Home / Horor / Booking Terakhir / CHAPTER 7  : Check-Out Pertama

Share

CHAPTER 7  : Check-Out Pertama

Author: Newa Lim
last update publish date: 2026-04-28 11:18:01

TOK.

Ketukan itu berhenti dan seketika sunyi. Tapi justru itu yang membuatnya lebih menakutkan.

Raka berdiri di tengah kamar, matanya terpaku ke pintu. Notifikasi di ponselnya masih menyala:

“ANDA TERPILIH UNTUK CHECK-OUT.”

Di sampingnya, Naya menggenggam lengannya erat. “Jangan buka…” bisiknya. “Apa pun yang terjadi, jangan buka.” Bujuk Naya penuh kecemasan.

Raka tidak langsung menjawab. Kepalanya dipenuhi dengan suara batinnya sendiri. Tentang aturan, loop, kamar 307, dan kalimat itu, “Besok… giliran kamu yang hilang.” Dan kalau dia tidak membuka..., apa itu berarti dia menolak “gilirannya”? Atau bahkan justru mempercepatnya?

“Kalau ini bagian dari aturan…” gumam Raka pelan, “berarti gue nggak bisa cuma diam.”

“Lo mau buka?” suara Naya naik terdorong rasa panik.

Raka menatapnya. Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, ia melihat sesuatu yang berbeda di mata Naya. Bukan cuma takut, tapi memohon.

“Rak, jangan,” kata Naya pelan. “Gue baru inget lo…, gue nggak mau lo hilang.”

Kalimat itu menusuk lebih dalam dari ancaman apa pun, membuat Raka menarik napas panjang.

Satu...

Dua...

Tiga...

Raka melangkah terus mendekat ke pintu. “Kalau gue nggak buka,” katanya pelan, “kita nggak akan pernah tahu ini apa.”

“Kalau lo buka, lo bisa mati!” Naya setengah berteriak.

Raka berhenti. Tangannya sudah di gagang pintu. “…gue mungkin udah mati dari dulu,” bisiknya pada diri sendiri.

Klik.

Pintu terbuka, perlahan. Masih tampak lorong gelap dan kosong diluar, tidak ada siapa siapa, tidak ada sosok, bahkan tidak ada bayangan sedikitpun. Hanya sebuah kartu kunci tergeletak di lantai dengan angka merah menyala, 000. Raka menatapnya selama beberapa detik.

“Ini apa…” bisik Naya.

Raka membungkuk mengambil kartu itu. Terasa dingin, lebih dingin dari kunci kamar biasa. Dan saat ia menyentuhnya..., ponselnya langsung bergetar, memunculkan notifikasi baru :

“MENUJU LOBI DALAM 3 MENIT, TERLAMBAT = DIANGGAP HILANG.”

Raka mengangkat kepala.  “Lari,” Teriaknya pada Naya.

“Ke mana?”

“Lobi!”

Mereka bergegas berlari keluar kamar dengan sekuat tenaga. Lorong pun kembali terasa berbeda lagi, lebih panjang dan gelap karena lampu mati total. Hanya cahaya merah redup dari kartu di tangan Raka yang menerangi jalan. Mereka bergerak cepat dengan napas terasa berat.

“Berapa menit?” tanya Naya.

Raka melirik ponsel.

“Dua menit…”

“Kalau nggak sampai?” Tanya Naya panik.

Raka tidak menjawab. Karena mungkin saja mereka sudah tahu jawabannya. Mereka turun melalui tangga dengan cepat hingga hampir terjatuh. Suara langkah mereka menggema keras. Tapi ketika tiba ditengah tangga, Raka mendadak berhenti.

“Nay…” Ujarnya pelan penuh ketegangan.

“Apa lagi?!” Sahut Naya cemas.

Raka menunjuk ke bawah.

Tangga itu…, seakan tidak berakhir dan tidak berujung karena seharusnya mereka sudah sampai ke lantai dua, namun tampaknya tidak kunjung sampai juga hingga sekarang. Dan di bawah terlihat gelap pekat seolah tidak ada dasar.

“Ini nggak mungkin…” bisik Naya.

Raka menatap kartu di tangannya. Cahaya merahnya berkedip seperti layaknya penunjuk arah. Ia menoleh ke samping. Tiba tiba saja tampak sebuah jalan setapak kecil dari sisi tangga menuju ke satu pintu darurat yang tidak mereka lihat sebelumnya.

