LOGINZea merapikan kemeja kusutnya dengan napas yang masih naik turun, jemarinya cekatan memasang kembali kancing yang sempat terlepas. Ia mendengus kesal sambil membenarkan posisi duduknya di kursi penumpang depan."Sangat sial," gerutu Zea tajam, melirik tajam ke arah suaminya. "Niatnya mau mencari korban pengganti supaya Papa selamat, eh, malah aku sendiri yang jadi korban di sini!""Tubuhku rasanya remuk semua, Daren. Kaki kiriku kram karena harus bermanuver di ruang kemudi yang sempit itu. Kau benar-benar menyebalkan, tahu!"Daren terkekeh pelan di balik kemudi, sebelah tangannya memegang setir sementara tangan lainnya terulur santai mengusap puncak kepala istrinya dengan penuh gemas. "Tapi kau menikmati setiap detiknya, Zea. Jangan berbohong.""Hei!" Zea menepis tangan Daren dengan cepat, wajahnya merona merah padam antara kesal dan malu. "Jangan sok tahu! Itu tadi murni darurat medis, penyelamatan nyawa suami yang alerginya mau merenggut nyawa. Bukan karena aku ingin melayanimu d
Daren menyerang kembali. Ia tidak lagi hanya menerima, ia membalas ciuman Zea dengan kekuatan penuh. Lidah mereka bertaut, saling menghisap dan bertukar saliva dengan rakus. Daren memindahkan satu tangannya ke belakang punggung Zea, meraba lekukan tubuhnya, sementara tangan lainnya merayap turun, mencari celah di balik pakaian dalam Zea."Ah! Daren! Jangan terlalu cepat... ahh... pelan-pelan!""Tidak bisa... aku membutuhkanmu... sekarang..."Daren dengan kasar menurunkan celana Zea dan pakaian dalamnya sekaligus, membuangnya ke lantai mobil dengan tidak peduli. Zea mendesah keras saat jari-jari Daren menemukan pusat kenikmatannya yang sudah becek dan basah. Suara lendir yang bergesekan terdengar jelas, sebuah bunyi shlick yang menggairahkan di tengah kesunyian kabin."Ahhh... Daren... kau curang, kau tahu persis di mana harus menekan!""Kau sangat basah, Zea... kau sangat menginginkanku, bukan?""Dasar pria mesum! Ini semua karena aku ingin menyelamatkanmu! Tapi... ahh... ya,
"Daren! Lihat aku. Kenapa kau harus punya alergi gila seperti ini?! Jangan tutup matamu! Kau dengar aku tidak?!""Panas... Zea... rasanya... kulitku terbakar...""Aku tahu! Aku tahu itu panas! Aduh, orang-orang di luar sana masih menggedor mobil! Kita bisa mati dikeroyok atau kau mati karena sesak napas kalau kita tidak segera melakukan... itu! Sial, aku tidak percaya aku harus melakukan ini di dalam mobil yang sempit ini!""Zea... cepat... aku tidak... bisa bernapas...""Iya, iya! Aku tahu! Berhenti membuatku panik, Daren! Aku akan menyelamatkanmu, tapi kau harus membantuku sedikit, oke? Tolong jangan pingsan sekarang, kau pria paling menyebalkan yang pernah ada!""Ah... hhh... tolong...""Sialan, kau terlihat sangat menyedihkan sekaligus... kenapa kau harus terlihat seksi bahkan saat sedang sekarat begini? Argh! Persetan dengan harga diri, persetan dengan warga desa itu! Aku tidak peduli jika mobil ini bergoyang sampai terbalik!""Zea... apa yang... kau lakukan?""Diam dan
"Dengar baik-baik, kami tidak berniat mengambil paksa siapa pun," ujar Daren dengan nada suara yang ditekan serendah dan sehalus mungkin, meski kilat mata dinginnya sama sekali tidak bisa menyembunyikan rasa waspada. Laki-laki itu merentangkan satu lengannya ke belakang, memastikan tubuh Zea terlindungi sepenuhnya di balik punggung bidangnya dari gerombolan orang yang semakin beringas. "Tujuan kami datang ke sini murni untuk mencari petunjuk medis, bukan untuk merusak tempat ini atau menyakiti kalian." "Bohong besar!" teriak seorang pria bertubuh kurus kering dengan urat leher menonjol, maju dua langkah sambil menunjuk tepat ke wajah Daren. "Mana ada orang kaya ke tempat kumuh begini kalau bukan karena mau merampas keluarga kami yang sakit! Pergi dari sini sekarang juga atau kalian tidak akan pernah bisa melangkah keluar hidup-hidup dari halaman ini!" "Kami tidak berbohong," balas Daren dingin, rahangnya mengeras tajam menahan emosi yang mulai merayap naik ke permukaan. "
Daren mengembuskan napas panjang, menatap lurus ke arah istrinya dengan raut wajah yang tidak bisa dibantah. "Aku akan ikut mencari korban lain di luar sana supaya ayahmu tidak dijadikan bahan uji klinis oleh pihak rumah sakit."Zea mengerutkan keningnya, sebelah alisnya terangkat tinggi karena bingung. "Mencari korban lain? Ke mana maksudmu?""Kita pergi ke klinik-klinik swasta liar di pinggiran kota," jawab Daren tegas. "Di rumah sakit besar jelas tidak mungkin. Semua pintu masuk dijaga ketat oleh militer, dan protokol karantina wabah diterapkan tanpa kompromi. Kita tidak akan pernah bisa menyelundupkan pasien atau sampel dari tempat steril seperti itu."Zea tertegun sejenak, mencerna penjelasan suaminya yang masuk akal. "Tapi tempat seperti itu pasti sangat berbahaya.""Karena berbahaya, aku tidak akan pergi sendirian," balas Daren cepat.Zea menggeleng keras, melipat tangan di dada. "Kalau begitu aku ikut. Aku tidak mau tinggal diam di sini."Daren langsung menolak mentah-mentah
"Tidak, Zea. Aku tidak setuju dengan ide gila itu."Suara bariton Daren memecah keheningan ruangan dengan nada yang begitu tegas dan mutlak. Pria itu menatap lurus ke dalam mata istrinya, sorot matanya menyiratkan ketidaksetujuan yang amat dalam tanpa ada celah tawar-menawar.Zea terpaku sejenak, mengerjap bingung mendengar reaksi suaminya yang begitu cepat menentang. "Kenapa kau menolak sebegitu tegasnya, Daren? Ini demi kebaikan bersama dan juga demi Papa.""Demi Papa?" Daren mengulang kalimat itu dengan nada sinis yang tertahan, lalu menggelengkan kepalanya perlahan. "Kau bahkan tidak tahu risiko apa yang sedang kau ambil. Kalau kau menyerahkan ayah kandungmu sendiri untuk dijadikan bahan uji klinis obat eksperimental di tengah wabah yang kacau ini, posisinya bukan lagi sebagai pasien yang dilindungi, melainkan bahan percobaan pertama.""Tapi setidaknya ada harapan, Daren!" potong Zea cepat, emosinya mulai tersulut karena merasa suaminya tidak memahami niat tulusnya. "Kalau Papa







