ログインHari berganti minggu, dan janji yang terucap di bawah temaram lampu kamar utama itu akhirnya ditepati. Pagi ini, langkah kaki Sean dan Fara beriringan memasuki ruang konsultasi klinik fertilitas yang bersih dan bernuansa menenangkan. Tak ada lagi isak tangis atau ketakutan yang mendominasi dada Fara, genggaman erat tangan Sean di jemarinya menjadi jangkar ketenangan yang paling kokoh. "Selamat pagi, Pak Sean, Ibu Fara. Silakan duduk," sambut Dr. Nara, seorang spesialis obstetri dan ginekologi berwajah ramah dengan senyum menenangkan. Setelah berbasa-basi ringan untuk mencairkan suasana dan meninjau kembali catatan medis awal mereka, Dr. Nara mulai menjelaskan tahapan pemeriksaan hari itu. "Penantian satu tahun program alami kalian adalah waktu yang wajar bagi pasangan muda untuk mulai melakukan evaluasi menyeluruh. Jadi, kalian tidak perlu merasa khawatir berlebihan," ujar Dr. Nara bijak, seolah membaca sisa-sisa kecemasan di mata Fara. Pemeriksaan berjalan lancar. Dimulai dari
Waktu berjalan begitu cepat, tanpa terasa lembaran kalender telah berganti selama hampir satu tahun penuh sejak malam kesepakatan mereka di kamar utama. Di ruang keluarga yang sama, gelak tawa Sefan masih menjadi pengisi hari-hari Sean dan Fara. Bocah laki-laki itu kini sudah berusia hampir empat tahun, tumbuh semakin aktif, cerdas, dan tentu saja semakin gencar menagih janjinya soal kehadiran seorang adik bayi di rumah. Namun, suasana di balik senyuman Fara menyimpan cerita yang berbeda. Hampir dua belas bulan sudah mereka menjalani program alami yang disepakati bersama. Tanpa obat penyubur, tanpa intervensi medis yang memaksa, dan tanpa jadwal ketat yang membebani pikiran. Namun, kenyataan berkata lain. Dua garis merah pada test pack yang selalu dinanti-nantikan tak kunjung muncul sekali pun. Setiap bulan, rasa harap itu selalu diuji dengan kekecewaan yang datang berulang-ulang, menghujam pelan hati wanita itu. Sore itu, rumah tampak tenang karena Sefan sedang tidur siang di
"Mmhh nghh mas.. aahhnnmm" desah Fara tertahan. Sean membuka daster istrinya cepet dan melempar nya ntah kemana. "Loh, ngga pakai dalaman kamu?!" kaget Sean, karena sang istri sekarang benar benar sudah naked tanpa busana. "Mau bobo, mana pernah aku pakai daleman?" jujur Fara. "Kok, Mas gatau?!" cecar Sean lagi. "Salah sendiri pelor, jadi nggak perna grayang-grayang dulu sebelum bobo." jawab Fara meledek suaminya. Sean menatap tubuh itu dengan lapar. Pemandangan yang sangat indah, dada yang besar dengan kulit seputih susu, pucuk gunung berwarnah pink yang menonjol, pinggang ramping, bagian bawah mulus tanpa rambut. Lengkap sudah, ditambah dengan ekspresi wajah horny sang istri. Menambah asensi libiodo Sean. tak berselang lama, Sean pun ikut membuka seluruh pakaian nya dan langsung menyerang kedua gunung besar itu dengan mulut nya. "Aahhh mas... Nghh ahh, Sefan baru bobo. Akuuhh takuthhh... Mmhhh Sefan dengerhh." racau Fara, sembari mendesah tertahan. "Engga, desa
Hari-hari setelah percakapan di meja makan itu berjalan dengan ritme yang jauh lebih manis dan menghangat di dalam keluarga kecil Sean dan Fara. Keputusan mereka untuk menjalani program kehamilan secara alami, tanpa tekanan target yang ketat ataupun obat-obatan kimia tambahan, justru menciptakan atmosfer rumah yang santai, penuh tawa, dan sarat akan romansa baru di antara pasangan suami istri tersebut. Sean menepati setiap janjinya dengan sangat baik. Pria yang dulunya sering pulang larut malam karena tumpukan pekerjaan kantor itu kini menjelma menjadi sosok suami teladan. Jam kerja di kantor benar-benar ia batasi secara ketat. Pukul lima sore, Sean sudah berdiri di lobi kantornya, membereskan meja kerja, dan memastikan ponselnya senyap dari urusan pekerjaan berat. Bagi Sean, prioritas utamanya saat ini adalah pulang ke rumah, menemani Fara, dan merajut asa bersama untuk kehadiran buah hati kedua mereka. Malam itu, jarum jam baru menunjukkan pukul delapan malam. Sefan sudah te
