Home / Horor / Booking Terakhir / CHAPTER 3 – Reset Pertama

Share

CHAPTER 3 – Reset Pertama

Author: Newa Lim
last update publish date: 2026-04-10 12:33:13

Naya mundur satu langkah seolah tubuhnya menolak apa yang terlihat. “Itu…,bukan gue!” suaranya bergetar penuh penyangkalan cenderung sedikit histeris. Mendengar itu, Raka tidak menjawab karena dia juga melihatnya. Sosok di ujung lorong itu, tinggi, bentuk tubuh, rambut, bahkan cara berdirinya sama persis dengan Naya yang berdiri di sampingnya sekarang. Tidak ada perbedaan kecuali satu hal. Senyumnya terlalu lebar dan kaku. Seakan dipaksa tersenyum oleh sesuatu yang bukan manusia.

“Nay.” bisik Raka pelan, “jangan mendekat.”

“Aku nggak…” Naya menggeleng cepat.

Tapi sosok itu bergerak satu langkah ke depan. Suara langkahnya tidak terdengar seolah dia tidak menyentuh lantai.

Raka refleks menarik tangan Naya mundur. “Balik ke kamar. Sekarang.”

“Tapi...”

“SEKARANG!”

Mereka berlari menelusuri lorong yang terasa lebih panjang. Dan di belakang mereka tidak terdengar suara langkah. Tapi Raka tahu jika sosok itu masih mengikuti, bahkan lebih cepat dari sebelumnya, hingga akhirnya sampai di kamar 306. Mereka masuk dan langsung menutup dan menguncinya.

Naya bersandar di pintu, napasnya kacau. “Itu… itu gue, Rak… itu gue…”

“Bukan,” jawab Raka cepat. “Itu bukan lo.”

“Tapi mukanya.”

“Bukan lo!” Raka menatapnya tegas walau dalam hatinya… ia tidak yakin.

Beberapa detik pun berlalu tanpa suara dari luar.

Naya perlahan menjauh dari pintu. Matanya masih liar, mencari-cari sesuatu yang tidak ada. “Kita harus ngerti ini apa,” katanya. “Kalau kita panik terus, kita mati di sini.”

Raka mengangguk perlahan. Jika terus panik membabi buta maka kemungkinan besar riwayat mereka akan tamat hari itu juga tanpa mendapatkan jawaban dari misteri yang sedang dihadapi sekarang.

“Ada sesuatu yang nyamar,” lanjut Naya pelan, “sesuatu itu tahu akan kita.” Kalimat itu menggantung di udara.

“Coba cek lagi,” kata Raka tiba-tiba.

“Apa?”

“Aplikasi. Atau apapun. Mungkin sekarang berubah lagi.”

Naya langsung meraih ponselnya.

Layar menyala. Aplikasi booking terbuka otomatis tanpa dia tekan apa pun. Loading lalu muncul satu tampilan. Bukan halaman hotel, tapi daftar tamu yang terisi hanya dua nama, Raka dan Naya. Di bawahnya ada satu baris kosong seperti menunggu diisi.

“Ini baru, tadinya nggak ada,” bisik Naya.

Raka mendekat. “Coba scroll.”

Naya menggeser layar dan terhenyak. Di bawah nama mereka muncul tulisan baru seolah diketik saat itu juga huruf demi huruf : Naya (2). Naya langsung menjatuhkan ponselnya. “Enggak mungkin!”

Tiba-tiba lampu kamar mati. Naya menjerit kecil, “Raka!”

“Gue di sini!” Raka meraba-raba dinding, mencoba mencari saklar. Tapi sebelum ia menemukannya, lampu mengerdip menyala lagi. Sekejap Raka melihat sesuatu dicermin seberang kamar. Ada tiga orang: Dia, Naya, dan seseorang berdiri tepat di belakang mereka. Saat lampu stabil, cermin hanya memantulkan dua orang. Raka langsung berbalik, tidak ada siapa-siapa. “Nay, lo lihat?”

“Apa?”

“Cermin?”

Naya perlahan menoleh dan menatap cermin itu. “Cuma kita berdua…”

Raka menggeleng pelan. “Barusan ada tiga.”

Naya tidak menjawab. Tapi wajahnya mengatakan satu hal: dia percaya. “Dengerin,” kata Naya tiba-tiba. “Kalau itu bisa nyamar, berarti kita nggak bisa percaya apa pun.”

Raka mengangguk. “Termasuk…” Ia berhenti seraya menatap Naya.“… satu sama lain,” lanjutnya pelan. Kalimat itu menusuk tapi benar. “Aku mau tanya sesuatu,”

“Apa?”

“Sesuatu yang cuma gue yang tahu. Kalau lo bisa jawab, berarti lo… lo.”