“Lewat sini!” Ujar Raka tanpa berpikir panjang.

Setelah dengan sigap meniti jalan setapak, mereka pun masuk ke dalam pintu. Segera tampak dihadapan mereka sebuah lorong sempit, bahkan lebih sempit dari semua lorong yang sudah mereka lalui sebelumnya. Dindingnya basah dengan bau logam semakin kuat, bau darah. Menyadari kondisi yang makin terasa tidak beres, langkah mereka pun semakin dipercepat.

Satu menit, dua menit..., waktu terus berjalan. Hingga tiba tiba, di ujung lorong tampak seseorang berdiri membelakangi mereka.

Diam.

“Nay…” bisik Raka menyenggol Naya yang ikut berdiri terpaku.

“Gue lihat…”

Sosok itu perlahan berbalik dan wajahnya mulai terlihat.

Raka langsung membeku seakan terpana. Itu...dirinya sendiri dengan tatapan mata kosong dan senyuman tipis dibibir.

“Telat…” kata sosok itu dengan suara yang sama persis dengannya membuat Raka mundur satu langkah.

“Jangan lihat!” teriak Naya.

Tapi sudah terlambat.

Sosok itu melangkah maju. Cepat..., bahkan terlalu cepat.

Raka menarik tangan Naya.

“LARI!”

Mereka berbalik berlari ke arah lain dan lorong lagi lagi terasa berubah. Kini sebuah pintu misterius mendadak muncul di dinding. Pintu yang tidak ada sebelumnya.

Raka  lantas membuka pintu itu karena tampaknya itu adalah satu satunya jalan yang ada.

Ternyata itu adalah lobi hotel dan mereka seakan terdorong masuk hingga terjatuh dengan napas terengah.

Sunyi dan lampu menyala normal seolah tidak terjadi apa-apa.

Raka langsung melihat ponselnya.

00:00:03

Tiga detik tersisa.

“Berdiri, Nay!” bisiknya ditelinga Naya.

Dan tepat saat itu juga angka mencapai nol...

Kemudian pintu di belakang mereka tertutup sendiri.

BRAK.

Tiba tiba suasana lobi berubah seketika. Lampu meredup dan udara menjadi lebih dingin dari semestinya.

Pria tua itu kembali, terlihat dibelakang meja seraya menatap mereka berdua. Tapi kali ini, Ia berdiri. “Selamat,” katanya dengan suara lebih dalam dan berat. “Check-out  pertama…, berhasil.”

Raka menatapnya tajam. “Apa maksudnya ini?”

Pria itu tidak menjawab. Ia hanya menunjuk ke lantai.

Pandangan Raka mengikuti arah itu, lalu terdiam.

Di tengah lobi ada sesuatu, terlihat seperti tubuh, terbaring tidak bergerak.

Raka perlahan melangkah mendekat dengan setiap langkah terasa lebih berat dari sebelumnya.Dan saat ia melihat wajahnya..., serasa dunia berhenti berputar.

Itu..., ternyata adalah dirinya sendiri. Tubuh yang terbaring itu adalah Raka dengan mata terbuka terlihat kosong. Dan lehernya tampak memar seperti bekas cekikan kuat.

Naya menutup mulutnya. “Ya Tuhan…”

Raka mundur. “Ini… ini bukan gue…,” Sangkalnya.

Tapi tubuh itu terlihat terlalu nyata dimata mereka berdua. Terlalu detail. Bahkan bekas luka di lututnya pun sama persis.

“Setiap check-out…,” kata pria tua itu pelan, “…selalu meninggalkan sesuatu.”

Raka menatapnya. “Ini apa?”

Pria itu tersenyum. “Kamu.”

Raka merasakan kepalanya berputar. “Lo bilang gue berhasil…”

“Benar.”

“Terus ini apa?!”

Pria itu berjalan keluar dari balik meja. Langkahnya pelan, namun setiap langkahnya menggema seperti sesuatu yang lebih besar dari manusia.

“Yang keluar…” katanya, “…bukan yang masuk.”

Hening.

Kalimat itu jatuh seperti palu godam.

Raka menatap tubuh di lantai, lalu ke dirinya sendiri, kemudian kembali ke tubuh itu.

“Jadi… gue siapa?”

