ANMELDENRaka membeku mematung tak mampu bergerak. Napasnya tercekat di tenggorokan. Suara itu terlalu dekat, seolah seseorang benar-benar berdiri di belakangnya, menempel di punggungnya. Ia menoleh cepat. Kosong. Hanya pintu kamar mandi yang masih terbuka sedikit, menganga seperti mulut gelap.
“Ini nggak lucu…” gumamnya pelan, tidak ada jawaban. Ia menelan ludah, lalu dengan gerakan cepat menutup pintu kamar mandi. Klik. Tangannya masih gemetar saat ia memutar kunci pengaman.
Raka langsung meraih ponselnya. Sinyal timbul tenggelam, namun tetap dicoba membuka aplikasi booking tempat mereka menginap tadi. Loading, lama. Kemudian error. Raka mengernyit lalu mengetik ulang nama hotel itu. Masih tidak muncul. Tiba-tiba ada notifikasi masuk. Raka langsung membukanya.
“SELAMAT DATANG KEMBALI.”
Belum sempat ia berpikir, kembali terdengar suara ketukan, kali ini dari pintu kamar.
“Raka! Buka! Cepat!” Suara Naya panik.
Raka langsung berlari ke pintu dan membukanya. Naya berdiri di sana dengan napas terengah.
“Kita harus pergi!” katanya cepat.
“Kenapa? Lo kenapa?” tanya Raka.
Naya menarik dan menyeret Raka masuk ke kamarnya disebelah dan langsung menutup pintu.
“Gue denger suara orang di kamar gue,” katanya. “Awalnya gue pikir lo, tapi...” Matanya melirik ke arah kamar mandi. “Lo juga denger, kan?” Raka mengangguk pelan. Naya menelan ludah, “Oke. Berarti bukan gue doang.”
“Suara apa?”
“Kayak… ada orang jalan. Di dalam kamar mandi. Tapi waktu gue cek, nggak ada siapa-siapa!”
Raka merasakan dingin menjalar di punggungnya.
“Ini tempat nggak beres,” lanjut Naya. “Kita cabut sekarang.”
Raka mengangguk cepat. “Gue setuju.”
Mereka bergerak cepat ke pintu lalu keluar.
Kini lorong lantai tiga terasa berbeda.Lebih gelap dan panjang.
Lampu yang tadi redup kini hampir mati.Berkedip seperti sekarat.
“Cepet,” bisik Naya.
Mereka berjalan cepat menuju tangga. Tiba tiba Raka berhenti mendadak.
“Nay…”
“Apa lagi?”
Raka menoleh ke belakang. “Lo denger?”
Langkah kaki, bukan hanya dua, ada yang lain dari sekedar suara langkah mereka saja, terus mengikuti.
Naya menahan napas. “Jangan nengok.”
“Tapi...”
“JANGAN!”
Mereka mempercepat langkah karena tangga sudah terlihat di depan beberapa meter lagi. Mendadak lampu lorong padam. Gelap. Naya refleks menggenggam tangan Raka. “Raka…”
“Gue di sini.”
Dalam gelap suara langkah itu semakin dekat, lebih banyak, seperti beberapa orang berlari kecil tepat di belakang mereka.
“TANGGA!” teriak Raka.
Mereka berlari menabrak pintu tangga lalu membukanya.
Tiba tiba lampu tangga menyala normal. Sunyi. Tidak ada langkah kaki. Tidak ada suara lagi. Naya bersandar ke dinding, napasnya kacau. “Gue… nggak kuat kalau kayak gini.”
“Kita keluar sekarang,” kata Raka tegas, kemudian mereka turun tangga cepat hingga tiba di lobi. Lobi terlihat sama seperti tadi, sepi dan redup. Meja resepsionis di depan. Dan pria tua itu masih disana menatap mereka, seolah tidak pernah bergerak sejak mereka datang. Raka mendekat cepat. “Kami mau check-out.”
Pria itu tersenyum tipis. “Belum waktunya.”
“Apaan sih?” Naya langsung naik emosi. “Kami bayar, kami mau keluar sekarang!”
Pria itu tidak marah, hanya menatap mereka dengan mata kosong. “Kalian baru saja check-in, dan malam belum selesai.”
Raka menahan emosi. “Kami nggak peduli. Tolong buka pintu.”
Pria itu hanya mengangkat tangannya perlahan, menunjuk ke arah pintu utama. Terbuka.
Naya langsung menarik Raka. “Udah, nggak usah diladenin. Kita keluar.” Mereka berjalan bergegas menuju pintu. Langkah demi langkah semakin dekat. Hanya tinggal satu langkah lagi, Raka berhenti. Perasaan itu muncul lagi. Aneh. Ia menoleh ke belakang. Dilihatnya pria tua itu masih duduk. Tapi sekarang ia tersenyum lebih lebar.
“Raka,” bisik Naya. “Ayo!”
Raka mengangguk dan mereka melangkah keluar disambut guyuran hujan. Mobil mereka masih ada di parkiran.
“Masuk!” teriak Naya.