Naya menatapnya beberapa detik, lalu mengangguk. “Oke. Tanya.”

Raka berpikir cepat. “Waktu kita pertama ketemu, lo pakai baju apa?”

Naya langsung menjawab. “Hoodie abu-abu. Ada noda kopi di lengan kanan. Lo ketawain gue.”

Raka menghela napas. Benar.

Sekarang giliran Naya. “Lo punya bekas luka di mana?”

“Di lutut kiri. Jatuh waktu SMP.”

Naya mengangguk.

Tapi di dalam hati mereka keraguan itu tidak hilang. Karena jika sesuatu bisa meniru wajah, Apa yang membuatnya tidak bisa meniru ingatan?

TOK.

Mereka langsung diam. Suara itu lagi, dari kamar mandi.

Naya menggenggam lengan Raka. “Jangan dibuka…”

Raka tidak bergerak. Matanya terpaku ke pintu kamar mandi. Pegangan pintunya bergerak sendiri. Lalu pintu terbuka sedikit. Dan dari celah itu keluar suara. Suara Naya berteriak minta tolong.

Naya yang asli langsung mundur, “Itu bukan gue!”

Suara itu terdengar lagi lebih jelas. “Raka! Aku di sini!”

Raka menggertakkan gigi. Ini jebakan. Tapi bagaimana kalau bukan?

“JANGAN!” teriak Naya.

Tapi terlambat. Raka sudah melangkah mendekat. Tangannya menyentuh pintu, Membukanya lebih lebar. Gelap, kosong. Hanya kamar mandi saja. Raka menghela napas. “Lihat? Nggak ada apa apa.” Ia berhenti karena di cermin kamar mandi ada penampakan. Ada seseorang berdiri di belakangnya, Naya tersenyum lebih lebar dan menyeramkan. Raka langsung berbalik. Kosong. Ia mundur cepat keluar kamar mandi dan menutup pintu keras keras.

Naya menatapnya panik. “Apa?”

“Dia ada di belakang gue tadi!”

Naya menutup mulutnya, “Kita nggak bisa di sini…”

Raka mengangguk, “Kita keluar lagi. Cari cara lain.”

“Kalau nggak bisa keluar?”

Raka diam sejenak, “Berarti kita cari jawabannya di sini.”

Mereka pun membuka pintu kamar perlahan. Lorong sepi, tapi ada sesuatu yang berbeda. Pintu-pintu kamar lain sedikit terbuka, seakan ada yang mengintip dari dalam.

Raka menelan ludah. “Kita turun,” katanya. Mereka bergegas bergerak. Lorong terasa lebih sempit dan lebih panjang. Dan dari dalam kamar-kamar, samar terdengar suara bisikan.

“Jangan lihat ke dalam,” bisik Raka yang dibalas anggukan Naya.

Mereka mempercepat langkah. Tiba tiba, Naya berhenti ditengah lorong. “Raka…”

“Apa lagi?”

Suara Naya gemetar. “Kalau itu bisa jadi gue…” kalimatnya terhenti sesaat.

Raka menatapnya. “Terus?”

Naya menelan ludah. “…gimana kalau yang sekarang bareng lo…, bukan gue?”

Raka membeku. Dunia seolah berhenti. Pertanyaan itu lebih mengerikan dari semua yang terjadi. Pertanyaan yang membuat dirinya menjadi tidak yakin lagi dengan keaslian Naya disampingnya.“Nay…”

“Jawab, Rak…”

Raka membuka mulut. Tidak ada kata yang keluar. Karena tepat saat itu lampu lorong mati. Kemudian dari dalam kegelapan muncul suara berbisik di antara mereka.

“Kalian berdua bukan yang asli!”

Raka menjerit tertahan. Ia membuka mata. Keringat dingin membasahi tubuhnya. Sunyi. Lampu terang dan keadaan kamar normal. Ia duduk cepat, menatap sekeliling.

Tidak ada Naya, tidak ada lorong, tidak ada apa-apa. Ponselnya di samping dengan notifikasi menyala. Raka mengambil dengan tangan gemetar. Layar menampilkan aplikasi booking dengan satu pesan ditengah, “SELAMAT DATANG.”

Raka menahan napas, menoleh ke arah pintu kamar dan melihat koper miliknya. Masih tertutup, terlihat sama sekali belum dibuka, Seperti baru saja datang.

Dari luar kamar mendadak terdengar suara Naya, ceria dan normal. “Rak! Buruan! Kita check in dulu!”

