MasukKehidupan keluarga kecil Sean dan Fara mengalir tenang bagaikan muara yang menemukan kedamaiannya kembali, bulan-bulan berlalu tanpa rasa tergesa. Kandungan Fara kini memasuki awal trimester kedua, tepat empat bulan usia kehamilan yang membawa rasa lega luar biasa karena masa-masa morning sickness dan fase kritis di trimester pertama telah berhasil mereka berdua lewati. Sore itu, suasana halaman belakang rumah dipenuhi dengan aroma tanah basah setelah disiram gerimis tipis. Di atas rumput hijau, Sefan yang semakin mandiri dan percaya diri di sekolahnya, sibuk menggelar tikar piknik kecil bersama Sean. "Papa, bantal buat Mama mana?" seru Sefan sambil menepuk-nepuk tikar. "Ini, Jagoan. Papa bawain bantal paling empuk buat Mama," sahut Sean yang melangkah keluar dari pintu kaca membawa dua buah bantal empuk dan sekeranjang buah-buahan segar. Pria itu mengenakan kaos polos santai dan celana kain, penampilan yang sangat bertolak belakang dengan citra pengusaha kaku yang dulu selalu me
Setelah merebahkan Sefan di tempat tidurnya yang nyaman, Sean dan Fara melangkah keluar dengan pelan agar tidak membangunkan putra kecil mereka. Suasana rumah terasa tenang. Sean mengekor di belakang Fara menuju kamar utama, masih menyisakan raut wajah yang sedikit manja setelah momen terharu di mobil tadi.Baru saja pintu kamar tertutup rapat, Sean melingkarkan kedua tangannya dari belakang, memeluk pinggang Fara dan menyandarkan dagunya di bahu sang istri."Mas... bau keringat, ih. Lepas dulu, aku mau ganti baju," protes Fara halus, walau tak benar-benar menolak kehangatan itu."Biarin. Masih mau meluk," bisik Sean parau. Matanya terpejam meresapi aroma Fara yang selalu berhasil menenangkan pikirannya. "Makasih ya, Sayang. Hari ini Mas sadar... kalau Mas maksain kehendak Mas kemarin, mungkin Mas gak bakal lihat senyum lepas Sefan kayak tadi."Fara membalikkan badannya di dalam dekapan Sean, mendongak menatap manik mata suaminya yang hangat. Tangannya terulur mengusap rahang tegas Se
Benar kata Fara. Putra mereka, Sefan, terlihat begitu semangat dan bahagia masuk ke TK swasta pilihan sang mama. Langkah-langkah kecil bocah itu tampak riang saat melintasi gerbang sekolah berpagar mera tersebut, menyapa guru-guru dengan senyum mengembang tanpa raut cemas sedikit pun. "Tuh kan, anaknya senang," ujar Fara sambil menyenggol lengan Sean yang berdiri tegak di sampingnya, mengamati sang putra dari kejauhan. "Iya," jawab Sean lesu. Pria itu masih menyisakan sedikit rasa gondok di hatinya, walau matanya tak bisa berbohong melihat binar bahagia di wajah Sefan. "Anak itu diajarin mandiri sejak dini, Mas. Terus biar enggak pilih-pilih teman, biar enggak pilih-pilih kalangan genggong. Enggak kayak kamu, semua pilih-pilih. Dulu aja kalau enggak gara-gara aku ngidam sayur asam terus kamu nyoba dan suka, sampai sekarang paling makanannya tetap western food. Enggak bakalan tuh nyentuh makanan lokal," cerocos Fara menohok, membongkar masa lalu suaminya yang terkadang terlalu kaku
Beberapa hari berselang setelah hebohnya insiden Sean mauk rumah sakit dan pengumuman kehamilan Fara, kondisi fisik Sean mulai membaik meski rasa mualnya sesekali masih datang. Sekarang, fokus pasangan suami istri itu berganti. Sean dan Fara tengah sibuk mempersiapkan pendaftaran putra pertama mereka, Sefan, yang akan segera memasuki bangku Taman Kanak-kanak (TK).Namun, persiapan itu tidak berjalan mulus. Di atas meja kaca ruang tengah, belasan brosur sekolah bertumpuk. Keduanya berdebat sangat alot karena Sean ingin memasukkan putranya ke sekolah favorit berstandar internasional dengan fasilitas serba mewah dan kurikulum luar negeri. Menurutnya, itu investasi terbaik untuk masa depan Sefan.Namun, Fara tidak setuju sama sekali. Wanita itu lebih menginginkan Sefan masuk ke sekolah TK swasta biasa yang lokasinya ramah anak dan tak jauh dari rumah mereka. Fara merasa dari kecil Sefan lebih baik diajarkan untuk tidak terlalu mewah dan bisa bergabung bersama teman-teman yang biasa, buka
