Se connecterLayar ponsel pintar di atas meja kaca menyala, menampilkan nama kontak Fida beserta sebaris pesan singkat yang baru saja masuk. Vanya meraih benda pipih tersebut, membaca pesan di layarnya sepintas, lalu mencampakkannya begitu saja ke atas sofa kulit di sampingnya.Reno yang sedang menyesap minumnnya melirik gerak-gerik Vanya dengan sebelah alis terangkat. "Dari siapa?""Fida," jawab Vanya gusar, nada suaranya ketus. "Wanita sialan itu terus-menerus mengirimkan pesan, menanyakan soal sisa uang dan jaminan penerbangan keluar negeri yang kita janjikan."Vanya terkekeh pelan, tawa dingin yang dipenuhi rasa puas sekaligus ejekan. Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, teringat bagaimana skenario awal yang ia rancang bersama Reno berjalan sangat mulus."Kalau dipikir-pikir lagi, aku jadi ingin menertawakan anggota keluarga Elvano yang agung itu," celetuk Vanya seraya menyilangkan kedua kakinya. "Bahkan pria sekelas William Elvano saja berhasil aku kelabuhi mentah-mentah."Reno te
Lampu gantung di atas meja marmer ruang tengah menyala temaram, memancarkan bias kekuningan yang menambah pekat kesan dingin di dalam ruangan. Di balik meja kaca tebal, Vanya berdiri seraya menatap lembaran demi lembaran kertas analisis medis yang baru saja dibawa oleh Fida. Jemari lentiknya yang mengenakan cat kuku merah menyala bergetar pelan, bukan karena panik, melainkan akibat gelombang amarah yang mendidih di dalam dadanya.Reno duduk bersandar di sofa kulit hitam seberang meja. Tanganya memutar-mutar gelas bening berisi minuman beralkohol, matanya memperhatikan gerak-gerik Vanya dengan alis terangkat."Bagaimana, Vanya?" tanya Reno dengan nada santai namun tersirat rasa penasaran yang besar. "Apa isi dokumen riset medis yang disimpan Daren di laboratorium utamanya?"Vanya tidak langsung menjawab. Napasnya terdengar kian memburu saat matanya menyapu barisan angka, grafik imunitas, serta catatan hasil uji sampel darah di lembaran terakhir. Saking menggebu amarahnya, ia membant
Deru mesin mobil sport milik Daren meraung nyaring saat menerobos masuk ke area pekarangan rumah. Pria itu bahkan tidak menunggu sopir atau pengawal membukakan pintu. Ia melompat keluar dari kursi kemudi dengan wajah tegang, meninggalkan kendaraan yang masih menyala di depan pintu utama. Urusannya di laboratorium yang belum sepenuhnya selesai mendadak ditinggalkan begitu saja saat sebuah panggilan telepon singkat mengabarkan bahwa Zea terluka di rumah.Daren melangkah lebar-lebar menaiki anak tangga menuju lantai dua. Jas hitam yang biasanya terpasang rapi kini terlempar begitu saja ke lengan kursi saat ia melewati koridor. Pintu kamar utama didorongnya kasar hingga terbentang lebar."Zea," panggil Daren dengan napas memburu.Di atas ranjang berukuran king size, Zea sedang bersandar pada tumpukan bantal. Kaki kanannya tampak terbalut perban putih yang cukup tebal, bersandar di atas bantal kecil. Begitu melihat sosok Daren muncul di ambang pintu dengan raut panik, raut wajah Zea langs
Cengkeraman kuat jemari Zea pada pegangan besi tangga menjadi penyelamat tunggalnya. Tubuhnya terombang-ambing di udara selama beberapa detik sebelum akhirnya ia berhasil menumpu beban tubuhnya pada anak tangga teratas. Namun, pergelangan kaki kanannya tertekuk hebat dengan posisi yang salah saat menahan benturan.Rasa nyeri menusuk tajam langsung merambat dari tumit hingga ke lututnya."AKH," jerit Zea seraya terduduk di lantai kayu berlapis karpet tebal, memegangi pergelangan kakinya yang seketika berdenyut amat menyiksa.Dua orang pelayan wanita yang berada di dekat sana langsung berhamburan mendekati Zea dengan raut wajah pucat pasuh. Kekacauan dan kepanikan seketika membuncah di koridor lantai dua."Nyonya Zea," teriak salah satu pelayan wanita seraya berlutut di sampingnya. "Tolong, ada yang terluka. Nyonya Zea jatuh.""Kaki... kakiku sepertinya terpelintir," rintih Zea dengan napas memburu, matanya berkaca-kaca menahan rasa sakit yang makin menjadi."Astaga, jangan digerakkan
Di dalam mobil yang melaju membelah jalanan kota, Zea menatap pepohonan yang berlari cepat di balik kaca jendela. Senyum tipis yang memancarkan kepuasan terpancar jelas di wajahnya. Perasaan sesak dan amarah yang menumpuk sejak kemarin malam seketika menguap, berganti kelegaan yang amat sangat.Ia menyandarkan punggungnya pada sandaran jok yang empuk, menyilangkan kedua tangannya di dada seraya bergumam pelan pada dirinya sendiri."Lihat saja nanti," bisik Zea dengan nada suara yang riang. "Kalau Daren memang setuju dan mau menuruti kemauanku, aku yang akan mengatur semua langkah selanjutnya."Zea mengingat kembali momen di mana Helena berdiri pas di depannya, mencecar William habis-habisan tanpa ampun demi membela haknya sebagai menantu. Kekehan kecil lolos dari bibir Zea saat bayangan wajah mertuanya yang kuncup dan tak berkutik melintas di pikirannya."Mama luar biasa sekali," gumam Zea lagi, terkikik pelan sembari menggelengkan kepala. "Meskipun kami tidak memiliki hubungan dara
Sinar matahari pagi menyiram megahnya bangunan kediaman utama keluarga Elvano. Zea berdiri tegak di balik pintu mobil yang baru saja terbuka, menatap bangunan besar bernuansa klasik modern di hadapannya. Napasnya terhela pelan, mencoba menetralkan degupan kencang di dalam dada sebelum melangkahkan kaki.Dua orang pelayan paruh baya berseragam rapi langsung menunduk hormat saat Zea berjalan mendekati pintu ukiran kayu nan tebal."Selamat pagi, Nyonya Zea. Mari, silakan masuk," panggil salah satu pelayan wanita dengan senyuman hangat."Terima kasih, Bik," sahut Zea singkat sembari melangkah masuk ke dalam ruang tamu utama yang megah.Belum sempat Zea duduk di sofa kulit berwarna krem, langkah kaki tergesa dari arah tangga utama terdengar. Helena, ibu mertuanya, turun dengan raut wajah penuh kejutan sekaligus kehangatan. Wanita paruh baya yang selalu tampil anggun itu langsung mempercepat langkahnya dan memeluk Zea erat."Zea, Sayang. Mama kaget sekali saat pelayan bilang kamu datang pa







