เข้าสู่ระบบSetelah dua bulan penuh perjuangan dan observasi intensif di Boston, hari yang paling dinanti-nantikan itu akhirnya tiba. Lampu hijau dari tim dokter anak telah resmi dikantongi. Dengan kondisi fisik yang kian montok, pipi gembil yang merona segar, dan organ pernapasan yang telah bekerja sempurna tanpa alat bantu apa pun. Si keci, Baby Feera akhirnya diizinkan menempuh penerbangan panjang untuk pulang ke tanah air.Jet pribadi keluarga mendarat mulus di Bandara utama Sekarno-Hatta, saat matahari sore Jakarta memancarkan semburat jingga keemasan. Begitu roda pesawat berhenti sempurna dan tangga penurunan dipasang, Sean melangkah keluar terlebih dahulu. Pria itu dengan sigap membimbing Fara yang menggendong erat Feera dalam balutan selimut rajut merah muda lembut beraroma bedak bayi yang manis. Di samping mereka, Sefan melompat-lompat riang menggandeng jemari sang Papa, tak sabar ingin memamerkan Adik perempuannya kepada semua orang.Namun, kejutan sesungguhnya baru dimulai begitu mer
Dua minggu berlalu sejak kelahiran darurat Putri bungsu dari Fara dan Sean di Chiang Rai, Thailand. Kondisi Fara pascaoperasi sesar sudah berangsur pulih, dan Syafeera kecil menunjukkan kemajuan yang sangat pesat. Berat badannya pelan-pelan merambat naik, serta refleks tangis dan hisapnya semakin kuat. Namun, kendati suhu tubuh dan nutrisinya terpantau stabil, sebuah catatan medis masih menggantung tebal di dada Sean. Pembentukan organ paru-paru Feera belum sempurna seratus persen, akibat lahir terlalu dini di usia kehamilan 32 minggu. Tim dokter spesialis anak di Thailand menyatakan bahwa secara umum Feera sudah melewati masa kritisnya. Akan tetapi, ritme napas bayi mungil itu masih kerap menunjukkan desah halus yang membutuhkan bantuan stimulasi oksigen berkala. Malam itu, di kamar perawatan VIP yang tenang, Sean duduk berdampingan dengan Fara seraya memandangi lembaran hasil rekam medis dan pemindaian thoraks putri mereka. Tatapan mata Sean dipenuhi keprihatinan mendalam khas s
Pagi harinya, sinar matahari hangat Chiang Rai menembus jendela kamar VIP tempat Fara dirawat. Kondisi Fara sudah jauh lebih stabil, meski rasa nyeri pascaoperasi sesar masih sesekali menyengat ketika ia mencoba mengubah posisi duduk. Di samping ranjang Fara, Sean dengan sangat telaten menyuapkan bubur hangat dan mengusap bibir istrinya dengan tisu.Sefan kecil yang menginap di kamar sebelah bersama Opa dan Omanya masuk sambil membawa gambar baru yang ia buat sendiri. Gambar itu menampilkan empat figur manusia dengan satu lingkaran kecil di dalam kotak berpendar, reka ulang sederhana versi Sefan tentang adik bayinya di dalam inkubator."Mama! Ini Sefan gambar Adik Bayi lagi tidur di dalam kotak ajaib!" seru Sefan bangga, menunjukkan kertas gambarnya dari tepi tempat tidur.Fara tersenyum haru, mengusap kepala putra sulungnya. "Bagus banget, Jagoan. Adik pasti senang kalau lihat gambar Kakak Sefan."Papa Narendra dan Mama Sarah melangkah masuk, tak lama kemudian membawa beberapa perle
Sore itu, penerbangan privat yang sejatinya dijadwalkan membawa keluarga kecil Sean kembali ke Jakarta terpaksa dibatalkan secara mendadak.Saat mereka baru saja selesai mengemas koper di vila. Fara, yang baru memasuki usia kehamilan delapan bulan atau 32 minggu usia kehamilan mendadak meremas lengan Sean dengan sangat kuat. Wajah Fara yang semula merona bahagia seketika pucat pasih, keringat dingin membasahi pelipisnya sewaktu gelombang nyeri yang luar biasa hebat dan teratur melilit perut bagian bawahnya."Mas... sakit banget..." ringis Fara memegangi perutnya, napasnya tersengal-sengal menahan kontraksi yang datang bertubi-tubi."Fara! Kamu kenapa, Sayang?!" jerit Sean panik luar biasa. Buku-buku jarinya memutih sewaktu menahan tubuh istrinya agar tidak merosot ke lantai."Kontraksi, Mas... ini bukan kram biasa... sakitnya berulang..." bisik Fara terengah-engah.Tanpa membuang waktu satu detik pun, Sean langsung menggendong Fara ke dalam mobil pendamping resor. Dengan kecepatan ti
