เข้าสู่ระบบNoah, the rich young master had the best looks everyone admired. However, he didn't care about that. He lived like a mess which was a waste of everything he had received so far. His life was neither particularly bad nor particularly perfect. He just let his life flow as things occurred. He didn't love himself. That's the truth! That's why he was killed by his partner. Without any concerns, he got together with a man named William. And ended up getting sacrificed for his greed. Yet, he got another chance. Realizing, he was reborn, he didn't want to live that same tasteless life anymore. As a new start, he decided to study abroad. While he was there, he met the boy named Michel who ended up stealing his heart. For his heart which had no place for love and trust, Michel was the antidote. Regardless, there was no end to the strange things which kept happening to them from time to time. Experiencing a lot of things other people would never be able to, they finally found their happiness. Two souls that carried their regrets over two lifetimes, finally found their peace.
ดูเพิ่มเติม"Ini uang lima puluh ribu! Kamu pergi ke pasar, beli daging, telor, sayur, ikan, cabe, bawang, pake uang ini!" tegas wanita itu, seraya memberikan uang kertas pecahan lima puluh ribu, kepada seorang gadis belia, berstatus anak dari mendiang suaminya.
"Apa? Belanja sebanyak itu, cuma dikasih lima puluh ribu?" Rania Mikaila, yang biasa dipanggil Rania pun menganga, tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Di tangannya sekarang, ada uang lima puluh ribu. Wanita dewasa yang lebih pantas disebut Nenek sihir itu, berstatus ibu di atas kertas baginya. Ia memberikan uang tersebut untuk membeli keperluan dapur. Ongkos ke pasarnya saja sepuluh ribu, untuk satu kali balik. Kalau bolak balik, berarti dua puluh ribu, sisa tiga puluh ribu, sedangkan uang yang diberikan lima puluh ribu dan harus bisa membeli daging, telur dan lainnya. Wanita itu masih waras atau sudah kelewat gila? "Iya! Memangnya kenapa dengan uang segitu? Bukankah cukup untuk membeli daging, telur dan lainnya? Kamu kan pintar ... Seharusnya kamu bisa menggunakan uang ini untuk membeli keperluan dapur. Mengerti?" Rania kembali memandangi uang kertas berwarna biru itu. Membeli daging, telur, sayuran dan lainnya, dengan uang lima puluh ribu, bagaimana bisa? Harga daging saja sudah seratus ribu lebih. Belum lagi, telur, satu kilonya saja sudah tiga puluh ribu, lalu sayuran, cabai, bawang dan lainnya. Saat ini harga bahan pokok sedang naik semua. Apa bisa, memenuhi kebutuhan dapur hanya dengan uang pas-pasan? Bukan pas, melainkan kurang banyak. Rania bertanya-tanya, sebenarnya wanita yang dipanggilnya ibu itu, ingin dirinya berbelanja atau merampok di pasar? Banyak maunya, tapi enggan untuk keluar modal. "Rania!" teriaknya keras. Rania tersadar dari lamunan. Memasang wajah datar dan masih terperangah. Isi kepalanya sedang berputar, mencari cara untuk memecahkan masalah ini. Bisa kah uang ini disobek-sobek, lalu diberikan ke pedagang di pasar, untuk ditukarkan daging dan bahan pokok lainnya? "Jangan diam aja! Sudah sana pergi ke pasar, mumpung masih pagi! Sayurannya juga pasti masih segar-segar!" perintahnya semudah membalikkan telapak tangan. "Satu hal lagi. Kalau masih ada sisanya, kamu beli kopi ya. Stok kopi di rumah sudah habis!" "Lagi?" Rania menganga untuk yang kedua kalinya. "Iya. Memangnya kenapa? Seharusnya uang segitu masih ada lebihnya, kalau kamu bisa menggunakan uang itu dengan baik!" tunjuknya pada selembar uang pecahan lima puluh ribu yang ada di tangan Rania. "Daging saja harganya seratus ribu. Sedangkan uang yang kubawa lima puluh ribu. Sebenarnya ibu ingin aku belanja, atau merampok bank?" Rania kehabisan