LOGINSepekan berlalu begitu cepat, Hari yang dinanti-nantikan oleh keluarga besar Narendra akhirnya tiba. Sinar matahari pagi yang cerah masuk melalui jendela kamar Fara dan Sean, seolah memberi restu pada hari istimewa ini. Fara berdiri di depan cermin, memperhatikan bayangannya sendiri dengan pakaian yang anggun namun nyaman untuk ibu hamil. Ia masih merasa gugup, namun kehadiran Sean di belakangnya, yang memeluk pinggangnya dengan lembut, mampu meredakan degup jantung yang tidak beraturan. "Kamu terlihat sangat cantik, Sayang," bisik Sean di dekat telinga Fara. Fara tersenyum ke arah cermin, lalu menoleh menatap suaminya. "Apa aku terlalu berlebihan? Bagaimana kalau mereka menganggapku terlalu banyak bergaya?" Sean tertawa kecil, mencium kening istrinya dengan kasih sayang. "Berhenti berpikir berlebihan. Kamu hanya perlu menjadi dirimu sendiri. Ingat, ada Mama dan Sella yang akan menjagamu." Sesampainya di kediaman utama keluarga Narendra, suasana sudah sangat ramai. Halaman luas y
Malam harinya, ruang keluarga di kediaman Sean dan Fara terasa lebih hangat. Aroma teh melati dan sisa tawa masih menggantung di udara, memberikan kenyamanan yang menyelimuti hati Fara. Setelah puas makan asinan bogor siang tadi, malam ini semuanya tengah duduk-duduk di sofa sembari berbincang ringan. Tangannya sesekali mengusap perutnya yang mulai membuncit, sementara Sean duduk tepat di sampingnya, jemarinya bertaut erat dengan jemari sang istri.Sebelum mereka benar-benar berpamitan untuk pulang ke rumah mereka sendiri, Mama Sarah meletakkan cangkir tehnya ke atas meja porselen dengan pelan. Matanya yang teduh menatap Fara dan Sean bergantian, memancarkan binar antusiasme yang sulit disembunyikan."Fara, Sean," panggil Mama Sarah lembut. "Mama ingin memberitahu sesuatu. Pekan depan, Papamu ingin mengadakan pertemuan keluarga besar. Acara ini akan dihadiri oleh kakek, nenek, paman, bibi, dan sepupu-sepupu Sean dari luar kota. Kami akan mengumumkan jenis kelamin cucu pertama keluar
Berita mengenai jenis kelami calon cucu keluarga Narendra sudah terdengar oleh seluruh keluarga, "Bayinya, laki-laki." informasi dari Sean bukan sekadar kabar angin belaka, melainkan sebuah gelombang kebahagiaan yang menyapu seluruh keluarga besar. Kabar mengenai jenis kelamin calon buah hati Fara dan Sean telah tersebar luas, memicu antusiasme yang tak terbendung. Ponsel Fara hampir tidak pernah berhenti bergetar. Alex dan Sella, Om dan Tante yang kini menetap di Surabaya, menjadi pihak yang paling heboh. Mereka tak henti-hentinya mengirimkan pesan suara yang penuh dengan tawa dan sorak-sorai, diselingi pesan teks berisi daftar perlengkapan bayi yang sudah mereka siapkan untuk dikirim segera ke Jakarta. Hari ini, suasana di kediaman Fara dan Sean terasa lebih hangat dari biasanya. Papa Narendra dan Mama Sarah memutuskan untuk berkunjung. Bagi pasangan muda itu, kehadiran orang tua bukan hanya sekadar silaturahmi, melainkan suntikan semangat yang luar biasa. Di ruang tengah, peman
Suasana di dalam ruang periksa dr. Adya di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo terasa begitu tenang namun sarat akan antisipasi. Sesuai dengan rencana yang mereka susun bersama dr. Winda sebelumnya, hari ini Sean dan Fara akhirnya berada di sini untuk mendapatkan kepastian yang sudah membuat mereka penasaran selama berbulan-bulan.Setelah sesi konsultasi singkat, dr. Adya memberikan saran profesionalnya. "Untuk mendapatkan visualisasi yang lebih detail dan akurat mengenai kondisi janin serta memastikan apa yang ingin kalian ketahui, saya sarankan kita lakukan USG transvaginal," jelas dokter tersebut dengan nada menenangkan.Fara, yang memang sudah tidak sabar dan menyimpan rasa ingin tahu yang sangat besar, langsung mengangguk mantap. "Saya setuju, Dokter. Lakukan saja yang terbaik agar kita bisa melihatnya dengan jelas."Berbeda dengan istrinya yang begitu tenang, Sean justru terlihat sedikit tegang. Sisi protektifnya langsung muncul, ia merasa khawatir jika prosedur tersebut akan mem