Pagi hari datang dengan cahaya matahari yang merangsek masuk melalui celah gorden kamar utama, menghangatkan ruangan tempat Sean dan Fara tidur. Udara pagi terasa sejuk, membawa serta sisa-sisa ketenangan dari percakapan mendalam mereka semalam. Sefan, seperti biasa, adalah alarm alami keluarga kecil itu. Bocah laki-laki berusia tiga tahun tersebut sudah berdiri di samping tempat tidur dengan piyama bergambar mobil balap, mengetuk-ngetuk pelan paha papanya yang masih berbaring. "Papa... banun! Banun, Pa! Sefan tsudah lapal, mau salapan seleal tsama tutu," rengek Sefan dengan suara cadelnya yang menggemaskan, berusaha menarik selimut Sean. Sean membuka matanya perlahan, mengerjapkan mata beberapa kali untuk menyesuaikan diri dengan cahaya, lalu tersenyum lebar. Ia langsung mengangkat tubuh mungil Sefan ke atas tempat tidur dan menggelitik pinggang bocah itu hingga tawa renyah membahana di kamar. "Siap, jagoan! Hari ini bos kecil mau minta apa lagi selain sereal?" sapa Sean den
Malam semakin larut, dan suasana di dalam rumah keluarga kecil Sean terasa begitu tenang. Setelah melalui hari yang melelahkan namun membahagiakan di rumah sakit untuk menjenguk sepupu baru Sefan, kini kewajiban membersihkan diri telah usai. Sefan sudah terlelap pulas di kamar tidurnya sendiri, mendengkur halus dalam mimpi indah setelah seharian penuh keceriaan. Di kamar utama, lampu tidur temaram dinyalakan. Fara duduk bersila di atas tepi ranjang king-size mereka, sementara Sean baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk kecil yang menggantung di lehernya. Pria itu berjalan mendekati meja rias, menyisir rambutnya sebentar, lalu berbalik menatap sang istri. Sean tahu betul, topik di rumah sakit tadi siang belum sepenuhnya selesai. Topik itu masih menggantung di udara, menunggu untuk dibahas secara serius di tempat privat ini. Sean melangkah mendekat, lalu duduk perlahan di samping Fara. Ia merangkul bahu istrinya dengan penuh kelembutan, memberikan pijatan kecil yang s
"Nona, selamat. Anda positif hamil! Usia kandungannya *empat minggu*." Pernyataan itu, membuat dunia Fara seketika melenyap, matanya perlahan tetlihat kabur dan hampir gelap. Suara bising pendingin ruangan, aroma khas antiseptik, hingga hiruk-pikuk lorong rumah sakit di balik pintu kayu itu seolah
Jemari Fara gemetar hebat saat menekan tombol *Pasecode* pintu apartemen mewah Sean. Sekali gagal, dua kali gagal, hingga pada percobaan ketiga, tangannya terasa kaku seperti es. Dingin yang menjalar dari ujung kuku hingga ke hatinya membuat koordinasi motoriknya kacau. Belum sempat ia menekan di
"Hasil lab?" Sean mengulang pertanyaan itu dengan nada yang lebih rendah, namun terasa jauh lebih mengintimidasi. Matanya yang tajam seolah mampu menguliti setiap lapisan kebohongan yang coba Fara bangun. "Fara, kamu tadi dari rumah sakit. Kenapa harus ada pemeriksaan lab kalau alasannya hanya asa
Bella, tunangan Sean. Dia akan kembali. Tentu saja, dua tahun sudah berjalan dan kontrak mereka akan segera berakhir. Tapi bagaimana dengan anak ini? Lampu ruang rapat yang terang benderang terasa sangat dingin. Di depannya, Sean sedang mempresentasikan proyek bernilai miliaran rupiah dengan keten