Pria itu berhenti tepat di depannya.

Dan untuk pertama kalinya, Mata pria tua itu terlihat jelas.

Hitam dan kosong bagaikan tanpa dasar.

“Kamu…” katanya pelan, “…yang tersisa.”

Naya menarik tangan Raka. “Rak… ini nggak bener… kita harus pergi…”

Raka tidak bergerak. Pikirannya kacau, sibuk mencerna kalimat : Kalau yang di lantai itu adalah “yang masuk”…

Maka dia...,  Apa? Salinan? Bayangan? Atau sesuatu yang lain?

Tiba-tiba, tubuh di lantai bergerak sedikit. Jari jarinya berkedut, membuat Naya menjerit kecil.

Raka hanya terdiam membeku. “Enggak…” Batinnya terus menyangkal.

Tubuh itu perlahan duduk. Lehernya miring aneh seolah tulangnya tidak pada tempatnya. Lalu ia menatap Raka dengan pandangan kosong dan hampa, kemudian tersenyum.

“Kamu… ninggalin gue lagi.”

Suara itu tak lain adalah suara Raka sendiri, membuat Raka mundur terhuyung. “Ini nggak nyata…”

Kemudian tubuh itu berdiri. Pelan dan goyah, namun tetap berdiri.

“Lo kabur lagi…” katanya. “Seperti dulu…”

Potongan memori muncul lagi dibenak Raka.

Kamar, pintu, tangan kecil, tangisan.

Raka memegang kepalanya. “Stop!”  Jeritnya.

Tubuh itu melangkah mendekat. Setiap langkah meninggalkan jejak gelap di lantai. “Lo bilang lo bakal balik…”

“STOP!” Raka berteriak sembari menutup kedua telinganya.

Naya menariknya. “Rak! Kita harus keluar sekarang!”

Raka menatapnya untuk beberapa detik dengan perasaan bercampur aduk tak karuan. Semuanya terasa tidak nyata.

Tiba-tiba,  Ponselnya bergetar lagi. Notifikasi baru:

“CHECK-OUT SELESAI.”

“KORBAN: 1”

“BERIKUTNYA: NAYA”

Raka langsung menatap Naya.

Naya hanya membeku.

“Rak…”

Tubuh di belakang mereka tertawa pelan dengan suara serak dan terdengar patah.

“Sekarang… giliran dia.”

Lampu lobi mati. Gelap total.

Naya menjerit.

Raka langsung bergerak hendak meraih tangannya.

Tapi, tangan Raka hanya meraih udara kosong belaka.

 

“NAY?!”

Tidak ada jawaban. Hanya napas Raka sendiri yang terdengar.

Dan dari dalam kegelapan, terdengar suara langkah, seperti berasal dari banyak orang, mengelilinginya. Lalu ada satu bisikan tepat di telinganya.

“Kamu tidak bisa menyelamatkan siapa pun.”

Lampu pun menyala kembali dalam sekejap. Dan Naya sudah tidak ada. Hanya Raka berdiri sendirian di tengah lobi, dengan satu kenyataan yang tidak bisa ia tolak lagi, yaitu check-out ternyata bukan jalan keluar, melainkan cara hotel itu memilih…, siapa yang akan dihapus berikutnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Booking Terakhir   Chapter 77: Orang yang Memilih Raka

    “Raka…,” Suara Naya terdengar sangat dekat, namun yang dilihatnya hanyalah seorang anak laki-laki berusia sembilan tahun berdiri di ujung lorong hotel, berdiri membelakanginya. Tangan kanannya menggenggam sesuatu, yaitu sebuah kunci bernomor 0.“Naya,” Tanya Raka pelan. “Aku di sini dan aku melihat diriku sendiri.” Tidak ada jawaban dari suara Naya.Lalu anak itu perlahan menoleh. Wajahnya adalah wajah Raka ketika masih kecil dan tidak menyeramkan. Sepertinya hanya sebuah ingatan yang selama puluhan tahun dikunci terlalu dalam hingga akhirnya memiliki bentuk.Anak itu menatap Raka dan berkata, “Aku tidak membawamu ke Kamar Nol, kamu sendiri yang menemukannya.”Lalu anak itu menunjuk ke sebuah pintu di belakangnya bertuliskan:CHECK-IN TERAKHIRLantas pintu itu terbuka sendiri, memperlihatkan sebuah ruang besar yang menyerupai lobi hotel, namun seluruh dindingnya dipenuhi foto keluarga, rapat, orang orang yang Raka kenal, dan bahkan foto yang belum pernah dilihatnya.Dan di tengah rua