Cahaya matahari pagi menyeruak masuk melalui celah gorden kamar, menyapa kulit Fara yang sedang bersiap-siap. Tepat di bulan ketujuh ini, perutnya memang sudah membuncit sempurna, membawa serta rasa antusias yang luar biasa. Sean, suaminya yang selalu sigap di sisinya, sudah berdiri di depan cermin, merapikan kemeja kerjanya dengan gerakan yang tenang. Hari ini adalah hari istimewa, hari di mana mereka akan mengintip wajah dan jenis kelamin buah hati yang selama ini begitu mahir bersembunyi di balik posisi yang tidak kooperatif saat USG. Sean tidak keberatan sedikitpun harus berangkat ke kantor lebih siang. Baginya, prioritas utama hari ini adalah memastikan kondisi kesehatan istri tercinta dan calon penerus keluarga mereka. Lagipula, perusahaan miliknya sudah memiliki sistem yang berjalan dengan baik. Meski adiknya, Sella, kini telah pindah ke Surabaya mengikuti suaminya, beban pekerjaan Sean tetap terkendali. Sean mengandalkan lenuh tamggung jawab kepada Ardi, asisten priba
Langit Jakarta hari ini tampak kelabu, seolah turut menahan sesak yang selama sepekan terakhir menyelimuti keluarga Narendra setelah keberhasilannya menangkap dan membalas kebusukan keluarga Wicaksana. Di dalam ruang sidang yang dingin dan beraroma antiseptik, suasana hening begitu mencekam. Hanya suara detak jam dinding dan bisik-bisik lirih dari pengunjung yang mengisi ruang hampa tersebut. Di barisan kursi depan, Fara menggenggam erat tangan suaminya, Sean Narendra. Jemarinya yang dingin mencari kehangatan dari telapak tangan pria itu. Pandangan Fara tertuju lurus ke arah kursi terdakwa. Di sana, Bella dan pamannya, Rama Wicaksana, duduk dengan kepala tertunduk. Bella, yang dulu selalu tampil anggun dan penuh percaya diri, kini tampak seperti bayang-bayang masa lalunya. Tubuhnya menyusut drastis hanya dalam tujuh hari. Pakaian tahanan yang kedodoran itu seolah menegaskan betapa rapuhnya dia saat ini. Fara sempat merasa iba melihat kondisi wanita itu, namun ingatan tentang
Sean tengah menatap sang istri lamat-lamat dari kursi yang berada tepat di samping ranjang rumah sakit. Tatapan pria itu begitu lekat, seolah takut jika dalam hitungan detik saja wanita yang sedang duduk bersandar itu akan kembali menghilang dari pandangannya lagi. Fara yang duduk di atas ranjang
“Apa sebenarnya maksud Kak Alex? Dia sebentar lagi sampai? Mau menyusul ke indonesia, begitu?” gumam Sella pelan sembari menatap layar ponselnya yang kini gelap. Ada sesuatu dalam nada bicara pria itu kepadanya tadi, terdengar tegas, bahkan seperti ancaman halus agar dirinya tidak bergerak sendiri.
Deburan ombak Nusa Penida perlahan menjauh, menyisakan memori manis yang sempat mereka ukir di pulau karang tersebut. Namun, perjalanan harus terus berlanjut, Sean membawa Fara kembali ke villa mereka di Bali. Agenda hari itu cukup padat namun santai, mengemas pakaian dan membereskan seluruh baran
Langit pagi di hari terakhir liburan mereka di Bali tampak lebih biru dari biasanya. Angin laut yang berembus pelan seolah ikut menenangkan suasana hati siapa saja yang memandangnya. Namun, berbeda dengan keindahan yang tampak tenang itu, suasana di sekitar villa tempat Sean Narendra menginap justr







