ia menelan ludah. “Cuma perasaan…” hiburnya.

Tangannya pelan memutar gagang. Pintu terbuka sedikit. Gelap dan kosong. Raka menghela napas lega dan hampir menutup kembali pintu itu saat suara itu terdengar lagi.

TOK

Tepat di belakangnya dari dalam kamar mandi, padahal pintunya sudah terbuka dan tidak ada siapa-siapa di dalam. Raka membeku, Jantungnya berdetak keras. Perlahan dalam ketegangan, dari dalam kegelapan kamar mandi, terdengar suara napas, bukan miliknya. Kemudian terdengar suara berbisik tepat di telinganya.

“Kamu terlambat.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Booking Terakhir   Chapter 76: Tamu Terakhir

    Wajahnya jauh lebih muda daripada pria tua yang baru saja ditemui Raka di Kamar Nol, namun wajah itu tidak mungkin salah. Itu ayahnya. Ayah yang selama ini diyakini telah meninggal.Raka mundur selangkah. "Ini bukan nyata."Sementara itu, Surya berdiri di samping pintu kamar. "Tidak, ini ingatan."Raka menoleh pada Surya, "Kenapa dia ada di sini?""Karena ini adalah malam yang sebenarnya.""1996?"Surya mengangguk. "17 Agustus." Jam di dinding menunjukkan 03.17, waktu yang sama dengan rekaman tadi.Kemudian ayah Raka berjalan menyusuri lorong, seakan tidak melihat dan mendengar mereka.Raka mengikutinya dengan waspada hingga mereka sampai di lobi.Ternyata kini lobi hotel terlihat jauh lebih sederhana daripada Hotel Booking Terakhir yang Raka kenal, namun bentuk dasarnya sama.Di belakang meja resepsionis berdiri seorang perempuan yang langsung dikenali oleh Raka, yaitu ibunya sendiri.Dengan napas tertahan, Raka memanggilnya, "Ibu..."Perempuan itu mengangkat kepala, tampak seolah me

  • Booking Terakhir   Chapter 75 : Orang yang Selalu Ada

    "Surya?" Nama itu seakan menggantung di udara saat Raka menatap radio di tangan Mira. Tidak mungkin salah, itu adalah suara Surya, orang yang selama ini membantu mereka membaca blueprint, mengurai simbol, memahami sejarah bangunan, bahkan beberapa kali menyelamatkan mereka dari situasi yang seharusnya mematikan, kini justru menyuruh mereka membawa Raka kembali ke hotel. "Surya," kata Raka pelan ke radio. "Jawab aku." Statis. Tidak ada respons. Raka merampas radio dari tangan Mira. "Kalau kau memang di sana, bicara langsung denganku." Kemudian terdengar suara itu. "Baik." Raka membeku."Surya?" "Ya." "Kau di mana?" "Di tempat yang seharusnya tidak pernah kalian tinggalkan." Raka mengerutkan kening. "Hotel?" Terdengar tawa pendek. "Bagus. Ternyata kau ingat.” "Surya, apa yang sebenarnya terjadi?" "Kalian masih terlalu banyak bertanya." "Kami berhak tahu." "Berhak?" Suara Surya terdengar getir. "Jangan bermain teka-teki." "Aku tidak bermain." Sangkal Surya tegas. "Kalau

  • Booking Terakhir   Chapter 74 : Yang Keluar Dari Cermin

    Cahaya putih sangat terang memenuhi Kamar Nol, memaksa Raka menutup wajah dengan kedua tangannya. Di sekelilingnya terdengar suara kaca pecah, orang-orang berteriak, dan sesuatu yang berat menghantam lantai.Kemudian…, sunyi, seolah seluruh dunia baru saja dimatikan.Raka perlahan membuka mata dan menyaksikan Kamar Nol yang telah berubah.Cermin di tengah ruangan hancur berkeping-keping dan anak laki-laki yang tadi berada di dalam cermin menghilang begitu saja."Di mana dia?" Suara Naya terdengar dari belakang.Raka menoleh melihat Naya masih berdiri bersama yang lainnya. Namun para anggota Pemutus yang tadi memenuhi tangga sudah menghilang tanpa satu pun tersisa.Raka mengerutkan kening. "Kemana mereka?"Kustodian tidak menjawab, malah ia menatap lantai yang ternyata terdapat sesuatu diantara pecahan kaca. Sepasang sepatu kecil anak anak.Lantas Kustodian berjongkok dan menyentuhnya dengan tangan gemetar. "Dia keluar."Raka menatapnya."Keluar ke mana?"Kustodian mengangkat wajah. "K