Raka membeku. Perlahan Ia berbisik pada diri sendiri. “…ulang lagi?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Booking Terakhir   Chapter 76: Tamu Terakhir

    Wajahnya jauh lebih muda daripada pria tua yang baru saja ditemui Raka di Kamar Nol, namun wajah itu tidak mungkin salah. Itu ayahnya. Ayah yang selama ini diyakini telah meninggal.Raka mundur selangkah. "Ini bukan nyata."Sementara itu, Surya berdiri di samping pintu kamar. "Tidak, ini ingatan."Raka menoleh pada Surya, "Kenapa dia ada di sini?""Karena ini adalah malam yang sebenarnya.""1996?"Surya mengangguk. "17 Agustus." Jam di dinding menunjukkan 03.17, waktu yang sama dengan rekaman tadi.Kemudian ayah Raka berjalan menyusuri lorong, seakan tidak melihat dan mendengar mereka.Raka mengikutinya dengan waspada hingga mereka sampai di lobi.Ternyata kini lobi hotel terlihat jauh lebih sederhana daripada Hotel Booking Terakhir yang Raka kenal, namun bentuk dasarnya sama.Di belakang meja resepsionis berdiri seorang perempuan yang langsung dikenali oleh Raka, yaitu ibunya sendiri.Dengan napas tertahan, Raka memanggilnya, "Ibu..."Perempuan itu mengangkat kepala, tampak seolah me

  • Booking Terakhir   Chapter 75 : Orang yang Selalu Ada

    "Surya?" Nama itu seakan menggantung di udara saat Raka menatap radio di tangan Mira. Tidak mungkin salah, itu adalah suara Surya, orang yang selama ini membantu mereka membaca blueprint, mengurai simbol, memahami sejarah bangunan, bahkan beberapa kali menyelamatkan mereka dari situasi yang seharusnya mematikan, kini justru menyuruh mereka membawa Raka kembali ke hotel. "Surya," kata Raka pelan ke radio. "Jawab aku." Statis. Tidak ada respons. Raka merampas radio dari tangan Mira. "Kalau kau memang di sana, bicara langsung denganku." Kemudian terdengar suara itu. "Baik." Raka membeku."Surya?" "Ya." "Kau di mana?" "Di tempat yang seharusnya tidak pernah kalian tinggalkan." Raka mengerutkan kening. "Hotel?" Terdengar tawa pendek. "Bagus. Ternyata kau ingat.” "Surya, apa yang sebenarnya terjadi?" "Kalian masih terlalu banyak bertanya." "Kami berhak tahu." "Berhak?" Suara Surya terdengar getir. "Jangan bermain teka-teki." "Aku tidak bermain." Sangkal Surya tegas. "Kalau

  • Booking Terakhir   Chapter 74 : Yang Keluar Dari Cermin

    Cahaya putih sangat terang memenuhi Kamar Nol, memaksa Raka menutup wajah dengan kedua tangannya. Di sekelilingnya terdengar suara kaca pecah, orang-orang berteriak, dan sesuatu yang berat menghantam lantai.Kemudian…, sunyi, seolah seluruh dunia baru saja dimatikan.Raka perlahan membuka mata dan menyaksikan Kamar Nol yang telah berubah.Cermin di tengah ruangan hancur berkeping-keping dan anak laki-laki yang tadi berada di dalam cermin menghilang begitu saja."Di mana dia?" Suara Naya terdengar dari belakang.Raka menoleh melihat Naya masih berdiri bersama yang lainnya. Namun para anggota Pemutus yang tadi memenuhi tangga sudah menghilang tanpa satu pun tersisa.Raka mengerutkan kening. "Kemana mereka?"Kustodian tidak menjawab, malah ia menatap lantai yang ternyata terdapat sesuatu diantara pecahan kaca. Sepasang sepatu kecil anak anak.Lantas Kustodian berjongkok dan menyentuhnya dengan tangan gemetar. "Dia keluar."Raka menatapnya."Keluar ke mana?"Kustodian mengangkat wajah. "K

  • Booking Terakhir   Chapter 73 : Jalan Ketiga

    Raka menuruni tangga selangkah demi selangkah, sedangkan di belakangnya terdengar suara benturan pada pintu Kamar Nol yang semakin keras.DUANG! DUANG!Tampaknya seseorang berusaha keras untuk masuk ke dalam.Sementara itu, Ayah Raka berdiri beberapa anak tangga di belakangnya. "Jangan berhenti."Raka tidak menoleh karena masih merasa bingung. "Ke mana tangga ini?""Ke tempat yang tidak pernah masuk blueprint.""Ke tempat apa?""Ke pusat Kamar Nol."Raka berhenti. "Bukankah kita sudah berada di Kamar Nol?"Ayahnya menggeleng. "Ruangan tadi hanya pintunya."Kemudian Raka menatap ke bawah, memperhatikan tangga yang terus turun dan tidak terlihat ujungnya sama sekali. Dinding di kiri dan kanan terbuat dari beton tua yang dipenuhi goresan. Namun semakin jauh mereka turun, semakin banyak gambar dan foto yang muncul di dinding.Gambar dan foto anak-anak, rumah, pohon, wajah, pintu dan ada sebuah gambar yang sama tapi dalam jumlah sangat banyak. Gambar seorang anak sedang berdiri di depan se

