LOGIN"Kami akan memesan dalam jumlah yang banyak, Bu." "Saya tahu. Tapi, saya tidak bisa ikuti harga yang ditentukan orang lain," jawab Selena. Selena tidak akan menolak jika ada yang mau bekerja sama. Tapi, harganya sesuai dengan peraturan di tokonya. "Jadi, bisa untuk mengadakan kalau kami ada permintaan?" tanya Andi. "Sudah tentu siap." "Baiklah, deal kalau begitu," jawab Andi kemudian. Selena mengangguk dan membuat list harga sesuai dengan keinginannya. "Jadi, ini list harga sesuai dengan toko kami ya," ujar Selena sebelum menandatangani kesepakatan mereka. "Iya, Bu. Apa tidak ada fee khusus untuk saya?" tanya Andi. Selena mengernyitkan keningnya. Dia heran atas permintaan Andi. Ternyata, sejak awal dia yang menurunkan harga itu hanya untuk mendapatkan keuntungan. "Bukankah kita kerja sama dengan jelas, kenapa saya harus memberikan fee?" tanya Selena. "Kalau begitu tidak perlu, Bu." Selena tampak berpikir sejenak, sejak awal penawaran kerjasama ini rasanya sudah tidak bena
"Aku tidak akan salah menuduh orang! Kau lah memang yang mengharapkan warisan papa!""Silakan datang kesini dan lihat sendiri keadaannya," jawab Selena."Kalau aku datang kesana, kau tidak akan selamat!"Tut!Saking kesalnya mendengar Tyas yang semakin tidak ada adabnya, Selena mematikan sambungan telepon itu."Dia mirip sekali dengan ibunya," keluh Selena.Selena tidak sadar kalau sejak tadi Haris memperhatikannya dari meja makan.Tapi, disana tidak ada Haisa. Mungkin, Haisa berada di dalam ruang bermain."Ahh... Jangan pikirkan," sambungnya.Selena kembali menyalakan kompornya, melanjutkan memasak bubur untuk Haisa.Diam-diam Haris memeluknya dari belakang."Astaga...""Kamu hebat, Sayang.""Terima kasih. Entahlah, hidup ini begitu banyak kejutan untukku.""Kamu kuat, Sayang. Apapun yang terjadi, apapun yang kamu dapatkan, itu karena kamu kuat dan hebat."Selena mengangguk dan tersenyum. "Karena ada kamu.""Kamu sudah pintar menggombal sekarang."Selena tertawa. "Aku gak gombal, mem
"Hah? Apa?"Selena kebingungan mendengarnya. Tiba-tiba saja seseorang menuduhnya begitu.Bahkan dia sendiri tidak terpikirkan untuk hal itu. Dan warisan? Warisan siapa yang dimaksud?"Jujur saja, kau sengaja mendekati Papaku hanya demi warisannya, kan? Apa kau tidak tahu? Kau tidak berhak apapun terhadap lelaki itu! Kau itu hanya anak haram!"Selena menghela nafas berat. Dia sedikit terbayang siapa yang menelponnya."Tyas, kamu salah orang," jawab Selena.Dia tahu, itu pasti Tyas. Meskipun dia belum pernah bertemu ataupun berbicara kepada Tyas.Tapi, kalau mendengar pembicaraannya dan kemana arah kata-kata itu dia sudah bisa menebak."Jika kau memang Selena, maka aku tidak salah orang. Dan kau memang tujuanku.""Berarti kamu salah tujuan.""Aku tidak pernah salah."Selena memejamkan matanya, Tyas sangat mirip dengan ibunya. Emosian dan berapi-api."Maaf, aku tutup teleponnya, Tyas. Kalau kamu tidak pernah salah, maka aku yang salah telah menjawab teleponmu.""Dasar manusia sombong da
"Besok pagi aja, bagaimana?" tanya Selena."Mama benar-benar maksa harus sekarang, Kak. Aku tidak mau kakak jadi dapat masalah."Selena menghela nafas berat. "Biar aku antar ke bandara ya."Ara mengangguk pelan. "Terima kasih, Kak.""Beritahu kakak kalau ada yang kamu butuhkan."Kembali Ara mengangguk. Meskipun kalau boleh jujur, dia lebih senang hidup disini.Tidak ada tekanan, tidak ada teriakan dan tidak bertanggung jawab terhadap semua orang."Nak, jangan berhenti kuliah ya, Papa mohon," ujar Benny menatap Ara dengan penuh harap."Iya, Pa."Meski rasanya berat melepaskan Ara untuk pulang, tapi Benny juga sama seperti Ara, tidak mau Selena yang mendapatkan masalah.**Selena dan Haris mengantarkan Ara ke bandara, untung masih bisa mendapatkan tiket untuk keberangkatan hari ini."Kabari kakak kalau ada apa-apa," ujar Selena."Iya kak. Maaf ya kak, aku jadi merepotkan."Selena memeluk Ara erat. "Kakak tidak repot dan juga tidak merasa direpotkan."Ara masuk ke bandara sambil melambai
