LOGINSuasana di rumah kecil itu mendadak terasa begitu menyesakkan. Hari-hari yang terus berjalan begitu sepi, setelah rahasia audit keuangan itu terbongkar tidak lantas membawa ketenangan, melainkan berubah menjadi masa paling kelam dalam usia pernikahan Fara dan Sean yang kini telah menginjak tahun pertama. Malam-malam di meja makan yang biasanya diwarnai gelak tawa kecil atau sekadar percintaan sederhana, kini menyisakan keheningan yang membekukan darah. Kursi di sebelah Fara kosong melompong. Sean Narendra, lelaki yang menjadi imam sekaligus tumpuan hidupnya, benar-benar tidak pulang ke rumah selama hampir lima hari penuh. Lima hari tanpa kabar, Lima hari tanpa jejak. Di tengah kesendiriannya, Fara sering kali merasa tidak lagi dibutuhkan di sana. Perasaan hampa itu merayap pelan, menggerogoti kewarasannya setiap kali ia menatap sudut-sudut ruangan yang menyimpan bayangan suaminya. Namun, di lubuk hatinya yang paling dalam, sisa-sisa cinta dan pengertian itu masih berakar kua
Alex menatap layar ponselnya yang terus bergetar menampilkan nama Sella, istrinya. Dengan perasaan berkecamuk. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menetralisir detak jantungnya yang bergemuruh sebelum akhirnya menggeser ikon hijau dan menempelkan benda pipih itu ke telinganya."Halo, Sayang..." ucap Alex dengan nada yang berusaha ia buat senormal mungkin."Kak Alex! Kemana aja sih? Kenapa aku telepon bolak-balik baru diangkat? Aku chat pun cuma dibaca aja nggak dijawab?" amuk Sella setelah panggilan teleponnya tersambung kepada suaminya. "Jujur, jangan ada yang disembunyiin apapun soal Kak Sean? Kak, Aku nggak suka kalau ada kebohongan sedikitpun." cecar Sella tanpa jeda dari seberang sana. Nada suaranya menyiratkan kepanikan yang kentara, khas seorang ibu hamil yang emosinya sedang sensitif-sensitifnya.Alex memejamkan matanya sejenak, mencari sudut yang agak sepi di koridor kantor lantai atas. "Sella, Sayang. Dengar suara Kakak baik-baik, ya. Tarik napas dulu. Jangan langsung sy
Tidak bisa angis Fara kembali pecah, saat mengigat kembali diamnya Sean akhir-akhir ini. Wanita itu terduduk lemas di pinggiran tempat tidur, membiarkan air matanya tumpah tanpa tertahan lagi. Bahunya bergetar hebat seiring isakannya yang lolos begitu saja. Di hadapannya, Sefan yang tengah tiduran diatas ranjang kedua orang tuanya, terpaku menatap ke arah Mama. Bocah polos itu menjadi saksi bisu bagaimana mamanya lagi-lagi menumpahkan segala lara, menatap bingung dengan mata bulatnya yang berbinar air mata, seolah ikut merasakan pedih yang menyayat hati sang ibu. Setelah cukup puas menangis dan napasnya mulai sedikit teratur, Fara menyambar ponselnya yang tergeletak di atas meja nakas. Jemarinya yang masih bergetar membuka aplikasi pesan, lalu mengetikkan sebuah pertanyaan untuk adik iparnya. * “Sela, bolehkah Kakak tanya soal Mas Ean? Di kantor sedang ada kesibukan apa ya?” * Pesan teks itu, terkirim. Bukannya membalas lewat teks seperti dirinya, ponsel Fara mendadak berde
Matahari pagi merayap naik, menyinari sudut-sudut kamar tidur utama yang terasa begitu dingin dan asing. Sisa-sisa pertengkaran sengit semalam masih menggantung di udara, meninggalkan rasa sesak yang belum sepenuhnya luntur dari dada Fara. Tidak ada sepatah kata pun yang terucap sejak fajar menyingsing. Keduanya terjebak dalam keheningan yang kaku, seolah dinding beton tak kasat mata telah berdiri di antara mereka berdua. Langkah kaki terdengar dari arah tangga. Ketika melihat Sean berjalan menuju ruang makan, Fara memilih untuk membuang muka. Alih-alih menyambut atau sekadar melirik suaminya, ia memilih melangkah cepat menuju sudut ruangan, menghampiri Sefan, anak mereka yang tengah duduk riang di dalam roller tabel, alat bantu yang menopang tubuh kecilnya untuk belajar berjalan. Fara berlutut di hadapan sang buah hati, berpura-pura sibuk merapikan mainan dan menuntun langkah kecil Sefan, berusaha mati-matian menghindari kontak mata dengan pria yang baru saja melewatinya.