kata-kata. Tidak tahu jalan pikiran ibunya seperti apa? Mungkin beli tahu tempe dan sayur, masih cukup dengan uang lima puluh ribu. Sedangkan yang dimau adalah membeli daging. Apa harus dirobek menjadi dua bagian terlebih dahulu kah, supaya nominalnya berubah menjadi seratus ribu? "Itu, bukan urusan ibu! Pokoknya kamu pulang harus mambwa daging, telor, sayur dan lainnya. Titik!" Selepas berkata demikian, dia langsung pergi. Meninggalkan Rania yang masih terpaku di posisinya. Memikirkan bagaimana caranya mendapatkan daging dengan uang lima puluh ribu saja, sudah membuat kepalanya pusing. Apa lagi harus membeli keperluan lainnya, makin tampah pusing kepalanya. Seperti balon yang sewaktu-waktu bisa saja pecah tanpa terduga. Rania menghela napas panjang. "Seandainya Ayah masih hidup, mungkin aku tidak akan bernasib sial seperti ini ..." "Dia tidak pantas disebut seorang ibu, lebih pantas disebut Mak Lampir. Nenek Sihir. Wewe Gombel, atau semacamnya. Pokoknya lebih serem dari mereka," cibirnya cukup keras. "Seandainya wanita iblis itu, masih ada di sini, mungkin ia akan mengamuk seperti gajah yang kelaparan," lanjutnya mengeluarkan unek-unek yang sedari tadi tertahan di dalam hati. "Kenapa, Ayah mau nikah sama perempuan jahanam kayak dia si? Percuma punya rumah besar, kalau di dalamnya seperti berada di neraka!" Huft ... Rania merasa sangat emosional saat ini. Ingin kabur detik ini juga. Akan tetapi, kemana dia harus pergi? Ia tidak lagi memiliki siapa-siapa. Orang tua kandungnya sudah tiada semua. "Hei, anak pemalas! Kenapa belum jalan? Cepat sana pergi ke pasar!" perintah wanita itu dari lantai dua. Rania mendongak, "iya, Nenek Sihir, bawel!" jawabnya penuh kekesalan. Setelah mengatai wanita itu dengan sebutan 'Nenek Sihir' barulah Rania melenggang pergi. Suasana hatinya sedang tidak baik-baik saja saat ini. *** DUA JAM KEMUDIAN. Rania sudah keluar dari pasar. Dia membawa tas belanja yang terbuat dari anyaman bambu. Di dalam tas jinjing itu, sudah ada beberapa keperluan dapur yang berhasil ia dapatkan. Ketimbang harus memikirkan semua keinginan Nenek Sihir itu, Rania lebih memilih membeli bahan pokok yang benar-benar diperlukannya. Tidak perlu mahal, asalkan bisa membuat perut kenyang. Itu sudah lebih dari cukup. "Mana ya angkotnya?" Rania melihat sisi kiri dari posisinya berdiri. Sudah lebih lima belas menit dia berdiri di sana, menunggu angkot yang tak kunjung lewat. Jalan kaki pun percuma. Jarak dari pasar ke rumahnya cukup jauh. Lebih dari tiga puluh menit dengan naik angkot. Itupun jika angkotnya tidak berhenti lama menunggu penumpang. Istilahnya 'ngetem'. BRUSSSHH! Mobil sport mewah melaju cepat. Pagi ini turun hujan cukup deras, sehingga ada genangan air tepat tidak jauh dari tempat Rania berdiri. Bekas genangan itu menyembur cukup kuat, hingga membuat baju Rania basah dan kotor setelahnya. "Woi! Orang gila! Punya mata enggak! Kencang aja bawa mobilnya!" teriak Rania mengomel. Tidak terima, pakaiannya menjadi basah dan kotor akibat genangan air yang menyiprat tadi. "Gue juga punya mobil! Enggak gitu-gitu juga kali bawa mobilnya!" "Gue, sumpahin. Biar nabrak pohon lu! Biar lu enggak bisa lagi nyetir!" Sudah saking kesalnya, sumpah pun terucap, lolos begitu saja tanpa cela dari mulutnya. Sedangkan mobil yang tadi ngebut itu, telah hilang dari pandangan. Pengemudinya pasti tidak tahu, bahwa ia telah mendapat sumpah buruk dari seorang gadis yang teraniaya. Suasana hati Rania sedang buruk saat ini. Apapun yang keluar dari mulutnya, adalah bentuk kekesalan. Selang beberapa menit, mobil angkot yang ditunggu-tunggu pun muncul juga. Kalau lagi apes, memang begitu. Kudu marah-marah dulu, baru hilang kesalnya. *** Sesampainya di rumah. Rania langsung memberikan tas