“Tidak akan ada fitnah, kan?” tanya Selena kemudian.“Iya, tapi Papa jadi merepotkan kamu.”“Aku tidak merasa direpotkan. Hiduplah dengan baik, dan jangan terlalu banyak pikiran. Juga, jangan lagi melakukan hal yang nekat, semua masalah pasti ada solusinya,” jawab Selena.Selena tidak mau menasehati sang ayah, dia tahu apa yang dilakukan ayahnya pastinya karena sebuah alasan yang kuat.Tapi, dia juga tidak bisa melihat ayahnya hidup menderita seperti itu. Apalagi dia tahu, keadaan mantan istrinya masih sama seperti dulu, Selena tidak mau ayahnya dimanfaatkan. Kalau menghabiskan uang untuk hal yang berguna dan untuk anak-anaknya itu tidak masalah.Tapi, dari cerita Ara, utang-utang yang dimiliki dan harus dilunaskan oleh Pak Benny itu semuanya hanya untuk gaya hidup. Mengikuti gaya hidup sosialita, padahal gaji suaminya tidak mendukung untuk gaya seperti itu.Sekarang, Bu Asti malah menggantungkan hidupnya pada Ara. Tidak mau bekerja, tapi mau uang terus menerus.“Iya, Nak. Maaf.”“Pap
“Sayang, ini kamu serius atau lagi bercanda?” tanya Haris.Dia langsung panas mendengar apa yang Selena katakan, enak sekali Anton mengakui Haisa anaknya. Sedangkan jelas kalau dia yang bermasalah dan sulit memiliki anak.Kenapa sekarang dia malah mengganggu hidup Selena dan Haris.“Tentu saja aku serius. Tadi, aku baru saja membuka pesan yang dia kirimkan. Lihat saja sendiri,” jawab Selena menunjukkan ponselnya.“Tapi, kamu menceritakannya dengan tenang sekali.”“Ya, aku juga tidak tahu harus ngapain. Mau teriak juga gak bisa, malah mengganggu para tetangga dan aku akan dikira gila nantinya. Mau menangis untuk apa? Lagian juga, aku yang hamil, aku yang melahirkan. Dan aku juga yang tahu aku berhubungan dengan siapa,” jawab Selena.Ada benarnya apa yang Selena katakan, tapi tetap saja Haris merasa heran melihat ketenangan Selena menghadapi masalah.Apa karena Selena merasa benar?Haris membaca pesan dari Anton, lelaki itu meminta Selena mengakui kalau dia adalah ayah kandung Haisa. Da
“Mas, aku perlu ngomong,” ujar Selena.Selena baru saja keluar dari kamar mandi, membersihkan tubuhnya. Rasa lapar di perutnya sudah hilang begitu saja. Tapi, ada hal yang harus Selena bahas. Dia ingin Anton jujur, mengapa dia berbohong pada keluarganya mengatakan Selena yang bermasalah untuk hamil
“Kamu hanya perlu katakan kepada Pak Haris untuk tidak menyalahkan aku!” bentak Anton lagi.Selena merebahkan dirinya membelakangi Anton, rasanya sudah begitu malas berdebat dengan suaminya.“Kamu dengar tidak?” tanya Haris menarik tubuh Selena agar menghadap ke arahnya.“Aku tidak akan mencampuri
“Pak…”Selena ingin protes, tapi Haris sudah lebih dulu membungkam mulut Selena dengan ciumannya.Selena mengeratkan tangannya di leher Haris, karena ciuman Haris benar-benar membuatnya melayang.Kamar tidur Haris, bernuansa lebih lembut, dengan tempat tidur king size berlapis sprei putih rapi.Har
“Aku lelah, Mas,” gumam Selena.“Itulah resikonya kerja. Selama ini, kau selalu merengek mau kerja, sekarang setelah bekerja kau lelah? Baru juga sehari!” tanya Anton kesal.“Tapi—““Bersiaplah! Jangan sampai Pak Haris marah!”Anton lebih mementingkan jabatannya, jangan sampai Haris marah daripada