  • Booking Terakhir   Chapter 73 : Jalan Ketiga

    Raka menuruni tangga selangkah demi selangkah, sedangkan di belakangnya terdengar suara benturan pada pintu Kamar Nol yang semakin keras.DUANG! DUANG!Tampaknya seseorang berusaha keras untuk masuk ke dalam.Sementara itu, Ayah Raka berdiri beberapa anak tangga di belakangnya. "Jangan berhenti."Raka tidak menoleh karena masih merasa bingung. "Ke mana tangga ini?""Ke tempat yang tidak pernah masuk blueprint.""Ke tempat apa?""Ke pusat Kamar Nol."Raka berhenti. "Bukankah kita sudah berada di Kamar Nol?"Ayahnya menggeleng. "Ruangan tadi hanya pintunya."Kemudian Raka menatap ke bawah, memperhatikan tangga yang terus turun dan tidak terlihat ujungnya sama sekali. Dinding di kiri dan kanan terbuat dari beton tua yang dipenuhi goresan. Namun semakin jauh mereka turun, semakin banyak gambar dan foto yang muncul di dinding.Gambar dan foto anak-anak, rumah, pohon, wajah, pintu dan ada sebuah gambar yang sama tapi dalam jumlah sangat banyak. Gambar seorang anak sedang berdiri di depan se

  • Booking Terakhir   Chapter 72 : Ingatan Yang Dikunci

    Raka tidak langsung menjawab, sedangkan pria di hadapannya masih berdiri di ambang Kamar Nol."Ayah...," Kata itu keluar begitu saja, membuat pria tersebut tersenyum mendengar kata yang sudah ditunggunya selama puluhan tahun.Lalu Raka mundur selangkah. "Kalau kau ayahku, kenapa aku tidak pernah mengenalmu?""Karena aku yang membuatmu melupakanku." Jawabnya tenang."Kenapa?""Karena kalau kau mengingatku, maka mereka akan menemukanmu.""Siapa?""Aku."Raka mengernyit. "Aku tidak mengerti."Lantas pria itu mulai menjelaskan," Tolong dengarkan." Kemudian ia mengambil sebuah kotak logam dari bawah meja serta langsung membukanya. Raka melihat puluhan benda kecil di dalamnya, seperti kancing, foto, potongan kain, pensil, gelang anak-anak, dan juga sebuah mobil-mobilan merah. Ia mengenali benda itu lalu mengulurkan tangannya."Aku punya ini ketika berumur tujuh tahun." Raka mengambil mobil-mobilan itu.Sebuah kenangan muncul tentang seorang anak laki-laki duduk di lantai yang sedang memper

  • Booking Terakhir   Chapter 71 : Kamar Nol 2

    Setelah sempat terdiam beberapa saat, Kustodian akhirnya menjawab dengan sedikit agak terpaksa, "Orang yang memerintahkan Proyek Kamar Nol.""Siapa yang memerintahkan Proyek Kamar Nol yang sebenarnya?"Kustodian tampak hendak membuka mulutnya untuk menjawab, namun sebelum satu kata pun keluar, Anak itu berteriak dengan suara histeris, "JANGAN!"Seketika itu juga, seluruh ruangan berguncang hebat dan Mesin ketik langsung menyala kembali, disertai oleh tuts yang lagi lagi bergerak sendiri.Tak…! Tak…! Tak…!Selembar kertas baru saja keluar dari sana dan memunculkan satu kalimat baru bertuliskan:KUSTODIAN TIDAK BOLEH MENYEBUT NAMANYA.Akhirnya Kustodian pasrah dan memejamkan mata karena mulai menyerah.Raka bertanya dengan kesal bercampur dengan rasa penasaran, " Sebenarnya siapa yang menulis itu?"Anak itu menjawab. "Dia.""Siapa dia sebenarnya yang dimaksud?"Lalu Anak itu menunjuk ke langit-langit. "Bukan Kustodian, bukan Direktorat, dan juga bukan Pemutus.""Lalu siapa dia?" Suara R

  • Booking Terakhir   CHAPTER 7  : Check-Out Pertama

    TOK.Ketukan itu berhenti dan seketika sunyi. Tapi justru itu yang membuatnya lebih menakutkan.Raka berdiri di tengah kamar, matanya terpaku ke pintu. Notifikasi di ponselnya masih menyala:“ANDA TERPILIH UNTUK CHECK-OUT.”Di sampingnya, Naya menggenggam lengannya erat. “Jangan buka…” bisiknya. “A

  • Booking Terakhir   CHAPTER 6 – Aturan yang Tidak Tertulis

    “Besok… giliran kamu yang hilang.” terdengar suara yang tak jelas asal usulnya, disertai dengan pintu kamar 307 sontak tertutup di belakang Raka.BRAK!Suara itu menggema keras di lorong membuat Raka berdiri kaku beberapa detik, napasnya terputus putus. Kata kata itu masih terngiang di kepalanya,

  • Booking Terakhir   CHAPTER 5 – Kamu yang Membunuh Kami

    “Maaf… kamu siapa?”Kalimat itu tidak keras, tapi menghancurkan, bagai mengunyah melumat perasaan, terucap polos begitu saja.Raka berdiri kaku di tengah lobi, menatap Naya yang berdiri beberapa meter di depannya. “Nay?” suara Raka serak. “Ini gue. Raka.”Naya mengerutkan kening, mundur sedikit. “J

  • Booking Terakhir   CHAPTER 4 – Satu yang Hilang

    Rak! Buruan! Kita check in dulu!”Suara Naya terdengar lagi, Sama seperti sebelumnya dengan nada dan intonasi yang identik, seolah tidak pernah terjadi apa pun. Suara ceria kesukaan Raka.Raka tidak langsung menjawab. Ia duduk di tepi kasur, berkeringat dingin di pelipis meski kamar terasa normal.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status