belanjanya kepada wanita berstatus ibu di atas kertas itu. "Apa ini?!" Kali ini giliran wanita itu yang melotot. Tas belanja itu ia banting, sehingga isinya keluar sebagian. "Ibu minta kamu beli daging kan? Terus mana dagingnya? Kenapa kamu beli tahu?" teriaknya sangat keras, sampai urat-urat lehernya menegang. "Tahu juga kan daging ... Daging tanpa tulang ..." Rania tersenyum kecil dan menjawab dengan enteng. "Kalau ibu ingin makan telur. Makan aja tuh telor cicak. Aku udah beli ni." Kemudian dia mengeluarkan satu bungkus permen warna warni, yang bentuknya menyerupai bentuk telur cicak. BRAK! Dia menepis tangan Rania cukup keras, sehingga permen itu terlepas, terlempar dan jatuh ke lantai. Rania berdengus kesal. Matanya melotot untuk yang kesekian kalinya di pagi ini. "Kamu jangan bercanda! Ibu berikan uang itu, untuk kamu belanja! Bukan untuk main-main!" Dia membentak dan memarahi putri sambungnya itu. Rania diam. Padahal dia sudah capek-capek pergi ke pasar untuk membeli keperluan dapur, bukannya disambut dengan baik, malah dimarahi, seolah-olah dalam hal ini, dirinya yang paling bersalah. "Terserah ibu saja lah! Aku sudah pusing, mendengar keinginan gila ibu! Sebaiknya aku ke kamar dan mengganti bajuku yang kotor!" Rania menulikan pendengarannya dan melenggang pergi. Kepalanya bisa-bisa pecah beneran, kalau terus-terusan ada di dekat ibunya. "Sungguh, sial sekali nasibku hari ini. Disuruh beli daging, pake uang lima puluh ribu. Sudah dibelikan daging, malah dimarahi. Sebenarnya di mana letak kesalahanku, Ya Tuhan?" Dia menggerutu sepanjang jalan menuju ke kamarnya yang ada di lantai dua. "Ya Tuhan. Semoga Mak Lampir itu, cepat mendapatkan hidayah atau setidaknya berikan dia otak untuk berpikir," kata Rania sengaja meninggikan suaranya, supaya wanita itu dapat mendengarnya. "Apa katamu? Kamu kira, ibumu ini tidak memiliki otak, ah?" Rania berbalik badan, "ups ... Jadi, ibu mendengar perkataanku." Dia menutup mulutnya dengan sebelah tangan, sengaja mengejek ibu tirinya. "Ya, bagus deh. Kalau ibu denger. Seenggaknya aku enggak ngomongin ibu di belakang, tapi di depan. Hahaha." Dia tertawa keras, seraya mengayunkan kakinya, menaiki anak-anak tangga. Suasana hatinya sedikit lega dan puas, saat melihat wajah kesal ibu tirinya.When Sid opened his eyes again, he realised he was in a hospital. He slowly turned his head and saw Josh pouring water into a glass."Josh."As he called, the other person froze and turned his head. He smiled brightly and put the glass on the table, came to Sid, and hugged him tightly."I was scared thinking something happened to you. I am sorry, my phone was out of battery."Josh regretted not answering Sid's calls when he realised how much Sid had panicked.That day his phone ran out of battery. So his phone switched off and he couldn't call even if he wanted to. Luckily or not, he had forgotten one of his most important files at home. He returned in a hurry to get it but only to see the guy Morris standing there with a group of alpha and betas.He immediately called the police and filed a case against him. Morris was once a client of Josh. But when Josh knew he had killed people before, he presented the evidence despite the fact he was his client. With that, Morris was sent to jai