Mereka berlari, lantas masuk mobil. Raka langsung menyalakan mesin. Nyala.
“Gas!” kata Naya.
Mobil bergerak cepat keluar dari halaman hotel. Beberapa saat kemudian, Raka mengerutkan kening.
“Ini…”
“Apa?”
“Jalannya sama.”
Naya menoleh ke depan dan membeku. Di depan mereka tampak hotel itu lagi. Sama persis seolah mereka tidak pernah pergi. “Belok!” teriakan Naya membuat Raka membanting setir, masuk ke jalan lain yang lebih sempit dan gelap. Mereka melaju cepat. Dan beberapa menit kemudian, tampak hotel itu lagi didepan mereka.
Naya semakin panik. “Ini nggak mungkin!”
Raka mengatupkan rahang. “Kita coba sekali lagi.” Ia memutar mobil, lalu menginjak gas penuh keluar dari area itu dan mencoba ke jalan yang berbeda. Sepertinya kearah hutan kosong. Hingga beberapa menit berlalu masih tidak ada penampakan hotel lagi.
Naya menghela napas lega. “Kita berhasil…”
Raka tidak menjawab. Tangannya mencengkeram setir lebih erat.
“Nay…”
“Apa?”
“Lo lihat kaca spion.”
Naya perlahan menoleh dan terhenyak. Di kaca spion, tampaklah hotel itu seperti mengikuti mereka.Terlalu dekat seolah tidak pernah tertinggal.
“RAKA!” teriak Naya.
Raka menginjak rem mendadak. Mobil pun berhenti. Ia menoleh ke belakang. Tidak ada apa-apa, hanya jalan kosong. Hotel itu hilang.
Naya gemetar. “Ini… ini apa sih?”
Raka mencoba berpikir. Logika. Semua harus ada penjelasan, seperti halusinasi misalnya. “Balik,” katanya tiba-tiba.
Naya menatapnya. “Lo gila?”
“Kita nggak bisa keluar,” jawab Raka. “Apapun ini… kita harus hadapi di dalam.”
Naya ingin membantah, tapi urung, karena jauh di dalam dirinya dia tahu jika Raka benar.
Mereka pun kembali dan seperti dejavu, hotel itu muncul lagi di depan mereka, Seakan memang menunggu. Mobil pun berhenti di halaman. Hujan masih turun tapi sekarang terasa lebih pelan seperti waktu terasa ikut melambat. Mereka turun dan melangkah masuk. Pintu terbuka sendiri lagi. Lobi masih sama persis dengan sebelumnya. Pria tua itu masih di tempatnya seolah tahu mereka akan kembali.
“Selamat datang kembali,” katanya.
Naya tidak bicara, begitu juga Raka. Mereka hanya berdiri dalam keadaan basah oleh hujan.
Pria itu perlahan membuka buku tamu hingga berhenti disatu halaman dan mendorongnya ke arah mereka. “Silakan periksa,”
Raka menatap halaman itu. Kosong. Hanya dua nama. Raka dan Naya. Tidak ada nama lain. “Katanya ada tamu lain,” Protes Raka.
Pria itu tersenyum. “Ada.”
“Mana?”
Pria itu mengangkat tangannya, menunjuk ke arah belakang mereka.
Raka dan Naya menoleh. Lorong kosong. Tidak ada siapa-siapa. “Tuh kan...” Naya mulai bicara. , lalu berhenti. Pandangannya mengarah ke ujung lorong, tampak seseorang bertubuh kecil dan berambut panjang berdiri membelakangi mereka.
“Nay?” bisik Raka.
“Iya…, gue lihat.”
Sosok itu perlahan menoleh. Dan saat wajahnya terlihat, Naya terdiam dengan napas tercekat. Karena yang berdiri di sana adalah dirinya sendiri, tersenyum dengan cara yang tidak biasa dilakukan oleh manusia biasa.