Embun malam Mae Salong kian larut, membawa suhu udara pegunungan melorot hingga menyentuh angka belasan derajat Celsius. Namun, di sudut teras vila kayu yang tenang itu, kehangatan justru mengalir begitu pekat. Sean merapatkan selimut wol tebal yang membungkus tubuh Fara, menenggelamkan istrinya dalam dekapan protektif dari belakang. Kedua tangannya yang besar dan hangat saling menangkup di atas perut membuncit Fara, seolah menjadi benteng terdepan dari terpaan angin malam."Mas... dingin enggak?" bisik Fara lembut, mengusap punggung tangan Sean yang melingkari pinggangnya."Nggak dingin sama sekali. Pelukan kamu sama Adik Bayi ini jauh lebih hangat dari perapian mana pun, Sayang." sahut Sean di dekat telinga istrinya. Pria itu menyandarkan dagunya di bahu Fara, memandangi hamparan lembah kebun teh di bawah sana yang kini berhias pendar lampu-lampu kecil pemukiman lokal.Pikiran kacau dan perasaan tidak enak yang sempat menghantam dada Sean saat pertama kali kakinya menapak di tanah
Hari-hari menjelang keberangkatan menuju Thailand dipenuhi dengan kesibukan yang membahagiakan. Sean secara pribadi memastikan seluruh logistik perjalanan mereka berada dalam kondisi terbaik. Dari tiket penerbangan privat, izin dari jet pribadinya melintas udara, hingga akomodasi resor peristirahatan di kawasan pegunungan Mae Salong, Chiang Rai, semuanya diperiksa tanpa ada satu pun detail yang terlewat. Fara yang menyaksikan kesigapan suaminya hanya bisa tersenyum simpul. Ia tahu betul, bagi Sean, perjalanan kali ini bukan sekadar liburan keluarga biasa. Melainkan sebuah napak tilas emosional, sebuah perjalanan untuk menghormati tempat di mana takdir mengikat kembali hubungan mereka yang sempat terkoyak empat tahun lalu. Selama dua setengah jam berada di udara, penerbangan jet pribadi itu berlangsung sangat mulus. Sean bertindak persis seperti janji dan syarat dari dokter, menjadi pengawal pribadi yang amat protektif. Setiap tiga puluh menit sekali, Sean memastikan Fara memin
Jemari Fara gemetar hebat saat menekan tombol *Pasecode* pintu apartemen mewah Sean. Sekali gagal, dua kali gagal, hingga pada percobaan ketiga, tangannya terasa kaku seperti es. Dingin yang menjalar dari ujung kuku hingga ke hatinya membuat koordinasi motoriknya kacau. Belum sempat ia menekan di
"Hasil lab?" Sean mengulang pertanyaan itu dengan nada yang lebih rendah, namun terasa jauh lebih mengintimidasi. Matanya yang tajam seolah mampu menguliti setiap lapisan kebohongan yang coba Fara bangun. "Fara, kamu tadi dari rumah sakit. Kenapa harus ada pemeriksaan lab kalau alasannya hanya asa
Bella, tunangan Sean. Dia akan kembali. Tentu saja, dua tahun sudah berjalan dan kontrak mereka akan segera berakhir. Tapi bagaimana dengan anak ini? Lampu ruang rapat yang terang benderang terasa sangat dingin. Di depannya, Sean sedang mempresentasikan proyek bernilai miliaran rupiah dengan keten
"Nona, selamat. Anda positif hamil! Usia kandungannya *empat minggu*." Pernyataan itu, membuat dunia Fara seketika melenyap, matanya perlahan tetlihat kabur dan hampir gelap. Suara bising pendingin ruangan, aroma khas antiseptik, hingga hiruk-pikuk lorong rumah sakit di balik pintu kayu itu seolah