"How is it? Does it taste good?"As soon as Josh came home and washed up, Sid dragged him to eat. The alpha smelled the mouth-watering food smell and smiled happily.He only took his first bite, but he had to comment about the taste. "Mm? It's sweet.""What are you talking about?"Sid suddenly started panicking. 'Did I perhaps use sugar instead of salt?'He quickly took a sip from the soup. But there was nothing wrong. When he was about to ask about it from Josh, he felt the hands wrapped around his waist."It's sweet because you made it."He buried his face in Sid's neck and whispered in his ear making him feel itchy. He rubbed his ear against Josh's fingers as he finally found comfort.Josh kissed the red bite mark on his gland. Then he slowly licked it until he felt the blood taste. When he finally stopped licking, he felt the omega in his hands trembling and his whole body was pink."Sid...Shall we go to bed?""The food- mmmm?"Josh shut him down with a passionate kiss. "Let's
On the wedding night,Sid cleaned up himself and sat on the bed thinking about a wild night.As he saw Josh coming inside, he couldn't help but get nervous. Seeing him all flushed, Josh couldn't hold his smile. He thought Sid was very adorable. So he thought of teasing him a little."So what are we gonna do now? Shall we sleep then?"When he told him he wanted to sleep, Sid looked at him in disbelief.He had never heard of any alpha letting go of an omega who was right in his bed."That...you don't want?""What?""I mean to do it?""That's why I am asking. what is it?""Josh, are you serious?""Ah? I-""Good night, then!"Sid kicked his blanket, pouted his cheeks, and turned to sleep after covering himself completely. "Are you really sleeping? I was just kidding."Josh went to him and removed his blanket and saw the little omega crying silently."Why are you crying? Did I make you angry? I am sorry. If you cry, how am I supposed to open my gift?"As he said gift, Sid turned to him."
In the morning, the birds were singing to their heart's content. But the little omega on the bed was trying his very best to sleep covering his ears."Why? Can you let me sleep? I even gave you some bread yesterday. Is this how you are gonna repay me?"The 21 years old omega kicked his blanket and woke up complaining to the birds. The sunshine fell to his face, shining on that smooth skin. He opened his eyes revealing a pair of dark brown gems. Yawning once again, he slowly got off the bed to wash up."Sid! Are you awake? Then come and have breakfast. It's already 7 am."As he heard his papa shouting at him, he was dumbfounded."7? Then I should have slept more. What are you telling me already at 7 am? It's only 7 am yet. Agh!"He went to the bathroom and quickly brushed his teeth, washed his beautiful face, and put on some clothes.He stood in front of the mirror and mumbled to himself."You are very pretty. You are gonna catch a great alpha very soon."He winked at his reflection an
The next day, Noah went to the university as usual. And sit as usual.Anxiety popped up again as soon as the classroom started to fill up.He wished it would be better if Morris would never show up again in front of him. It was not like Morris was a bad person. But it was the same face. That was enoug
Noah opened his eyes but his vision was a little blurry. However, after shaking his head a bit, it became clear.After looking at his surroundings he realized it was a half-built building. And he was tied up to a chair tightly. There were exactly three people in front of him. All of them were coverin
"William! Do you think it's all my fault? But have you ever thought it was your own fault? It was all your fault. It's all because you are greedy!"Noah knew William was a guy who liked to protect his pride. So to make himself clear of course he would start to argue with Noah.Actually, Noah felt kind
He bought two half-grown-up cats as gifts. Then he let Sid name them. Surprisingly, he showed some good responses to Josh at that time. He named the two cats Tofu and Bean telling them they were Josh's favourites.When time passed, it was already time to give birth to the baby. But they had to face a
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.