  • Booking Terakhir   Chapter 72 : Ingatan Yang Dikunci

    Raka tidak langsung menjawab, sedangkan pria di hadapannya masih berdiri di ambang Kamar Nol."Ayah...," Kata itu keluar begitu saja, membuat pria tersebut tersenyum mendengar kata yang sudah ditunggunya selama puluhan tahun.Lalu Raka mundur selangkah. "Kalau kau ayahku, kenapa aku tidak pernah mengenalmu?""Karena aku yang membuatmu melupakanku." Jawabnya tenang."Kenapa?""Karena kalau kau mengingatku, maka mereka akan menemukanmu.""Siapa?""Aku."Raka mengernyit. "Aku tidak mengerti."Lantas pria itu mulai menjelaskan," Tolong dengarkan." Kemudian ia mengambil sebuah kotak logam dari bawah meja serta langsung membukanya. Raka melihat puluhan benda kecil di dalamnya, seperti kancing, foto, potongan kain, pensil, gelang anak-anak, dan juga sebuah mobil-mobilan merah. Ia mengenali benda itu lalu mengulurkan tangannya."Aku punya ini ketika berumur tujuh tahun." Raka mengambil mobil-mobilan itu.Sebuah kenangan muncul tentang seorang anak laki-laki duduk di lantai yang sedang memper

  • Booking Terakhir   Chapter 71 : Kamar Nol 2

    Setelah sempat terdiam beberapa saat, Kustodian akhirnya menjawab dengan sedikit agak terpaksa, "Orang yang memerintahkan Proyek Kamar Nol.""Siapa yang memerintahkan Proyek Kamar Nol yang sebenarnya?"Kustodian tampak hendak membuka mulutnya untuk menjawab, namun sebelum satu kata pun keluar, Anak itu berteriak dengan suara histeris, "JANGAN!"Seketika itu juga, seluruh ruangan berguncang hebat dan Mesin ketik langsung menyala kembali, disertai oleh tuts yang lagi lagi bergerak sendiri.Tak…! Tak…! Tak…!Selembar kertas baru saja keluar dari sana dan memunculkan satu kalimat baru bertuliskan:KUSTODIAN TIDAK BOLEH MENYEBUT NAMANYA.Akhirnya Kustodian pasrah dan memejamkan mata karena mulai menyerah.Raka bertanya dengan kesal bercampur dengan rasa penasaran, " Sebenarnya siapa yang menulis itu?"Anak itu menjawab. "Dia.""Siapa dia sebenarnya yang dimaksud?"Lalu Anak itu menunjuk ke langit-langit. "Bukan Kustodian, bukan Direktorat, dan juga bukan Pemutus.""Lalu siapa dia?" Suara R

  • Booking Terakhir   CHAPTER 2 – Tamu yang Tidak Terdaftar

    Raka membeku mematung tak mampu bergerak. Napasnya tercekat di tenggorokan. Suara itu terlalu dekat, seolah seseorang benar-benar berdiri di belakangnya, menempel di punggungnya. Ia menoleh cepat. Kosong. Hanya pintu kamar mandi yang masih terbuka sedikit, menganga seperti mulut gelap.“Ini nggak

  • Booking Terakhir   CHAPTER 1 – Hotel yang Tidak Ada di Peta

    Hujan turun seperti seseorang sedang menghapus dunia, berhiaskan kilatan petir yang liar bebas menyambar.Raka menatap layar ponselnya, sinyal naik turun di sudut kanan atas. Jalanan yang mereka lewati sejak tadi berubah jadi jalur sempit, gelap, dan sepi. Tidak ada lampu jalan. Tidak ada rumah. Ha

  • Booking Terakhir   CHAPTER 7  : Check-Out Pertama

    TOK.Ketukan itu berhenti dan seketika sunyi. Tapi justru itu yang membuatnya lebih menakutkan.Raka berdiri di tengah kamar, matanya terpaku ke pintu. Notifikasi di ponselnya masih menyala:“ANDA TERPILIH UNTUK CHECK-OUT.”Di sampingnya, Naya menggenggam lengannya erat. “Jangan buka…” bisiknya. “A

  • Booking Terakhir   CHAPTER 6 – Aturan yang Tidak Tertulis

    “Besok… giliran kamu yang hilang.” terdengar suara yang tak jelas asal usulnya, disertai dengan pintu kamar 307 sontak tertutup di belakang Raka.BRAK!Suara itu menggema keras di lorong membuat Raka berdiri kaku beberapa detik, napasnya terputus putus. Kata kata itu masih terngiang di kepalanya,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status