Jam dinding di ruang tamu menunjukkan angka dua lebih sepuluh menit dini hari. Suara detiknya berdetak monoton, seolah mengejek kesabaran Fara yang sudah berada di ujung tanduk. Di atas pangkuannya, Sefan, putra mereka yang berusia satu tahun itu sudah terlelap setelah hampir dua jam menangis histeris. Bocah kecil itu baru bisa tenang setelah Fara menepuk-nepuk punggungnya dengan mata sayu, sementara air mata sang ibu diam-diam menetes membasahi piyama balitanya. Rumah ini terasa begitu dingin dan asing. Padahal, dulunya tempat ini selalu dihangatkan oleh tawa kecil dan canda tawa renyah antara seorang ayah dan anaknya. Fara menatap wajah damai Sefan dalam tidurnya. Napas balita itu terdengar teratur, menyisakan isakan kecil yang masih tertinggal di sela-sela mimpi. Sefan rewel bukan tanpa alasan, namun sejak anak itu mulai bisa memanggil "mama" dan "papa", ia terbiasa dengan kehadiran Sean setiap pukul delapan malam. Sean selalu menjadi sosok ayah siaga yang memandikan Sefan, m
Siang itu, ruang tamu mewah di rumah Sean dan Fara dipenuhi oleh tawa kecil yang renyah. Sefan, bayi berusia empat bulan dengan pipinya mirip seperti bakpao kecil, sedang tengkurap aktif di atas playmat empuk bercorak hewan safari. Di sampingnya, Sean duduk bersila sambil mengenakan kaus rumahan santai, menggoyangkan mainan berbunyi kerincing untuk menarik perhatian sang putra.Mata Sefan berbinar-binar, tangan mungilnya menggapai-gapai udara, menciptakan gelak tawa renyah dari Sean yang tak henti-hentinya menciumi pipi gembul putranya.Bagi Sean, momen-momen seperti ini adalah sebuah kemewahan sekaligus kelegaan besar. Seminggu belakangan, rumah mereka terasa seperti medan magnet badai emosi. Setiap kali siklus bulanan Fara datang pascamelahirkan, hormon istrinya kerap bergejolak hebat. Fara bisa mendadak menangis karena hal sepele, uring-uringan tanpa sebab, atau merasa cemas berlebihan.Memahami kondisi tersebut, Sean sama sekali tidak keberatan memutuskan bekerja dari rumah. Bag
"Aku sudah siapkan sarapan buat kamu," suara bariton itu terdengar dari arah meja makan minimalis yang terletak di tengah ruangan. Sean berdiri di sana, masih dengan aura penguasa meski hanya mengenakan kemeja yang lengannya digulung hingga siku. Ia tampak tenang, kontras dengan kegelisahan yang m
Jemari Fara gemetar hebat saat menekan tombol *Pasecode* pintu apartemen mewah Sean. Sekali gagal, dua kali gagal, hingga pada percobaan ketiga, tangannya terasa kaku seperti es. Dingin yang menjalar dari ujung kuku hingga ke hatinya membuat koordinasi motoriknya kacau. Belum sempat ia menekan di
"Hasil lab?" Sean mengulang pertanyaan itu dengan nada yang lebih rendah, namun terasa jauh lebih mengintimidasi. Matanya yang tajam seolah mampu menguliti setiap lapisan kebohongan yang coba Fara bangun. "Fara, kamu tadi dari rumah sakit. Kenapa harus ada pemeriksaan lab kalau alasannya hanya asa
"Nona, selamat. Anda positif hamil! Usia kandungannya *empat minggu*." Pernyataan itu, membuat dunia Fara seketika melenyap, matanya perlahan tetlihat kabur dan hampir gelap. Suara bising pendingin ruangan, aroma khas antiseptik, hingga hiruk-pikuk lorong rumah sakit di balik pintu kayu itu seolah