  • Booking Terakhir   Chapter 76: Tamu Terakhir

    Wajahnya jauh lebih muda daripada pria tua yang baru saja ditemui Raka di Kamar Nol, namun wajah itu tidak mungkin salah. Itu ayahnya. Ayah yang selama ini diyakini telah meninggal.Raka mundur selangkah. "Ini bukan nyata."Sementara itu, Surya berdiri di samping pintu kamar. "Tidak, ini ingatan."Raka menoleh pada Surya, "Kenapa dia ada di sini?""Karena ini adalah malam yang sebenarnya.""1996?"Surya mengangguk. "17 Agustus." Jam di dinding menunjukkan 03.17, waktu yang sama dengan rekaman tadi.Kemudian ayah Raka berjalan menyusuri lorong, seakan tidak melihat dan mendengar mereka.Raka mengikutinya dengan waspada hingga mereka sampai di lobi.Ternyata kini lobi hotel terlihat jauh lebih sederhana daripada Hotel Booking Terakhir yang Raka kenal, namun bentuk dasarnya sama.Di belakang meja resepsionis berdiri seorang perempuan yang langsung dikenali oleh Raka, yaitu ibunya sendiri.Dengan napas tertahan, Raka memanggilnya, "Ibu..."Perempuan itu mengangkat kepala, tampak seolah me

  • Booking Terakhir   Chapter 75 : Orang yang Selalu Ada

    "Surya?" Nama itu seakan menggantung di udara saat Raka menatap radio di tangan Mira. Tidak mungkin salah, itu adalah suara Surya, orang yang selama ini membantu mereka membaca blueprint, mengurai simbol, memahami sejarah bangunan, bahkan beberapa kali menyelamatkan mereka dari situasi yang seharusnya mematikan, kini justru menyuruh mereka membawa Raka kembali ke hotel. "Surya," kata Raka pelan ke radio. "Jawab aku." Statis. Tidak ada respons. Raka merampas radio dari tangan Mira. "Kalau kau memang di sana, bicara langsung denganku." Kemudian terdengar suara itu. "Baik." Raka membeku."Surya?" "Ya." "Kau di mana?" "Di tempat yang seharusnya tidak pernah kalian tinggalkan." Raka mengerutkan kening. "Hotel?" Terdengar tawa pendek. "Bagus. Ternyata kau ingat.” "Surya, apa yang sebenarnya terjadi?" "Kalian masih terlalu banyak bertanya." "Kami berhak tahu." "Berhak?" Suara Surya terdengar getir. "Jangan bermain teka-teki." "Aku tidak bermain." Sangkal Surya tegas. "Kalau

  • Booking Terakhir   Chapter 74 : Yang Keluar Dari Cermin

    Cahaya putih sangat terang memenuhi Kamar Nol, memaksa Raka menutup wajah dengan kedua tangannya. Di sekelilingnya terdengar suara kaca pecah, orang-orang berteriak, dan sesuatu yang berat menghantam lantai.Kemudian…, sunyi, seolah seluruh dunia baru saja dimatikan.Raka perlahan membuka mata dan menyaksikan Kamar Nol yang telah berubah.Cermin di tengah ruangan hancur berkeping-keping dan anak laki-laki yang tadi berada di dalam cermin menghilang begitu saja."Di mana dia?" Suara Naya terdengar dari belakang.Raka menoleh melihat Naya masih berdiri bersama yang lainnya. Namun para anggota Pemutus yang tadi memenuhi tangga sudah menghilang tanpa satu pun tersisa.Raka mengerutkan kening. "Kemana mereka?"Kustodian tidak menjawab, malah ia menatap lantai yang ternyata terdapat sesuatu diantara pecahan kaca. Sepasang sepatu kecil anak anak.Lantas Kustodian berjongkok dan menyentuhnya dengan tangan gemetar. "Dia keluar."Raka menatapnya."Keluar ke mana?"Kustodian mengangkat wajah. "K

