MasukSean duduk didalam Jet pribadi miliknya dengan tenang, netranya menatap gedung-gedung pencakar langit negeri gajah putih itu dengan seksama. Sean mengajak asprinya, Ardi, duduk berhadapan di dalam jet mewah ini. Pria itu tak mau pandang bulu lagi, siapa orang yang setia di saat terpuruknya, dia lah orang yang paling Sean percayai untuk tempat mencurahkan segala lukanya. Helaan nafas panjang keluar dari bibir Sean sebelum pria itu berkata, "Di, Nyonyamu pernah berkata kepada saya, *Pak Sean, jika suatu saat saya lelah. Saya ingin bangun di tempat di mana bau pertama yang kuhirup adalah embun dan wangi pucuk daun teh, bukan asap knalpot.* Saat itu saya hanya tertawa, karena saya pikir itu hanya bualan romantis seorang sekretaris yang butuh liburan, Di." "Saya akan mencoba menghubungi relasi kita di Bangkok, Pak. Mungkin mereka bisa memantau imigrasi lebih dalam," ujar Ardi mencoba menguatkan Atasannya. "Lakukan apa saja. Berapa pun biayanya," balas Sean tajam. "Jika dia memang
Sudah dua minggu sejak laporan detektif itu masuk, dan Sean merasa seolah-olah ia sedang mengejar bayangan. Setiap sudut Jakarta yang pernah mereka lalui terasa hampa, Ardi tiba namun lelaki itu tak kunjung berucap kepada Sean. "Bagaimana hasilnya?" tanya Sean yang berhasil membuyarkan lamunan Ardi. "Hasilnya nihil, Pak," lapor Ardi. "Semua rekam jejak digitalnya dihapus. Ponselnya mati total sejak dia meninggalkan surat itu. Bahkan rekening banknya sudah ditutup." Sean menyugar rambutnya dengan kasar. Fara yang ia kenal adalah wanita lembut yang selalu penurut. Ia tidak menyangka sekretarisnya itu memiliki keberanian untuk melakukan *CLEAN BREAK* yang sempurnah—memutus semua akses seolah-olah ia tidak pernah ada di hidupnya. Setiap sudut kota Jakarta yang pernah mereka lalui terasa *Hampa* untuk Sean, Fara benar-benar menyusun rencana pelarian darinya dengan begitu sempurna. Wanita itu tidak meninggalkan jejak sedikitpun. Jejak digital ia hapus bersih, tidak ada transaksi k
Hujan badai sore hari di luar gedung pencakar langit itu seolah mencerminkan kekacauan di dalam dada Sean. Di atas meja kerjanya yang terbuat dari mahoni mahal, tergeletak selembar kertas yang baru saja ia dapatkan dari asprinya beberapa jam yang lalu— hasil tes milik mantan sekretaris sekaligus wanita yang pernah ia buang dari hidupnya yang amat sangat sean ingin cari tahu Diagnosa-nya. Tangan Sean gemetar saat jemarinya menyentuh baris kalimat di dokumen laboratorium itu. Hasil Tes : POSITIF HAMIL. Gambaran USG yang menampilkan kecilnya kantung kehamilan yang berisi kehidupan kecil yang baru, dia adalah buah hatinya bersama dengan Fara. Tanggalnya tertera tepat seminggu sebelum ia mengusir Fara demi menyambut kepulangan Bella, yang ternyata terasa begitu hambar bagi kehidupannya. Selama ini, Fara sering terlihat pucat dan mual, namun setiap kali Sean bertanya, wanita itu hanya tersenyum tipis dan menjawab, **"Hanya malasalah lambung. Bapak, tidak perlu khawatir begitu."** "Ke
Setelah memutuskan semua hubungannya dengan Bella, Sean tidak menyentuh pekerjaan kantornya sedikitpun. Ruang kerjanya yang biasanya rapi kini dipenuhi dengan berkas laporan detektif swasta dan tumpukan manifes perjalanan bisnisnya. Sean seolah tak tertarik dengan semua pekerjaannya, karena pria itu sangat kacau. Sampai terdengar suara BEL ruang kerjaanya berbunyi, sepertinya ada yang datang. diantaranya Ardi sang aspri, atau karyawannya mengantarkan berkas baru. Pintu besar itu terbuka otomatis setelah Sean memencet tombol *OPEN* dari meja kerjanya, "Permisi, Pak." yang datang rupanya Ardi, "Masuklah." jawab Sean datar. Ruang kerja itu terasa lebih sempit dari biasanya, meski dinding kacanya menyajikan pemandangan cakrawala kota yang megah. Sean berdiri mematung di balik meja eksekutifnya, menatap nanar pada sebuah amplop putih yang baru saja diletakkan oleh asisten pribadinya, Ardi. "Ini yang Anda minta, Pak. Duplikat hasil laboratorium atas nama sekretaris Fara Zalindra,"
Sean semalam tidur di kantor, sampai hari esoknya pria itu bangun akan suara dering panggilan telefon di ponselnya. "Siapa orang yang menelfonku sepagi ini?!" teriak pria itu. Sean bangun dari tidurnya dengan terpaksa, karena panggilan itu terus masuk ke ponselnya berulang. Semalam pria itu begadang sampai tengah hari hinggah akhirnya tidak sadar kalau tertidur di meja kerja sang sekertaris, harum parfum wanita itu seakan tertinggal di setiap sudut ruangan sekertaris yang berukuran lima meter persegi di pojokan ruangannya. Sean mengangkat panggilan di ponselnya tanpa melihat nama dari si penelfon, "Apakah kamu tahu ini jam istiratku?! Jika aku tidak menjawab, maka berhentilah membuat keributan dnegan terus menelfonku!" pekik Sean, baru bangun tidur namun emosi serta pusing di kepalanya sungguh sangat hebat. "Sean kamu ngebentak aku?" Bella, gadis itu yang menelfon Sean dann mengganggu istirahat tenang pria itu. Sean tak kunjung mnjawab, sebab pria itu tengah memejamkan kedua
Namun, di belahan kota yang lain, ketenangan yang dicari Sean justru tidak kunjung datang. Pria itu tengah berdiri diam dengan segudang kegelisahan yang berputar kusut di kepalanya, "Kamu kemana sih sebenarnya." gumam Sean pelan. Pria itu mungkin lupa dengan perkataan terakhirnya beberapa hari yang lalu kepada wanita yang sedang ia cari tahu keberadaannya saat ini, sekarang perasaannya tengah dihantui rasa *Kalut* akan hilangnya sang Sektretaris yang pergi tanpa berpamitan terlebih dahulu dengannya. Sebelum pergi ke kantornya untuk bertemu dengan Ardi, Sean mengantarkan Bella pulang ke rumah gadis itu dengan janji mereka akan jalan-jalan besok. Walaupun ada sedikit drama sebelum dia berhasil mengantar kekasihnya pulang, akhirnya sekarang Sean bisa ke kantornya dan bernafas tenang setelah berhasil membujuk Bella pulang ke rumah orang tua gadis itu. Pria itu tengah memejamkan matanya, ingatannya tertuju kepada sekretarisnya. Setelah Sean fikir-fikir Fara tidak serumit dan secrew