“Maaf… kamu siapa?”Kalimat itu tidak keras, tapi menghancurkan, bagai mengunyah melumat perasaan, terucap polos begitu saja.Raka berdiri kaku di tengah lobi, menatap Naya yang berdiri beberapa meter di depannya. “Nay?” suara Raka serak. “Ini gue. Raka.”Naya mengerutkan kening, mundur sedikit. “Jangan mendekat!,” katanya tegas. “Aku nggak kenal kamu.”“Nay, dengerin baik baik, kita tadi bareng. Kita datang ke sini. Kita...”“Aku datang sendiri,” potong Naya cepat.Raka menggeleng. “Nggak. Itu nggak mungkin. Kita...” Ia berhenti saat menyadari bila Naya sungguh sungguh tidak ingat.“Coba lihat ini,” kata Raka cepat, meraih ponselnya lalu membuka aplikasi booking, kemudian menunjukkannya pada Naya.“Ini nama kita!” Kalimatnya terhenti.Layar itu berubah. Daftar tamu hanya menampilkan satu nama.RakaTidak ada Naya.Raka menatap layar itu dengan napas tercekat. “Tadi ada,” bisiknya. “Tadi ada nama lo!”Naya menggeleng pelan, “Kamu aneh,” katanya. “Aku nggak suka ini.”Raka mengangkat t
Rak! Buruan! Kita check in dulu!”Suara Naya terdengar lagi, Sama seperti sebelumnya dengan nada dan intonasi yang identik, seolah tidak pernah terjadi apa pun. Suara ceria kesukaan Raka.Raka tidak langsung menjawab. Ia duduk di tepi kasur, berkeringat dingin di pelipis meski kamar terasa normal. Pelan-pelan, ia menatap sekeliling. Koper masih belum dibuka. Semua tampak kembali seperti awal, seperti saat mereka pertama kali masuk.“Ini loop,” gumamnya. Kata itu terasa berat keluar dari mulutnya. Loop yang mengulang, menghapus, mengganti dan yang paling menakutkan adalah menghilangkan. Raka langsung meraih ponselnya. Aplikasi itu masih terbuka, kali ini ada foto hotel yang lebih terang, lebih hidup dan terlihat baru seakan bukan bangunan tua yang mereka lihat tadi. Tertulis rating: 4.9, Review teramat bagus.“Rak! Lama banget sih!” Suara Naya terdengar tak sabar.Raka pun berdiri, Kali ini ia tidak akan bertindak seperti sebelumnya. Kalau ini loop, maka dia harus mengubah sesuatu. Kem
Naya mundur satu langkah seolah tubuhnya menolak apa yang terlihat. “Itu…,bukan gue!” suaranya bergetar penuh penyangkalan cenderung sedikit histeris. Mendengar itu, Raka tidak menjawab karena dia juga melihatnya. Sosok di ujung lorong itu, tinggi, bentuk tubuh, rambut, bahkan cara berdirinya sama persis dengan Naya yang berdiri di sampingnya sekarang. Tidak ada perbedaan kecuali satu hal. Senyumnya terlalu lebar dan kaku. Seakan dipaksa tersenyum oleh sesuatu yang bukan manusia.“Nay.” bisik Raka pelan, “jangan mendekat.”“Aku nggak…” Naya menggeleng cepat.Tapi sosok itu bergerak satu langkah ke depan. Suara langkahnya tidak terdengar seolah dia tidak menyentuh lantai.Raka refleks menarik tangan Naya mundur. “Balik ke kamar. Sekarang.”“Tapi...”“SEKARANG!”Mereka berlari menelusuri lorong yang terasa lebih panjang. Dan di belakang mereka tidak terdengar suara langkah. Tapi Raka tahu jika sosok itu masih mengikuti, bahkan lebih cepat dari sebelumnya, hingga akhirnya sampai di kamar
Raka membeku mematung tak mampu bergerak. Napasnya tercekat di tenggorokan. Suara itu terlalu dekat, seolah seseorang benar-benar berdiri di belakangnya, menempel di punggungnya. Ia menoleh cepat. Kosong. Hanya pintu kamar mandi yang masih terbuka sedikit, menganga seperti mulut gelap.“Ini nggak lucu…” gumamnya pelan, tidak ada jawaban. Ia menelan ludah, lalu dengan gerakan cepat menutup pintu kamar mandi. Klik. Tangannya masih gemetar saat ia memutar kunci pengaman.Raka langsung meraih ponselnya. Sinyal timbul tenggelam, namun tetap dicoba membuka aplikasi booking tempat mereka menginap tadi. Loading, lama. Kemudian error. Raka mengernyit lalu mengetik ulang nama hotel itu. Masih tidak muncul. Tiba-tiba ada notifikasi masuk. Raka langsung membukanya.“SELAMAT DATANG KEMBALI.”Belum sempat ia berpikir, kembali terdengar suara ketukan, kali ini dari pintu kamar.“Raka! Buka! Cepat!” Suara Naya panik.Raka langsung berlari ke pintu dan membukanya. Naya berdiri di sana dengan napas te
Hujan turun seperti seseorang sedang menghapus dunia, berhiaskan kilatan petir yang liar bebas menyambar.Raka menatap layar ponselnya, sinyal naik turun di sudut kanan atas. Jalanan yang mereka lewati sejak tadi berubah jadi jalur sempit, gelap, dan sepi. Tidak ada lampu jalan. Tidak ada rumah. Hanya pepohonan yang berdiri seperti bayangan hitam.“Ini serius tempatnya?” Naya bertanya dari kursi penumpang, suaranya setengah kesal, setengah penasaran.Raka memperbesar peta di layar. Titik biru berkedip pelan.“Katanya di sini,” jawabnya. “Rating-nya juga tinggi. Banyak yang bilang hidden gem.”Naya mendengus. “Hidden banget sampai hilang dari dunia nyata.”Mobil mereka melambat. Di depan, kabut turun tipis seperti tirai. Kemudian Bangunan itu muncul. Sebuah hotel tua. Lampu di bagian depan berkedip lemah. Cat temboknya mengelupas. Tulisan nama hotel di atas pintu masuk sudah pudar, hanya menyisakan huruf-huruf samar yang sulit dibaca.Raka memicingkan mata. “Aneh, difoto kelihatan bagu