  • Booking Terakhir   Chapter 73 : Jalan Ketiga

    Raka menuruni tangga selangkah demi selangkah, sedangkan di belakangnya terdengar suara benturan pada pintu Kamar Nol yang semakin keras.DUANG! DUANG!Tampaknya seseorang berusaha keras untuk masuk ke dalam.Sementara itu, Ayah Raka berdiri beberapa anak tangga di belakangnya. "Jangan berhenti."Raka tidak menoleh karena masih merasa bingung. "Ke mana tangga ini?""Ke tempat yang tidak pernah masuk blueprint.""Ke tempat apa?""Ke pusat Kamar Nol."Raka berhenti. "Bukankah kita sudah berada di Kamar Nol?"Ayahnya menggeleng. "Ruangan tadi hanya pintunya."Kemudian Raka menatap ke bawah, memperhatikan tangga yang terus turun dan tidak terlihat ujungnya sama sekali. Dinding di kiri dan kanan terbuat dari beton tua yang dipenuhi goresan. Namun semakin jauh mereka turun, semakin banyak gambar dan foto yang muncul di dinding.Gambar dan foto anak-anak, rumah, pohon, wajah, pintu dan ada sebuah gambar yang sama tapi dalam jumlah sangat banyak. Gambar seorang anak sedang berdiri di depan se

  • Booking Terakhir   Chapter 72 : Ingatan Yang Dikunci

    Raka tidak langsung menjawab, sedangkan pria di hadapannya masih berdiri di ambang Kamar Nol."Ayah...," Kata itu keluar begitu saja, membuat pria tersebut tersenyum mendengar kata yang sudah ditunggunya selama puluhan tahun.Lalu Raka mundur selangkah. "Kalau kau ayahku, kenapa aku tidak pernah mengenalmu?""Karena aku yang membuatmu melupakanku." Jawabnya tenang."Kenapa?""Karena kalau kau mengingatku, maka mereka akan menemukanmu.""Siapa?""Aku."Raka mengernyit. "Aku tidak mengerti."Lantas pria itu mulai menjelaskan," Tolong dengarkan." Kemudian ia mengambil sebuah kotak logam dari bawah meja serta langsung membukanya. Raka melihat puluhan benda kecil di dalamnya, seperti kancing, foto, potongan kain, pensil, gelang anak-anak, dan juga sebuah mobil-mobilan merah. Ia mengenali benda itu lalu mengulurkan tangannya."Aku punya ini ketika berumur tujuh tahun." Raka mengambil mobil-mobilan itu.Sebuah kenangan muncul tentang seorang anak laki-laki duduk di lantai yang sedang memper

  • Booking Terakhir   CHAPTER 6 – Aturan yang Tidak Tertulis

    “Besok… giliran kamu yang hilang.” terdengar suara yang tak jelas asal usulnya, disertai dengan pintu kamar 307 sontak tertutup di belakang Raka.BRAK!Suara itu menggema keras di lorong membuat Raka berdiri kaku beberapa detik, napasnya terputus putus. Kata kata itu masih terngiang di kepalanya,

  • Booking Terakhir   CHAPTER 5 – Kamu yang Membunuh Kami

    “Maaf… kamu siapa?”Kalimat itu tidak keras, tapi menghancurkan, bagai mengunyah melumat perasaan, terucap polos begitu saja.Raka berdiri kaku di tengah lobi, menatap Naya yang berdiri beberapa meter di depannya. “Nay?” suara Raka serak. “Ini gue. Raka.”Naya mengerutkan kening, mundur sedikit. “J

  • Booking Terakhir   CHAPTER 4 – Satu yang Hilang

    Rak! Buruan! Kita check in dulu!”Suara Naya terdengar lagi, Sama seperti sebelumnya dengan nada dan intonasi yang identik, seolah tidak pernah terjadi apa pun. Suara ceria kesukaan Raka.Raka tidak langsung menjawab. Ia duduk di tepi kasur, berkeringat dingin di pelipis meski kamar terasa normal.

  • Booking Terakhir   CHAPTER 3 – Reset Pertama

    Naya mundur satu langkah seolah tubuhnya menolak apa yang terlihat. “Itu…,bukan gue!” suaranya bergetar penuh penyangkalan cenderung sedikit histeris. Mendengar itu, Raka tidak menjawab karena dia juga melihatnya. Sosok di ujung lorong itu, tinggi, bentuk tubuh, rambut, bahkan cara berdirinya sama

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status