Setelah kepulangan mereka dari rumah sakit, suasana rumah keluarga Narendra berubah total. Sean yang sudah diperbolehkan pulang memang tampak lebih segar, tetapi perilakunya berubah 180 derajat. Pria yang biasanya tampil gagah, berwibawa, dan dingin sebagai pemimpin perusahaan itu kini berubah menjadi sangat manja.Sejak tiba di rumah utama keluarga Narendra, Sean sama sekali tidak mau lepas dari Fara. Di mana pun istrinya duduk, Sean akan langsung merapat, menyandarkan tubuh jangkungnya, lalu bergoleran dan menempelkan kepalanya di lengan sang istri. Fara yang sedang mencoba menikmati secangkir teh hangat di sofa ruang keluarga sampai dibuat gedek sendiri oleh tingkah suaminya."Mas, lepas dulu sebentar. Aku mau minum teh ini, lho," bisik Fara sambil mencoba menggeser lengan Sean yang melingkar erat di pinggangnya.Bukannya melepas, Sean justru makin mengeratkan pelukannya dan menyembunyikan wajahnya di lipatan baju Fara. "Gak mau... Mau gini aja."Tingkah ajaib Sean tak luput dari
Hari-hari setelah kepulangan dari rumah sakit menjadi awal babak baru yang sangat berbeda bagi keluarga kecil Fara Sean Narendra. Rumah yang seminggu lalu terasa sepi dan mencekam kini kembali bernyawa. Bau masakan hangat dari dapur dan gelak tawa Sefan yang menggema di ruang tengah seolah membilas habis jejak-jejak ketegangan yang sempat meretakkan rumah tangga keduanya. Kabar kehamilan Fara yang memasuki usia lima minggu benar-benar menjadi titik balik bagi Sean. Sindrom kehamilan simpatis (Couvade Syndrome) yang dialaminya—mual hebat, pusing, dan rasa lemas yang luar biasa perlahan mereda seiring berkurangnya beban emosional dan rasa bersalah di dadanya. Namun, bekas pengalaman berharga itu mengubah cara pandang Sean secara dramatis. Ia tidak lagi memandang kesibukan kantor sebagai tolok ukur utama keberhasilannya sebagai seorang lelaki. Pagi itu, sinar matahari menembus jendela kamar utama dengan lembut. Sean terbangun lebih awal dari biasanya. Tidak ada lagi ketergesaan
"Nona, selamat. Anda positif hamil! Usia kandungannya *empat minggu*." Pernyataan itu, membuat dunia Fara seketika melenyap, matanya perlahan tetlihat kabur dan hampir gelap. Suara bising pendingin ruangan, aroma khas antiseptik, hingga hiruk-pikuk lorong rumah sakit di balik pintu kayu itu seolah
"Aku sudah siapkan sarapan buat kamu," suara bariton itu terdengar dari arah meja makan minimalis yang terletak di tengah ruangan. Sean berdiri di sana, masih dengan aura penguasa meski hanya mengenakan kemeja yang lengannya digulung hingga siku. Ia tampak tenang, kontras dengan kegelisahan yang m
Jemari Fara gemetar hebat saat menekan tombol *Pasecode* pintu apartemen mewah Sean. Sekali gagal, dua kali gagal, hingga pada percobaan ketiga, tangannya terasa kaku seperti es. Dingin yang menjalar dari ujung kuku hingga ke hatinya membuat koordinasi motoriknya kacau. Belum sempat ia menekan di
"Hasil lab?" Sean mengulang pertanyaan itu dengan nada yang lebih rendah, namun terasa jauh lebih mengintimidasi. Matanya yang tajam seolah mampu menguliti setiap lapisan kebohongan yang coba Fara bangun. "Fara, kamu tadi dari rumah sakit. Kenapa harus ada pemeriksaan lab kalau alasannya hanya asa







